Akibat Malas
Menyikat Gigi
Oleh: Tanita Liasna
Siang
ini matahari bersinar dengan terik. Eka, Rudi, dan Doli pulang sekolah
bersama-sama. Mereka tidak berada dalam satu kelas. Eka duduk di kelas enam,
Rudi di kelas empat, dan Doli di kelas lima. Walaupun begitu mereka berteman
akrab karena mereka bertetangga.
Jarak
dari rumah mereka ke sekolah cukup jauh. Sedangkan saat itu cuaca sangat panas.
Tiba-tiba mereka melihat es krim lewat.
“Eh,
ada es. Beli yok,” ajak Eka pada Rudi dan Doli.
“Ya,
aku mau. Ayoklah,” ucap Doli. Sedang Rudi hanya mengangguk tanda setuju.
“Es...
beli...!” jerit mereka bertiga hampir bersamaan. Tukang es pun berbalik arah
menghampiri mereka.
“Seribu
ya Bang,” ucap Eka pada tukang es krim.
“Iya
Dek,” jawabnya.
“Kami
juga Bang. Ya kan Rud?” tanya Doli pada Rudi. Sekali lagi Rudi hanya
mengangguk. Memang di antara mereka bertiga, Rudilah yang paling pendiam. Dia
jarang sekali bicara. Bahkan diajak bicara pun dia malas untuk menjawab.
Mereka
berjalan pulang sambil menikmati es krim. Tak lama setelah es krim habis,
mereka sampai di rumah. Rudi terlebih dahulu sampai. Lalu Doli, dan terakhir
Eka.
“Assalamualaikum,”
ucap Eka yang sudah duduk di depan pintu sambil membuka sepatunya.
“Waalaikumsalam,”
jawab Mak membuka pintu.
“Mak,
Eka lapar. Mak masak apa hari ini?” tanyanya.
“Masak
makanan kesukaaanmu. Gulai ayam,” jawab Mak tersenyum.
“Yes,
asyik!” sahut Eka meloncat-loncat.
“Ganti
baju dulu ya sayang sebelum makan,” ujar Mak.
“Oke
Mak,” jawab Eka.
Setelah
ganti baju, Eka langsung berlari ke dapur. Mengambil sepiring nasi dan gulai
ayam. Dia makan dengan lahap ditemani Mak. Usai makan Eka tersenyum menatap
Mak.
“Sudah
kenyang?” tanya Mak.
“Udah
Mak. Enak kali gulai ayam buatan Mak,” ujar Eka tersenyum.
“Kalau
sudah siap, sekarang ke kamar mandi. Sikat gigi,” ucap Mak.
“Ah,
malas Mak. Nanti ajalah. Eka ngantuk, mau tidur,” ujar Eka.
“Ka,
nanti gigimu sakit kalau tidak sikat gigi,” nasihat Mak.
“Tenang
aja Mak. Gigi Eka kebal,” ujar Eka menyombongkan diri.
Mak
tak bisa menjawab lagi. Hanya geleng-geleng kepala melihat Eka yang sudah
berani melawan nasihatnya. “Ka, tapi nanti malam sikat gigi ya,” pinta Mak.
“Ya
Mak,” jawab Eka.
Malam
pun tiba. Siska, Kakak Eka pulang dari kampus. Membawakannya sebatang coklat.
“Makasih
ya Kak. Kak Siska memang Kakak yang paling baik,” ucap Eka sambil tersenyum
lebar.
“Ya.
Tapi jangan dimakan sekarang. Besok saja. Nanti kamu makan, habis itu tidak
sikat gigi. Bisa bolong nanti gigimu,” ujar Kak Siska.
“Ya
Kak, Eka ini malas kali sikat gigi,” Mak menambahi kata-kata Kak Siska.
“Ya,
tidak Eka makan. Besok aja makan di sekolah. Bagi sama kawan,” ucap Eka berlari
ke kamar.
Eka
membuka buku pelajarannya. Pikirannya masih tertuju pada sebatang coklat yang
dibawakan Kak Siska tadi.
“Kalau
aku makan besok, kok kurang enak ya,” ujarnya pada diri sendiri. “Ah, sekarang
ajalah,” ujar Eka. Dia lalu mengambil coklat yang tadi telah disimpannya di
laci meja belajar. Perlahan dibukanya plastik yang membungkus coklat.
“Hmmm,
enak kali coklatnya,” ujar Eka yang mulai melahap sebatang coklat pemberian
Kakak.
Tiba-tiba
ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya. “Ka, sudah sikat gigi belum?” tanya
Mak dari luar kamar.
Eka
bingung. Cepat-cepat dia menyembunyikan coklat di bawah bantal. “ Ya, Mak.
Sebentar! Lagi belajar ni,” ujarnya.
Perlahan
pintu kamar terbuka. “Janji ya, jangan lupa sikat gigi. Mak takut gigi kamu
nanti sakit kalau tidak sikat gigi,” ujar Mak. Eka hanya tersenyum.
Hampir
separuh coklat telah habis dimakan. Ngantuk kali pun. Besok ajalah sikat
giginya, ujar Eka dalam hati.
Dua
hari kemudian, Eka merasakan sakit di giginya ketika sarapan. Tapi Eka berusaha
menahannya. Dia takut Mak marah jika tahu giginya mulai sakit. Di sekolah pun
Eka tidak serius belajar. Karena rasa sakit di giginya semakin menjadi.
“Kamu
kenapa Ka,” tanya Rudi yang biasanya paling malas bicara.
“Tumben
Rudi bisa bicara,” ejek Doli.
“Eka
aneh hari ini. Biasanya dia paling suka bicara. Tapi hari ini dia pendiam,”
ujar Rudi lagi.
Doli
menatap Eka yang mulai meringis kesakitan. “Apa kamu yang sakit Ka?” tanya
Doli. Eka memukul pelan pipi kanannya.
“Kamu
sakit gigi?” tanya Doli. Eka tidak menjawab. Dia hanya menunduk.
Ketika
sampai di rumah, Eka sudah tidak bisa lagi mengucap salam. Dia hanya
mengetuk-ngetuk pintu. Giginya semakin terasa sakit. Tapi dia tidak berani
menangis karena takut ketahuan Mak.
Mak
heran melihat Eka yang pulang sekolah dengan wajah pucat. “Kamu kenapa Ka?”
tanya Mak.
“Hah...
tidak Mak. Eka tidak apa-apa,” jawab Eka gugup.
“Benar,
kamu tidak apa-apa?” tanya Mak lagi.
“Ya
Mak,” jawab Eka.
“Ya
sudah. Sekarang cepat makan ya. Mak masak gulai ayam lagi,” ucap Mak. Eka hanya
tersenyum. Dan segera masuk ke dalam kamar untuk ganti pakaian.
Hampir
setengah jam Mak menunggu Eka di meja makan. Tapi Eka tak juga keluar dari
kamarnya. Mak merasa heran dan menyusul Eka ke kamar. Betapa terkejutnya Mak
melihat Eka yang menangis sambil memegangi pipi kanannya.
“Ka,
kamu kenapa?” tanya Mak.
Eka
sudah tak sanggup menutupi rasa sakitnya. “ Gigi Eka sakit sekali Mak. Kepala
Eka rasanya juga sakit,” ujar Eka.
“Coba
buka mulut kamu. Biar Mak lihat. Sakitnya dimana? Tanya Emak lagi. Eka hanya
mengarahkan jari telunjuknya ke arah gigi bawah sebelah kanan. Di sana Mak
melihat sebuah lubang di gigi geraham Eka. Mak pun segera membawa Eka ke
praktek dokter gigi yang tak jauh dari rumah mereka.
“Wah,
ini pasti malas sikat gigi. Makanya giginya bisa bolong sebesar ini,” ucap
dokter gigi. “Harus ditambal ini,” ujar dokter. “Tahan sedikit ya,” ujar dokter
lagi. Eka mengangguk. Air matanya terus mengalir menahan sakit.
Satu
setengah jam kemudian, gigi Eka selesai di tambal.
“Makanya,
mulai sekarang rajinlah sikat gigi. Paling sedikit dua kali sehari. Pagi dan
malam. Atau setiap habis makan. Itu lebih bagus lagi,” nasihat dokter padanya.
Eka mengangguk dan mengucapkan terimakasih pada dokter.
Sejak
saat itu, setiap habis makan Eka tak pernah lupa menyikat gigi. Dia jera
menahan rasa sakit gigi. Dan dia juga menasihati Rudi dan Doli untuk rajin
sikat gigi.
Rumah
Cerita, 06 Maret 2012
(Cerpen anak ini telah dimuat di Rubrik Taman Riang Analisa, 01 April 2012)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar