3 Mei 2013

Ketamakan Pangeran Doku



Ketamakan Pangeran Doku
Oleh: Tanita Liasna

            Dahulu di sebuah kerajaan, hiduplah seorang raja yang baik lagi bijaksana bernama Raja Jatiraga. Raja Jatiraga terkenal amatlah pengasih dan adil kepada rakyatnya. Sehingga rakyatnya hidup damai sejahtera.
            Suatu hari, Raja jatuh sakit. Akibat umurnya yang sudah tua. Seluruh menteri dan rakyat meminta raja baru segera naik tahta.
            Raja memiliki seorang putra bernama Pangeran Doku. Namun sayang sekali, Pangeran Doku bersifat tamak dan sombong. Lebih senang berfoya-foya. Dan tidak peduli dengan rakyatnya.
 “Bagaimana ini Penasihat Kerajaan? Jika Pangeran Doku naik tahta, maka rakyat bisa menderita,” ujar Raja yang masih duduk lemah di atas tempat tidurnya.
“Ya Raja. Tapi bagaimana hendak saya katakan, karena memang hanya Pangeran Dokulah yang memiliki hak menggantikan posisi Raja,” sahut Penasihat Kerajaan.
Maka tak lama kemudian, Pangeran Doku pun naik tahta menggantikan Raja Jatiraga. Dan setelah itu, Raja Doku segera mengganti beberapa peraturan yang ada di dalam kerajaan. Salah satunya adalah mengenai pajak hasil panen rakyat. Raja Doku meminta setengah dari hasil panen rakyat diberikan kepada kerajaan. Bila ada rakyat yang melanggar, maka kerajaan akan mencabut hak kepemilikan tanah mereka.
Mendengar kebijakan yang merugikan rakyat seperti itu, Raja Jatiraga berusaha menasihati anaknya.
“Wahai Anakku, tidakkah engkau merasa ada yang salah dari kebijakan baru yang telah engkau berlakukan?” tanya Raja Jatiraga kepada Pangeran Doku.
“Maksud Ayahanda apa?” tanya Raja Doku.
“Begini Nak. Tidakkah engkau merasa terlalu menyulitkan rakyat, jika engkau meminta setengah dari hasil panen rakyat? Sedangkan kita semua tahu, bahwa rakyat hidup dari hasil panen mereka,” jawab Raja Jatiraga.
“Ayahanda, sekarang aku  adalah Raja di negeri ini. Semua yang kulakukan, itu terserah padaku. Yang jelas semua rakyat harus mengikuti peraturan yang kubuat,” sahut Pangeran Doku sombong.
“Anakku, engkau menjadi raja untuk para rakyatmu. Engkau harus mampu membuat mereka sejahtera. Bukan hanya mementingkan kepentinganmu sendiri,” sahut Raja Jatiraga.
“Ayahanda, aku adalah raja di sini. Semua keputusanku bukanlah urusan Ayahanda lagi,” ujar Pangeran Doku. Kemudian Pangeran Doku pergi meninggalkan Raja Jatiraga.
Setelah percakapan itu, Pangeran Doku tak pernah lagi menyempatkan diri untuk melihat Raja Jatiraga. Bukan karena kesibukannya mengurus kerajaan. Tetapi dia sibuk berfoya-foya dan bersenang-senang.
Raja Jatiraga yang sakitnya semakin parah, merasa sangat bersedih mendengar penderitaan rakyat dan perlakuan anaknya yang semena-mena.
“Penasihat kerajaan, bisakah engkau panggilkan Raja Doku ke sini? Aku ingin bicara dengannya,” pinta Raja Jatiraga dengan suara yang lemah.
“Baik Baginda Raja. Akan saya panggilkan,” sahut Penasihat Kerajaan.
Tak lama kemudian, Pangeran Doku telah berdiri di samping tempat tidur Raja Jatiraga. “Ada apa Ayahanda memanggil saya?” tanya Pangeran Doku.
“Anakku, mengapa engkau biarkan rakyat menderita?” tanya Raja Jatiraga dengan nada suara yang sangat lemah.
“Jadi Ayahanda memanggilku kemari, mengganggu kesenanganku, hanya untuk mempertanyakan perihal ini padaku?” tanya Pangeran Doku marah.
“Ketahuilah anakku, kerajaan ini adalah milikmu. Maka rakyatnya menjadi tanggung jawabmu,” sahut Raja Jatiraga.
“Karena semua telah menjadi milikku, maka aku memiliki hak untuk mengatur semuanya. Sedang Ayahanda tidak lagi memiliki hak untuk mencampuri urusan kerajaan yang telah berada di tanganku,” ujar Pangeran Doku ketus sambil meninggalkan kamar Raja Jatiraga.
Hati Raja Jatiraga sangat sedih mendengar perkataan Pangeran Doku. “Penguasa alam, lebih baik engkau luluh lantakkan kerajaan ini. Sungguh, hamba tidak sanggup melihat penderitaan rakyat hamba. Dan tidak sanggup melihat ketamakan anak hamba,” doa Raja Jatiraga.
Keesokan harinya, tiba-tiba Raja Jatiraga dikejutkan oleh sebuah kabar yang beredar di kerajaan. Ada seorang kakek tua yang dimasukkan ke dalam penjara. Karena tidak mau menyerahkan separuh hasil panennya pada kerajaan.
“Penasihat Kerajaan, benarkah kabar itu?” tanya Raja Jatiraga sedih.
“Benar Baginda,” jawab Penasihat Kerajaan.
“Bawa aku sekarang juga ke penjara tempat Kakek Tua itu berada,” pinta Raja Jatiraga.
“Tapi Baginda masih sakit,” sahut Penasihat Kerajaan.
“Tidak apa. Dia adalah rakyatku. Aku harus melindunginya,” ucap Raja Jatiraga.
Akhirnya dengan susah payah, Raja Jatiraga sampai di penjara tempat Si Kakek Tua berada.
“Yang Mulia Raja, tolong hamba,” ujar Si Kakek ketika melihat Raja Jatiraga.
“Apa yang terjadi wahai rakyatku?” tanya Raja Jatiraga dengan suara yang lembut namun tegas.
“Hamba tidak mampu membayarkan pajak panen yang Mulia. Sebab hamba gagal panen musim ini. Apa yang bisa hamba berikan? Hamba diminta memberikan beberapa keping emas pada kerajaan. Tapi sungguh yang Mulia, hamba tidak memiliki apa- apa yang bisa hamba berikan pada kerajaan,” jawab Kakek Tua dengan isak tangisnya.
Mendengar itu  semua, Raja Jatiraga sangat murka. Dia segera meminta Penasihat Kerajaan untuk mengantarkannya ke tempat Pangeran Doku berada.
Dan Raja Jatiraga lebih kecewa lagi. Karena ketika sampai di kediaman Pangeran Doku, Raja Jatiraga melihat Raja Doku sedang asyik berpesta pora.
“Dasar Kau Anak Durhaka. Raja yang tamak. Tidak berperikemanusiaan. Aku menyesal memiliki anak sepertimu. Daripada kerajaan ini hancur karena ulahmu, lebih baik Sang Penguasa Alam saja yang meluluhlantakkannya!” ujar Raja Jatiraga.
Tiba-tiba langit menjadi gelap. Petir menyambar, dengan angin yang begitu dahsyat. Orang-orang sibuk berlarian, mencari tempat perlindungan. Namun, Tuhan telah marah, akibat ulah Pangeran Doku yang tidak bertanggung jawab. Maka, dalam waktu sekejap angin badai meluluhlantakkan kerajaan.

Rumah Cerita, 10 Januari 2013
(Cerpen anak ini telah dimuat di Rubrik Taman Riang Analisa, 20 Januari 2013)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar