3 Mei 2013

Selingkar Emas di Jari Ratih



Selingkar Emas di Jari Ratih
Oleh: Tanita Liasna
Faisal rubuh. Darah berwarna merah hati lebur dari  pelipis kirinya. Basahi alis, bulu mata, mengalir di antara mata dan hidungnya, serta membasahi sekujur pipi kirinya. Kemeja hitamnya pun mulai basah dengan darah. Tetesannya meresap ke tanah.
Ratih histeris. Air mata mengalir lepas dari kedua sudut matanya. Dia memangku Faisal yang mulai tersengal.
“Din, kenapa begini! Apa tidak bisa dibicarakan baik-baik. Aku menerimanya karena kau tak ada kabar! Harusnya kau dengar dulu penjelasanku!” ucap Ratih geram dalam tangisnya.
Aidin tersenyum girang. Tak sama sekali dia menjamah geram yang ditunaikan Ratih. Matanya nyalang menatap mereka berdua. Puas mengalir di sekujur tubuhnya. Tak lama berselang mulutnya melumat ungkap yang tak terbaca. Entah ungkap apa yang mengakar dari seonggok lidah dalam mulutnya. Sedangkan parang di tangannya masih erat tergenggam. Parang yang dijadikannya alat peterjemah kekalutannya pada Faisal yang telah melingkarkan emas di jari Ratihnya.
***
            Guratan senyum membias di kedua bibir Ratih. Faisal telah melamarnya. Kedua orang tua Ratih juga turut bahagia menerima calon menantu seperti Faisal. Awalnya Ratih bimbang menerima lamaran Faisal, mengingat Aidin saat itu telah mengikatnya dalam hubungan cinta. Tapi, menunggu Aidin tanpa kabar yang pasti sama saja dengan mencoreng malu di wajah orang tuanya, pikir Ratih.
***
            “Bu, aku ngak mungkin menerima Mas Faisal. Ibu tahu kan aku sudah punya hubungan dengan Aidin,” celoteh Ratih dengan wajah muram.
            “Aidin...Aidin. Laki-laki itu lagi yang kau sebut. Sudah Ibu bilang kan, Ibu tak setuju kau punya hubungan dengannya,” jawab Ibu lembut namun mengiris alam pikir Ratih.
            “Iya Bu, aku tahu, tapi...”
“Tapi apa, Tih? Tapi kamu cinta dia. Itu terusan kata-katamu?” tanya Bapak yang tiba-tiba menimpali kata-kata Ratih. Ratih tak menjawab. Lidahnya membatu. Pikirannya penat, seakan tujuh matahari sedang menggantung di ubun-ubunnya.
“Tih, Bapak kasih gambaran ya sama kamu. Biar kamu bisa membandingkan mereka berdua. Coba kamu lihat Faisal, dia anak yang sopan, baik, sudah mapan, dan Bapak sudah kenal betul dengan keluarganya. Sedangkan Aidin, apa yang bisa menyamakannya dengan Faisal? Kerjanya masih serabutan, orang tuanya sudah tidak ada. Laki-laki seperti yang mau kamu jadikan pendamping. Kamu bakal menderita, Tih. Lahir bathin,” nasehat Bapak berusaha menguasai pikiran Ratih.
“Aku tahu Pak. Tapi sekarang Aidin lagi berusaha untuk mencari uang agar bisa melamarku,” jawab Ratih membela Aidin.
“Mencari uang? Sudah setahun dia tidak kembali. Kabarnya kadang hilang kadang timbul. Ingat Tih, umur kamu sudah 25 tahun. Sudah waktunya menikah. Mau sampai kapan kamu menunggunya?” tanya Bapak.
 “Tapi, Pak...” sela Ratih
“Bapak tidak peduli. Jika 3 bulan lagi dia tidak kembali, kau harus menerima lamaran Faisal. Cukup Bapak dan Ibu menanggung malu mendengar omongan orang, kau menunggu lelaki tidak jelas seperti dia, ” ujar Bapak ketus.
Ratih hanya mengulum diam. Tak lagi keluar pembelaan dari mulutnya. Hanya dengusan nafasnya yang terasa kian panjang.
“Tih, Bapakmu bicara begitu demi kebaikan kamu, Nak. Kamu itu putri kami satu-satunya. Bungsu kami pula. Kami tidak mau kalau pilihanmu salah. Ya Tih ya, dengarkan kata Bapak dan Ibu ya Nak,” ucap Ibu memelas sambil memegang tangan Ratih. Namun, Ratih tetap tak menjawab. Dia meninggalkan Bapak dan Ibunya, masuk ke kamar.
Ratih melepaskan semua gelisah di pembaringan. Berusaha memejamkan mata. Tapi pelupuk mata Ratih seakan tak ingin terlelap. Ratih menatap ke atas. Pikirannya bergumul dengan bayangan Aidin dan Faisal.
Ya, Mas Faisal memang orang yang baik, sopan, rajin ibadah, mapan lagi. Tapi aku tidak mencintainya. Kalau Aidin, kami saling mencintai. Tapi kemana dia? Sudah beberapa bulan ini dia tak ada kabar. Pikiran itu lalu lalang di dalam kepala Ratih hingga kantuk menjemputnya.
            Mentari menaburkan sinar merah di langit. Menguapkan embun-embun di daun pohonan. Ratih keluar dari kamar. Siap untuk sarapan dan pergi bekerja. Namun, acara sarapan itu terasa menyiksa karena lagi-lagi bapak dan ibunya kembali membahas tentang rencana Faisal melamar dirinya.
            “Masih juga kau tak mau menjawab, Tih,” tanya Bapak di sela sarapan. Ratih terus mengunyah, menganggap tak ada yang berbicara dengannya.
            “Ratih, kau mendengar Bapak bicara tidak?” tanya Bapak sedikit berteriak.
“Entahlah Pak, Aku muak!” jawab Ratih tak kalah keras sembari membanting sendoknya ke piring. Dia mengambil tas dan segera berlalu.
            Seusai bekerja Ratih enggan pulang ke rumah. Dia terpaku di halte. Tempat tak berdinding dengan 3 bagian tempat duduk yang setiap bagian mampu menerima 3 orang itu berkeramik biru tua. Setiap bagian dipisahkan oleh jerejak besi. Atapnya berwarna biru muda yang sudah mulai memintal lubang di beberapa bagian. Di tempat itulah pertama kali Ratih bertemu dengan Aidin. Aidin yang menawarkan jaket padanya ketika hujan merintih deras.
Ratih melirik jam di tangan kirinya. Tertera pukul 17.30 Wib. Angin melambai menyapa rambut panjang Ratih. Mata bulatnya kembali mengukir lamunan. Nama Aidin dan Faisal berputar-putar di otaknya. Galau menyelimuti hatinya. Tiba-tiba suara klakson melepaskan Ratih dari lamunannya.
            “Ratih, kamu tidak pulang?” tanya Faisal yang baru keluar dari mobil.
            “Ayo, Mas anter pulang,” tawarnya pada Ratih.
            Ratih mengangguk. Dia masuk ke dalam mobil. Di perjalanan Ratih menatap Faisal dengan lekat. Lelaki berumur 27 tahun itu berwajah oval, alisnya tebal, matanya panjang dan tajam, hidungnya mancung seperti artis korea, rambutnya lebat hitam legam, berkulit sawo matang, dan tubuhnya tinggi. Aidin, apa harus kutinggalkan dirimu demi dirinya. Kau dimana Din, tanya Ratih dalam hati.
            Waktu terus mengalir. Orang tua Ratih terus menumpahkan nasehat tiap bertemu pandang dengan Ratih. Faisal juga disuguhkan setiap hari di  hadapan Ratih. Selalu mengantar Ratih kemanapun dia pergi. Memberikan perhatian ketika Ratih sakit dan sangat memahami kegalauan hati Ratih. Lama-kelamaan Ratih merasakan semburat kasih sayang yang dihadiahkan Faisal secara tulus untuknya. Dan Aidin, semakin menjamur dalam hati Ratih.
            Tak terasa tiga bulan yang dinantikan pun tiba. Aidin yang tak jelas rimbanya membuat Ratih mengikuti semua petuah bapak dan ibunya. Ratih pun menerima Faisal menjadi calon suaminya.
***
            Luka Aidin sudah pulih pasca kecelakaan yang menimpanya 4 bulan yang lalu. Hanya kaki sebelah kirinya saja yang masih pincang. Kakinya patah tidak bisa berfungsi seperti sedia kala.
Matahari tepat berdiri di ubun-ubun. Aidin sudah berada di dalam bus untuk segera pulang ke kampung menemui Ratihnya. Butuh waktu beberapa hari untuk sampai ke sana.
Namun, sesampainya di kampung betapa keberangan melahap habis diri Aidin yang mendengar kabar dari Pakleknya bahwa Ratihnya telah dilamar lelaki lain dan akan segera menikah.
            “Sudahlah Din, lupakan saja Si Ratih itu,” ucap Paklek Aidin mencoba menenangkannya.
            “Tidak bisa Lek. Dia milikku. Hanya aku yang punya hak untuk melamar dan menikahinya,” ucap Aidin dengan mata yang penuh dengan amarah.
            Kelam menikam waktu. Aidin masih dirasuki api cemburu. Aku harus menemui Ratih, tegasnya dalam hati. Sebelum pergi Aidin ke dapur, mengambil sesuatu dan menyimpannya di dalam baju.
Aidin menyambangi rumah Ratih. Sesampainya di depan pagar rumah, dilihatnya wanita pujaannya keluar dari mobil mewah bersama dengan seorang lelaki.
            “Ratih...” tegurnya pelan. Ratih menoleh. Matanya membelalak hebat. Jantung Ratih hampir kehilangan degupnya.
            “Aidin...” jawab Ratih. Ratih mendekati Aidin.
“Kau kejam, Tih,” ucap Aidin hampir tak terdengar.
            “Maafkan aku, Din,” ucap Ratih mulai sesenggukan. Tangisnya semakin menjadi dan dia menutup mulut dengan tangannya berharap tangisnya tak terdengar.
            Aidin menatap tangan Ratih. Hatinya semakin memanas melihat selingkar emas di jari Ratih.
            “Lepaskan cincin itu, Tih. Kau masih milikku,” suruh Aidin.
            “Din...” kata Ratih melihat ke jarinya.
            “Buka, Tih. Akan kubelikan yang baru. Aku akan menikahimu. Kita janjikan akan menikah. Aku pulang demi kamu, Tih,” kata Aidin lagi.
            “Ngak, Din. Ngak segampang itu. Mas Faisal sudah melamarku. Aku juga...” ucap Ratih tak meneruskan kata-katanya.
            “Apa, Tih? Apa? Apa kau mencintainya? Kau mencintainya, Tih!” jerit Aidin.
            Aidin lalu menarik tangan Ratih, mencoba melepaskan selingkar emas di jarinya. Ratih meronta sekuat tenaga. Berupaya melepaskan paksaan Aidin padanya.
            Faisal muncul di antara mereka dan langsung melayangkan tinjunya ke mata Aidin. Aidin terjatuh. Matanya mengeriput. Biru bercampur jingga.
            “Kau tak apa-apa, Tih?” tanya Faisal khawatir.
            “Tak apa, Mas” jawab Ratih sendu.
Aidin berang. Dia lalu berdiri. Mengeluarkan parang dari sarangnya. Tanpa beriring mantra apa-apa, parang dihadiahkan Aidin di pelipis kiri Faisal.
Rumah Cerita, 07-09 Jan 2012

(Cerpen ini telah dimuat di Rubrik B’Gaul Medan Bisnis, 12 Februari 2012)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar