Prestasi Baca Puisi
Nilam
Oleh: Tanita Liasna
Nilam adalah seorang anak yatim. Dia
duduk di kelas enam sekolah dasar. Nilam anak yang sangat rajin bekerja.
Setelah pulang sekolah, Nilam selalu membantu ibu berjualan kue keliling
kampung. Selain itu, Nilam juga anak yang cukup pintar dan sangat rendah hati.
Nilam
berjualan kue dengan menggunakan sepeda pemberian almarhum ayahnya. Sepeda itu
diberikan oleh ayahnya ketika Nilam berulang tahun ke enam tahun. Kini sepeda
yang sudah digunakan Nilam hampir lima tahun telah berkarat dan sudah kekecilan
untuk tubuh Nilam yang semakin besar.
Tapi
Nilam tidak pernah malu. Walaupun beberapa teman sekolahnya suka sekali
mengejek Nilam.
“Nilam,
sepeda kamu itu sudah terlalu kecil. Kakimu sudah terlalu panjang. Sepedamu
juga sudah karatan,” ujar Rita teman sekelas Nilam ketika mereka pulang
sekolah.
“Kamu
minta beli sepeda baru saja sama Ibumu,” tambah Vira.
“Ibuku
tidak punya uang untuk membeli sepeda baru seperti kalian,” jawab Nilam polos.
“Dasar
tukang kue sepeda butut,” jawab Rita tertawa.
Nilam
tidak bisa lagi menjawab. Dia hanya menatap Rita dan Vira yang mulai mengayuh
sepeda baru mereka untuk pulang ke rumah.
Beberapa
menit kemudian, Nilam telah sampai di rumah. Setelah berganti pakaian, Nilam
sholat dan makan. Lalu membantu ibu mempersiapkan kue yang akan dijual Nilam.
Setelah kue-kue selesai disusun dalam keranjang, keranjang tersebut dikaitkan
oleh ibu ke tempat duduk belakang sepeda Nilam.
Ketika
bersiap-siap ingin pergi, Nilam melihat beberapa orang anak beriringan menaiki
sepeda yang masih baru dan cantik. Nilam tidak jadi mengayuh sepedanya. Dia
menunduk.
“Kamu
kenapa Nak?” tanya ibu.
“Tidak
Bu. Nilam tidak apa-apa,” jawab Nilam terbata. “Nilam pergi ya Bu.
Assalamualaikum,” ucap Nilam sambil langsung mengayuh sepedanya.
Ibu
tahu Nilam ingin sepeda baru. Tapi ibu yang hanya bekerja sebagai tukang cuci,
sudah sangat kesulitan mencari uang untuk membiayai kebutuhan sehari-hari
mereka.
Esok
harinya sebelum pulang sekolah, Bu Fatimah wali kelas enam mengumumkan sesuatu.
“Anak-anak,
dua minggu lagi akan diadakan perlombaan membaca puisi tingkat kota. Dan
sekolah kita berkesempatan menjadi tempat atau tuan rumah dari acara tersebut.
Jadi nanti acara musikalisasi puisi tersebut akan diadakan di sekolah kita. Ibu
harap ada di antara kalian yang mau ikut serta dalam perlombaan ini. Siapa yang
berminat, besok bisa temui Ibu di ruang guru ya. Sampai di sini, semuanya
paham?” tanya Ibu Fatimah.
“Paham
Bu,” jawab siswa siswi kelas enam bersama-sama.
“Bagus.
Sekarang siapkan kelas agar kita pulang,” jawab Bu Fatimah.
Sampai
di rumah, Nilam segera menceritakan tentang perlombaan membaca puisi tersebut
kepada ibu.
“Nilam
boleh ikut tidak Bu?” tanya Nilam.
“Boleh
Nak. Tapi kamu harus ingat, setiap perlombaan pasti ada yang menang dan kalah.
Yang terpenting kamu harus berusaha menampilkan yang terbaik,” nasihat Ibu.
“Ya
Bu, Nilam mengerti,” jawab Nilam.
Hari
yang ditunggu Nilam pun tiba. Acara perlombaan pun diadakan pada hari ini.
Setelah sholat subuh, Nilam pun berdoa.
“Ya
Allah, semoga hari ini Nilam bisa menampilkan yang terbaik ya Allah. Nilam
ingin bisa menang dan membahagiakan Ibu. Jika Nilam menang, Nilam ingin beli
sepeda. Amin,” pinta Nilam dalam doanya.
Ibu
yang ingin masuk ke dalam kamar, tak sengaja mendengar doa Nilam. Ibu sangat
terharu memiliki anak sebaik dan sepolos Nilam.
Setelah
sarapan, Nilam langsung berangkat ke sekolah dengan menaiki sepeda bututnya.
Ketika Nilam sampai, sekolahnya telah dipenuhi oleh para peserta lomba yang
berasal dari beberapa sekolah dasar yang berada di kota. Ada 30 peserta dalam
perlombaan tersebut. Dan Nilam mendapat nomor urut dua belas. Nilam membawakan
sebuah puisi berjudul Krawang Bekasi karya Chairil Anwar.
Dan
ketika pengumuman pemenang, Nilam mendapatkan juara pertama. Nilam menangis
sesenggukan ketika menerima piala.
“Selamat
ya Nilam,” ucap Pak Mardian kepala sekolah Nilam.
“Ya
Pak, terimakasih,” sahut Nilam.
“Kamu
memang hebat Nilam. Kamu sangat membanggakan pihak sekolah. Ibu bangga sekali
punya siswa pintar seperti kamu,” ucap Bu Fatimah.
“Terimakasih
Bu,” jawab Nilam lagi.
Setelah
acara selesai, Nilam diantar oleh Bu Fatimah pulang ke rumah.
“Assalamualaikum,” ucap Bu Fatimah.
“Waaalaikumsalam,”
sahut Ibu dari dalam rumah.
Ketika
membuka pintu, Ibu terkejut melihat Nilam diantar oleh Ibu Fatimah.
“Silahkan
duduk Bu,” ujar Ibu.
“Terimakasih
Bu,” jawab Bu Fatimah. “Sebelumnya saya ucapkan selamat kepada Ibu karena Nilam
telah mendapatkan peringkat pertama dalam perlombaan membaca puisi hari ini,”
jelas Bu Fatimah.
Ibu
menatap wajah Nilam yang duduk di sampingnya. “Selamat ya Sayang,” ucap ibu
pada Nilam.
“Terimakasih
Bu. Semua karena Ibu,” sahut Nilam memeluk ibunya.
“Karena
kemenangannya dalam perlombaan ini, Nilam mendapatkan beasiswa dari Dinas
pendidikan. Mendapatkan uang yang telah diberikan tadi kepada Nilam. Dan juga
berhak mewakili kota kita pada perlombaan membaca puisi di tingkat provinsi
yang akan diadakan minggu depan Bu,” jelas Bu Fatimah lagi.
“Terimakasih
Bu Fatimah. Saya izinkan Nilam mewakili sekolah dan kota kita pada lomba
tingkat provinsi nanti,” ujar ibu.
Tak
lama kemudian Bu Fatimah pulang.
“Bu, ini uang yang diberikan pada
penerimaan hadiah nanti. Kalau beasiswanya masih diurus pihak sekolah katanya
Bu,” jelas Nilam.
“Ingin kamu apakan uang ini, Lam?”
tanya ibu pada Nilam.
Nilam
tak menjawab. Hanya menatap wajah Ibu.
“Mau
beli sepeda baru?” tanya Ibu lagi.
“Ibu
tahu dari mana?” tanya Nilam. Ibu hanya tersenyum.
Esok
siang ketika pulang sekolah, Nilam sangat terkejut melihat sebuah sepeda
berwarna merah muda di teras rumahnya.
“Assalamualaikum
Bu. Ini sepeda siapa Bu?” jerit Nilam bersemangat sambil sibuk melihat sepeda
tersebut.
“Ini
sepeda kamu. Kamu beli dengan uang kamu sendiri. Uang perlombaan kamu,” ujar ibu.
“Terimakasih
ya Bu,” jawab Nilam memeluk ibunya.
“Ya
sayang. Ini hasil usaha kamu,” jawab ibu.
Sejak
itu, Nilam semakin rajin belajar dan membantu Ibunya. Sejak itu pula, tidak ada
lagi temannya yang mengejek Nilam sebagai tukang kue sepeda butut.
Rumah
Cerita, 15 Juli 2012
(Cerpen anak ini telah dimuat di Rubrik Taman Riang Analisa, 16 September
2012)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar