3 Mei 2013

Puisi



Hilang dan Tergantikan
Oleh: Tanita Liasna
Dedaun sepi berjatuhan di atap hati
Terbang tertiup hampa
Lepas di ladang derita
Sekuntum bunga layu
Di tepi telaga diam
Mengapung kering
Perlahan meretas kelok air
Seperti itu segala lesap
Hilang dan tergantikan

Rumah Cerita, 17 Juni 2012
Lelaki di Tepian Hati
Oleh: Tanita Liasna
Kau lelaki di tepian hati
Menatapku dari rasa terdalam
Matamu tak pernah mengisah tentangku
Hanya kelakar sukma menguntai dari balik rindu
Tapi kau kokoh berdiri di tepian hati
Menantiku memanggul kata
Untuk rasa bersebab padamu

Rumah Cerita, 15 Juni 2012
Pelataran Senja
Oleh: Tanita Liasna
Di pelataran senja
Aku bersisian luka
Berbagi dentum kelana
Lewat remah-remah cerita

Harap bertabur
Ketika senja basah
Kini hanya sisakan bulir desah
Bangkitkan duri benci
Menanam usik angin
Mencengkram langit hati

Kasih, di pelataran senja mengering
Terlepas secercah harap
Terbawa selubung angin
Sampaikan luka mengusang

Rumah Cerita, 16 Juni 2012

(Puisi-puisi ini telah dimuat di Rubrik Art & Culture Medan Bisnis, 24 Maret 2013)

Puisi



Di Bawah Dahan Luka
Oleh: Tanita Liasna
Di bawah dahan luka
Kita berteduh
Tatap matamu jelas mengukuh
Lekat mengeruk seberkas luka
Usah kau salahkan aku
Aku di sini belajar bisu
Atas laku menanam dera
Mari saja kita berpisah
Akhiri segala tatap dalam kenang
Igaumu tak perlu berkumandang
Apalagi deritamu tak pernah mendesah

Rumah Cerita, 29 Juli 2012
Menanti Rasa
Oleh: Tanita Liasna
Tak ada kata
Diksi
Mampu samakan rasa di hati

Cintaimu adalah laku jiwaku
Hasrat harapku
Memadu rindu denganmu
Walau jarak mengakar
Kadang mencipta igau curiga
Tapi yakinlah
Aku di sini menyulam sebongkah asa
Hingga temu nanti menyapa
Aku setia menanti rasa

Rumah Cerita, 23 Juli 2012
Pelabuhan Hati
Oleh: Tanita Liasna
Kutunggu kau berkunjung
Pada penantian panjang ini
Cepatlah kau jenguk rindu
Seluruh hati
Sepenuh jiwa
Separuh jantung ini milikmu
Kurela segala rasa
Serahkan raga
Asal tak bermandi luka
Ketahuilah kasih
Kutelah mengikat yakin
Pada satu pelabuhan hatimu

Rumah Cerita, 02 Agustus 2012
Tafsir Kenyataan
Oleh: Tanita Liasna
Kau adalah hujan
Merundungku ketika terik menghujat
Kau adalah benderang
Terangiku ketika kelam menyeruak
Kau adalah satu menyapaku
Ketika segala celah tertutup tinggalkanku
Seperti itulah ku tafsirkan kau
Dalam nyataku

Rumah Cerita, 09 Juli 2012

(Puisi-puisi ini telah dimuat di Rubrik Cerpen & Puisi Analisa, 08 Agustus 2012)

Puisi



Dalam Sunyi Menyepi
Oleh: Tanita Liasna
Seberkas luka tak ingin pergi
Tertawan rekah mengiris
Mengusik waktu tak  menyandar
Meremah masa lampau

Aku masih terombang-ambing bersama kata
Menelisik lalu mengabur
Entah duri apa menikam
Menukik sepucuk masa tak teringin
Sungguh...
Mati dalam sunyi menyepi
Indah sendiri

Rumah Cerita, 08 Juli 2012
Kalammu
Oleh: Tanita Liasna
Kalammu membasuh perih
Membuka kasih
Melepas laraku
Akan ingatan lalu
Sembari luka terkikis
Pecah seusang harap
Rindu hitam terlukis
Harap menguntit pengap
Kalammu telah mengikat rasa
Mencinta rindu
Kasih mesra

Rumah Cerita, 18-19 Juli 2012

Membait Sapa
Oleh: Tanita Liasna
Masih kau di benakku
Bersarang mengungkit temu
Akankah rasa membuncah
Jikalau mata membait sapa
Ah...
Malam kusyairkan
Malam kusemaikan
Semangkuk air mata
Kusuguhkan....

Rumah Cerita, 16 Juli 2012

(Puisi-puisi ini telah dimuat di Rubrik Rebana Analisa, 06 Januari 2013)

Puisi



Bukan Lagi Kau
Oleh: Tanita Liasna
Luka terukir bertahta namamu
Rekat mengakar tumpahkan remukan semu
Ada rindu melapuk
Perlahan termamah waktu
Terlalu lama setumpuk harap
Tersiakan tanpa ungkap
Hingga rasa lamat-lamat lesap
Tersapu hasrat mengembun
Bukan lagi kau
Sebagai satu kutunggu
Hanya waktu
Kunanti mengusai risau


Rumah Cerita, 01 Juni 2012

Kalkulus Kenang
Oleh: Tanita Liasna
Sekian waktu usai
Sebilah risau menghitam
Termakan gelak mengerang

Segumpal air mata tersemai
Mengeram di bibir kelam
Sepi dilalap berang

Adakah aku masih mengendap
Di lembah hati terdalam
Jika tak terlerai
Biar tersimpan dalam kalkulus kenang

Rumah Cerita, 06 Juni 2012
Kau Aku Sama
Oleh: Tanita Liasna
Kalam wajahmu menyentuh sendi-sendi kalbu
Mengurung jantungku
Terhela nafas bersabda namamu
Entah apa tujuan takdir
Biarkan rindu tertanam di taman hati
Akankah aku adalah rusukmu
Mencipta kau aku adalah sama

Rumah Cerita, 08 Juni 2012
Sebatang Desah
Oleh: Tanita Liasna
Sebatang desah menggantung di sela jendela
Isyaratkan sebuah luka melara
Dalam sunyi
Aku menepi
Mendengar sayup-sayup desah
Berakar hujan di langit sepi

Rumah Cerita, 15 Juni 2012

(Puisi-puisi ini telah dimuat di Rubrik Cerpen & Puisi Analisa, 27 Juni 2012)

Puisi



Batu Kematian
Oleh: Tanita Liasna
Telah kusiapkan batu kematian
Berukir namamu juga namanya
Masih kusimpan
Atas pemberian waktu
Pada percaya kugenggam teguh
Nanti...
Jika kau mengukir tipu
Menanak pilu
Maka kupersembahkan sebutir peluru
Membawamu dan dia menemu mimpi

Rumah Cerita, 14 Agustus 2012
Di Tengah Tunggu
Oleh: Tanita Liasna
Di tengah tunggu
Angin menyapa dengan semilir luka
Menambatkan sepucuk pengap di dada
Ilalang mengigau
Melagukan bait-bait bahagia
Sempat kurajut pada awal tunggu lalu
Saat madu masih tumpah di kedua ranum bibirmu
Aku masih di tengah tunggu menyepi
Mendengar igau ilalang
Sungguh menyayat
Aku ikut melagu
Dalam rintih

Rumah Cerita, 16 Agustus 2012
Jika Bisa
Oleh: Tanita Liasna
Jika bisa kuberteman malam
Tak akan aku kembali
Pada senja atau pagi
Malam mampu mengajakku lelap
Hingga bayangmu tak lekat dalam dekap
Jika bisa kuberteman hampa
Tak kan aku kembali
Pada rindu atau kasih
Hampa mampu buatku menyepi hati
Hingga tak ada sakit mengikat
Jika bisa kuberteman kematian
Tak kan aku kembali
Pada hidup atau hela nafas
Kematian pasti lenyapkan rasa
Hingga mengusai luka

Rumah Cerita, 15 Agustus 2012
(Puisi-puisi ini telah dimuat di Rubrik Rebana Analisa, 09 September 2012)