10 Juli 2013
Jaranan
Jaranan
Oleh:
Tanita Liasna
Rahmi
tak sama sekali bergeming. Katup mulutnya kian rapat. Tatapnya hanya pada gulai
terong yang sedang dimasaknya.
“Buk,
boleh kenapa Buk. Ya Buk ya. Buk, Boleh ya Buk,” pinta Bayu memelas.
“Enggak,”
jawab Rahmi pendek.
“Semua
teman-teman Bayu dikasi izin Buk. Kenapa Bayu nggak? Ibuk nggak sayang Bayu,”
ujar Bayu sambil berlari masuk ke dalam kamar.
Rahmi
menghela nafas sedalam yang ia bisa. Sedu Bayu mulai terdengar menyentuh
gendang telinga Rahmi.
“Anak
itu. Selalu seperti itu jika inginnya tak dipenuhi,” ujar Rahmi pada dirinya
sendiri.
“Bayu,”
panggil Rahmi sembari membuka pintu kamar.
Terlihat
Bayu sedang menelungkupkan badannya di atas tempat tidur. Dengan wajah disimpan
rapat di atas guling bermotif kain berbunga biru.
“Sudah.
Jangan nangis lagi. Ibuk kasi kamu izin pergi. Sudah ya Nak,” bujuk Rahmi.
Mendengar
ujar yang dilantunkan Rahmi dari mulutnya, Bayu terperanjat. “Bener Buk, Ibuk
kasi izin Bayu pergi malam ini?” tanya Bayu mengusap-usap pipinya yang penuh
dengan air mata.
Rahmi
mengangguk sambil mengelus kepala Bayu.
“Hore!
Makasih Buk. Ibuk memang baik,” ujar Bayu sambil menghambur keluar kamar. Ia
berlari ke lapangan yang tak terletak tak jauh dari rumahnya. Di sana semua
teman-temannya telah menunggu jawaban Bayu.
“Woi,
aku dikasi nonton malam ini!” jerit Bayu yang suaranya sampai ke telinga Rahmi.
Biasanya
melihat Bayu bahagia, Rahmi lebih merasakan kebahagiaan. Tapi kali ini lain.
Hatinya terasa tertusuk sembilu. Menggelindingkan ingatannya pada kejadian
beberapa tahun lalu.
“Mas,
malam ini mau tampil dimana lagi?” tanya Rahmi sembari duduk di samping
suaminya. Parmin sedang asyik membersihkan kuda-kuda tanpa kaki yang terbuat
dari anyaman bambu miliknya.
“Di
desa sebelah Buk,” sahut suaminya.
“Bukannya
baru beberapa minggu yang lalu Mas tampil di sana?” tanya Rahmi lagi.
“Memang
dapat panggilan ke sana. Jadi mau gimana? ujar suaminya.
“Pulangnya
cepat ya Mas. Jangan seperti kemarin. Sampai jam tiga pagi baru pulang,” pinta
Rahmi sedikit memelas. Suaminya hanya mengangguk pelan.
“Bayi
ini suka menendang kalau rindu pada Bapaknya,” ucap Rahmi lagi.
“Ya,
Mas upayakan ya,” sahutnya dengan seulas senyum tipis.
Malam
pun tiba. Awan hitam melukiskan kelamnya di langit. Sepotong bulan sabit
menggantung. Ada beberapa bintang gemerlap menghiasi malam yang semakin matang.
Rahmi
duduk di depan pintu. Mengelus perutnya yang kian membuncit. Ada sepotong air
mata jatuh di tangannya. Entah mengapa hampir sebulan ini, setiap suaminya
pergi bekerja, Rahmi selalu meleburkan air mata. Pikirannya selalu tak karuan.
Sebenarnya
ada muasal yang membuat Rahmi seperti ini. Ketika itu, yang ia tahu suaminya
beberapa hari lalu membawakan Jaran Kepang di kampung sebelah. Namun, ketika ia
mempertanyakan hal itu kepada seorang bidan di kampung tersebut, Sang Bidan
malah berkata bahwa sudah lama sekali tidak ada pertunjukan Jaran Kepang di
kampungnya.
Sejak
kejadian itu, beragam tanya menggelantung di tiang pikirnya. Kemanakah suaminya
pergi? Dengan siapakah ia hingga malam? Mengapa beralasan akan tampil bermain
Jaran Kepang di desa sebelah? Dan banyak lagi pertanyaan yang mencumbu habis
ketenangan Rahmi.
Tapi, begitulah Rahmi. Sekuat apa pun
keinginannya untuk bertanya, ia hanya bisa bungkam. Hingga ketika bayinya genap berumur delapan
bulan, Parmin meninggalkan Rahmi begitu saja.
Setelah enam bulan kepergiaannya yang
tak bersebab itu, Rahmi mendengar dari para tetangga, bahwa suaminya telah
menikah dengan seorang gadis dari desa sebelah. Konon katanya, gadis itu selalu
menonton pertunjukan Jaran Kepang yang dipawangi oleh Parmin, suaminya.
Sejak itulah, Rahmi membenci kesenian
rakyat yang satu ini. Dan berupaya agar Bayu tak perlu menonton apalagi
menyukai Jaran Kepang. Dan menutup kejadian ini rapat-rapat dari Bayu. Jika
Bayu bertanya perihal Bapaknya, Rahmi hanya mengatakan bahwa Bapaknya telah
meninggal dunia.
“Buk,
Ibuk!” jerit Bayu yang tiba-tiba membuyarkan segala kenang Rahmi tentang
kejadian pilu itu.
“Apa?
Kenapa teriak-teriak begitu, Nak?” tanya Rahmi.
“Bapak
tukang main Jaran Kepang ya Buk? Pantesan Bayu senang nonton Jaran Kepang,”
kata Bayu bersemangat.
Rahmi
menatap tajam Bayu. Perkataan Anaknya tadi benar-benar mengusung sebongkah
kebencian dalam dadanya. “Kamu dengar cerita itu dari siapa?” tanya Rahmi
dingin.
Seketika Bayu gemetar. Ia tak pernah
melihat Ibunya dengan wajah seseram itu.
“Dari Deni Buk. Dia bilang yang bilang
Ibunya, Buk,” sahut Bayu gelagapan.
“Masuklah ke dalam kamar. Jangan lagi
keluar,” ujar Rahmi.
“Tapi
Bayu mau nonton Jaran Kepang Buk,” sahut Bayu tertunduk.
“Bisa
berhenti membicarakan itu Bayu. Ibuk muak. Setiap waktu yang kau bicarakan
hanya itu saja. Yang kau minta hanya itu saja. Bisakah kau sukai hal lain
selain Jaran Kepang itu?” ujar Rahmi sedikit berteriak.
“Ibuk,”
sahut Bayu ketakutan.
“Sekarang
kau masuk kamar. Jangan lagi keluar. Dan jangan bicara soal itu lagi!” teriak
Rahmi dengan nada kemarahan.
Bayu
berlari masuk ke dalam kamarnya. Tangis menggerogoti luka-luka kering di hati
Rahmi.
“Ya
Allah, betapa tak sanggup hamba mengingat itu semua,” ujar Rahmi terduduk lemas
di lantai dapurnya. Kuntum-kuntum air mata merekah dari dua bola mata sayunya.
Andai,
ketika itu Rahmi bertanya perihal kabar yang ia dengar dari bidan tempatnya
memeriksa kandungan. Andai, kala itu dia bicara, mungkin suaminya tidak akan
meninggalkannya. Andai, ketika itu dia bicara, Bayu tidak akan kehilangan
seorang Bapak. Andai ketika itu ia bicara, Bayu tidak akan menangis seperti
ini. Andai dia bicara kala itu, tak kan ia marah-marah hanya karena Bayu ingin
menonton pertunjukan Jaran Kepang. Andai ketika itu dia bicara, mungkin semua
takkan jadi begini.
Rumah
Cerita, 17-18 Februari 2013
(Cerpen ini telah dimuat di Mimbar Umum, 01 Juni 2013)
puisi karya belia
Membenam
Rindu
Oleh:
Tanita Liasna
Kubenamkan
rindu membentang di rahim nafas
Leburkan
utas-utas bayang berwujudmu
Sebar
benih-benih kendati aku tak mau
Bisa
jadi segala kukisahkan melagu dalam setiap helaanku
Tapi
terlalu perih akan kutikam jika birahi temu tak menggiring kau pada janji
angan-angan
Ketidaktahuan
Oleh:
Tanita Liasna
Tiada
kata yang pantas kita rapalkan selain ketidaktahuan
Ketika
tanya kuakarkan pada sebatang pikir dalam ragamu
Kau
tenang dan mengulur seberapa panjang perjalanan mimpi yang kugurat pada
biduk-biduk kemauanku
Kau
rebahkan sekelebat kata-kata yang tiada lain ialah kesepian-kesepian
hantarkanku
Pada
badan-badan tanpa sungai nadi dan arakan deru nafas
Ketidaktahuan
seperti satu ujar pasti dan tak perlu kita sesali
Rumah
Cerita, 100513
(Puisi-puisi
ini telah dimuat di Rubrik Karya Belia Medan Bisnis, 02 Juni 2013)
Langganan:
Komentar (Atom)