15 Mei 2013
Sanggar Rumput Hijau Kembali Memukau
Sanggar Rumput Hijau Kembali Memukau
Oleh: Tanita Liasna
Setelah memboyong seabrek prestasi, Sanggar Rumput Hijau SMA Negeri 2 kembali memukau penonton pada konser musikalisasi puisi yang diadakan di TBSU, pada Sabtu, 24 September 2011. Acara ini memiliki dua sesi, yaitu pada sore hari pukul 16.00 WIB, dan pada malam hari pukul 20.00 WIBPenulis memiliki kesempatan hadir pada sesi pertama, pukul 16.00 WIB. Saat penulis sampai di TBSU, penulis mendapati bagian pengambilan tiket telah disesaki oleh para pengunjung yang ingin segera menikmati talenta yang dimiliki oleh Sanggar Rumput Hijau. Sebelum pementasan dimulai, ada sebuah layar ukuran sedang yang memperkenalkan sosok para artis panggung, yaitu : Sepli Rodensia Sipayung (vokal), Dwi Sartika Rahmadani br S (vokal), M. Arfan Fahmi (gitar), Qori Fajar Hermawan (pianika), T Aulia Mufti Sani (gitar), dan M. Yudha Al Hakim (gendang). Lalu, memperkenalkan beberapa pendukung di belakang layar, yaitu : Pimpro oleh M. Raudah Jambak, pimpinan panggung oleh Hasan Al Banna, penata artistik oleh Djamal, penata teknik oleh Suryo Handoyo, serta penata non artistik oleh Novianti, S.pd. Akhirnya, waktu yang telah ditentukan pun tiba. Seisi ruangan pun menghitam. Gelap gulita. Perlahan tirai merah hati yang menutupi panggung pun terbuka. Duduk 6 sosok pahlawan dari Binjai itu membawakan puisi Sebab Pahlawan Namaku, karya M. Raudah Jambak. Penonton bersorak sorai mendengar lantunan puisi yang dimusikalisasikan oleh para personil dari Sanggar Rumput Hijau. Usai itu, mereka lanjut membawakan puisi karya Sanusi Pane, yang berjudul Teratai. Lalu membawakan puisi Sungai Deli, karya Hasan Al Banna. Kesemuanya diawali dan diakhiri oleh riuh tepuk tangan dari para penonton.
Penampilan Sanggar Rumput Hijau, mengawali acara Konser Musikalisasi puisiKemudian, panggung kembali menghitam. Para artis panggung tadi menghilang. Digantikan oleh sesosok lelaki yang menari mengikuti alunan musikalisasi puisi dari Rumput Hijau, yang diperdengarkan melalui rekaman VCD, berjudul Puisi Cinta untuk Anakku, karya Timbas Tarigan dan Nani. Gemulai lembut dari Rizal sang penari latar, menambah keeksotikan acara ini. Lalu, artis panggung muncul kembali dengan pakaian bernuansa etnik yang mereka kenakan pada festival di Pelembang beberapa waktu lalu. Bersama lighting yang baik, dipadukan pula dengan tata panggung yang tak berlebihan, puisi Jembatan karya pelopor sastra kontemporer: Sutardji Chalzoum Bachri kembali memikat penonton untuk bertepuk tangan mengagumi aksi panggung mereka. Dilanjutkan pula dengan membawakan puisi Gugur karya W.S Rendra, lalu puisi Mendrofa karya Yulhasni. Usai itu, panggung kembali gelap, dan penonton disuguhi rekaman pertunjukan lewat layar berukuran sedang. Dalam pertunjukan itu, seakan para personil Rumput Hijau berdrama ria dalam membawakan puisi Kami Masih Anak-Anak Bunda, karya Saripuddin Lubis. Adegan berlatar di SMA Negeri 2 Binjai. Pertunjukan itu sempat membuat penonton geli, karena memunculkan adegan-adegan lucu. Setelah itu artis panggung muncul kembali dengan mengenakan pakaian bernuansa Melayu, dan membawakan puisi yang mengandung etnik Melayu pula, yaitu Di Titi Gantung Kuasah Rindu, karya A. Rahim Qahhar. Dan pada penghujung konser dibawakanlah puisi yang menjadi icon pada konser ini, yaitu Lukisan Binjai, karya Saripuddin Lubis.Konser yang Berhasil dan Mendidik Layar ukuran sedang yang seakan menjadi pelengkap dalam acara konser musikalisasi puisi itu, memberitahukan pada penulis para pengaransemen puisi dalam acara konser musikalisasi ini adalah Suryo H, Sepli R.S, dan T. Aulia M.S. Lewat aransemen yang mereka hasilkan, penyampaian puisi memberikan warna dan rasa baru bagi penulis, dan mungkin para penikmat konser lainnya. Vokal, gitar, gendang, dan pianika, dimainkan dengan irama yang berkesinambungan. Kemudian, lighting yang disuguhkan di mata penulis juga cukup bagus. Efek hijau, biru, dan merah mewarnai panggung. Dan kadang diselingi oleh kedipan lampu merah yang seakan dimunculkan pada puncak-puncak dari musikalisasi puisi yang ditampilkan. Dan setiap puisi akan usai disenandungkan, disuguhkan asap yang menambah aksen dramatis. Lalu, tata panggung dengan background berupa bingkai persegi yang di tengahnya ada sebuah bulatan besar, lalu di lantai diletakkan bola-bola yang dibungkus oleh kertas minyak. Juga ada bola-bola serta petromak yang digantung di beberapa sisi panggung , memberikan kesan tenang, sederhana dan seakan kita dihadapkan pada zaman dimana kemerdekaan baru saja dikumandangkan. Hanya saja sempat terjadi beberapa kali kerusakan pada pengeras suara. Namun, itu hanya sekilas lalu. Dan tidak sama sekali mengganggu kekhusyukan para penikmat konser musikalisasi puisi itu. Sepuluh puisi yang dibawakan ada yang bertajuk realita negeri saat ini. Ada pula puisi yang menampilkan etnik Batak Simalungun (Gugur), dan etnik Melayu (Di Titi Gantung Kuasah Rindu). Juga puisi-puisi itu mengingatkan kita pada para pahlawan, pada orang tua, dan juga pada kota tempat Rumput Hijau mulai tumbuh, yaitu kota Binjai.Segala yang ditampilkan pada konser itu bukan hanya memberikan kebahagiaan bagi para penikmatnya, namun juga memberikan pelajaran baru, terkhusus bagi pemula yang bergelut dalam sastra. Juga menyiratkan kepada kita bahwa era musikalisasi puisi telah muncul. Itu semua memberikan semangat dan motivasi baru bagi para penggeliat sastra. Akhir kata, mari kita doakan para duta Sumatera ini, agar mampu membawa kemenangan kembali pada Festival Musikalisasi Puisi Tingkat Nasional di Jakarta, yang akan diadakan pada Oktober 2011. Selamat kita ucapkan. Semoga kembali meraih sukses!Dermaga Rindu, 25 September 2011Penulis mahasiswa sem.V PBSID STKIP Budidaya
(Artikel ini telah dimuat di Rubrik TRP Analisa, 23 Oktober 2011)
“Sampan Zulaiha” Berlabuh di Binjai
“Sampan Zulaiha” Berlabuh di Binjai
Oleh: Tanita Liasna
Sastra adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni
kreatif yang objeknya adalah manusia dan kehidupannya dengan menggunakan bahasa
sebagai mediumnya. (saripuddin lubis:2010:1). Begitulah sastra, sebuah karya
nyata dari manusia, yang berasal dari kehidupan manusia, dan dimanfaatkan dan
dinikmati oleh manusia kembali. Tiga dalam satu wadah, tak dapat terpisahkan.Realita yang menjadi kebiasaan bahwa peminat acara
sastra memiliki kapasitas yang kurang maksimal. Banyak orang yang enggan
berfikir tentang sastra. Lihat saja, setiap ada acara yang diramu dengan tema
sastra, maka peminatnya alangkah menyedihkan bila dibandingkan dengan acara
yang diramu dengan tema kedatangan artis Ibukota atau artis Mancanegara.
Diperparah pula dengan cukup minimnya pengajar-pengajar di sekolah yang kurang
memperkenalkan sastra pada para peserta didik. Dihantam pula dengan kemerosotan
minat mahasiswa yang berkecimpung dalam dunia sastra terhadap sastra itu
sendiri. Ya hal itu dianggap lumrah, mengingat para petinggi negeri pun kurang
memberikan perhatian lebih terhadap kemajuan sastra, dan artefak-artefak
sastra.Dan “Sampan Zulaiha”; adalah sebuah antologi cerpen
karya Sastrawan Nasional dan Asia Tenggara: Hasan Al Banna yang telah
diluncurkan pada Sabtu (23/4) sore di kantin Taman Budaya Sumatera Utara
(TBSU). Antologi cerpen ini berisikan 15 cerpen yang dikemas apik dengan warna
lokal kota Medan.Untuk menumbuhkan kecintaan terhadap sastra,
memperkenalkan salah satu sastrawan Medan yang telah membahana hingga kepelosok
negeri, serta mengobati rindu para penikmat sastra kota Binjai, maka STKIP
Budidaya Binjai Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra menggelar Acara Talkshow
Sastra “Makmurkan Sampan Zulaiha Bersama Hasan Al Banna”, yang diadakan minggu
(28/5) di Pendopo Umar Baki. Penggagas acara ini adalah Saripuddin Lubis,
S.Pd,. Di dukung oleh STKIP Budidaya Binjai. Dan didampingi oleh beberapa
dosen, diantaranya Mastar Muham, M.Pd, Supiah Purba, S.Pd, Ali Sadikin, SS, Sri
Hidayati, S.Pd, Novianti S.pd, serta Adriadi, M.pd. Dan dihadiri oleh hampir
537 peserta dari kalangan mahasiswa, pelajar, guru, dan juga umum.Acara ini berjalan cukup khitmat. Diawali sambutan dari
Jamal dan Andi, selaku pembawa acara. Dilanjutkan dengan pembacaan doa. Lalu
kata sambutan oleh Mastar Muham, M.Pd selaku ketua panitia, selanjutkan untaian
sambutan dari Muslim Sembiring selaku ketua STKIP Budidaya, dan dilanjutkan
dengan penampilan musikalisasi puisi oleh Komunitas Membaca, Menulis, dan
Sastra Rumput Hijau SMA Negeri 2 Binjai, yang membawakan beberapa puisi, salah
satunya “Sebab Pahlawan Namaku”, karya M. Raudah Jambak. Lalu sambutan dari
Wakil Walikota Binjai, dan berlanjut pada pusat acara, yaitu Bedah Antologi
Cerpen Terbaru Hasan Al Banna.Pada bedah buku ini disuguhkan dua pembicara, yaitu
Saripuddin Lubis (Cerpenis, Esais, dan Dosen STKIP Budidaya Binjai), dan Ahmad
Badren Siregar (Cerpenis dan Pelaku Seni). Dan yang menjabat sebagai moderator
adalah Dani Sukma AS (Ketua Komunitas Penulis Anak Kampus (KOMPAK)). Bedah buku
ini berjalan cukup kreatif, karena para hadirin antusias sekali dalam
memberikan pertanyaan pada saat season
pertanyaan di buka.Ada mahasiswa yang mempertanyakan mengapa gambar kumpulan kulit kerang
yang menghiasi cover antologi cerpen Sampan Zulaiha. Lalu, memperdebatkan
cerpen Rabiah, yang menceritakan tentang kepasrahan TKI ketika akan dijemput
tali maut. Dan masih banyak lagi pertanyaan lain. Kesemua pertanyaan dijawab
dengan bijak dan menarik oleh para pembicara. Dan setelah semua pertanyaan
dijawab oleh pembicara, muncullah artis panggung yang sebenarnya, Hasan Al
Banna. Para hadirin teramat meriah menyambut
Hasan Al Banna di atas panggung. Setelah menyampaikan beberapa patah kata,
Hasan pun berlalu dari panggung. Kemudian sebagai penutup acara, Komunitas
Rumput Hijau kembali menggeliat penonton dengan kemerduan dan keindahan
musikalisasi puisi mereka.Dimana Hasan Al BannaMenarik bagi penulis, sebagai panitia penulis merasa
sangat lucu dengan pola tingkah para hadirin yang sibuk mengirimkan pesan
singkat kepada penulis, perihal keberadaan Hasan Al Banna. “Kapan Hasan Al
Banna muncul?”. “Mana Hasan Al Banna?”. Telepon seluler penulis tak henti
menerima pesan singkat tersebut. Padahal tanpa mereka sadari, penulis yang mereka
cari sedang berputar-putar ria mengitari arena acara. Geli! Benar-benar geli.
Dan ketika sang penulis yang ditunggu-tunggu dipanggil ke atas panggung, semua
terpana dan tak menyangka. Begitulah Hasan Al Banna; ramah, sederhana, bijak,
rendah hati, dan apa adanya. Satu ungkapan Hasan yang tak mampu penulis lupakan
adalah ungkapannya yang mengibaratkan pujian dan kritikan dari para penikmat
karyanya sebagai sepasang kakinya. Beliau tidak ingin jika hanya pujian yang
disodorkan padanya. Beliau juga ingin para penikmat karyanya menghadiahinya
sebuah kritikanKekuatan Antologi Cerpen Sampan
Zulaiha Sampan Zulaiha adalah sebuah
buku antologi cerpen yang menyuguhkan warna lokal Sumatera Utara, seperti
Tapanuli Selatan, dan daerah pesisir.
Dengan membaca cerpen-cerpen dalam Sampan Zulaiha kita sekarang sudah
tahu arti dari Amangboru, Parompa Sadun,
dan banyak lagi. Diksi yang dipergunakan membuai para pembaca untuk ikut melaut
dalam lautan kata yang diramu oleh Hasan Al Banna. Seperti dalam petikan kata
ini; “lautkah gemulai rahim yang
mendamparkanku ke dunia?” Kemudian permasalahan yang dituangkan dalam
setiap cerpen mencerminkan kehidupan sehari-hari yang kadang luput dari
perhatian kita. Dan yang tak kalah menarik, tak lupa Hasan Al Banna mendekorasi
setiap masalah ke dalam budaya-budaya nyata di masyarakat, baik yang berbau
adat kesukuan ataupun adat yang diakibatkan dari kebiasaan “orang dulu”. Kemudian kekuatan
yang semakin mengekarkan cerpen-cerpen dalam Sampan Zulaiha adalah alur cerita
yang sebagian besar beralur kilas balik. Dengan alur demikian, Hasan membuahkan
cerpen-cerpen yang membuat pembaca bermain adrenalin, dan mereka-reka sendiri
bagaimana penghujung dari cerita yang dinikmati. Selanjutkan akhir
cerita yang semuanya berakhir duka, membuat kesadaran pada manusia, bahwa hidup
yang dijalani jaranglah mulus berjalan. Ada
saja batu menyandung menciptakan perih, bahkan kematian tak terelakkan.
Menyadarkan manusia untuk mensyukuri nikmat, dan menyadari semua pilihan adalah
jalan yang harus ditempuh dan tak semuanya sesuai dengan harap. Semua memiliki
masalah, semua memiliki pilihan.Bersyukur Penulis wajib mensyukuri
karena mendapat kesempatan bertanya langsung perihal sebab musibab munculnya
judul besar Sampan Zulaiha. Lalu mencuri sedikit ilmu mujarab yang dimiliki
oleh Hasan Al Banna. Begini hal yang penulis tanyakan: “Bagaimana cara
menciptakan warna diksi kita sendiri, tanpa terbawa arus oleh para sastrawan
yang kita kagumi?”
“Semua kata telah tersedia, kita harus pandai mengawinkan kata”.“Ibarat mengkloning, seperti itulah”. Jawab beliau dengan semburat senyum.Dan penulis juga berkesempatan mengkritik salah satu cerpen beliau yang menurut penulis kurang sampai pada logika penulis. Dan Hasan menghadiahi penulis dengan jawaban yang menarik, dan dengan satu pendiriannya: begitu Sampan Zulaiha diterbitkan dan diluncurkan, sang sampan adalah milik pembaca.
“Semua kata telah tersedia, kita harus pandai mengawinkan kata”.“Ibarat mengkloning, seperti itulah”. Jawab beliau dengan semburat senyum.Dan penulis juga berkesempatan mengkritik salah satu cerpen beliau yang menurut penulis kurang sampai pada logika penulis. Dan Hasan menghadiahi penulis dengan jawaban yang menarik, dan dengan satu pendiriannya: begitu Sampan Zulaiha diterbitkan dan diluncurkan, sang sampan adalah milik pembaca.
Sampan Zulaiha
adalah sebuah cerpen yang memuncahkan tangis dalam hati penulis, sekaligus
kebahagiaan yang tak ada tara, karena dapat
menikmatinya. Begitu juga 14 cerpen yang lain, menyelinap pada dinding-dinding
pikiran penulis, melalui diksi-diksi yang begitu nyata dan alami.Ya, Bang Hasan, angsa
imajinasi lebih anggun dari angsa di danau.
Dermaga Rindu, 29 Mei 2011
Email tanita_liasna@rocketmail.com.
(Artikel ini telah dimuat di Rubrik
TRP Analisa, 26 Juni 2011)
Minat Membaca di Indonesia Masih Abnormal
Minat Membaca di Indonesia Masih AbnormalOleh: Tanita LiasnaBaca/membaca adalah melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis (dengan melisankan atau hanya dalam hati) (Budiono:72). Pengertian di atas memberikan petunjuk, bahwa untuk memahami tulisan, maka harus membaca. Dalam ruang gelitikan Analisa (Minggu 03 Juli 2011) berjudul Hanya “cakap-cakap”, penulis Muhlis’s memaparkan kegiatan menumbuhkan minat baca masih sebatas “cakap-cakap”. Penulis sependapat dengan beliau.Membaca dan BukuAda satu ungkapan “membaca adalah kunci ilmu, sedangkan gudangnya ilmu adalah buku.” Di Indonesia, minat membaca sangatlah minim. Dan buku masih menjadi hal yang dianggap sepele oleh masyarakat. Bukan hanya pada masyarakat awam, bahkan dikalangan para siswa dan mahasiswa pun, buku tak menjadi primadona. Padahal apalah daya seorang pelajar, jika tak memiliki buku. Lalu, diikuti pula dengan masih melambungnya harga buku. Sehingga, dengan kondisi perekonomian saat ini, banyak orang yang harus berfikir berulang kali untuk membeli buku. Padahal, dari buku kita temukan segala hal yang tak mampu kita lihat dengan mata. Dari buku pula pengalaman orang lain dapat menjadi pelajaran bagi kita, dan dari buku juga kita dapat santai sejenak dari kepenatan yang seakan tak pernah henti menggerayangi kita. Dengan kata lain, berkat membaca kita dapat mengenal dunia dan diri kita sendiri.Fakta yang MenyedihkanBeberapa fakta yang menunjukkan minimnya minat baca masyarakat Indonesia adalah;
- Hasil survai Unesco menunjukkan bahwa Indonesia sebagai negara dengan minat baca masyarakat paling rendah di Asean. Peningkatan minat baca masyarakat akan mempercepat kemajuan bangsa Indonesia, karena tidak ada negara yang dapat maju tanpa buku, kata panitia pameran Tri Bintoro di Solo (Republika, Rabu (26/1)
- Berdasarkan studi lima tahunan yang dikeluarkan oleh Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) pada tahun 2006, yang melibatkan siswa sekolah dasar (SD), hanya menempatkan Indonesia pada posisi 36 dari 40 negara yang dijadikan sampel penelitian. Posisi Indonesia itu lebih baik dari Qatar, Kuwait, Maroko, dan Afrika Selatan,” ujar Ketua Center for Social Marketing (CSM), Yanti Sugarda di Jakarta, Rabu (7/7).
- Penelitian Human Development Index (HDI) yang dikeluarkan oleh UNDP untuk melek huruf pada 2002 menempatkan Indonesia pada posisi 110 dari 173 negara. Posisi tersebut kemudian turun satu tingkat menjadi 111 di tahun 2009
- Berdasarkan data CSM, yang lebih menyedihkan lagi perbandingan jumlah buku yang dibaca siswa SMA di 13 negara, termasuk Indonesia. Di Amerika Serikat, jumlah buku yang wajib dibaca sebanyak 32 judul buku, Belanda 30 buku, Prancis 30 buku, Jepang 22 buku, Swiss 15 buku, Kanada 13 buku, Rusia 12 buku, Brunei 7 buku, Singapura 6 buku, Thailand 5 buku, dan Indonesia 0 buku
- Kompas (Kamis, 18 Juni 2009) Budaya baca masyarakat Indonesia menempati posisi terendah dari 52 negara di kawasan Asia Timur berdasarkan data yang dilansir Organisasi Pengembangan Kerja sama Ekonomi (OECD), kata Kepala Arsip dan Perpustakaan Kota Surabaya Arini. Saat berbicara dalam seminar “Libraries and Democracy” digelar Perpustakaan Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya bersama Goethe-Institut Indonesien dan Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi Indonesia (ISIPII) di Surabaya, Rabu, dia mengatakan, OECD juga mencatat 34,5 persen masyarakat Indonesia masih buta huruf.
Menggugah dengan “Melainkan”
Menggugah dengan “Melainkan”Oleh: Tanita Liasna Pernah beberapa kali menggugah Medan dengan konser musikalisasi puisinya, kali ini Sanggar Rumput Hijau SMA Negeri 2 Model Binjai mengadakan konser musikalisasi puisi di kota Binjai yang bertajuk “Melainkan”. Acara ini diselenggarakan pada 16 November 2012 di Pendopo Umar Baki Binjai. Memang konser mereka kali ini sangat lain. Dengan tata panggung yang sangat sederhana, dipadu dengan dengan para pemain yang berpenampilan sederhana, konser ini mampu menghipnotis para penonton yang memenuhi Pendopo Umar Baki. Dengan kolaborasi bersama Musisi Dunia Akhirat, konser ini semakin menarik hati para penikmatnya. Acara dimulai dengan kata sambutan dari perwakilan Kepala Sekolah sekota Binjai. Kemudian dilanjutkan dengan kata sambutan sekaligus pembukaan acara oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Binjai. Dalam sambutan tersebut beliau menyampaikan pula buah-buah kemenangan yang telah diraih oleh Sanggar Musikalisasi Puisi Rumput Hijau sejak tahun 2009 hingga sekarang yang terdiri dari kemenangan di tingkat Kota hingga tingkat Nasional. Kemudian acara diambil alih oleh Hasan Al Banna, seorang sastrawan Indonesia yang telah melanglang buana hingga ke Asia Tenggara. Pembukaan pertama dimulai dengan musikalisasi puisi berjudul Ceracau Sebongkah Kota karya Hasan Al Banna sendiri. Selanjutnya musikalisasi puisi karya penyair tersohor angkatan 45 Chairil Anwar, dengan judul Cintaku Jauh di Pulau. Kemudian dilanjutkan dengan musikalisasi puisi Torsa Ni Namora Pande Bosi karya penulis Medan tersohor M. Raudah Jambak.Lalu para penikmat acara disuguhi penampilan dari Musisi Dunia Akhirat yang membawakan puisi Rindu goresan pena Hasan Al Banna. Puisi Rindu yang ditampilkan cukup menggelitik mata dan hati para penonton.Setelah itu, Rumput Hijau pun kembali menguasai panggung dengan membawakan puisi berjudul Sepisaupi. Puisi itu adalah buah karya sastrawan senior Indonesia yang terkenal dengan puisi kontemporernya. Lalu puisi Hotel Siantar menjadi puisi yang dimusikalisasikan selanjutnya. Puisi tersebut merupakan hasil kreatif dari seorang Damiri Mahmud yang merupakan sastrawan senior asal Sumatera Utara. Dan sebagai penutup, Sanggar Rumput Hijau membawakan puisi buah imajinasi dari Teja Purnama yang berjudul Akulah Medan.Konser yang Menggugah Puisi-puisi yang dimusikalisasikan oleh Sanggar Rumput Hijau SMA Negeri 2 Model Binjai, memanglah puisi-puisi yang syarat akan makna. Ditambah pula dengan aransemen yang sangat kreatif, membuat musikalisasi puisi tersebut semakin luar biasa. Bukan itu saja, keharmonisan yang dihasilkan dari permainan alat-alat musik dan juga suara-suara merdu dari para penyanyi, membuat konser sederhana ini benar-benar sangat menggugah. Hampir seluruh puisi dibawakan dengan sangat luar biasa. Setiap baris puisi mampu membuat penulis lebih dalam menafsirkan makna puisi tersebut. Seakan setiap puisi memiliki ruh masing-masing. Bahkan ketika penulis menutup mata dan hanya mendengarkan suara para penyanyi disertai dengan iringan musik, hal itu membuat hati penulis terasa lebih tenang. Rasa sakit yang sedang melanda (ketika menonton konser penulis sedang dalam keadaan sakit) seakan hilang ketika syair-syair puisi tersebut merdu berkumandang di telinga penulis. Selain itu, ada pula sebuah puisi yang mampu membuat penulis hampir meneteskan air mata. Kemudian selain penampilan Sanggar Rumput Hijau, ada pula penampilan kocak dari Musisi Dunia Akhirat. Musisi Dunia Akhirat yang telah membentangkan sayapnya hingga ke Belanda mampu membuat para penonton tersenyum girang.Harapan Dalam acara tersebut Hasan Al Banna sempat mengatakan bahwa musikalisasi puisi adalah sebuah cara lain dalam menafsirkan makna sebuah puisi. Ya, benar adanya. Dengan mendengarkan atau melihat musikalisasi puisi, maka akan muncul sebuah pemaknaan yang lebih mendalam tentang sebuah puisi. Selain itu, puisi juga akan terasa lebih nikmat ketika disuguhkan lewat sebuah musikalisasi. Maka diharapkan, konser musikalisasi puisi “Melainkan” mampu menarik minat para pelajar, baik siswa maupun mahasiswa untuk mempelajari musikalisasi puisi. Kemudian diharapkan pula, musikalisasi puisi mampu merambah hingga ke sekolah-sekolah lainnya, bukan hanya di SMA Negeri 2 Model Binjai. Lalu kepada SMA Negeri 2 Model Binjai diharapkan mampu tetap eksis dan lebih meningkatkan kreativitas, sehingga dapat terus menuai prestasi dan tetap membanggakan Sumatera Utara, khususnya Binjai.Rumah Cerita, 16 November 2012(Artikel ini telah dimuat di Rubrik TRP Analisa, 27 Januari 2013)
Menarik Minat Siswa Memilih Lewat Pergelaran Seni
Menarik Minat Siswa
Memilih Lewat Pergelaran Seni
Oleh: Tanita Liasna
Tak terasa, sebentar lagi Sumatera Utara akan melaksanakan pesta demokrasi.
Yang tak lain adalah pemilihan Gubernur Sumatera Utara, yang akan dilaksanakan
pada 07 Maret 2013.
Dan
untuk mensosialisasikan tata cara pemilihan gubernur Sumatera Utara kepada para
siswa yang baru akan mengikuti pesta demokrasi, maka pada 28 Januari 2013, KPU
Sumut mengadakan Pergelaran Seni sekaligus Sosialisasi Pilgubsu dengan tema
“Cerdas Memilih”.
Acara
ini diadakan di Pendopo Umar Baki Binjai
dan acara diisi oleh para seniman Medan dan Binjai. Ada group musik Medan, para
penari etnis kota Medan, group drama, serta group Musikalisasi Rumput Hijau
kota Binjai.
Menarik
Minat Siswa
Pergelaran seni serta sosialisasi Pilgubsu ini memang diadakan khusus untuk
para pemula yang akan mengikuti pesta demokrasi. Yaitu anak-anak Sekolah
Menengah Atas dan Kejuruan yang berada di sekitar Binjai dan Langkat.
Acara
dikemas dengan sangat menarik. Acara diisi oleh suara merdu dari group musik
Metronom Colaboration kota Medan. Kemudian penampilan tari Melayu Kreasi
pimpinan Anji White kota Medan. Selanjutnya arahan dari Bapak dan Ibu yang
bernaung dalam Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumut. Arahan ini disampaikan dengan
sangat santai. Membuat para siswa
tertarik untuk mendengarkan. Arahan itu berisi tata cara pemilihan umum,
bagaimana cara menjadi pemilih cerdas, hingga apa-apa saja syarat menjadi
seorang peserta pesta demokrasi. Arahan tersebut juga dipadukan dengan group
drama Jamal CS. Group drama yang mampu membuat para peserta yang hadir
terpingkal-pingkal dengan guyon yang mereka tampilkan di atas pentas. Kemudian
setelah itu, group musikalisasi puisi Rumput Hijau pun membawakan puisi Lukisan
Medan, karya Saripuddin Lubis.
Selain
acara-acara di atas, diadakan pula kuis yang hadiahnya sangat berguna bagi para
siswa. Kuis itu berupa pertanyaan dari hal-hal yang disampaikan dalam arahan
yang dibawakan oleh Bapak dan Ibu KPU Sumut.
Cerdas
Memilih Sejak Dini
Dengan diadakannya Sosialisasi Pilgubsu ini, para siswa yang akan mengikuti
pesta demokrasi untuk pertama kalinya, akan memahami tata cara dan
syarat-syarat menjadi seorang pemilih.
Kemudian,
dengan beberapa penyampaian mengenai hal-hal yang berhubungan dengan pemilihan
umum, para siswa akan semakin banyak pengetahuan mengenai pesta demokrasi. Dan
mereka akan semakin memahami betapa pentingnya arti suara mereka dalam
pemilihan umum. Dengan pencapaian ini, diharapkan siswa siswi mampu cerdas
memilih sejak dini.
Rumah Cerita,
28 Januari 2013
(Artikel ini telah dimuat di Rubrik
TRP Analisa, 24 Februari 2013)
Langganan:
Komentar (Atom)