3 Mei 2013

Prestasi Baca Puisi Nilam



Prestasi Baca Puisi Nilam
Oleh: Tanita Liasna
Nilam adalah seorang anak yatim. Dia duduk di kelas enam sekolah dasar. Nilam anak yang sangat rajin bekerja. Setelah pulang sekolah, Nilam selalu membantu ibu berjualan kue keliling kampung. Selain itu, Nilam juga anak yang cukup pintar dan sangat rendah hati.
            Nilam berjualan kue dengan menggunakan sepeda pemberian almarhum ayahnya. Sepeda itu diberikan oleh ayahnya ketika Nilam berulang tahun ke enam tahun. Kini sepeda yang sudah digunakan Nilam hampir lima tahun telah berkarat dan sudah kekecilan untuk tubuh Nilam yang semakin besar.
            Tapi Nilam tidak pernah malu. Walaupun beberapa teman sekolahnya suka sekali mengejek Nilam.
            “Nilam, sepeda kamu itu sudah terlalu kecil. Kakimu sudah terlalu panjang. Sepedamu juga sudah karatan,” ujar Rita teman sekelas Nilam ketika mereka pulang sekolah.
            “Kamu minta beli sepeda baru saja sama Ibumu,” tambah Vira.
            “Ibuku tidak punya uang untuk membeli sepeda baru seperti kalian,” jawab Nilam polos.
            “Dasar tukang kue sepeda butut,” jawab Rita tertawa.
            Nilam tidak bisa lagi menjawab. Dia hanya menatap Rita dan Vira yang mulai mengayuh sepeda baru mereka untuk pulang ke rumah.
            Beberapa menit kemudian, Nilam telah sampai di rumah. Setelah berganti pakaian, Nilam sholat dan makan. Lalu membantu ibu mempersiapkan kue yang akan dijual Nilam. Setelah kue-kue selesai disusun dalam keranjang, keranjang tersebut dikaitkan oleh ibu ke tempat duduk belakang sepeda Nilam.
            Ketika bersiap-siap ingin pergi, Nilam melihat beberapa orang anak beriringan menaiki sepeda yang masih baru dan cantik. Nilam tidak jadi mengayuh sepedanya. Dia menunduk.
            “Kamu kenapa Nak?” tanya ibu.
            “Tidak Bu. Nilam tidak apa-apa,” jawab Nilam terbata. “Nilam pergi ya Bu. Assalamualaikum,” ucap Nilam sambil langsung mengayuh sepedanya.
            Ibu tahu Nilam ingin sepeda baru. Tapi ibu yang hanya bekerja sebagai tukang cuci, sudah sangat kesulitan mencari uang untuk membiayai kebutuhan sehari-hari mereka.
            Esok harinya sebelum pulang sekolah, Bu Fatimah wali kelas enam mengumumkan sesuatu.
            “Anak-anak, dua minggu lagi akan diadakan perlombaan membaca puisi tingkat kota. Dan sekolah kita berkesempatan menjadi tempat atau tuan rumah dari acara tersebut. Jadi nanti acara musikalisasi puisi tersebut akan diadakan di sekolah kita. Ibu harap ada di antara kalian yang mau ikut serta dalam perlombaan ini. Siapa yang berminat, besok bisa temui Ibu di ruang guru ya. Sampai di sini, semuanya paham?” tanya Ibu Fatimah.
            “Paham Bu,” jawab siswa siswi kelas enam bersama-sama.
            “Bagus. Sekarang siapkan kelas agar kita pulang,” jawab Bu Fatimah.
            Sampai di rumah, Nilam segera menceritakan tentang perlombaan membaca puisi tersebut kepada ibu.
            “Nilam boleh ikut tidak Bu?” tanya Nilam.
            “Boleh Nak. Tapi kamu harus ingat, setiap perlombaan pasti ada yang menang dan kalah. Yang terpenting kamu harus berusaha menampilkan yang terbaik,” nasihat Ibu.
            “Ya Bu, Nilam mengerti,” jawab Nilam.
            Hari yang ditunggu Nilam pun tiba. Acara perlombaan pun diadakan pada hari ini. Setelah sholat subuh, Nilam pun berdoa.
            “Ya Allah, semoga hari ini Nilam bisa menampilkan yang terbaik ya Allah. Nilam ingin bisa menang dan membahagiakan Ibu. Jika Nilam menang, Nilam ingin beli sepeda. Amin,” pinta Nilam dalam doanya.
            Ibu yang ingin masuk ke dalam kamar, tak sengaja mendengar doa Nilam. Ibu sangat terharu memiliki anak sebaik dan sepolos Nilam.
            Setelah sarapan, Nilam langsung berangkat ke sekolah dengan menaiki sepeda bututnya. Ketika Nilam sampai, sekolahnya telah dipenuhi oleh para peserta lomba yang berasal dari beberapa sekolah dasar yang berada di kota. Ada 30 peserta dalam perlombaan tersebut. Dan Nilam mendapat nomor urut dua belas. Nilam membawakan sebuah puisi berjudul Krawang Bekasi karya Chairil Anwar.
            Dan ketika pengumuman pemenang, Nilam mendapatkan juara pertama. Nilam menangis sesenggukan ketika menerima piala.
            “Selamat ya Nilam,” ucap Pak Mardian kepala sekolah Nilam.
            “Ya Pak, terimakasih,” sahut Nilam.
            “Kamu memang hebat Nilam. Kamu sangat membanggakan pihak sekolah. Ibu bangga sekali punya siswa pintar seperti kamu,” ucap Bu Fatimah.
            “Terimakasih Bu,” jawab Nilam lagi.
            Setelah acara selesai, Nilam diantar oleh Bu Fatimah pulang ke rumah. “Assalamualaikum,” ucap Bu Fatimah.
            “Waaalaikumsalam,” sahut Ibu dari dalam rumah.
            Ketika membuka pintu, Ibu terkejut melihat Nilam diantar oleh Ibu Fatimah.
            “Silahkan duduk Bu,” ujar Ibu.
            “Terimakasih Bu,” jawab Bu Fatimah. “Sebelumnya saya ucapkan selamat kepada Ibu karena Nilam telah mendapatkan peringkat pertama dalam perlombaan membaca puisi hari ini,” jelas Bu Fatimah.
            Ibu menatap wajah Nilam yang duduk di sampingnya. “Selamat ya Sayang,” ucap ibu pada Nilam.
            “Terimakasih Bu. Semua karena Ibu,” sahut Nilam memeluk ibunya.
            “Karena kemenangannya dalam perlombaan ini, Nilam mendapatkan beasiswa dari Dinas pendidikan. Mendapatkan uang yang telah diberikan tadi kepada Nilam. Dan juga berhak mewakili kota kita pada perlombaan membaca puisi di tingkat provinsi yang akan diadakan minggu depan Bu,” jelas Bu Fatimah lagi.
            “Terimakasih Bu Fatimah. Saya izinkan Nilam mewakili sekolah dan kota kita pada lomba tingkat provinsi nanti,” ujar ibu.
            Tak lama kemudian Bu Fatimah pulang.
“Bu, ini uang yang diberikan pada penerimaan hadiah nanti. Kalau beasiswanya masih diurus pihak sekolah katanya Bu,” jelas Nilam.
“Ingin kamu apakan uang ini, Lam?” tanya ibu pada Nilam.
            Nilam tak menjawab. Hanya menatap wajah Ibu.
            “Mau beli sepeda baru?” tanya Ibu lagi.
            “Ibu tahu dari mana?” tanya Nilam. Ibu hanya tersenyum.
            Esok siang ketika pulang sekolah, Nilam sangat terkejut melihat sebuah sepeda berwarna merah muda di teras rumahnya.
            “Assalamualaikum Bu. Ini sepeda siapa Bu?” jerit Nilam bersemangat sambil sibuk melihat sepeda tersebut.
            “Ini sepeda kamu. Kamu beli dengan uang kamu sendiri. Uang perlombaan kamu,” ujar ibu.
            “Terimakasih ya Bu,” jawab Nilam memeluk ibunya.
            “Ya sayang. Ini hasil usaha kamu,” jawab ibu.
            Sejak itu, Nilam semakin rajin belajar dan membantu Ibunya. Sejak itu pula, tidak ada lagi temannya yang mengejek Nilam sebagai tukang kue sepeda butut.
Rumah Cerita, 15 Juli 2012

(Cerpen anak ini telah dimuat di Rubrik Taman Riang Analisa, 16 September 2012)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar