Dermaga Rindu
Oleh : Tanita Liasna
Aku terpaku kembali di dermaga yang sama, ditemani sunyinya malam.
Alunan ombak lembut ditaburi bintang-bintang. Semilir angin menyentuh lembut
tiap lekuk tubuhku yang terbuka. Dewi malam seakan ingin menghiburku dengan seutas
senyum yang diguratkannya.
Genap lima
tahun aku terpaku di dermaga ini mengharapkan keajaiban. Aku mengharapkan kakak
kembali, walau kutahu itu sebuah hal yang mustahil. Awalnya, aku tidak mengizinkan kakak untuk pergi menjadi seorang
TKW. Karena berita buruk yang merebak, bahwa banyak orang-orang yang pergi
mengadu nasib menjadi TKW akan pulang membawa kesia-siaan, dengan badan penuh
luka, gaji tak dibayar, atau bahkan sama sekali tak kembali. Tapi kakak
bersikukuh untuk tetap pergi, mengingat kondisi ibu yang semakin memburuk
karena kanker paru-paru yang dideritanya. Kami tidak memiliki apa-apa lagi
untuk mengobati ibu. Semua harta peninggalan ayah sudah terkuras habis. Yang
tersisa hanya sebuah gubuk tempat kami berlindung
“Bagaimanapun Kakak harus pergi,
kalau tidak bagaimana kita akan mengobati penyakit Ibu.” Ungkap kakak pada saat
itu.
“Kita bisa bekerja Kak. Pasti cukup.
Percayalah padaku.” Ucapku meyakinkannya.
“Tak mungkin kita mampu mengobati Ibu dengan pekerjaan kita sebagai
buruh di gudang kopi, Ratna. Coba pikirkan itu. Tenanglah, Kakak akan baik-baik
saja.” Jelas kakak sambil menggenggam tanganku.
Akhirnya aku dan ibu dengan berat
hati melepaskan kepergian kakak. Ada
rasa takut yang merayap di hatiku. Aku takut nasib kakak sama dengan
orang-orang yang kulihat di teve. Tapi selalu kukaramkan prasangka itu, dengan
memintal doa setiap aku bersujud pada-Nya.
Setahun waktu bergulir. Selama itu
kakak selalu mengirimi kami uang, dan beberapa kali menelepon ke ponselku yang
dikirim kakak kepadaku tak lama setelah dia pergi. “Kakak akan meneleponmu
setiap bulan. Jaga Ibu ya, Na”. Begitu tulis kakak dalam secarik kertas yang
disandingkannya bersama ponsel itu. Terbersit ketenangan dalam bathinku
menerima ponsel dan surat
itu.
Tapi ternyata ketenangan itu tak
bertahan lama. Hanya genap setahun, dan setelah itu aku kehilangan kabar dari
kakak. Kucoba hubungi ponselnya, namun tidak aktif. Kucoba tanya kepada
beberapa teman kakak tetap tanpa hasil. Dan dari seorang teman aku mendapat
nasehat untuk bertanya ke pihak yang merekrut kakakku untuk menjadi TKW. Tapi
tetap hasil nihil yang kudapat.
Mengetahui kakak yang tiada kabar,
ibu menjadi semakin kronis. Aku pun tidak mampu berbuat banyak karena gaji yang
kudapat hanya cukup untuk mengisi dua perut yang kosong. Dan aku harus sering
bolos kerja karena mengurusi ibu. Bekerja sebagai buruh di gudang kopi
mendapatkan gaji perhari, sehingga jika aku tidak bekerja maka aku tidak
mendapatkan apa-apa.
Sekuat tenaga aku mempertahankan
kelangsungan hidup ibu. Tapi Tuhan memiliki kehendak lain. Ibu dipanggil ke
pangkuan-Nya. Kini aku sendiri. Kehilangan kakak dan ibu yang kucintai.
Setelah kepergian ibu, aku seakan
kehilangan tonggak hidupku. Aku sangat ingin ikut ibu, menghilang dari dunia
yang kejam ini. Tapi mengakhiri hidup dengan membunuh diriku sendiri, sama saja
dengan membeli tiket ke neraka. Lagi pula jika kakak kembali dia pasti sangat
sedih jika harus kehilangan aku dan ibu.
Setelah hampir tiga bulan
terkatung-katung dengan berharap kabar dari kakak, aku memutuskan untuk pindah.
Kujual gubuk peninggalan ayah. Hasil dari menjual gubuk ingin kugunakan untuk
menjemput kakak ke negeri antah berantah tempatnya menjadi TKW. Tapi ketika
akan pergi, di dermaga aku menemukan sesuatu yang mengurungkan niatku itu.
Aku beringsut menapaki jalan menuju tempat penjualan tiket. Angin
seakan mengajakku untuk menari bersamanya. Ada sesuatu yang bergerak mendekatiku. Dia
berayun lembut terbawa angin, dan mendarat tepat di kakiku. Sebuah surat kabar yang seakan mendatangiku dengan perintah angin,
saat aku sampai di dermaga. Kualihkan pandanganku pada sebuah judul besar yang
terpampang seakan menantangku. “Rodiah, 27 tahun, seorang TKW asal Indonesia
meninggal di tangan majikannya”. Judul itu seakan petir yang menyambarku di
siang bolong. Itu nama kakak, pikirku. Kuangkat koran itu dan kubaca perlahan.
Tanganku gemetar. Seakan kaki dan tubuhku melayang, ingatanku kacau, dan
pandanganku menghitam.
Ketika siuman aku mendapati tubuhku
tergeletak di tempat tidur. Orang sekitar dermaga membawaku ke rumah terdekat
dari dermaga. Dan aku beruntung, ternyata pemilik rumah seorang janda yang baik
hati. Kuceritakan semua padanya. Dan dia mengizinkanku untuk tinggal di
rumahnya, dan membantunya berjualan nasi.
Sejak hari itu, sepanjang malam dengan berteman harap aku terus
menunggu kakak. Dan malam ini hari kepergian kakak yang kelima tahun. Sudah
selama ini aku menunggunya. Aku ingin bertemu dengannya. Aku ingin menumpahkan
segala kedukaan dan kerinduanku selama ini. Aku ingin memeluknya, walau sekedar
memeluk bayangnya.
Dermaga Rindu, 13 September 2011
(Cerpen ini telah dimuat di Rubrik TRP Analisa, 14 Juli 2013)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar