Rio Naik
Baling-Baling
Oleh: Tanita Liasna
Sekitar pukul enam sore, Rio pulang dari lapangan bola dengan nafas yang
terengah-engah.
“Mak..Mak..
Assalamualaikum,” ucap Rio di depan pintu rumah.
“Waalaikumsalam.
Ada apa Yo?” tanya Mak heran.
“Mak,
katanya malam ini mulai buka pasar malam di asrama 121,” ucap Rio semangat.
“Ya,
Mak tahu Yo. Bapak sama Mak mau jualan jagung bakar di sana,” jawab Mak.
“Ini
kan lagi libur Mak. Rio ikut bantu jualan ya Mak,” ucap Rio lagi. Mak menjawab
dengan anggukan.
Rio
seorang anak kelas enam sekolah dasar. Dia anak yang sangat rajin bekerja.
Setiap hari Rio membantu Bapak dan Maknya bekerja. Pulang sekolah, Rio selalu
membantu Bapaknya bekerja di sawah. Sedangkan setiap Sabtu malam, Rio membantu
Mak berjualan jagung bakar.
Malam
pun tiba. Rio sudah berada di pasar malam bersama Mak dan Bapaknya. Di sana telah ramai para pengunjung yang
ingin merasakan aneka permainan. Ada permainan rumah hantu, ada kuda pusing,
baling-baling, tong setan, dan masih banyak lagi.
Rio
sangat senang melihat orang ramai di sekitarnya. Cahaya lampu menambah
kemeriahan pasar malam. Di antara begitu banyak permainan, Rio sangat menyukai
baling-baling. Sudah lama Rio ingin naik baling-baling. Tapi dia tidak berani
mengatakan pada kedua orang tuanya. Karena setiap ke pasar malam, Rio membantu
Mak berjualan.
Orang
yang selesai menikmati permainan, banyak yang membeli jagung bakar di tempat
Rio. Karena jagung bakar buatan Mak Rio memang terkenal cukup enak. Karena
itulah, Rio tak pernah bisa melaksanakan keinginannya untuk naik baling-baling
ketika ada pasar malam.
Ketika
Rio sedang membantu Mak membungkus jagung bakar, seseorang menegurnya.
“Hai
Yo,” ujar seorang anak perempuan padanya.
“Eh,
Lisa. Mau beli jagung?” tanya Rio ramah.
“Nanti
dululah. Aku mau naik baling-baling dan masuk rumah hantu,” ujar Lisa sambil
berlalu. Rio hanya tersenyum. Dalam hati, Rio ingat akan keinginannya naik
baling-baling.
Esok
sorenya ketika akan bermain bola, Rio bercerita dengan Jaka teman karibnya.
“Ka,
kamu udah ada ke pasar malam?” tanya Rio.
“Belum
Yo. Mamakku janji nanti malam. Entah jadi entah nggak,” jawab Jaka.
“Kamu
mau main apa di sana?” tanya Rio lagi.
“Banyaklah.
Tapi aku kepingin naik baling-baling lagi”.
“Oh,
berapa kali kamu udah naik baling-baling?”
“Seringlah.
Setiap ada pasar malam kan aku pergi ke sana. Kamunya yang kutengok nggak
pernah main apa-apa. Padahal Makmu jualan di sana,” ujar Jaka.
“Aku
pun kepingin Ka naik baling-baling,” sahut Rio sedih.
“Ya
udah. Nanti malam kita naik baling-baling,” jawab Jaka tersenyum.
“Aku
bantu Mak Ka. Kasian Mak tak ada yang bantu. Bapak kan sekedar antar kami naik
becak dayung saja. Nanti jam setengah sebelas jemput lagi,” jelas Rio pada
Jaka.
“Bilang
aja kamu kepingin. Pasti dikasi,” jawab Jaka memberi saran. Rio hanya
tersenyum.
Pulang
bermain bola, Rio mandi. Lalu makan dan bersiap-siap untuk membantu Mak
berjualan. Di jalan, Rio mencoba mengatakan keinginannya untuk naik
baling-baling.
“Mak,”
panggil Rio.
“Apa
Yo?” tanya Mak memandang ke arah Rio.
“Nggak
apa-apa,” jawab Rio.
Mak
heran melihat ulah Rio. Tidak biasanya Rio seperti itu. Biasanya jika ingin
sesuatu Rio akan mengatakannya.
Tak
lama, mereka sampai di pasar malam. Masih agak sepi di sana. Bapak sibuk
membantu Mak menurunkan barang-barang dan membantu Mak menyiapkan tempat
jualan.
“Yo!”
jerit seseorang memanggil namanya.
Itu
suara Jaka, pikir Rio. Rio melihat ke arah Jaka yang berlari menuju tempat
jualan Rio.
“Jadi
kita naik baling-baling?” tanya Jaka dengan suara lantang.
Rio
menatap ke arah Mak dan Bapak. Kebetulan saat itu Bapak masih ada di sana.
“Nggak
ada yang bantu Mak Ka,” jawab Rio.
“Ya
udah, main sana sama Jaka. Biar Bapak bantu Mak hari ini,” sahut Bapak.
“Boleh
Pak? Bener boleh?” tanya Rio kegirangan.
“Ya
Yo. Ini duitnya,” ujar Bapak sambil memberi uang pada Rio.
Rio
tersenyum girang menerima uang pemberian Bapak. Dia bersama Jaka berlari ke
arah tempat pembelian karcis. Dan segera mengantri di depan pintu naik
baling-baling. Rio sangat senang, akhirnya keinginannya untuk naik
baling-baling tercapai.
Rumah
Cerita, 31 Maret 2012
(Cerpen anak ini telah dimuat di Rubrik Taman Riang Analisa, 26 April 2012)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar