Antara Pernyataan dan Kenyataan
Aku di warung sarapan, pagi ini
Dari teve 14 ins kudengar pernyataan
“Tingkat Keminskinan di Negeri Kita Sudah
Berkurang”
Lega benar hati mendengar koak-koak semacam
itu
Kubuka chanel teve terkemuka dari teve 21
ins siang ini,
dengan berita ter-update. Mataku hampir
sebesar teve
melihat warga berkerumun dan hampir mati
kurang oksigen
Demi zakat Lima Belas Ribu
Negeriku…oh negeriku…
Pagi siang matahari
hanya naik setingkat 90 derajat, tapi
berita
berubah 180 derajat. Atau karena teve 14
ins
punya berita lebih bahagia untuk
membahagiakan
penikmat teve 14 ins?
Jika memang begitu kenyataannya, maka teve
layar datar
nempel di dinding yang lebarnya juga
selebar dinding
Pasti punya berita lebih pilu dari antrian
zakat
Lima Belas Ribu
Dermaga Rindu, 27 Agustus 2011
Dekat dengan-Mu
Dekat dengan-Mu menghapus segala aral yang
menjulang
Kau arahkan aku pada jalan yang benderang
Lepaskan aku dari segala kepalsuan
Ketenangan berlabuh di dahan-dahan hati
Terbayang sketsa dahulu
Tercabik-cabik kebutaan duniawi
Hamparan ladang pikir pun berdebu
Usang. Terpenjara kebingungan
Ya Ilahi…
Syukur terpatri dalam setiap sujudku
Kau lah tempat mengadu gundah
Tempatku menguatkan jiwa
Dermaga Rindu, 01 September 2011
Harga Mati
Harga matiku adalah cinta
Harga matiku adalah sayang
Harga matimu adalah janji
Harga matimu adalah dusta
Harga matiku adalah kau
Harga matimu adalah aku
Dermaga Rindu, 08 Oktober 2011
Ibuku Pulang
Ibuku pulang!
Paku mengernyit pada tapak
mengais tanah
Ibuku pulang!
Sekujur tubuh biru, hijau
campur merah
Ibuku pulang!
Tubuh lunglai bak daging
tanpa tulang
Ibuku pulang!
Wajah kuyu hias mata
tertanam berang
Ibuku pulang!
Nyawa telah terlelang
Dermaga Rindu, 09 Desember 2011
Jalan Kotaku
Jalan kotaku kian
sempit kian mencekik.
Jejeran becak-becak pencari nafkah bersanding ria
dengan pedagang kaki lima, jadi seribu.
Mataku kian lelah kian jemu
melintasi carut marut barisan mobil, motor
yang tak ingin kalah meludesi pinggiran-pinggiran jalan.
Jejeran becak-becak pencari nafkah bersanding ria
dengan pedagang kaki lima, jadi seribu.
Mataku kian lelah kian jemu
melintasi carut marut barisan mobil, motor
yang tak ingin kalah meludesi pinggiran-pinggiran jalan.
Oh kotaku… jalan
kotaku.
keteraturanmu terenggut oleh para pemakan jalan.
Ketertibanmu hanya kata tinggal seuntai nama.
keteraturanmu terenggut oleh para pemakan jalan.
Ketertibanmu hanya kata tinggal seuntai nama.
Dermaga Rindu, 26 Oktober
2011
Konsiderasi Hasrat
Pagi terus
berganti senja
Waktu bergulir
meninggalkan bait-bait cerita
Derai nafas
menggantungi dahan-dahan berunai
menyampaikan
cerita yang belum usai
Danur kian
menyumbat nadi
Mengikis asa yang
belum tergapai
Akankah cerita
berganti lakon
demi penenang
hasrat angkara
Pelabuhan Sunyi, 13 Januari
2011
Pariwisata Demokrasi
Baju sederhana karena aku rakyat sederhana
Kugunakan untuk pariwisata demokrasiku yang
kulupa sudah kesekian sering
Bangku plastik bertabur, beratap teratak.
Beberapa manusia berwajah sumringah
menjadi pemandu wisataku kali itu.
Ku diberi kertas berlipat dengan sebuah
jarum coblos penentu hidup.
Masuk aku ke dalam kamar kecil bersisi
kaleng, tanpa atap tanpa pintu.
Memilih…
Sekali lagi aku disuruh memilih seumpama
hak ku mendapat beras catu saban bulan.
Bingung juga ikut pariwisata demokrasi,
karena tak tahu
jenis apa wakil-wakilku yang konon katanya
siap mendengar lagu penderitaanku.
Yah…
Kucucuk saja yang paling sering nampang dan
menguntai mutiara-mutiara kata.
Kulipat kembali kertas itu dan kumasukkan
ke dalam kotak besi
yang merupakan ikon penting dalam pariwisata
demokrasi.
Petang termakan malam dan malam termakan
pagi.
Pemenang wisata demokrasi kali itu tak lain
da tak bukan
adalah wajah yang kucucuk tepat di
hidungnya.
Dan kini dia sudah menjabat hampir tahun
berganti tiga kali
tapi tak jua ada secuil perubahan.
Menyesal aku mencucuk tepat di hidungnya.
Jika kucucuk tepat di jidatnya mungkin
bakal ada perubahan.
Dermaga Rindu, 11 Oktober 2011
Pidato Undang-Undang Keadilan
Berserakan ayat-ayat keadilan
Berjubel pasal berbaris tanpa arah
Menghiasi kertas merah putih
Mengatasnamakan kesejahteraan
Segenap penjuru diulek
ceracau sambal terasi
Bermahkotakan undang-undang
Beralaskan hak asasi
Dermaga Rindu, 13 Agustus 2011
Sajak Lelah
Kuukir harap pada tiap fajar
Terbawa angin menyapamu
Hingga
berkas mentari menemu malam.
Berulang kusulam kata pada berkas sinar
rembulan
Menjumpaimu pada malam tak berkelambu
Kini sajak lelah kusulam jua
Dengan benang tanya yang tak kunjung
terjawab
Dengan jarum bisu yang kau tancap dalam
luka
Dermaga Rindu, 04 Oktober 2011
Sebongkah Rindu
Tangis langit
menanam derit pada pintu hati
Menggenangi ladang
duka yang baru usai senja semalam
Derainya jatuh
membasahi bongkahan rindu
Dingin menghimpit,
gigil kian mencekik
Kita saling membius
pertemuan
Mencipta sekat
untuk menghalau ucap
Sedang
sebongkah rindu larut dalam gelisah
harapkan takdir kan
tuai temunya untuk kita
Dermaga Rindu, 20 Agustus
2011
Sujud Rindu
Telah lama kugulung kiblat
pada dasar lembah kenistaan duniawi.
Berlalu segala syukurku
tertelan tawa gila yang tak henti kugemuruhkan.
pada dasar lembah kenistaan duniawi.
Berlalu segala syukurku
tertelan tawa gila yang tak henti kugemuruhkan.
Rasa jiwa terlanda sepi
sayap pun patah tak terobati,
sayap pun patah tak terobati,
segala serapah memuncrat penat dari dasar
lidahku.
Berjalan aku dalam sunyi sendiri
melintas pada rumah suci-Mu
teruntai kecamuk dalam jiwa
merasuk pada daun telingaku untai-untai kalam-Mu
membasahi pikirku yang lama telah gersang.
melintas pada rumah suci-Mu
teruntai kecamuk dalam jiwa
merasuk pada daun telingaku untai-untai kalam-Mu
membasahi pikirku yang lama telah gersang.
Pipiku jadi telaga
Membawaku sujud pada keagungan-Mu
kujabat rahmat-Mu bak jemari hangat sang ibunda
merajut segulung syukur pada tiap rasa
yang Engkau semayamkan dalam sanubariku.
Kulumat seonggok resah yang menapak pada bait-bait kisah
memintal doa-doa dan pinta segala ampun atas maksiat
yang terkunci dalam kata, sapa, dan sikap.
Maka pada-Mu ya Rabbi
kulantunkan segala rindu.
kujabat rahmat-Mu bak jemari hangat sang ibunda
merajut segulung syukur pada tiap rasa
yang Engkau semayamkan dalam sanubariku.
Kulumat seonggok resah yang menapak pada bait-bait kisah
memintal doa-doa dan pinta segala ampun atas maksiat
yang terkunci dalam kata, sapa, dan sikap.
Maka pada-Mu ya Rabbi
kulantunkan segala rindu.
Dermaga Rindu, 24 Oktober 2011
Wanita Penarik Becak
Jemarimu kokoh menggenggam asa
Tapak tangan memintal garis-garis nadi
Diterpa bias cahaya mentari
Isyaratkan lelah dalam ketegaranmu
Tak peduli akan terjalnya hidup
Yang saban hari kian mengkungkung
Engkaulah wanita perkasa
Menantang nasib yang tak memihakmu
Berjuang demi kasih pada buah cinta
Kau… wanita penarik becak
Lelehan peluhmu adalah mutiara
Kepenatanmu bak embun penggiring fajar
Dermaga Rindu, 06 Oktober 2011
(Puisi-puisi ini termaktub dalam
antologi puisi Sanggar Rumah Cerita, Metamorfosa)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar