Selingkar
Emas di Jari Ratih
Oleh: Tanita Liasna
Faisal rubuh. Darah berwarna merah
hati lebur dari pelipis kirinya. Basahi
alis, bulu mata, mengalir di antara mata dan hidungnya, serta membasahi sekujur
pipi kirinya. Kemeja hitamnya pun mulai basah dengan darah. Tetesannya meresap
ke tanah.
Ratih histeris. Air mata mengalir
lepas dari kedua sudut matanya. Dia memangku Faisal yang mulai tersengal.
“Din, kenapa begini! Apa tidak bisa
dibicarakan baik-baik. Aku menerimanya karena kau tak ada kabar! Harusnya kau
dengar dulu penjelasanku!” ucap Ratih geram dalam tangisnya.
Aidin tersenyum girang. Tak sama
sekali dia menjamah geram yang ditunaikan Ratih. Matanya nyalang menatap mereka
berdua. Puas mengalir di sekujur tubuhnya. Tak lama berselang mulutnya melumat
ungkap yang tak terbaca. Entah ungkap apa yang mengakar dari seonggok lidah
dalam mulutnya. Sedangkan parang di tangannya masih erat tergenggam. Parang
yang dijadikannya alat peterjemah kekalutannya pada Faisal yang telah
melingkarkan emas di jari Ratihnya.
***
Guratan
senyum membias di kedua bibir Ratih. Faisal telah melamarnya. Kedua orang tua
Ratih juga turut bahagia menerima calon menantu seperti Faisal. Awalnya Ratih
bimbang menerima lamaran Faisal, mengingat Aidin saat itu telah mengikatnya
dalam hubungan cinta. Tapi, menunggu Aidin tanpa kabar yang pasti sama saja
dengan mencoreng malu di wajah orang tuanya, pikir Ratih.
***
“Bu,
aku ngak mungkin menerima Mas Faisal. Ibu tahu kan aku sudah punya hubungan
dengan Aidin,” celoteh Ratih dengan wajah muram.
“Aidin...Aidin.
Laki-laki itu lagi yang kau sebut. Sudah Ibu bilang kan, Ibu tak setuju kau
punya hubungan dengannya,” jawab Ibu lembut namun mengiris alam pikir Ratih.
“Iya
Bu, aku tahu, tapi...”
“Tapi apa, Tih? Tapi kamu cinta dia. Itu
terusan kata-katamu?” tanya Bapak yang tiba-tiba menimpali kata-kata Ratih.
Ratih tak menjawab. Lidahnya membatu. Pikirannya penat, seakan tujuh matahari
sedang menggantung di ubun-ubunnya.
“Tih, Bapak kasih gambaran ya sama
kamu. Biar kamu bisa membandingkan mereka berdua. Coba kamu lihat Faisal, dia
anak yang sopan, baik, sudah mapan, dan Bapak sudah kenal betul dengan
keluarganya. Sedangkan Aidin, apa yang bisa menyamakannya dengan Faisal?
Kerjanya masih serabutan, orang tuanya sudah tidak ada. Laki-laki seperti yang
mau kamu jadikan pendamping. Kamu bakal menderita, Tih. Lahir bathin,” nasehat
Bapak berusaha menguasai pikiran Ratih.
“Aku tahu Pak. Tapi sekarang Aidin
lagi berusaha untuk mencari uang agar bisa melamarku,” jawab Ratih membela
Aidin.
“Mencari uang? Sudah setahun dia tidak
kembali. Kabarnya kadang hilang kadang timbul. Ingat Tih, umur kamu sudah 25
tahun. Sudah waktunya menikah. Mau sampai kapan kamu menunggunya?” tanya Bapak.
“Tapi, Pak...” sela Ratih
“Bapak tidak peduli. Jika 3 bulan lagi
dia tidak kembali, kau harus menerima lamaran Faisal. Cukup Bapak dan Ibu
menanggung malu mendengar omongan orang, kau menunggu lelaki tidak jelas
seperti dia, ” ujar Bapak ketus.
Ratih hanya mengulum diam. Tak lagi
keluar pembelaan dari mulutnya. Hanya dengusan nafasnya yang terasa kian
panjang.
“Tih, Bapakmu bicara begitu demi
kebaikan kamu, Nak. Kamu itu putri kami satu-satunya. Bungsu kami pula. Kami
tidak mau kalau pilihanmu salah. Ya Tih ya, dengarkan kata Bapak dan Ibu ya Nak,”
ucap Ibu memelas sambil memegang tangan Ratih. Namun, Ratih tetap tak menjawab.
Dia meninggalkan Bapak dan Ibunya, masuk ke kamar.
Ratih melepaskan semua gelisah di
pembaringan. Berusaha memejamkan mata. Tapi pelupuk mata Ratih seakan tak ingin
terlelap. Ratih menatap ke atas. Pikirannya bergumul dengan bayangan Aidin dan
Faisal.
Ya, Mas Faisal memang orang yang baik,
sopan, rajin ibadah, mapan lagi. Tapi aku tidak mencintainya. Kalau Aidin, kami
saling mencintai. Tapi kemana dia? Sudah beberapa bulan ini dia tak ada kabar.
Pikiran itu lalu lalang di dalam kepala Ratih hingga kantuk menjemputnya.
Mentari
menaburkan sinar merah di langit. Menguapkan embun-embun di daun pohonan. Ratih
keluar dari kamar. Siap untuk sarapan dan pergi bekerja. Namun, acara sarapan
itu terasa menyiksa karena lagi-lagi bapak dan ibunya kembali membahas tentang
rencana Faisal melamar dirinya.
“Masih
juga kau tak mau menjawab, Tih,” tanya Bapak di sela sarapan. Ratih terus
mengunyah, menganggap tak ada yang berbicara dengannya.
“Ratih,
kau mendengar Bapak bicara tidak?” tanya Bapak sedikit berteriak.
“Entahlah Pak, Aku muak!” jawab Ratih
tak kalah keras sembari membanting sendoknya ke piring. Dia mengambil tas dan
segera berlalu.
Seusai
bekerja Ratih enggan pulang ke rumah. Dia terpaku di halte. Tempat tak
berdinding dengan 3 bagian tempat duduk yang setiap bagian mampu menerima 3
orang itu berkeramik biru tua. Setiap bagian dipisahkan oleh jerejak besi. Atapnya
berwarna biru muda yang sudah mulai memintal lubang di beberapa bagian. Di
tempat itulah pertama kali Ratih bertemu dengan Aidin. Aidin yang menawarkan
jaket padanya ketika hujan merintih deras.
Ratih melirik jam di tangan kirinya.
Tertera pukul 17.30 Wib. Angin melambai menyapa rambut panjang Ratih. Mata
bulatnya kembali mengukir lamunan. Nama Aidin dan Faisal berputar-putar di
otaknya. Galau menyelimuti hatinya. Tiba-tiba suara klakson melepaskan Ratih
dari lamunannya.
“Ratih,
kamu tidak pulang?” tanya Faisal yang baru keluar dari mobil.
“Ayo,
Mas anter pulang,” tawarnya pada Ratih.
Ratih
mengangguk. Dia masuk ke dalam mobil. Di perjalanan Ratih menatap Faisal dengan
lekat. Lelaki berumur 27 tahun itu berwajah oval, alisnya tebal, matanya
panjang dan tajam, hidungnya mancung seperti artis korea, rambutnya lebat hitam
legam, berkulit sawo matang, dan tubuhnya tinggi. Aidin, apa harus kutinggalkan
dirimu demi dirinya. Kau dimana Din, tanya Ratih dalam hati.
Waktu
terus mengalir. Orang tua Ratih terus menumpahkan nasehat tiap bertemu pandang
dengan Ratih. Faisal juga disuguhkan setiap hari di hadapan Ratih. Selalu mengantar Ratih
kemanapun dia pergi. Memberikan perhatian ketika Ratih sakit dan sangat
memahami kegalauan hati Ratih. Lama-kelamaan Ratih merasakan semburat kasih
sayang yang dihadiahkan Faisal secara tulus untuknya. Dan Aidin, semakin
menjamur dalam hati Ratih.
Tak
terasa tiga bulan yang dinantikan pun tiba. Aidin yang tak jelas rimbanya
membuat Ratih mengikuti semua petuah bapak dan ibunya. Ratih pun menerima Faisal
menjadi calon suaminya.
***
Luka
Aidin sudah pulih pasca kecelakaan yang menimpanya 4 bulan yang lalu. Hanya
kaki sebelah kirinya saja yang masih pincang. Kakinya patah tidak bisa
berfungsi seperti sedia kala.
Matahari tepat berdiri di ubun-ubun.
Aidin sudah berada di dalam bus untuk segera pulang ke kampung menemui
Ratihnya. Butuh waktu beberapa hari untuk sampai ke sana.
Namun, sesampainya di kampung betapa
keberangan melahap habis diri Aidin yang mendengar kabar dari Pakleknya bahwa
Ratihnya telah dilamar lelaki lain dan akan segera menikah.
“Sudahlah
Din, lupakan saja Si Ratih itu,” ucap Paklek Aidin mencoba menenangkannya.
“Tidak
bisa Lek. Dia milikku. Hanya aku yang punya hak untuk melamar dan menikahinya,”
ucap Aidin dengan mata yang penuh dengan amarah.
Kelam
menikam waktu. Aidin masih dirasuki api cemburu. Aku harus menemui Ratih,
tegasnya dalam hati. Sebelum pergi Aidin ke dapur, mengambil sesuatu dan
menyimpannya di dalam baju.
Aidin menyambangi rumah Ratih. Sesampainya
di depan pagar rumah, dilihatnya wanita pujaannya keluar dari mobil mewah
bersama dengan seorang lelaki.
“Ratih...”
tegurnya pelan. Ratih menoleh. Matanya membelalak hebat. Jantung Ratih hampir
kehilangan degupnya.
“Aidin...”
jawab Ratih. Ratih mendekati Aidin.
“Kau kejam, Tih,” ucap Aidin hampir
tak terdengar.
“Maafkan
aku, Din,” ucap Ratih mulai sesenggukan. Tangisnya semakin menjadi dan dia
menutup mulut dengan tangannya berharap tangisnya tak terdengar.
Aidin
menatap tangan Ratih. Hatinya semakin memanas melihat selingkar emas di jari
Ratih.
“Lepaskan
cincin itu, Tih. Kau masih milikku,” suruh Aidin.
“Din...”
kata Ratih melihat ke jarinya.
“Buka,
Tih. Akan kubelikan yang baru. Aku akan menikahimu. Kita janjikan akan menikah.
Aku pulang demi kamu, Tih,” kata Aidin lagi.
“Ngak,
Din. Ngak segampang itu. Mas Faisal sudah melamarku. Aku juga...” ucap Ratih
tak meneruskan kata-katanya.
“Apa,
Tih? Apa? Apa kau mencintainya? Kau mencintainya, Tih!” jerit Aidin.
Aidin
lalu menarik tangan Ratih, mencoba melepaskan selingkar emas di jarinya. Ratih
meronta sekuat tenaga. Berupaya melepaskan paksaan Aidin padanya.
Faisal
muncul di antara mereka dan langsung melayangkan tinjunya ke mata Aidin. Aidin
terjatuh. Matanya mengeriput. Biru bercampur jingga.
“Kau
tak apa-apa, Tih?” tanya Faisal khawatir.
“Tak
apa, Mas” jawab Ratih sendu.
Aidin berang. Dia lalu berdiri. Mengeluarkan
parang dari sarangnya. Tanpa beriring mantra apa-apa, parang dihadiahkan Aidin
di pelipis kiri Faisal.
Rumah
Cerita, 07-09 Jan 2012
(Cerpen ini telah dimuat di Rubrik B’Gaul Medan Bisnis, 12 Februari 2012)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar