3 Mei 2013

Anak Ayam Surya yang Hilang



Anak Ayam Surya yang Hilang
Oleh: Tanita Liasna

            Surya senang sekali, ketika Ibu mengizinkannya memelihara seekor anak ayam berwarna kuning, yang barusan dibelinya dari pedagang di sekolah. Ayam itu disebut ayam teletubbis, karena warnanya yang sama dengan beberapa tokoh dalam cerita anak teletubbis.
            “Benar boleh kan Bu, Surya pelihara anak ayam ini?” tanya Surya sesampainya di rumah.
            “Iya Sur. Tapi ingat, diberi makan anak ayamnya ya. Jangan seperti anak kucing kamu dulu. Ibu yang sibuk memberinya makan. Akhirnya dia mati karena tidak kamu rawat,” ujar Ibu menasihati. Surya hanya manggut-manggut dengan wajah berseri-seri, sambil menatap anak ayam yang berada di telapak tangannya.
            Memang sudah lama Surya ingin memelihara anak ayam. Tapi Ibu tidak mengizinkannya. Karena Surya seorang anak yang pembosan. Jika sudah bosan, dia sering menelantarkan binatang peliharaannya. Kali ini, Surya sampai merajuk tidak mau makan, makanya Ibu mengizinkannya memelihara anak ayam.
            Setelah hampir dua minggu anak ayam tersebut dipelihara oleh Surya, dia mendapatkan mainan baru dari kakak sepupunya yang pulang dari Jakarta. Sebuah mainan berbentuk laptop yang di dalamnya ada banyak permainan. Hal ini menyebabkan Surya lupa dengan anak ayamnya yang diberinya nama Si Jojo.  Siang itu, setelah pulang sekolah dan ganti pakaian, Surya langsung makan. Kemudian sibuk dengan mainan barunya.
            “Sur, udah kamu kasi makan Si Jojo?” tanya Ibu mengingatkan Surya.
            “Nanti sajalah Bu. Ini lagi asik ni,” ujar Surya tanpa melihat ke arah Ibu.
            “Sur, kamu kan kemarin sudah janji sama Ibu, akan merawat anak ayammu,” ujar Ibu lagi.
            “Iya Bu. Sebentar lagi Surya kasi makan Si Jojo,” jawab Surya masih asyik dengan mainannya.
            Ibu hanya geleng-geleng kepala, melihat ulah Surya. Ibu lalu ke belakang untuk memberi makan Si Jojo. Si Jojo kelihatan mulai kurus karena tidak diperhatikan oleh Surya.
            “Sur..Sur.., kamu itu tidak kasian sama Si Jojo,” ujar Ibu seorang diri sambil memperhatikan Si Jojo yang sedang lahap mematuki beras yang diberikan Ibu.
            Akhirnya, sudah sebulan Surya sibuk dengan mainan barunya. Sore itu, ketika matahari mulai terbenam, Surya pulang bermain dari rumah temannya dengan mata yang sembab. Ibu heran melihat Surya seperti itu.
            “Kamu kenapa Sur?” tanya Ibu pada Surya.
            “Mainan laptop Surya rusak Bu. Tadi dipinjam Bonang. Pas dipulangkan sama Bonang, udah rusak Bu,” sahut Surya sambil menangis.
            “Sudah..sudah. Jangan nangis lagi. Besok kita bawa ke toko elektronik. Siapa tahu bisa dibetulkan,” ujar Ibu mencoba menenangkan Surya. Surya pun berhenti menangis.
            Esok harinya, Ibu membawa mainan laptop Surya ke toko elektronik. Tapi ternyata, mainan Surya sudah tidak dapat diperbaiki lagi. Dia hanya menangis sesenggukan di teras, setelah mendengar kabar dari Ibu tentang mainannya yang tidak dapat diperbaiki lagi.
            Tiba-tiba Surya ingat pada Si Jojo, anak ayamnya. Dia pun berlari ke halaman belakang rumah. Tapi, betapa terkejutnya Surya, karena tidak menemukan Si Jojo di sana.
            “Ibu..Ibu..! Jojo hilang Bu!” jerit Surya.
            “Ada apa sih Sur. Kok jerit-jerit gitu?” tanya Ibu menghampiri Surya.
            “Jojo hilang Bu. Lihat, kandangnya kosong. Dia juga tidak ada di sini,” ujar Surya lagi.
            “Ya biarkan saja Si Jojo hilang. Kamu kan sudah tidak peduli lagi sama Si Jojo,” jawab Ibu.
            “Kemana Jojo ya Bu?” tanya Surya mulai menangis.
            “Kalau sudah hilang baru kamu kecarian. Dulu Si Jojo kamu biarkan. Kalau tidak Ibu yang kasi makan, tidak makanlah Si Jojo,” ujar Ibu.
            “Jadi Surya harus cari Jojo dimana Bu?” tanya Surya.
            “Ibu tidak tahu. Kamu sudah selalu seperti ini,” jawab Ibu meninggalkan Surya.
            Surya sangat sedih. Ia merasa bersalah. Lalu Surya bertekad mencari Si Jojo dengan meminta bantuan temannya.
            “Ya sudah, karena aku merasa bersalah telah membuat mainanmu rusak, aku akan membantumu mencari anak ayammu Sur,” ujar Bonang.
            “Ya, kami juga ikutlah,” jawab beberapa teman Surya hampir bersamaan.
            Mereka pun berangkat, berkeliling kampung. Mereka berpencar mencari Si Jojo. Tapi hingga matahari tenggelam, mereka tidak berhasil menemukan Si Jojo.
            Surya pun pulang dengan sedih. Dia terlihat sangat murung. Surya tidak langsung masuk ke rumah. Dia duduk sendirian di teras rumahnya.
            “Sur, masuk yuk,” ajak Ibu. Surya hanya menunduk sedih.
            “Kamu menyesal Si Jojo hilang?” tanya Ibu. Surya mengangguk.
            “Kalau Si Jojo masih ada, apa kamu akan mengurusnya?” tanya Ibu lagi.
            “Ya Bu. Surya janji akan memelihara Si Jojo,” jawab Surya.
            “Ya sudah, ayo masuk. Sudah mau Magrib,” ajak Ibu. Surya menurut dan masuk bersama Ibu.
            Sepanjang malam, Surya terus mengingat anak ayamnya. Ia sedih mengingat Si Jojo yang kini telah hilang.
            Esok paginya, Surya mau membuang sampah ke belakang rumah. Betapa terkejutnya ia melihat seekor ayam di dalam kandang yang sedang asyik mematuki beras. Ia mendekati kandang ayam tersebut.
            “Ini Jojo apa bukan ya?” tanya Surya pada dirinya sendiri. “Ibu..Ibu! Ini ayam siapa Bu?” jerit Surya memanggil Ibunya yang sedang memasak sarapan.
            Ibu mendatangi Surya yang jongkok di depan kandang ayam. “Ada apa Sur?” tanya Ibunya.
            “Ini Si Jojo bukan Bu?” tanya Surya.
            “Kamu yang punya ayam, kenapa tanya Ibu?” ujar Ibu.
            “Ini Si Jojo kan Bu? Tapi bulunya kok ada putihnya ya? Kemarin kan Surya beli warnanya kuning semua,” tanya Surya.
            “Kamu yakin tidak itu Si Jojo?” tanya Ibu.
            “Ya Bu, Surya yakin. Surya kan tanda sama Si Jojo”.
            “Tanda apanya?” tanya Ibu lagi.
            “Itu Bu, di kaki Si Jojo kan Surya ikatkan pita merah. Sampai sekarang masih ada. Berarti ini Si Jojo. Tapi, kenapa bulunya ada putihnya Bu?” tanya Surya lagi.
            “Karena Si Jojo udah tambah besar,” ujar Ibu.
            “Jadi ini benar Jojo Bu?” tanya Surya. Ibu mengangguk sambil tersenyum.
            Lalu, pelan-pelan Surya membuka kandang Jojo. Lalu dia memegang Jojo. Mengelus-elus bulu Si Jojo.
            “Kemarin Si Jojo, Ibu titipkan ke rumah Paman kamu. Karena semua sibuk. Takut Si Jojo hilang,” jelas Ibu pada Surya.
            “Terimakasih ya Bu. Surya janji akan memelihara Si Jojo,” ucap Surya masih terus mengelus bulu Si Jojo yang warnanya telah menjadi kuning bercampur putih.
            Sejak hari itu, Surya tak pernah lupa memberi Si Jojo makan. Dan ketika sore memasukkannya ke kandang.

Rumah Cerita, 08 April 2012

(Cerpen anak ini telah dimuat di Rubrik Taman Riang Analisa, 03 Juni 2012)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar