3 Mei 2013

Nyonya Miranda



Nyonya Miranda
Oleh: Tanita Liasna
Nyonya Miranda tersenyum simpul sambil membuka pintu menyambut kedatanganku. Aku selalu mengunjungi wanita berusia 68 tahun itu. Hanya untuk melihat keadaannya atau membawa sedikit makanan untuk dimakan bersama sambil bertukar cerita.
“Apa yang kau bawa itu Nai?”
“Sedikit bubur kacang hijau, buatanku sendiri.” Gumamku sambil mengikuti Nyonya Miranda masuk.
“Tunggulah di beranda.” Ucapnya sambil mengambil rantang bubur kacang hijau dari tanganku.
Aku berjalan ke beranda yang letaknya di halaman belakang rumah. Aku duduk di kursi bambu yang sepertinya tak kalah tua denganku. Kursi itu berada tepat di tengah beranda. Kursi itu berpasangan.
Ku alihkan mataku ke halaman. Bunga aneka warna dan rupa tertata rapi di sana. Angrek berwarna lila, putih, kuning, merah dan coklat tertata di bagian kiri halaman. Di sisi yang lain hidup juga bunga mawar merah tersusun rapi seperti terbingkai segi empat. Dan ada beberapa pohon buah-buahan di sekitar halaman. Menyejukkan mata dan menenangkan jiwa.
Nyonya Miranda datang membawa dua mangkuk bubur kacang hijau. Harum cengkih menyengat hidungku. Nyonya Miranda duduk di sampingku. Sambil menikmati hangatnya bubur yang memasuki tenggorokanku, ku perhatikan wajah Nyonya Miranda. Goresan-goresan di bawah matanya telah jelas terlihat. Kulit pipinya pun sudah tak kencang lagi. Namun matanya masih memancarkan keberanian dan kepercayaan diri.
Aku lalu teringat pada nenek. Nenekku adalah sahabat lama Nyonya Miranda. Dulu, aku selalu mengunjungi Nyonya Miranda bersama nenek. Tapi itu dulu,  sebelum nenekku pulang kepangkuan Ilahi. Bagi nenek Nyonya Miranda adalah sahabat yang paling mengerti akan dirinya. Walaupun setelah tamat sekolah mereka terpisah oleh jarak, nenek tetap di Binjai dan Nyonya Miranda melanjutkan studinya di Jakarta, namun persahabatan mereka tetap terjalin. Bahkan saat nenek menikah, Nyonya Miranda hadir. Namun nenek tidak dapat menghaadiri pernikahan Nyonya Miranda, karena dia menikah di Negara kengguru, Australia.
Semasa muda, Nyonya Miranda adalah seorang wanita karier yang berhasil. Baginya kesuksesan adalah tujuan hidupnya. Dia orang yan begitu optimis. Namun ada satu hal yang sulit di pahami dan diaa begitu pesimis memandang hal ini yaitu; cinta.
“Apa yang kau pikirkan?” Tanyanya dengan lembut. “Apa yang kau pikirkan tentang aku?” Tanyanya lagi.
            Aku tersenyum mendengar ucapannya. Kemampuan Nyonya Miranda membaca pikiran dan perasaanku membuatku begitu tenang bila berada di dekatnya.
            “Nyonya wanita yang hebat! Berani mengambil resiko dan tak pernah berputus asa. Nyonya selalu tulus dan punya tujuan mulia dalam hidup. Tapi mengapa Nyonya begitu pesimis dalam hal itu?” Tanyaku dengan penuh hati-hati.
dan melekat pasti.
            “Nai, hidup itu adalah sebuah pilihan. Tak gampang untuk menentukan pilihan dalam hidup kita. Tapi kita bisa pelan-pelan menentukannya melalui pengertian kita terhadap diri kita sendiri” jawabnya dengan begitu tenang.” Aku hanya mengangguk menandakan kepahamanku terhadap ucapannya. Kemudian dia melanjutkan kembali kata-katanya.
            “Aku memilih kesuksesan dan kebahagiaan keluarga, karena aku merasa dengan cara itulah aku bisa tersenyum dan merelakan apapun yang ku punya tanpa penyesalan dan penurunan harga diri. Dan aku meninggalkan dan menomorbawahkan cinta, karena aku merasa cinta hanya membuatku menangis, dan aku tak pernah mau merelakan apapun demi iming-iming cinta.”
            “Apa seumur hidup, Nyonya tak pernah jatuh cinta?” Tanyaku.
“Entahlah. Aku tidak pernah tahu apa makna cinta yang sebenarnya. Aku tak mampu mendeskripsinya. Walaupun aku banyak membaca buku tentang pengertian cinta dan kisah-kisah cinta yang begitu indah. Aku sulit membedakan antara sebuah ambisi dan sebuah perasaan cinta.” Ucapnya dengan tenang. Tapi aku merasakan gejolak jiwanya yang begitu sulit untuk dijelaskan.
“Mungkin karena aku terlahir tanpa cinta dari orang tuaku dan perjalanan hidupku yang tak pernah melihat dan merasakan cinta yang benar-benar tulus, yang membuatku berpikir pesimis tentang cinta.”
“Maksud anda?!” Tanyaku penuh selidik.
“Aku terlahir dalam keluarga yang tidak menghargai cinta. Orang tuaku selingkuh dan akhirnya mereka bercerai. Dan akhirnya aku tahu bahwa papaku saat itu, bukanlah papa kandungku. Saat aku mendengar pengakuan itu dari ibuku, aku tak mampu bertanya, dan aku juga tak mau tahu siapa lelaki yang telah membuatku ada di dunia ini. Yang terlahir dari ini semua hanyalah rasa dendam dan sebuah prinsip, ‘segala sesuatu yang telah dibuang tidak dapat diambil kembali’.”
Ku lihat ada seuntai air mata jatuh di kedua pipi tuanya. Dan tanpa kusadari, aku pun telah meneteskan air mata.
“Jadi Nyonya mennikahi suami Nyonya bukan atas dasar cinta?!tanyaku lagi.
Dia tersenyum mendengar pertanyaanku. “Aku dan dia telah berjodoh.” Jawabnya singkat.
Aku tertegun mendengar jawabannya.
“Ibuku pun menikahi suami keduanya karena memang berjodoh. Itu pulalah yang menjadikanku percaya akan yang namanya jodoh.” Jawabnya menambahkan.
“Dulu aku merasa tak mengalami kesulitan yang berarti dalam hidupku. Aku merasa hidupku begitu bahagia karena Tuhan tak pernah menurunkan cobaan yang berat bagiku. Tapi suatu malam, saat aku sendiri, dan pelan-pelan kusadari prinsip-prinsip hidupku, juga apa yang kujadikan sebagai tumpuan hidupku, akhirnya aku sadar, aku telah diberi cobaan yang cukup berat oleh Tuhan. Dan mungkin takkan ada ujungnya, yaitu ketidakpercayaanku akan cinta dan ketidakpunyaanku akan cinta. Karena aku tak pernah bergelut dengan cinta, bahkan saat aku akan dilahirkan ke dunia.” Jawabnya dengan  genangan air mata, yang membanjiri pipinya. Ku peluk ia. Dia menangis dalam isak yang begitu menyayat.
****
Esok siangnya, rumah Nyonya Miranda yang biasanya sepi, kali ini begitu ricuh dengan hiruk pikuk orang-orang. Anak perempuannya yang adalah anak tungalnya pun ada dalam kericuhan orang-orang itu. Aku segera masuk demi memuaskan rasa penasaranku. Dan aku melihat seonggok tubuh dengan wajah Nyonya Miranda terbujur kaku. Semua sanak keluarga dan para sahabatnya  menangis dengan cara mereka masing-masing.
 Aku menghampiri mayat Nyonya Miranda. Bulir-bulir air mata menetes di pipiku. Ternyata semalam, adalah kali terakhir aku melihat dan berbagi cerita dengannya.
****
            Malam ini langit kelam. Badanku lelah setelah setengah harian mengikuti acara pemakaman dan tahlilan Nyonya Miranda. Tiba-tiba aku teringat tentang surat yang dititipkan Nyonya Miranda pada anaknya, untukku. Kubuka satu-satu lipatan surat tanpa amplop, dan hanya ditulis pada sebuah kertas buku biasa.
            Terima kasih kau telah mendengarkan isi hatiku. Selama ini,  aku tak pernah utarakan isi hatiku yang satu itu pada siapapun, bahkan dengan suamiku sendiri. Aku malu dan merasa tertekan dengan semua itu. Tapi setelah kucurahkan semuanya kepadamu, hatiku tenang sekali.
            Banyak orang mengatakan, aku punya segalanya dalam hidupku. Tapi tahukah kau bahwa sebenarnya, aku tak memiliki apa-apa??!!
            Sekali lagi terima kasih Nai…
Salam sayang selalu
                                                                                    Dariku, untukmu
                                                                                          Miranda
Tetesan air mataku membasahi surat Nyonya Miranda. Bayangan wajah tegar Nyonya Miranda hadir dalam benakku.
            Hidup memang sebuah pilihan. Dan apapun pilihan hidupmu, semuanya, akan kau tuai sendiri.                                                                                                     
Binjai, 21 Februari 2010

(Cerpen ini telah dimuat di Rubrik TRP Analisa, 09 September 2012)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar