Anak Ayam Surya
yang Hilang
Oleh: Tanita Liasna
Surya senang sekali, ketika Ibu mengizinkannya memelihara seekor anak ayam
berwarna kuning, yang barusan dibelinya dari pedagang di sekolah. Ayam itu
disebut ayam teletubbis, karena warnanya yang sama dengan beberapa tokoh dalam
cerita anak teletubbis.
“Benar
boleh kan Bu, Surya pelihara anak ayam ini?” tanya Surya sesampainya di rumah.
“Iya
Sur. Tapi ingat, diberi makan anak ayamnya ya. Jangan seperti anak kucing kamu
dulu. Ibu yang sibuk memberinya makan. Akhirnya dia mati karena tidak kamu
rawat,” ujar Ibu menasihati. Surya hanya manggut-manggut dengan wajah
berseri-seri, sambil menatap anak ayam yang berada di telapak tangannya.
Memang
sudah lama Surya ingin memelihara anak ayam. Tapi Ibu tidak mengizinkannya.
Karena Surya seorang anak yang pembosan. Jika sudah bosan, dia sering
menelantarkan binatang peliharaannya. Kali ini, Surya sampai merajuk tidak mau
makan, makanya Ibu mengizinkannya memelihara anak ayam.
Setelah hampir dua minggu anak ayam
tersebut dipelihara oleh Surya, dia mendapatkan mainan baru dari kakak
sepupunya yang pulang dari Jakarta. Sebuah mainan berbentuk laptop yang di
dalamnya ada banyak permainan. Hal ini menyebabkan Surya lupa dengan anak
ayamnya yang diberinya nama Si Jojo. Siang
itu, setelah pulang sekolah dan ganti pakaian, Surya langsung makan. Kemudian
sibuk dengan mainan barunya.
“Sur,
udah kamu kasi makan Si Jojo?” tanya Ibu mengingatkan Surya.
“Nanti
sajalah Bu. Ini lagi asik ni,” ujar Surya tanpa melihat ke arah Ibu.
“Sur,
kamu kan kemarin sudah janji sama Ibu, akan merawat anak ayammu,” ujar Ibu
lagi.
“Iya
Bu. Sebentar lagi Surya kasi makan Si Jojo,” jawab Surya masih asyik dengan
mainannya.
Ibu
hanya geleng-geleng kepala, melihat ulah Surya. Ibu lalu ke belakang untuk
memberi makan Si Jojo. Si Jojo kelihatan mulai kurus karena tidak diperhatikan
oleh Surya.
“Sur..Sur..,
kamu itu tidak kasian sama Si Jojo,” ujar Ibu seorang diri sambil memperhatikan
Si Jojo yang sedang lahap mematuki beras yang diberikan Ibu.
Akhirnya,
sudah sebulan Surya sibuk dengan mainan barunya. Sore itu, ketika matahari
mulai terbenam, Surya pulang bermain dari rumah temannya dengan mata yang
sembab. Ibu heran melihat Surya seperti itu.
“Kamu
kenapa Sur?” tanya Ibu pada Surya.
“Mainan
laptop Surya rusak Bu. Tadi dipinjam Bonang. Pas dipulangkan sama Bonang, udah
rusak Bu,” sahut Surya sambil menangis.
“Sudah..sudah.
Jangan nangis lagi. Besok kita bawa ke toko elektronik. Siapa tahu bisa
dibetulkan,” ujar Ibu mencoba menenangkan Surya. Surya pun berhenti menangis.
Esok
harinya, Ibu membawa mainan laptop Surya ke toko elektronik. Tapi ternyata,
mainan Surya sudah tidak dapat diperbaiki lagi. Dia hanya menangis sesenggukan
di teras, setelah mendengar kabar dari Ibu tentang mainannya yang tidak dapat
diperbaiki lagi.
Tiba-tiba
Surya ingat pada Si Jojo, anak ayamnya. Dia pun berlari ke halaman belakang
rumah. Tapi, betapa terkejutnya Surya, karena tidak menemukan Si Jojo di sana.
“Ibu..Ibu..!
Jojo hilang Bu!” jerit Surya.
“Ada
apa sih Sur. Kok jerit-jerit gitu?” tanya Ibu menghampiri Surya.
“Jojo
hilang Bu. Lihat, kandangnya kosong. Dia juga tidak ada di sini,” ujar Surya
lagi.
“Ya
biarkan saja Si Jojo hilang. Kamu kan sudah tidak peduli lagi sama Si Jojo,”
jawab Ibu.
“Kemana
Jojo ya Bu?” tanya Surya mulai menangis.
“Kalau
sudah hilang baru kamu kecarian. Dulu Si Jojo kamu biarkan. Kalau tidak Ibu
yang kasi makan, tidak makanlah Si Jojo,” ujar Ibu.
“Jadi
Surya harus cari Jojo dimana Bu?” tanya Surya.
“Ibu
tidak tahu. Kamu sudah selalu seperti ini,” jawab Ibu meninggalkan Surya.
Surya
sangat sedih. Ia merasa bersalah. Lalu Surya bertekad mencari Si Jojo dengan
meminta bantuan temannya.
“Ya
sudah, karena aku merasa bersalah telah membuat mainanmu rusak, aku akan
membantumu mencari anak ayammu Sur,” ujar Bonang.
“Ya,
kami juga ikutlah,” jawab beberapa teman Surya hampir bersamaan.
Mereka
pun berangkat, berkeliling kampung. Mereka berpencar mencari Si Jojo. Tapi
hingga matahari tenggelam, mereka tidak berhasil menemukan Si Jojo.
Surya
pun pulang dengan sedih. Dia terlihat sangat murung. Surya tidak langsung masuk
ke rumah. Dia duduk sendirian di teras rumahnya.
“Sur,
masuk yuk,” ajak Ibu. Surya hanya menunduk sedih.
“Kamu
menyesal Si Jojo hilang?” tanya Ibu. Surya mengangguk.
“Kalau
Si Jojo masih ada, apa kamu akan mengurusnya?” tanya Ibu lagi.
“Ya
Bu. Surya janji akan memelihara Si Jojo,” jawab Surya.
“Ya
sudah, ayo masuk. Sudah mau Magrib,” ajak Ibu. Surya menurut dan masuk bersama
Ibu.
Sepanjang
malam, Surya terus mengingat anak ayamnya. Ia sedih mengingat Si Jojo yang kini
telah hilang.
Esok
paginya, Surya mau membuang sampah ke belakang rumah. Betapa terkejutnya ia
melihat seekor ayam di dalam kandang yang sedang asyik mematuki beras. Ia
mendekati kandang ayam tersebut.
“Ini
Jojo apa bukan ya?” tanya Surya pada dirinya sendiri. “Ibu..Ibu! Ini ayam siapa
Bu?” jerit Surya memanggil Ibunya yang sedang memasak sarapan.
Ibu
mendatangi Surya yang jongkok di depan kandang ayam. “Ada apa Sur?” tanya
Ibunya.
“Ini
Si Jojo bukan Bu?” tanya Surya.
“Kamu
yang punya ayam, kenapa tanya Ibu?” ujar Ibu.
“Ini
Si Jojo kan Bu? Tapi bulunya kok ada putihnya ya? Kemarin kan Surya beli
warnanya kuning semua,” tanya Surya.
“Kamu
yakin tidak itu Si Jojo?” tanya Ibu.
“Ya
Bu, Surya yakin. Surya kan tanda sama Si Jojo”.
“Tanda
apanya?” tanya Ibu lagi.
“Itu
Bu, di kaki Si Jojo kan Surya ikatkan pita merah. Sampai sekarang masih ada.
Berarti ini Si Jojo. Tapi, kenapa bulunya ada putihnya Bu?” tanya Surya lagi.
“Karena
Si Jojo udah tambah besar,” ujar Ibu.
“Jadi
ini benar Jojo Bu?” tanya Surya. Ibu mengangguk sambil tersenyum.
Lalu,
pelan-pelan Surya membuka kandang Jojo. Lalu dia memegang Jojo. Mengelus-elus
bulu Si Jojo.
“Kemarin
Si Jojo, Ibu titipkan ke rumah Paman kamu. Karena semua sibuk. Takut Si Jojo
hilang,” jelas Ibu pada Surya.
“Terimakasih
ya Bu. Surya janji akan memelihara Si Jojo,” ucap Surya masih terus mengelus
bulu Si Jojo yang warnanya telah menjadi kuning bercampur putih.
Sejak
hari itu, Surya tak pernah lupa memberi Si Jojo makan. Dan ketika sore
memasukkannya ke kandang.
Rumah
Cerita, 08 April 2012
(Cerpen anak ini telah dimuat di Rubrik Taman Riang Analisa, 03 Juni 2012)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar