3 Mei 2013

Akibat Malas Menyikat Gigi

Akibat Malas Menyikat Gigi
Oleh: Tanita Liasna

            Siang ini matahari bersinar dengan terik. Eka, Rudi, dan Doli pulang sekolah bersama-sama. Mereka tidak berada dalam satu kelas. Eka duduk di kelas enam, Rudi di kelas empat, dan Doli di kelas lima. Walaupun begitu mereka berteman akrab karena mereka bertetangga.
            Jarak dari rumah mereka ke sekolah cukup jauh. Sedangkan saat itu cuaca sangat panas. Tiba-tiba mereka melihat es krim lewat.
            “Eh, ada es. Beli yok,” ajak Eka pada Rudi dan Doli.
            “Ya, aku mau. Ayoklah,” ucap Doli. Sedang Rudi hanya mengangguk tanda setuju.
            “Es... beli...!” jerit mereka bertiga hampir bersamaan. Tukang es pun berbalik arah menghampiri mereka.
            “Seribu ya Bang,” ucap Eka pada tukang es krim.
            “Iya Dek,” jawabnya.
            “Kami juga Bang. Ya kan Rud?” tanya Doli pada Rudi. Sekali lagi Rudi hanya mengangguk. Memang di antara mereka bertiga, Rudilah yang paling pendiam. Dia jarang sekali bicara. Bahkan diajak bicara pun dia malas untuk menjawab.
            Mereka berjalan pulang sambil menikmati es krim. Tak lama setelah es krim habis, mereka sampai di rumah. Rudi terlebih dahulu sampai. Lalu Doli, dan terakhir Eka.
            “Assalamualaikum,” ucap Eka yang sudah duduk di depan pintu sambil membuka sepatunya.
            “Waalaikumsalam,” jawab Mak membuka pintu.
            “Mak, Eka lapar. Mak masak apa hari ini?” tanyanya.
            “Masak makanan kesukaaanmu. Gulai ayam,” jawab Mak tersenyum.
            “Yes, asyik!” sahut Eka meloncat-loncat.
            “Ganti baju dulu ya sayang sebelum makan,” ujar Mak.
            “Oke Mak,” jawab Eka.
            Setelah ganti baju, Eka langsung berlari ke dapur. Mengambil sepiring nasi dan gulai ayam. Dia makan dengan lahap ditemani Mak. Usai makan Eka tersenyum menatap Mak.
            “Sudah kenyang?” tanya Mak.
            “Udah Mak. Enak kali gulai ayam buatan Mak,” ujar Eka tersenyum.
            “Kalau sudah siap, sekarang ke kamar mandi. Sikat gigi,” ucap Mak.
            “Ah, malas Mak. Nanti ajalah. Eka ngantuk, mau tidur,” ujar Eka.
            “Ka, nanti gigimu sakit kalau tidak sikat gigi,” nasihat Mak.
            “Tenang aja Mak. Gigi Eka kebal,” ujar Eka menyombongkan diri.
            Mak tak bisa menjawab lagi. Hanya geleng-geleng kepala melihat Eka yang sudah berani melawan nasihatnya. “Ka, tapi nanti malam sikat gigi ya,” pinta Mak.
            “Ya Mak,” jawab Eka.
            Malam pun tiba. Siska, Kakak Eka pulang dari kampus. Membawakannya sebatang coklat.
            “Makasih ya Kak. Kak Siska memang Kakak yang paling baik,” ucap Eka sambil tersenyum lebar.
            “Ya. Tapi jangan dimakan sekarang. Besok saja. Nanti kamu makan, habis itu tidak sikat gigi. Bisa bolong nanti gigimu,” ujar Kak Siska.
            “Ya Kak, Eka ini malas kali sikat gigi,” Mak menambahi kata-kata Kak Siska.
            “Ya, tidak Eka makan. Besok aja makan di sekolah. Bagi sama kawan,” ucap Eka berlari ke kamar.
            Eka membuka buku pelajarannya. Pikirannya masih tertuju pada sebatang coklat yang dibawakan Kak Siska tadi.
            “Kalau aku makan besok, kok kurang enak ya,” ujarnya pada diri sendiri. “Ah, sekarang ajalah,” ujar Eka. Dia lalu mengambil coklat yang tadi telah disimpannya di laci meja belajar. Perlahan dibukanya plastik yang membungkus coklat.
            “Hmmm, enak kali coklatnya,” ujar Eka yang mulai melahap sebatang coklat pemberian Kakak.
            Tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya. “Ka, sudah sikat gigi belum?” tanya Mak dari luar kamar.
            Eka bingung. Cepat-cepat dia menyembunyikan coklat di bawah bantal. “ Ya, Mak. Sebentar! Lagi belajar ni,” ujarnya.
            Perlahan pintu kamar terbuka. “Janji ya, jangan lupa sikat gigi. Mak takut gigi kamu nanti sakit kalau tidak sikat gigi,” ujar Mak. Eka hanya tersenyum.
            Hampir separuh coklat telah habis dimakan. Ngantuk kali pun. Besok ajalah sikat giginya, ujar Eka dalam hati.
            Dua hari kemudian, Eka merasakan sakit di giginya ketika sarapan. Tapi Eka berusaha menahannya. Dia takut Mak marah jika tahu giginya mulai sakit. Di sekolah pun Eka tidak serius belajar. Karena rasa sakit di giginya semakin menjadi.
            “Kamu kenapa Ka,” tanya Rudi yang biasanya paling malas bicara.
            “Tumben Rudi bisa bicara,” ejek Doli.
            “Eka aneh hari ini. Biasanya dia paling suka bicara. Tapi hari ini dia pendiam,” ujar Rudi lagi.
            Doli menatap Eka yang mulai meringis kesakitan. “Apa kamu yang sakit Ka?” tanya Doli. Eka memukul pelan pipi kanannya.
            “Kamu sakit gigi?” tanya Doli. Eka tidak menjawab. Dia hanya menunduk.
            Ketika sampai di rumah, Eka sudah tidak bisa lagi mengucap salam. Dia hanya mengetuk-ngetuk pintu. Giginya semakin terasa sakit. Tapi dia tidak berani menangis karena takut ketahuan Mak.
            Mak heran melihat Eka yang pulang sekolah dengan wajah pucat. “Kamu kenapa Ka?” tanya Mak.
            “Hah... tidak Mak. Eka tidak apa-apa,” jawab Eka gugup.
            “Benar, kamu tidak apa-apa?” tanya Mak lagi.
            “Ya Mak,” jawab Eka.
            “Ya sudah. Sekarang cepat makan ya. Mak masak gulai ayam lagi,” ucap Mak. Eka hanya tersenyum. Dan segera masuk ke dalam kamar untuk ganti pakaian.
            Hampir setengah jam Mak menunggu Eka di meja makan. Tapi Eka tak juga keluar dari kamarnya. Mak merasa heran dan menyusul Eka ke kamar. Betapa terkejutnya Mak melihat Eka yang menangis sambil memegangi pipi kanannya.
            “Ka, kamu kenapa?” tanya Mak.
            Eka sudah tak sanggup menutupi rasa sakitnya. “ Gigi Eka sakit sekali Mak. Kepala Eka rasanya juga sakit,” ujar Eka.
            “Coba buka mulut kamu. Biar Mak lihat. Sakitnya dimana? Tanya Emak lagi. Eka hanya mengarahkan jari telunjuknya ke arah gigi bawah sebelah kanan. Di sana Mak melihat sebuah lubang di gigi geraham Eka. Mak pun segera membawa Eka ke praktek dokter gigi yang tak jauh dari rumah mereka.
            “Wah, ini pasti malas sikat gigi. Makanya giginya bisa bolong sebesar ini,” ucap dokter gigi. “Harus ditambal ini,” ujar dokter. “Tahan sedikit ya,” ujar dokter lagi. Eka mengangguk. Air matanya terus mengalir menahan sakit.
            Satu setengah jam kemudian, gigi Eka selesai di tambal.
            “Makanya, mulai sekarang rajinlah sikat gigi. Paling sedikit dua kali sehari. Pagi dan malam. Atau setiap habis makan. Itu lebih bagus lagi,” nasihat dokter padanya. Eka mengangguk dan mengucapkan terimakasih pada dokter.
            Sejak saat itu, setiap habis makan Eka tak pernah lupa menyikat gigi. Dia jera menahan rasa sakit gigi. Dan dia juga menasihati Rudi dan Doli untuk rajin sikat gigi.

Rumah Cerita, 06 Maret 2012
(Cerpen anak ini telah dimuat di Rubrik Taman Riang Analisa, 01 April 2012)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar