3 Mei 2013

Rio Naik Baling-Baling



Rio Naik Baling-Baling
Oleh: Tanita Liasna

            Sekitar pukul enam sore, Rio pulang dari lapangan bola dengan nafas yang terengah-engah.
            “Mak..Mak.. Assalamualaikum,” ucap Rio di depan pintu rumah.
            “Waalaikumsalam. Ada apa Yo?” tanya Mak heran.
            “Mak, katanya malam ini mulai buka pasar malam di asrama 121,” ucap Rio semangat.
            “Ya, Mak tahu Yo. Bapak sama Mak mau jualan jagung bakar di sana,” jawab Mak.
            “Ini kan lagi libur Mak. Rio ikut bantu jualan ya Mak,” ucap Rio lagi. Mak menjawab dengan anggukan.
            Rio seorang anak kelas enam sekolah dasar. Dia anak yang sangat rajin bekerja. Setiap hari Rio membantu Bapak dan Maknya bekerja. Pulang sekolah, Rio selalu membantu Bapaknya bekerja di sawah. Sedangkan setiap Sabtu malam, Rio membantu Mak berjualan jagung bakar.
            Malam pun tiba. Rio sudah berada di pasar malam bersama Mak dan Bapaknya.  Di sana telah ramai para pengunjung yang ingin merasakan aneka permainan. Ada permainan rumah hantu, ada kuda pusing, baling-baling, tong setan, dan masih banyak lagi.
            Rio sangat senang melihat orang ramai di sekitarnya. Cahaya lampu menambah kemeriahan pasar malam. Di antara begitu banyak permainan, Rio sangat menyukai baling-baling. Sudah lama Rio ingin naik baling-baling. Tapi dia tidak berani mengatakan pada kedua orang tuanya. Karena setiap ke pasar malam, Rio membantu Mak berjualan.
            Orang yang selesai menikmati permainan, banyak yang membeli jagung bakar di tempat Rio. Karena jagung bakar buatan Mak Rio memang terkenal cukup enak. Karena itulah, Rio tak pernah bisa melaksanakan keinginannya untuk naik baling-baling ketika ada pasar malam.
            Ketika Rio sedang membantu Mak membungkus jagung bakar, seseorang menegurnya.
            “Hai Yo,” ujar seorang anak perempuan padanya.
            “Eh, Lisa. Mau beli jagung?” tanya Rio ramah.
            “Nanti dululah. Aku mau naik baling-baling dan masuk rumah hantu,” ujar Lisa sambil berlalu. Rio hanya tersenyum. Dalam hati, Rio ingat akan keinginannya naik baling-baling.
            Esok sorenya ketika akan bermain bola, Rio bercerita dengan Jaka teman karibnya.
            “Ka, kamu udah ada ke pasar malam?” tanya Rio.
            “Belum Yo. Mamakku janji nanti malam. Entah jadi entah nggak,” jawab Jaka.
            “Kamu mau main apa di sana?” tanya Rio lagi.
            “Banyaklah. Tapi aku kepingin naik baling-baling lagi”.
            “Oh, berapa kali  kamu udah naik baling-baling?”
            “Seringlah. Setiap ada pasar malam kan aku pergi ke sana. Kamunya yang kutengok nggak pernah main apa-apa. Padahal Makmu jualan di sana,” ujar Jaka.
            “Aku pun kepingin Ka naik baling-baling,” sahut Rio sedih.
            “Ya udah. Nanti malam kita naik baling-baling,” jawab Jaka tersenyum.
            “Aku bantu Mak Ka. Kasian Mak tak ada yang bantu. Bapak kan sekedar antar kami naik becak dayung saja. Nanti jam setengah sebelas jemput lagi,” jelas Rio pada Jaka.
            “Bilang aja kamu kepingin. Pasti dikasi,” jawab Jaka memberi saran. Rio hanya tersenyum.
            Pulang bermain bola, Rio mandi. Lalu makan dan bersiap-siap untuk membantu Mak berjualan. Di jalan, Rio mencoba mengatakan keinginannya untuk naik baling-baling.
            “Mak,” panggil Rio.
            “Apa Yo?” tanya Mak memandang ke arah Rio.
            “Nggak apa-apa,” jawab Rio.
            Mak heran melihat ulah Rio. Tidak biasanya Rio seperti itu. Biasanya jika ingin sesuatu Rio akan mengatakannya.
            Tak lama, mereka sampai di pasar malam. Masih agak sepi di sana. Bapak sibuk membantu Mak menurunkan barang-barang dan membantu Mak menyiapkan tempat jualan.
            “Yo!” jerit seseorang memanggil namanya.
            Itu suara Jaka, pikir Rio. Rio melihat ke arah Jaka yang berlari menuju tempat jualan Rio.
            “Jadi kita naik baling-baling?” tanya Jaka dengan suara lantang.
            Rio menatap ke arah Mak dan Bapak. Kebetulan saat itu Bapak masih ada di sana.
            “Nggak ada yang bantu Mak Ka,” jawab Rio.
            “Ya udah, main sana sama Jaka. Biar Bapak bantu Mak hari ini,” sahut Bapak.
            “Boleh Pak? Bener boleh?” tanya Rio kegirangan.
            “Ya Yo. Ini duitnya,” ujar Bapak sambil memberi uang pada Rio.
            Rio tersenyum girang menerima uang pemberian Bapak. Dia bersama Jaka berlari ke arah tempat pembelian karcis. Dan segera mengantri di depan pintu naik baling-baling. Rio sangat senang, akhirnya keinginannya untuk naik baling-baling tercapai.

Rumah Cerita, 31 Maret 2012
(Cerpen anak ini telah dimuat di Rubrik Taman Riang Analisa, 26 April 2012)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar