3 Mei 2013

Takdir



Takdir
Oleh: Tanita Liasna
Pagi meramu waktu. Matahari enggan menorehkan sinarnya. Kutatap hamparan langit suram. Angin saling pukul dengan daun dan ranting pohonan.
Di sampingku teronggok sebuah piring batu yang berisi tapai. Tapai terbungkus rapi di dalam daun pisang yang dipincuk dengan sebuah biting atau lidi. Ketika dibuka aroma tapai menusuk penciuman. Rasanya manis dan ketika masuk ke dalam tenggorokan muncul hawa hangat yang berasal dari ragi tapai.
Sembari mengunyah tapai, tergenang kembali pertemuanku semalam dengan Lidya. Aku masih tidak habis pikir, mengapa takdir sepahit itu merasuk dalam hidupnya.
            Mentari bergelayut hampir di atas ubun-ubunku. Kutatap rumah yang berada di depan mataku. Aku berdiri di depan pagar. Pagar besi berwarna oranye dan hijau, dengan tembok oranye berkepala bola di atasnya.
            “Yayang!” jerit Mamak ketika melihatku berada di depan pintu rumah. Namaku Yana, tapi dengan alasan aku anak perempuan tunggal di antara tiga saudara laki-lakiku aku memiliki nama kecil Yayang.
Aku memeluk Mamak dan Ayah bergantian. Melepas segenap rindu yang sudah kukantongi hampir setahun lamanya. Setelah itu Mamak dan Ayah sibuk membantuku mengangkat barang bawaan.
            “Kita di teras dululah. Panas kali kurasa,” ujarku mengajak Mamak dan Ayah duduk di sampingku.
            Aku menatap pohon rambutan yang ada sejak aku duduk di bangku Sekolah Menengah Atas. Pohonnya rimbun dan cukup tinggi. Tapi tinggi pohon itu tidak sebanding dengan kenikmatan yang didapat ketika memakan buahnya.
“Mak, ada rambutan yang udah diambil? Kepingin aku. Udah lama ngak makan rambutan,” ucapku menatap buah merah berbulu yang bergelantungan di atas pohon di samping kiri pagar rumahku.
            Mamak segera masuk dan keluar dengan membawa seplastik kecil rambutan. Enaknya, bathin hatiku. Memakan rambutan Binjai, memang rasanya berbeda dengan rambutan di daerah lain. Di sini rasa manisnya lebih lekat. Dan daging buahnya lebih tebal, dengan biji yang kecil dan kulit buah yang tipis. Dan warna kulit rambutan juga merah sekali. Kugigit kulit rambutan hingga terbelah menjadi dua. Air keluar dari dalam rambutan. Manis nian rasa rambutan ini, pikirku mulai mengulumnya.
            Sembari menikmati rambutan, aku bercerita dengan Mamak dan Ayah. Berbagi, tertawa, bahkan berdebat. Itu hal yang selalu kurindukan bila sedang tak bersama mereka.
            Setelah melepas lelah yang terpancang di badan, aku berniat memanjakan lidah di pasar kaget. Pada pagi hari hingga menjelang sore tempat itu dipenuhi dengan toko-toko yang dikelola oleh suku-suku Tionghoa. Ada toko baju, sepatu, toko elektronik, toko pupuk, toko kelontong, toko alat-alat pramuka, butik, hingga toko ponsel. Dan ketika senja mulai menancap, maka tempat itu akan penuh dengan para pedagang makanan dadakan. Pasar kaget berjajar dari simpang Irian hingga menuju simpang Kartini. Di sana semua makanan tersedia. Dari yang dingin hingga yang panas. Ada poding, satai, nasi sayur, martabak, roti cane, segala macam jus dan es, serta lontong yang biasanya menjadi makanan untuk sarapan pagi.
            Kelam menjerat waktu. Dengan diantar becak mesin aku telah sampai di simpang Irian, salah satu jalan masuk menuju pasar kaget. Aku menyusuri pasar kaget. Mencari makanan yang menarik lidahku untuk mencicipinya. Lalu lalang kendaraan, parkir sepeda motor, hingga pejalan kaki menguasai hiruk pikuk di sini.
            Akhirnya aku tertarik melihat steling yang memuat tusukan-tusukan satai. Dan di samping steling asap mengepul lepas ke udara biaskan bau bumbu yang menggugah air liur.
“Satu Bang,” ucapku sambil mengacungkan jari telunjuk.
“Pake lontong Kak?” tanyanya.
“Pake-pake,” jawabku sambil duduk.
“Kuahnya kacang apa padang?” tanyanya lagi.
“Padang aja,” jawabku lagi. Si penjual mengangguk dan mulai mengambil satai
dan membakarnya.
            Aku memilih bangku yang dekat dengan jalan. Aku duduk di sebuah meja berwarna merah. Meja ini kelihatan kilat. Besarnya kira-kira 2x2 meter, cukup menampung 4 orang. Di atasnya ada sebuah tempat tisu berwarna merah dengan bacaan Teh Botol Sosro. Lalu ada juga ceret berwarna hijau dan beberapa gelas yang ditelungkupkan di atas tempat gelas.
Tas kuletakkan di sebelah kiriku. Kuperhatikan sekelilingku. Banyak orang Tionghoa berlalu lalang, membeli makanan, dan ada juga yang sedang menikmati makanan. Ada juga orang Indonesia, tapi lebih dominan orang Tionghoa yang berjajan ria di sini.
            Seporsi satai menantangku. Mengajakku untuk segera melahapnya. Asap mengepul dari piring. Ciptakan aroma yang memikat rasa lapar. Lagi-lagi piring satai berwarna merah dengan sebuah sendok logam. Ada sepuluh tusuk satai di atasnya dan beberapa potong lontong. Kuah satai berwarna merah kehitam-hitaman, dengan taburan bawang goreng di atasnya. Dan ada sedikit cabai kecil yang sudah diulek halus di samping tusukan-tusukan satai.
Setelah selesai makan, kutelungkupkan sendok di atas piring. Kulihat jam yang melilit di tangan kiriku sudah menunjukkan pukul  setengah sembilan malam.
“Berapa Bang?” tanyaku pada penjual satai.
            “Sebelas ribu Kak,” jawabnya.
Aku merogoh tasku. Merogohnya hingga ke dasar. Dimana dompetku? Tanyaku dalam hati. Lalu aku mulai membuka ingatanku ketika berada di rumah. Duh...aku lupa bawa dompet. Dompetku tinggal di atas meja rias. Bagaimana ini, bathinku
“Dompet saya ketinggalan Dek,” ucapku bingung.
            “Jadi gimana Kak?” tanyanya berhenti mengipas satai.
            “Ya. Sebentar ya, aku telepon ke rumah dulu,” ucapku mulai memencet tombol-tombol di ponselku. Tapi belum lagi teleponku tersambung ke rumah, ada seseorang yang menyapaku dari belakang.
            “Kau kenapa, Na?” tanya suara itu lembut.
            Suara itu, cernaku. Aku menoleh ke belakang. Ya, aku melihat sesuatu yang kusangka takkan kutemukan lagi. Seseorang yang kukira takkan kudengar lagi suaranya. Ya, dia Lidya, sahabatku ketika duduk di bangku SMP.
            “Lid...dya,” ucapku terbata.
            “Ya, Na. Ini aku,” ucapnya mengoleskan seulas senyum di bibirnya.
            “Kau kenapa?” tanyanya lagi.
            “Dompetku ketinggalan Lid,” jawabku.
            “Sudah Bang, aku yang bayar,” ucapnya. “Ayo duduk dulu, Na. Aku kangen samamu,” ucapnya lagi.
            Aku hanya mengangguk. Duduk di tempatku semula. Lidya tidak banyak berubah. Dia tetap cantik seperti dulu. Matanya memanjang, hidungnya mancung, dagunya bak lebah bergantung, dan kulitnya amatlah putih, seperti artis-artis korea. Rambutnya panjang masih terurai hingga ke pinggang. Badannya pun masih bagus seperti dulu. Tapi ada perubahan drastis dari dirinya. Warna rambutnya sudah tak hitam lagi. Sudah berubah menjadi pirang. Cara berpakaiannya pun sudah sangat berbeda. Sekarang dia seakan lebih akrab dengan busana kurang bahan.
            “Perutmu masih tahan ngak Na, kalau kita minum di sana?” tanya Lidya mengarahkan telunjuknya ke salah satu steling yang menjual segala macam jus dan es.
“Masih Lid. Kamu tadi dimana?”
“Aku di seberang. Baru aja nyampek. Mau duduk kok aku ngeliat ke sini acem kenal. Eh ternyata kamu, Na. Kita minum di sana aja ya?” ajak Lidya. Dia membayar uang seporsi sataiku. Lalu kami pindah ke tempat penjual es dan jus yang tidak jauh dari tempatku melahap sepiring satai tadi.
Aku dan Lidya berbincang banyak hal, sambil menikmati jus. Kuceritakan padanya bagaimana kuliahku. Dan menceritakan tentang teman-temanku dan juga keluargaku sekarang.
            “Kau sendiri gimana sekarang, Lid?” tanyaku balik.
            Dia menunduk sebentar, lalu menatap ke depan. Jauh sekali pandangannya. Entah berlayar sampai kemana. “Apa yang kau dengar tentangku, Na?” tanyanya masih memandang jauh ke depan.
            “Yang kudengar dari temen-temen kita setelah ayahmu meninggal, kau ngak ngelanjutin sekolah lagi,” ucapku.
            “Ya,” jawabnya singkat.
Ponsel Lidya berdering. Dia mengangkatnya. “Iya, Mas. Aku di kaget. Kunci rumah sama aku, Mas. Bibik ngak dateng. Dia kurang enak badan. Oh ya, Mas. Kutunggu ya,” ucapnya lalu mengakhiri teleponnya.
            “Kau udah nikah, Lid?” tanyaku ragu.
            “Belum,” jawab Lidya.
Aku kembali diam. Kebingungan menggerogoti pikiranku.
“Kemaren aku jadi TKW, Na. Aku kerja jadi pembantu di sana. Hampir setahun aku kerja. Gajiku lumayan. Bisa bantu keempat adikku sekolah. Bisa juga kutabung dikit-dikit. Niatku bisa sekolah lagi ya masih ada. Dan waktu itu aku senang, karena suami majikanku baik padaku. Tapi ternyata baik dia punya motif, Na. Dia menyukaiku dan memaksaku tidur dengannya. Aku ngak mau. Ngak kusangka waktu istrinya ngak ada di rumah dia memperkosaku. Delapan bulan aku coba bertahan, karena kutahu semua adikku lagi butuh biaya sekolah. Tapi kelakuannya makin menjadi. Dia mulai memukuliku. Dan waktu istrinya tau, wanita itu malah menyalahkanku dan mulai ngak menggajiku,” jelas Lidya. Bahunya bergetar menahan tangis.
“Lid,” ucapku memegang tangannya.
“Aku cari celah supaya bisa lari dari sana, dan Alhamdulilah celah itu ada. Aku lari dari neraka dunia itu. Aku sempat terombang ambing di sana, Na. Sampai akhirnya aku ketemu sama seorang perempuan yang membawaku pulang ke sini. Tapi kepulanganku juga harus kubayar dengan harga diriku. Aku dijadikannya pelacur. Aku ngak berani pulang ke rumah. Aku hampir gila, Na. Aku hanya bisa menatap Mamak dan Adik-adikku dari jauh. Tapi, Binjai kecil. Tiga bulan yang lalu aku ketemu Ratna, Adikku. Aku dipaksa pulang. Aku bilang aku kerja di perusahaan penempatan TKW. Mamak dan Adik-adikku percaya. Entah sampai kapan bisa kusimpan bangkai ini,” jelas Lidya padaku. Bulir air mata tak henti menggelinding dari sudut matanya.
Aku mendekati Lidya. Kupeluk ia. Dia melepaskan semua penderitaannya di pundakku. “Menangislah Lid,” ucapku padanya.
            Hampir lima belas menit ia menangis. Tangis Lidya terhenti ketika ponselnya berbunyi. Ada pesan untuknya.
            “Ini nomor handphoneku Na,” ucap Lidya memberikan selembar kertas ke tanganku. Aku hanya tersenyum. Suara ponsel Lidya kembali meronta. “Ya, Mas. Aku kesana, ucap Lidya menutup telepon. Lidya berdiri, lalu membayar biaya minuman kami.
ya menatapnya dan tertawa dalam tangisnya.
di pundakku."berbuat apa-apa. selama g membawaku pulang ke Indonesia. tapi “Deluan ya Na, aku sudah dijemput,” ucapnya dengan seulas senyum. “Semoga nanti kita jumpa lagi,” harapnya. Aku hanya tersenyum.
             “Kau masih temanku kan?” katanya lagi.
            “Ya,” jawabku singkat.
            “Na, ini ongkosmu. Kau kan ngak punya duit untuk pulang,” katanya mengeluarkan selembar uang dua puluh ribu.
            “Ngak, Lid. Aku pake’ becak langganan Mamak. Jadi dibayar di rumah sama Mamak,” ucapku.
            “Oh,”jawab Lidya.
            “Lid,”
            “Ya, Na,”
            “Berhentilah,” ucapku menitikkan air mata.
            “Ya, aku juga ingin begitu. Doakan aja,” ucapnya dengan getir senyum yang menyiksaku.
            Dia menyebrang. Masuk ke dalam mobil. Lalu melambaikan tangan dari kaca  mobil yang sengaja dibukanya. Setelah itu mobil perlahan berlalu dari pandanganku.
            Gelap semakin riang bergelimang di langit. Becak mesin yang membawaku melaju kencang. Aku masih menetap dibelenggu nanar yang mengakar dalam pikirku. Lidya, terlalu kejam takdir yang mengikatmu.
Rumah Cerita, 20 Januari 2012

(Cerpen ini telah dimuat di Rubrik Cerpen & Puisi Analisa, 16 Mei 2012)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar