Ketamakan Pangeran
Doku
Oleh: Tanita Liasna
Dahulu
di sebuah kerajaan, hiduplah seorang raja yang baik lagi bijaksana bernama Raja
Jatiraga. Raja Jatiraga terkenal amatlah pengasih dan adil kepada rakyatnya.
Sehingga rakyatnya hidup damai sejahtera.
Suatu
hari, Raja jatuh sakit. Akibat umurnya yang sudah tua. Seluruh menteri dan
rakyat meminta raja baru segera naik tahta.
Raja
memiliki seorang putra bernama Pangeran Doku. Namun sayang sekali, Pangeran
Doku bersifat tamak dan sombong. Lebih senang berfoya-foya. Dan tidak peduli
dengan rakyatnya.
“Bagaimana ini Penasihat Kerajaan? Jika
Pangeran Doku naik tahta, maka rakyat bisa menderita,” ujar Raja yang masih
duduk lemah di atas tempat tidurnya.
“Ya Raja. Tapi bagaimana hendak saya
katakan, karena memang hanya Pangeran Dokulah yang memiliki hak menggantikan
posisi Raja,” sahut Penasihat Kerajaan.
Maka tak lama kemudian, Pangeran Doku
pun naik tahta menggantikan Raja Jatiraga. Dan setelah itu, Raja Doku segera
mengganti beberapa peraturan yang ada di dalam kerajaan. Salah satunya adalah
mengenai pajak hasil panen rakyat. Raja Doku meminta setengah dari hasil panen
rakyat diberikan kepada kerajaan. Bila ada rakyat yang melanggar, maka kerajaan
akan mencabut hak kepemilikan tanah mereka.
Mendengar kebijakan yang merugikan
rakyat seperti itu, Raja Jatiraga berusaha menasihati anaknya.
“Wahai Anakku, tidakkah engkau merasa
ada yang salah dari kebijakan baru yang telah engkau berlakukan?” tanya Raja
Jatiraga kepada Pangeran Doku.
“Maksud Ayahanda apa?” tanya Raja
Doku.
“Begini Nak. Tidakkah engkau merasa
terlalu menyulitkan rakyat, jika engkau meminta setengah dari hasil panen
rakyat? Sedangkan kita semua tahu, bahwa rakyat hidup dari hasil panen mereka,”
jawab Raja Jatiraga.
“Ayahanda, sekarang aku adalah Raja di negeri ini. Semua yang
kulakukan, itu terserah padaku. Yang jelas semua rakyat harus mengikuti
peraturan yang kubuat,” sahut Pangeran Doku sombong.
“Anakku, engkau menjadi raja untuk
para rakyatmu. Engkau harus mampu membuat mereka sejahtera. Bukan hanya
mementingkan kepentinganmu sendiri,” sahut Raja Jatiraga.
“Ayahanda, aku adalah raja di sini.
Semua keputusanku bukanlah urusan Ayahanda lagi,” ujar Pangeran Doku. Kemudian
Pangeran Doku pergi meninggalkan Raja Jatiraga.
Setelah percakapan itu, Pangeran Doku
tak pernah lagi menyempatkan diri untuk melihat Raja Jatiraga. Bukan karena
kesibukannya mengurus kerajaan. Tetapi dia sibuk berfoya-foya dan
bersenang-senang.
Raja Jatiraga yang sakitnya semakin
parah, merasa sangat bersedih mendengar penderitaan rakyat dan perlakuan
anaknya yang semena-mena.
“Penasihat kerajaan, bisakah engkau
panggilkan Raja Doku ke sini? Aku ingin bicara dengannya,” pinta Raja Jatiraga
dengan suara yang lemah.
“Baik Baginda Raja. Akan saya
panggilkan,” sahut Penasihat Kerajaan.
Tak lama kemudian, Pangeran Doku telah
berdiri di samping tempat tidur Raja Jatiraga. “Ada apa Ayahanda memanggil
saya?” tanya Pangeran Doku.
“Anakku, mengapa engkau biarkan rakyat
menderita?” tanya Raja Jatiraga dengan nada suara yang sangat lemah.
“Jadi Ayahanda memanggilku kemari,
mengganggu kesenanganku, hanya untuk mempertanyakan perihal ini padaku?” tanya
Pangeran Doku marah.
“Ketahuilah anakku, kerajaan ini
adalah milikmu. Maka rakyatnya menjadi tanggung jawabmu,” sahut Raja Jatiraga.
“Karena semua telah menjadi milikku,
maka aku memiliki hak untuk mengatur semuanya. Sedang Ayahanda tidak lagi
memiliki hak untuk mencampuri urusan kerajaan yang telah berada di tanganku,”
ujar Pangeran Doku ketus sambil meninggalkan kamar Raja Jatiraga.
Hati Raja Jatiraga sangat sedih
mendengar perkataan Pangeran Doku. “Penguasa alam, lebih baik engkau luluh
lantakkan kerajaan ini. Sungguh, hamba tidak sanggup melihat penderitaan rakyat
hamba. Dan tidak sanggup melihat ketamakan anak hamba,” doa Raja Jatiraga.
Keesokan harinya, tiba-tiba Raja
Jatiraga dikejutkan oleh sebuah kabar yang beredar di kerajaan. Ada seorang
kakek tua yang dimasukkan ke dalam penjara. Karena tidak mau menyerahkan
separuh hasil panennya pada kerajaan.
“Penasihat Kerajaan, benarkah kabar
itu?” tanya Raja Jatiraga sedih.
“Benar Baginda,” jawab Penasihat
Kerajaan.
“Bawa aku sekarang juga ke penjara
tempat Kakek Tua itu berada,” pinta Raja Jatiraga.
“Tapi Baginda masih sakit,” sahut
Penasihat Kerajaan.
“Tidak apa. Dia adalah rakyatku. Aku
harus melindunginya,” ucap Raja Jatiraga.
Akhirnya dengan susah payah, Raja
Jatiraga sampai di penjara tempat Si Kakek Tua berada.
“Yang Mulia Raja, tolong hamba,” ujar
Si Kakek ketika melihat Raja Jatiraga.
“Apa yang terjadi wahai rakyatku?”
tanya Raja Jatiraga dengan suara yang lembut namun tegas.
“Hamba tidak mampu membayarkan pajak
panen yang Mulia. Sebab hamba gagal panen musim ini. Apa yang bisa hamba
berikan? Hamba diminta memberikan beberapa keping emas pada kerajaan. Tapi
sungguh yang Mulia, hamba tidak memiliki apa- apa yang bisa hamba berikan pada
kerajaan,” jawab Kakek Tua dengan isak tangisnya.
Mendengar itu semua, Raja Jatiraga sangat murka. Dia segera
meminta Penasihat Kerajaan untuk mengantarkannya ke tempat Pangeran Doku
berada.
Dan Raja Jatiraga lebih kecewa lagi.
Karena ketika sampai di kediaman Pangeran Doku, Raja Jatiraga melihat Raja Doku
sedang asyik berpesta pora.
“Dasar Kau Anak Durhaka. Raja yang
tamak. Tidak berperikemanusiaan. Aku menyesal memiliki anak sepertimu. Daripada
kerajaan ini hancur karena ulahmu, lebih baik Sang Penguasa Alam saja yang
meluluhlantakkannya!” ujar Raja Jatiraga.
Tiba-tiba langit menjadi gelap. Petir
menyambar, dengan angin yang begitu dahsyat. Orang-orang sibuk berlarian,
mencari tempat perlindungan. Namun, Tuhan telah marah, akibat ulah Pangeran
Doku yang tidak bertanggung jawab. Maka, dalam waktu sekejap angin badai
meluluhlantakkan kerajaan.
Rumah
Cerita, 10 Januari 2013
(Cerpen anak ini telah dimuat di Rubrik Taman Riang Analisa, 20 Januari
2013)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar