25 Juli 2013

Dermaga Rindu



Dermaga Rindu
Oleh : Tanita Liasna

Aku terpaku kembali di dermaga yang sama, ditemani sunyinya malam. Alunan ombak lembut ditaburi bintang-bintang. Semilir angin menyentuh lembut tiap lekuk tubuhku yang terbuka. Dewi malam seakan ingin menghiburku dengan seutas senyum yang diguratkannya.
             Genap lima tahun aku terpaku di dermaga ini mengharapkan keajaiban. Aku mengharapkan kakak kembali, walau kutahu itu sebuah hal yang mustahil.   Awalnya, aku tidak mengizinkan kakak untuk pergi menjadi seorang TKW. Karena berita buruk yang merebak, bahwa banyak orang-orang yang pergi mengadu nasib menjadi TKW akan pulang membawa kesia-siaan, dengan badan penuh luka, gaji tak dibayar, atau bahkan sama sekali tak kembali. Tapi kakak bersikukuh untuk tetap pergi, mengingat kondisi ibu yang semakin memburuk karena kanker paru-paru yang dideritanya. Kami tidak memiliki apa-apa lagi untuk mengobati ibu. Semua harta peninggalan ayah sudah terkuras habis. Yang tersisa hanya sebuah gubuk tempat kami berlindung
            “Bagaimanapun Kakak harus pergi, kalau tidak bagaimana kita akan mengobati penyakit Ibu.” Ungkap kakak pada saat itu.
            “Kita bisa bekerja Kak. Pasti cukup. Percayalah padaku.” Ucapku meyakinkannya.
“Tak mungkin kita mampu mengobati Ibu dengan pekerjaan kita sebagai buruh di gudang kopi, Ratna. Coba pikirkan itu. Tenanglah, Kakak akan baik-baik saja.” Jelas kakak sambil menggenggam tanganku.
            Akhirnya aku dan ibu dengan berat hati melepaskan kepergian kakak. Ada rasa takut yang merayap di hatiku. Aku takut nasib kakak sama dengan orang-orang yang kulihat di teve. Tapi selalu kukaramkan prasangka itu, dengan memintal doa setiap aku bersujud pada-Nya.
            Setahun waktu bergulir. Selama itu kakak selalu mengirimi kami uang, dan beberapa kali menelepon ke ponselku yang dikirim kakak kepadaku tak lama setelah dia pergi. “Kakak akan meneleponmu setiap bulan. Jaga Ibu ya, Na”. Begitu tulis kakak dalam secarik kertas yang disandingkannya bersama ponsel itu. Terbersit ketenangan dalam bathinku menerima ponsel dan surat itu.
            Tapi ternyata ketenangan itu tak bertahan lama. Hanya genap setahun, dan setelah itu aku kehilangan kabar dari kakak. Kucoba hubungi ponselnya, namun tidak aktif. Kucoba tanya kepada beberapa teman kakak tetap tanpa hasil. Dan dari seorang teman aku mendapat nasehat untuk bertanya ke pihak yang merekrut kakakku untuk menjadi TKW. Tapi tetap hasil nihil yang kudapat.
            Mengetahui kakak yang tiada kabar, ibu menjadi semakin kronis. Aku pun tidak mampu berbuat banyak karena gaji yang kudapat hanya cukup untuk mengisi dua perut yang kosong. Dan aku harus sering bolos kerja karena mengurusi ibu. Bekerja sebagai buruh di gudang kopi mendapatkan gaji perhari, sehingga jika aku tidak bekerja maka aku tidak mendapatkan apa-apa.
            Sekuat tenaga aku mempertahankan kelangsungan hidup ibu. Tapi Tuhan memiliki kehendak lain. Ibu dipanggil ke pangkuan-Nya. Kini aku sendiri. Kehilangan kakak dan ibu yang kucintai.
            Setelah kepergian ibu, aku seakan kehilangan tonggak hidupku. Aku sangat ingin ikut ibu, menghilang dari dunia yang kejam ini. Tapi mengakhiri hidup dengan membunuh diriku sendiri, sama saja dengan membeli tiket ke neraka. Lagi pula jika kakak kembali dia pasti sangat sedih jika harus kehilangan aku dan ibu.
            Setelah hampir tiga bulan terkatung-katung dengan berharap kabar dari kakak, aku memutuskan untuk pindah. Kujual gubuk peninggalan ayah. Hasil dari menjual gubuk ingin kugunakan untuk menjemput kakak ke negeri antah berantah tempatnya menjadi TKW. Tapi ketika akan pergi, di dermaga aku menemukan sesuatu yang mengurungkan niatku itu.
Aku beringsut menapaki jalan menuju tempat penjualan tiket. Angin seakan mengajakku untuk menari bersamanya. Ada sesuatu yang bergerak mendekatiku. Dia berayun lembut terbawa angin, dan mendarat tepat di kakiku. Sebuah surat kabar yang  seakan mendatangiku dengan perintah angin, saat aku sampai di dermaga. Kualihkan pandanganku pada sebuah judul besar yang terpampang seakan menantangku. “Rodiah, 27 tahun, seorang TKW asal Indonesia meninggal di tangan majikannya”. Judul itu seakan petir yang menyambarku di siang bolong. Itu nama kakak, pikirku. Kuangkat koran itu dan kubaca perlahan. Tanganku gemetar. Seakan kaki dan tubuhku melayang, ingatanku kacau, dan pandanganku menghitam.
            Ketika siuman aku mendapati tubuhku tergeletak di tempat tidur. Orang sekitar dermaga membawaku ke rumah terdekat dari dermaga. Dan aku beruntung, ternyata pemilik rumah seorang janda yang baik hati. Kuceritakan semua padanya. Dan dia mengizinkanku untuk tinggal di rumahnya, dan membantunya berjualan nasi.
Sejak hari itu, sepanjang malam dengan berteman harap aku terus menunggu kakak. Dan malam ini hari kepergian kakak yang kelima tahun. Sudah selama ini aku menunggunya. Aku ingin bertemu dengannya. Aku ingin menumpahkan segala kedukaan dan kerinduanku selama ini. Aku ingin memeluknya, walau sekedar memeluk bayangnya.


Dermaga Rindu, 13 September 2011

(Cerpen ini telah dimuat di Rubrik TRP Analisa, 14 Juli 2013)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar