10 Juli 2013

Tingkatkan Kecintaan pada Sastra Melalui GMB II

Tingkatkan Kecintaan pada Sastra Melalu GMB II

Oleh: Tanita Liasana 



Sastra merupakan salah satu pembelajaran yang mampu meningkatkan kepekaan seseorang dalam bersosialisasi dengan orang lain. Melalui sastra pula seseorang mampu menuangkan pikiran dan perasaannya.

Dan untuk meningkatkan minat dan kecintaan siswa terhadap sastra, Komunitas Membaca, Menulis, dan Sastra Rumput Hijau SMA Negeri 2 Model Binjai mengadakan acara Gebyar Muda Bersastra II 2013 yang diselenggarakan di SMA Negeri 2 Model Binjai.

Acara ini diisi dengan beragam perlombaan. Lomba berbalas pantun, lomba musikalisasi puisi, lomba membuat dan menghias majalah dinding, serta lomba yel-yel.

Acara dimulai dengan kata sambutan oleh pembawa acara. Kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Lalu doa bersama yang dibawakan oleh M. Rizki Ananda. Selanjutnya, para hadirin dihibur dengan Tari Persembahan yang dibawakan oleh grup tari SMA Negeri 2 Model Binjai.

Kemudian, acara dilanjutkan kembali dengan laporan panitia. Lalu, kata sambutan oleh Kepala Sekolah SMA Negeri  2 Model Binjai, Bapak Syaiful Bachri, M.Pd. Selanjutnya, para tamu dihibur dengan musikalisasi puisi Rumput Hijau yang telah mengibarkan sayap kemenangannya hingga ke tingkat Nasional. Kali ini Muskus  Rumput Hijau membawakan puisi karya Damiri Mahmud yang berjudul Hotel Siantar.

Lalu, acara dilanjutkan dengan kata sambutan sekaligus pembukaan acara Gebyar Muda Bersastra II 2013 yang dibawakan oleh H. Dwi Anang M.Pd, selaku Kepala Dinas Pendidikan kota Binjai. Kemudian, muskus Rumput Hijau kembali menguasai panggung dengan membawakan Puisi Cinta untuk Anakku, buah karya Timbas Tarigan. Lalu acara dilanjutkan pula dengan kata sambutan oleh Wakil Walikota Binjai, Bapak Timbas Tarigan. Setelah itu, acara ramah tamah pun dilaksanakan. Yaitu acara yang mempersilahkan para tetamu untuk mengunjungi stan-stan pameran kreasi siswa SMA Negeri 2 Model Binjai. Acara ramah tamah ini juga dibarengi dengan muskus Rumput Hijau yang menggugah mata dan telinga dengan kepiawaian mereka membawakan puisi Cintaku Jauh di Pulau, goresan pena Charil Anwar. Dan dilanjutkan dengan membawakan puisi Sungai Deli, buah imajinasi Hasan Al-Banna.

Semangat  Siswa Berlomba

            Usailah pembukaan acara GMB II, maka acara dilanjutkan dengan beragam perlombaan yang telah dipersiapkan. Diawali dengan perlombaan membuat dan menghias majalah dinding. Seluruh grup peserta telah bersiap-siap di pelataran koridor sebelah kiri panggung GMB II. Dalam perlombaan mading ini, Hasan Al-Banna, M.Raudah Jambak, dan Andi Mukli menjabat sebagai juri. Dan pada perlombaan ini, setiap group diberi waktu dua jam dalam membuat dan menghias mading.

            Setelah acara mading dimulai, maka acara berbalas pantun pun langsung dilaksanakan. Ada delapan grup peserta dari berbagai sekolah di Sumatera Utara. Setiap group terdiri dari tiga orang siswa. Dalam perlombaan ini, jelas tergambar kegesitan, kecepatan, dan semangat para peserta dalam menjual dan membeli pantun. Semua saling berlomba merangkaikan kata, berupa isi dan sampiran pantun.

            Setelah berbalas pantun selesai, maka giliran grup-goup musikalisasi puisilah yang bertanding. Ada sebelas grup musikalisasi puisi. Dengan para juri yaitu Ade Dharma, Riahta Ulina Tarigan, dan Agus Mulia. Perlombaan musikalisasi puisi ini berjalan dengan sangat menarik. Kemampuan siswa-siswi dalam menghayati puisi Jalan Sudah Jauh Ditempuh, goresan pena seorang penyair Binjai Abdul Djalil Sidin, sangat terlihat. Bermacam aransemen terekam telinga penulis. Dari yang terdengar syahdu hingga menghentak gendang telinga.

            Kemudian lomba yel-yel pun dilaksanakan, setelah penampilan sebelas grup musikalisasi puisi. Lomba yel-yel diikuti oleh tiga belas grup. Hasan Al-Banna, Ade Dharma, dan Agus Mulia sebagai juri dalam perlombaan ini. Dalam ajang ini sangat terlihat semangat dan kebahagiaan dari para siswa yang dengan gamblang membanggakan sekolah mereka masing-masing. Dengan style yang lucu dan unik, lomba yel-yel yang memang diadakan hampir sore ini, mampu membuat penulis kembali bersemangat.

            Tak lama, seluruh group peserta yel-yel pun telah tampil. Pembawa acara memberikan waktu beberapa saat kepada para juri untuk mengambil keputusan final. Dan keputusan final yang diumumkan oleh para juri yaitu sebagai berikut.

            Untuk lomba musikalisasi puisi SMA Negeri 6 Binjai memegang peringkat pertama. Diikuti oleh SMA Methodist Binjai, lalu SMA Negeri 1 Binjai, dan SMA Harapan 2 Medan. Kemudian untuk lomba yel-yel, peringkat pertama disabet oleh SMA Negeri 2 Binjai. Diikuti oleh SMA Ahmad Yani Binjai, lalu SMA Swasta Tunas Pelita, dan SMA Negeri 6 Binjai. Lalu untuk lomba membuat dan menghias mading, SMA Negeri 1 Binjai menduduki peringkat pertama dan kedua. Peringkat tiga dan harapan diraih oleh SMA Methodist Binjai. Dan lomba berbalas pantun dimenangkan oleh SMA Negeri 6 Binjai. Diikuti oleh SMK 8 Medan, kemudian SMK Panca, dan juara harapan diraih oleh SMA Harapan Medan.

Meningkatkan Kecintaan pada Sastra

            Dengan diadakannya acara GMB II ini, maka akan terasahlah minat siswa berhubungan dengan sastra. Lewat acara ini pula siswa akan mampu lebih mencintai sastra, dan meningkatkan kreativitasnya melalui sastra. Seperti slogan GMB II 2013 ini, “Dengan membaca wawasanmu bertambah. Dengan menulis kreativitas berpikirmu terasah. Dengan bersastra hidupmu jadi semakin indah.

Rumah Cerita, 280413
Penulis adalah Mahasiswa PBSID sem.VIII STKIP Budidaya Binjai
(Artikel ini telah dimuat di Rubrik TRP Analisa, 07 Juli 2013)            

Jaranan



Jaranan
Oleh: Tanita Liasna
            “Buk, ayolah Buk. Kasi izin ya Buk. Ibuk. Jawablah Buk. Jangan diam saja,” rengek Bayu yang berdiri di samping ibunya.
            Rahmi tak sama sekali bergeming. Katup mulutnya kian rapat. Tatapnya hanya pada gulai terong yang sedang dimasaknya.
            “Buk, boleh kenapa Buk. Ya Buk ya. Buk, Boleh ya Buk,” pinta Bayu memelas.
            “Enggak,” jawab Rahmi pendek.
            “Semua teman-teman Bayu dikasi izin Buk. Kenapa Bayu nggak? Ibuk nggak sayang Bayu,” ujar Bayu sambil berlari masuk ke dalam kamar.
            Rahmi menghela nafas sedalam yang ia bisa. Sedu Bayu mulai terdengar menyentuh gendang telinga Rahmi.
            “Anak itu. Selalu seperti itu jika inginnya tak dipenuhi,” ujar Rahmi pada dirinya sendiri.
            “Bayu,” panggil Rahmi sembari membuka pintu kamar.
            Terlihat Bayu sedang menelungkupkan badannya di atas tempat tidur. Dengan wajah disimpan rapat di atas guling bermotif kain berbunga biru.
            “Sudah. Jangan nangis lagi. Ibuk kasi kamu izin pergi. Sudah ya Nak,” bujuk Rahmi.
            Mendengar ujar yang dilantunkan Rahmi dari mulutnya, Bayu terperanjat. “Bener Buk, Ibuk kasi izin Bayu pergi malam ini?” tanya Bayu mengusap-usap pipinya yang penuh dengan air mata.
            Rahmi mengangguk sambil mengelus kepala Bayu.
            “Hore! Makasih Buk. Ibuk memang baik,” ujar Bayu sambil menghambur keluar kamar. Ia berlari ke lapangan yang tak terletak tak jauh dari rumahnya. Di sana semua teman-temannya telah menunggu jawaban Bayu.
            “Woi, aku dikasi nonton malam ini!” jerit Bayu yang suaranya sampai ke telinga Rahmi.
            Biasanya melihat Bayu bahagia, Rahmi lebih merasakan kebahagiaan. Tapi kali ini lain. Hatinya terasa tertusuk sembilu. Menggelindingkan ingatannya pada kejadian beberapa tahun lalu.
            “Mas, malam ini mau tampil dimana lagi?” tanya Rahmi sembari duduk di samping suaminya. Parmin sedang asyik membersihkan kuda-kuda tanpa kaki yang terbuat dari anyaman bambu miliknya.
            “Di desa sebelah Buk,” sahut suaminya.
            “Bukannya baru beberapa minggu yang lalu Mas tampil di sana?” tanya Rahmi lagi.
            “Memang dapat panggilan ke sana. Jadi mau gimana? ujar suaminya.
            “Pulangnya cepat ya Mas. Jangan seperti kemarin. Sampai jam tiga pagi baru pulang,” pinta Rahmi sedikit memelas. Suaminya hanya mengangguk pelan.
            “Bayi ini suka menendang kalau rindu pada Bapaknya,” ucap Rahmi lagi.
            “Ya, Mas upayakan ya,” sahutnya dengan seulas senyum tipis.
            Malam pun tiba. Awan hitam melukiskan kelamnya di langit. Sepotong bulan sabit menggantung. Ada beberapa bintang gemerlap menghiasi malam yang semakin matang.
            Rahmi duduk di depan pintu. Mengelus perutnya yang kian membuncit. Ada sepotong air mata jatuh di tangannya. Entah mengapa hampir sebulan ini, setiap suaminya pergi bekerja, Rahmi selalu meleburkan air mata. Pikirannya selalu tak karuan.
            Sebenarnya ada muasal yang membuat Rahmi seperti ini. Ketika itu, yang ia tahu suaminya beberapa hari lalu membawakan Jaran Kepang di kampung sebelah. Namun, ketika ia mempertanyakan hal itu kepada seorang bidan di kampung tersebut, Sang Bidan malah berkata bahwa sudah lama sekali tidak ada pertunjukan Jaran Kepang di kampungnya.
            Sejak kejadian itu, beragam tanya menggelantung di tiang pikirnya. Kemanakah suaminya pergi? Dengan siapakah ia hingga malam? Mengapa beralasan akan tampil bermain Jaran Kepang di desa sebelah? Dan banyak lagi pertanyaan yang mencumbu habis ketenangan Rahmi.
Tapi, begitulah Rahmi. Sekuat apa pun keinginannya untuk bertanya, ia hanya bisa bungkam.  Hingga ketika bayinya genap berumur delapan bulan, Parmin meninggalkan Rahmi begitu saja.
Setelah enam bulan kepergiaannya yang tak bersebab itu, Rahmi mendengar dari para tetangga, bahwa suaminya telah menikah dengan seorang gadis dari desa sebelah. Konon katanya, gadis itu selalu menonton pertunjukan Jaran Kepang yang dipawangi oleh Parmin, suaminya.
Sejak itulah, Rahmi membenci kesenian rakyat yang satu ini. Dan berupaya agar Bayu tak perlu menonton apalagi menyukai Jaran Kepang. Dan menutup kejadian ini rapat-rapat dari Bayu. Jika Bayu bertanya perihal Bapaknya, Rahmi hanya mengatakan bahwa Bapaknya telah meninggal dunia.
            “Buk, Ibuk!” jerit Bayu yang tiba-tiba membuyarkan segala kenang Rahmi tentang kejadian pilu itu.
            “Apa? Kenapa teriak-teriak begitu, Nak?” tanya Rahmi.
            “Bapak tukang main Jaran Kepang ya Buk? Pantesan Bayu senang nonton Jaran Kepang,” kata Bayu bersemangat.
            Rahmi menatap tajam Bayu. Perkataan Anaknya tadi benar-benar mengusung sebongkah kebencian dalam dadanya. “Kamu dengar cerita itu dari siapa?” tanya Rahmi dingin.
Seketika Bayu gemetar. Ia tak pernah melihat Ibunya dengan wajah seseram itu.
“Dari Deni Buk. Dia bilang yang bilang Ibunya, Buk,” sahut Bayu gelagapan.
“Masuklah ke dalam kamar. Jangan lagi keluar,” ujar Rahmi.
            “Tapi Bayu mau nonton Jaran Kepang Buk,” sahut Bayu tertunduk.
            “Bisa berhenti membicarakan itu Bayu. Ibuk muak. Setiap waktu yang kau bicarakan hanya itu saja. Yang kau minta hanya itu saja. Bisakah kau sukai hal lain selain Jaran Kepang itu?” ujar Rahmi sedikit berteriak.
            “Ibuk,” sahut Bayu ketakutan.
            “Sekarang kau masuk kamar. Jangan lagi keluar. Dan jangan bicara soal itu lagi!” teriak Rahmi dengan nada kemarahan.
            Bayu berlari masuk ke dalam kamarnya. Tangis menggerogoti luka-luka kering di hati Rahmi.
            “Ya Allah, betapa tak sanggup hamba mengingat itu semua,” ujar Rahmi terduduk lemas di lantai dapurnya. Kuntum-kuntum air mata merekah dari dua bola mata sayunya.
            Andai, ketika itu Rahmi bertanya perihal kabar yang ia dengar dari bidan tempatnya memeriksa kandungan. Andai, kala itu dia bicara, mungkin suaminya tidak akan meninggalkannya. Andai, ketika itu dia bicara, Bayu tidak akan kehilangan seorang Bapak. Andai ketika itu ia bicara, Bayu tidak akan menangis seperti ini. Andai dia bicara kala itu, tak kan ia marah-marah hanya karena Bayu ingin menonton pertunjukan Jaran Kepang. Andai ketika itu dia bicara, mungkin semua takkan jadi begini.

Rumah Cerita, 17-18  Februari 2013

(Cerpen ini telah dimuat di Mimbar Umum, 01 Juni 2013)

puisi karya belia



Membenam Rindu
Oleh: Tanita Liasna

Kubenamkan rindu membentang di rahim nafas
Leburkan utas-utas bayang berwujudmu
Sebar benih-benih kendati aku tak mau
Bisa jadi segala kukisahkan melagu dalam setiap helaanku
Tapi terlalu perih akan kutikam jika birahi temu tak menggiring kau pada janji angan-angan

Rumah Cerita, 110513

Ketidaktahuan
Oleh: Tanita Liasna

Tiada kata yang pantas kita rapalkan selain ketidaktahuan

Ketika tanya kuakarkan pada sebatang pikir dalam ragamu
Kau tenang dan mengulur seberapa panjang perjalanan mimpi yang kugurat pada biduk-biduk kemauanku
Kau rebahkan sekelebat kata-kata yang tiada lain ialah kesepian-kesepian hantarkanku
Pada badan-badan tanpa sungai nadi dan arakan deru nafas
Ketidaktahuan seperti satu ujar pasti dan tak perlu kita sesali

Rumah Cerita, 100513

(Puisi-puisi ini telah dimuat di Rubrik Karya Belia Medan Bisnis, 02 Juni 2013)