Takdir
Oleh:
Tanita Liasna
Pagi meramu waktu. Matahari enggan
menorehkan sinarnya. Kutatap hamparan langit suram. Angin saling pukul dengan
daun dan ranting pohonan.
Di sampingku teronggok sebuah piring
batu yang berisi tapai. Tapai terbungkus rapi di dalam daun pisang yang
dipincuk dengan sebuah biting atau lidi. Ketika dibuka aroma tapai menusuk
penciuman. Rasanya manis dan ketika masuk ke dalam tenggorokan muncul hawa
hangat yang berasal dari ragi tapai.
Sembari mengunyah tapai, tergenang
kembali pertemuanku semalam dengan Lidya. Aku masih tidak habis pikir, mengapa
takdir sepahit itu merasuk dalam hidupnya.
Mentari
bergelayut hampir di atas ubun-ubunku. Kutatap rumah yang berada di depan
mataku. Aku berdiri di depan pagar. Pagar besi berwarna oranye dan hijau,
dengan tembok oranye berkepala bola di atasnya.
“Yayang!”
jerit Mamak ketika melihatku berada di depan pintu rumah. Namaku Yana, tapi
dengan alasan aku anak perempuan tunggal di antara tiga saudara laki-lakiku aku
memiliki nama kecil Yayang.
Aku memeluk Mamak dan Ayah bergantian.
Melepas segenap rindu yang sudah kukantongi hampir setahun lamanya. Setelah itu
Mamak dan Ayah sibuk membantuku mengangkat barang bawaan.
“Kita
di teras dululah. Panas kali kurasa,” ujarku mengajak Mamak dan Ayah duduk di
sampingku.
Aku
menatap pohon rambutan yang ada sejak aku duduk di bangku Sekolah Menengah
Atas. Pohonnya rimbun dan cukup tinggi. Tapi tinggi pohon itu tidak sebanding
dengan kenikmatan yang didapat ketika memakan buahnya.
“Mak, ada rambutan yang udah diambil?
Kepingin aku. Udah lama ngak makan rambutan,” ucapku menatap buah merah berbulu
yang bergelantungan di atas pohon di samping kiri pagar rumahku.
Mamak
segera masuk dan keluar dengan membawa seplastik kecil rambutan. Enaknya,
bathin hatiku. Memakan rambutan Binjai, memang rasanya berbeda dengan rambutan
di daerah lain. Di sini rasa manisnya lebih lekat. Dan daging buahnya lebih
tebal, dengan biji yang kecil dan kulit buah yang tipis. Dan warna kulit
rambutan juga merah sekali. Kugigit kulit rambutan hingga terbelah menjadi dua.
Air keluar dari dalam rambutan. Manis nian rasa rambutan ini, pikirku mulai
mengulumnya.
Sembari
menikmati rambutan, aku bercerita dengan Mamak dan Ayah. Berbagi, tertawa,
bahkan berdebat. Itu hal yang selalu kurindukan bila sedang tak bersama mereka.
Setelah
melepas lelah yang terpancang di badan, aku berniat memanjakan lidah di pasar
kaget. Pada pagi hari hingga menjelang sore tempat itu dipenuhi dengan
toko-toko yang dikelola oleh suku-suku Tionghoa. Ada toko baju, sepatu, toko
elektronik, toko pupuk, toko kelontong, toko alat-alat pramuka, butik, hingga
toko ponsel. Dan ketika senja mulai menancap, maka tempat itu akan penuh dengan
para pedagang makanan dadakan. Pasar kaget berjajar dari simpang Irian hingga
menuju simpang Kartini. Di sana semua makanan tersedia. Dari yang dingin hingga
yang panas. Ada poding, satai, nasi sayur, martabak, roti cane, segala macam
jus dan es, serta lontong yang biasanya menjadi makanan untuk sarapan pagi.
Kelam
menjerat waktu. Dengan diantar becak mesin aku telah sampai di simpang Irian,
salah satu jalan masuk menuju pasar kaget. Aku menyusuri pasar kaget. Mencari
makanan yang menarik lidahku untuk mencicipinya. Lalu lalang kendaraan, parkir
sepeda motor, hingga pejalan kaki menguasai hiruk pikuk di sini.
Akhirnya
aku tertarik melihat steling yang memuat tusukan-tusukan satai. Dan di samping
steling asap mengepul lepas ke udara biaskan bau bumbu yang menggugah air liur.
“Satu Bang,” ucapku sambil
mengacungkan jari telunjuk.
“Pake lontong Kak?” tanyanya.
“Pake-pake,” jawabku sambil duduk.
“Kuahnya kacang apa padang?” tanyanya
lagi.
“Padang aja,” jawabku lagi. Si penjual
mengangguk dan mulai mengambil satai
dan membakarnya.
Aku
memilih bangku yang dekat dengan jalan. Aku duduk di sebuah meja berwarna
merah. Meja ini kelihatan kilat. Besarnya kira-kira 2x2 meter, cukup menampung
4 orang. Di atasnya ada sebuah tempat tisu berwarna merah dengan bacaan Teh
Botol Sosro. Lalu ada juga ceret berwarna hijau dan beberapa gelas yang
ditelungkupkan di atas tempat gelas.
Tas kuletakkan di sebelah kiriku.
Kuperhatikan sekelilingku. Banyak orang Tionghoa berlalu lalang, membeli
makanan, dan ada juga yang sedang menikmati makanan. Ada juga orang Indonesia,
tapi lebih dominan orang Tionghoa yang berjajan ria di sini.
Seporsi
satai menantangku. Mengajakku untuk segera melahapnya. Asap mengepul dari
piring. Ciptakan aroma yang memikat rasa lapar. Lagi-lagi piring satai berwarna
merah dengan sebuah sendok logam. Ada sepuluh tusuk satai di atasnya dan
beberapa potong lontong. Kuah satai berwarna merah kehitam-hitaman, dengan
taburan bawang goreng di atasnya. Dan ada sedikit cabai kecil yang sudah diulek
halus di samping tusukan-tusukan satai.
Setelah selesai makan, kutelungkupkan
sendok di atas piring. Kulihat jam yang melilit di tangan kiriku sudah
menunjukkan pukul setengah sembilan
malam.
“Berapa Bang?” tanyaku pada penjual
satai.
“Sebelas
ribu Kak,” jawabnya.
Aku merogoh tasku. Merogohnya hingga
ke dasar. Dimana dompetku? Tanyaku dalam hati. Lalu aku mulai membuka ingatanku
ketika berada di rumah. Duh...aku lupa bawa dompet. Dompetku tinggal di atas
meja rias. Bagaimana ini, bathinku
“Dompet saya ketinggalan Dek,” ucapku
bingung.
“Jadi
gimana Kak?” tanyanya berhenti mengipas satai.
“Ya.
Sebentar ya, aku telepon ke rumah dulu,” ucapku mulai memencet tombol-tombol di
ponselku. Tapi belum lagi teleponku tersambung ke rumah, ada seseorang yang
menyapaku dari belakang.
“Kau
kenapa, Na?” tanya suara itu lembut.
Suara
itu, cernaku. Aku menoleh ke belakang. Ya, aku melihat sesuatu yang kusangka
takkan kutemukan lagi. Seseorang yang kukira takkan kudengar lagi suaranya. Ya,
dia Lidya, sahabatku ketika duduk di bangku SMP.
“Lid...dya,”
ucapku terbata.
“Ya,
Na. Ini aku,” ucapnya mengoleskan seulas senyum di bibirnya.
“Kau
kenapa?” tanyanya lagi.
“Dompetku
ketinggalan Lid,” jawabku.
“Sudah
Bang, aku yang bayar,” ucapnya. “Ayo duduk dulu, Na. Aku kangen samamu,”
ucapnya lagi.
Aku
hanya mengangguk. Duduk di tempatku semula. Lidya tidak banyak berubah. Dia
tetap cantik seperti dulu. Matanya memanjang, hidungnya mancung, dagunya bak
lebah bergantung, dan kulitnya amatlah putih, seperti artis-artis korea.
Rambutnya panjang masih terurai hingga ke pinggang. Badannya pun masih bagus
seperti dulu. Tapi ada perubahan drastis dari dirinya. Warna rambutnya sudah
tak hitam lagi. Sudah berubah menjadi pirang. Cara berpakaiannya pun sudah
sangat berbeda. Sekarang dia seakan lebih akrab dengan busana kurang bahan.
“Perutmu
masih tahan ngak Na, kalau kita minum di sana?” tanya Lidya mengarahkan
telunjuknya ke salah satu steling yang menjual segala macam jus dan es.
“Masih Lid. Kamu tadi dimana?”
“Aku di seberang. Baru aja nyampek.
Mau duduk kok aku ngeliat ke sini acem kenal. Eh ternyata kamu, Na. Kita minum
di sana aja ya?” ajak Lidya. Dia membayar uang seporsi sataiku. Lalu kami
pindah ke tempat penjual es dan jus yang tidak jauh dari tempatku melahap
sepiring satai tadi.
Aku dan Lidya berbincang banyak hal,
sambil menikmati jus. Kuceritakan padanya bagaimana kuliahku. Dan menceritakan
tentang teman-temanku dan juga keluargaku sekarang.
“Kau
sendiri gimana sekarang, Lid?” tanyaku balik.
Dia
menunduk sebentar, lalu menatap ke depan. Jauh sekali pandangannya. Entah
berlayar sampai kemana. “Apa yang kau dengar tentangku, Na?” tanyanya masih
memandang jauh ke depan.
“Yang
kudengar dari temen-temen kita setelah ayahmu meninggal, kau ngak ngelanjutin
sekolah lagi,” ucapku.
“Ya,”
jawabnya singkat.
Ponsel Lidya berdering. Dia
mengangkatnya. “Iya, Mas. Aku di kaget. Kunci rumah sama aku, Mas. Bibik ngak
dateng. Dia kurang enak badan. Oh ya, Mas. Kutunggu ya,” ucapnya lalu
mengakhiri teleponnya.
“Kau
udah nikah, Lid?” tanyaku ragu.
“Belum,”
jawab Lidya.
Aku kembali diam. Kebingungan
menggerogoti pikiranku.
“Kemaren aku jadi TKW, Na. Aku kerja
jadi pembantu di sana. Hampir setahun aku kerja. Gajiku lumayan. Bisa bantu
keempat adikku sekolah. Bisa juga kutabung dikit-dikit. Niatku bisa sekolah
lagi ya masih ada. Dan waktu itu aku senang, karena suami majikanku baik
padaku. Tapi ternyata baik dia punya motif, Na. Dia menyukaiku dan memaksaku
tidur dengannya. Aku ngak mau. Ngak kusangka waktu istrinya ngak ada di rumah
dia memperkosaku. Delapan bulan aku coba bertahan, karena kutahu semua adikku
lagi butuh biaya sekolah. Tapi kelakuannya makin menjadi. Dia mulai memukuliku.
Dan waktu istrinya tau, wanita itu malah menyalahkanku dan mulai ngak
menggajiku,” jelas Lidya. Bahunya bergetar menahan tangis.
“Lid,” ucapku memegang tangannya.
“Aku cari celah supaya bisa lari dari
sana, dan Alhamdulilah celah itu ada. Aku lari dari neraka dunia itu. Aku
sempat terombang ambing di sana, Na. Sampai akhirnya aku ketemu sama seorang
perempuan yang membawaku pulang ke sini. Tapi kepulanganku juga harus kubayar
dengan harga diriku. Aku dijadikannya pelacur. Aku ngak berani pulang ke rumah.
Aku hampir gila, Na. Aku hanya bisa menatap Mamak dan Adik-adikku dari jauh.
Tapi, Binjai kecil. Tiga bulan yang lalu aku ketemu Ratna, Adikku. Aku dipaksa
pulang. Aku bilang aku kerja di perusahaan penempatan TKW. Mamak dan
Adik-adikku percaya. Entah sampai kapan bisa kusimpan bangkai ini,” jelas Lidya
padaku. Bulir air mata tak henti menggelinding dari sudut matanya.
Aku mendekati Lidya. Kupeluk ia. Dia
melepaskan semua penderitaannya di pundakku. “Menangislah Lid,” ucapku padanya.
Hampir
lima belas menit ia menangis. Tangis Lidya terhenti ketika ponselnya berbunyi.
Ada pesan untuknya.
“Ini
nomor handphoneku Na,” ucap Lidya memberikan selembar kertas ke tanganku. Aku
hanya tersenyum. Suara ponsel Lidya kembali meronta. “Ya, Mas. Aku kesana, ucap
Lidya menutup telepon. Lidya berdiri, lalu membayar biaya minuman kami.
“Deluan ya Na, aku sudah dijemput,” ucapnya dengan
seulas senyum. “Semoga nanti kita jumpa lagi,” harapnya. Aku hanya tersenyum.
“Kau masih temanku kan?” katanya lagi.
“Ya,”
jawabku singkat.
“Na,
ini ongkosmu. Kau kan ngak punya duit untuk pulang,” katanya mengeluarkan
selembar uang dua puluh ribu.
“Ngak,
Lid. Aku pake’ becak langganan Mamak. Jadi dibayar di rumah sama Mamak,”
ucapku.
“Oh,”jawab
Lidya.
“Lid,”
“Ya,
Na,”
“Berhentilah,”
ucapku menitikkan air mata.
“Ya,
aku juga ingin begitu. Doakan aja,” ucapnya dengan getir senyum yang
menyiksaku.
Dia
menyebrang. Masuk ke dalam mobil. Lalu melambaikan tangan dari kaca mobil yang sengaja dibukanya. Setelah itu
mobil perlahan berlalu dari pandanganku.
Gelap
semakin riang bergelimang di langit. Becak mesin yang membawaku melaju kencang.
Aku masih menetap dibelenggu nanar yang mengakar dalam pikirku. Lidya, terlalu
kejam takdir yang mengikatmu.
Rumah
Cerita, 20 Januari 2012
(Cerpen ini telah dimuat di Rubrik Cerpen & Puisi Analisa, 16 Mei 2012)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar