3 Mei 2013

Puisi



Antara Pernyataan dan Kenyataan

Aku di warung sarapan, pagi ini
Dari teve 14 ins kudengar pernyataan
“Tingkat Keminskinan di Negeri Kita Sudah Berkurang”
Lega benar hati mendengar koak-koak semacam itu

Kubuka chanel teve terkemuka dari teve 21 ins siang ini,
dengan berita ter-update. Mataku hampir sebesar teve
melihat warga berkerumun dan hampir mati kurang oksigen
Demi zakat Lima Belas Ribu

Negeriku…oh negeriku…
Pagi siang matahari
hanya naik setingkat 90 derajat, tapi berita
berubah 180 derajat. Atau karena teve 14 ins
punya berita lebih bahagia untuk membahagiakan
penikmat teve 14 ins?
Jika memang begitu kenyataannya, maka teve layar datar
nempel di dinding yang lebarnya juga selebar dinding
Pasti punya berita lebih pilu dari antrian zakat
Lima Belas Ribu

Dermaga Rindu, 27 Agustus 2011
Dekat dengan-Mu

Dekat dengan-Mu menghapus segala aral yang menjulang
Kau arahkan aku pada jalan yang benderang
Lepaskan aku dari segala kepalsuan
Ketenangan berlabuh di dahan-dahan hati

Terbayang sketsa dahulu
Tercabik-cabik kebutaan duniawi
Hamparan ladang pikir pun berdebu
Usang. Terpenjara kebingungan

Ya Ilahi…
Syukur terpatri dalam setiap sujudku
Kau lah tempat mengadu gundah
Tempatku menguatkan jiwa


Dermaga Rindu, 01 September 2011
Harga Mati

Harga matiku adalah cinta
Harga matiku adalah sayang
Harga matimu adalah janji
Harga matimu adalah dusta
Harga matiku adalah kau
Harga matimu adalah aku

Dermaga Rindu, 08 Oktober 2011
Ibuku Pulang

Ibuku pulang!
Paku mengernyit pada tapak mengais tanah
Ibuku pulang!
Sekujur tubuh biru, hijau campur merah
Ibuku pulang!
Tubuh lunglai bak daging tanpa tulang
Ibuku pulang!
Wajah kuyu hias mata tertanam berang
Ibuku pulang!
Nyawa telah terlelang
Dermaga Rindu, 09 Desember 2011
Jalan Kotaku

Jalan kotaku kian sempit kian mencekik.
Jejeran becak-becak pencari nafkah bersanding ria
dengan pedagang kaki lima, jadi seribu.
Mataku kian lelah kian jemu
melintasi carut marut barisan mobil, motor
yang tak ingin kalah meludesi pinggiran-pinggiran jalan.

Oh kotaku… jalan kotaku.
keteraturanmu terenggut oleh para pemakan jalan.
Ketertibanmu hanya kata tinggal seuntai nama.

Dermaga Rindu, 26 Oktober 2011
Konsiderasi Hasrat
Pagi terus berganti senja
Waktu bergulir meninggalkan bait-bait cerita
Derai nafas menggantungi dahan-dahan berunai
menyampaikan cerita yang belum usai

Danur kian menyumbat nadi
Mengikis asa yang belum tergapai
Akankah cerita berganti lakon
demi penenang hasrat angkara


Pelabuhan Sunyi, 13 Januari 2011
Pariwisata Demokrasi
Baju sederhana karena aku rakyat sederhana
Kugunakan untuk pariwisata demokrasiku yang kulupa sudah kesekian sering
Bangku plastik bertabur, beratap teratak. Beberapa manusia berwajah sumringah
menjadi pemandu wisataku kali itu.
Ku diberi kertas berlipat dengan sebuah jarum coblos penentu hidup.
Masuk aku ke dalam kamar kecil bersisi kaleng, tanpa atap tanpa pintu.
Memilih…
Sekali lagi aku disuruh memilih seumpama hak ku mendapat beras catu saban bulan.

Bingung juga ikut pariwisata demokrasi, karena tak tahu
jenis apa wakil-wakilku yang konon katanya siap mendengar lagu penderitaanku.
Yah…
Kucucuk saja yang paling sering nampang dan menguntai mutiara-mutiara kata.
Kulipat kembali kertas itu dan kumasukkan ke dalam kotak besi
yang merupakan ikon penting dalam pariwisata demokrasi.

Petang termakan malam dan malam termakan pagi.
Pemenang wisata demokrasi kali itu tak lain da tak bukan
adalah wajah yang kucucuk tepat di hidungnya.
Dan kini dia sudah menjabat hampir tahun berganti tiga kali
tapi tak jua ada secuil perubahan.
Menyesal aku mencucuk tepat di hidungnya.
Jika kucucuk tepat di jidatnya mungkin bakal ada perubahan.


Dermaga Rindu, 11 Oktober 2011

Pidato Undang-Undang Keadilan
Berserakan ayat-ayat keadilan
Berjubel pasal berbaris tanpa arah
Menghiasi kertas merah putih
Mengatasnamakan kesejahteraan

Segenap penjuru diulek
ceracau sambal terasi
Bermahkotakan undang-undang
Beralaskan hak asasi
Dermaga Rindu, 13 Agustus 2011
Sajak Lelah
Kuukir harap pada tiap fajar
Terbawa angin menyapamu
Hingga  berkas mentari menemu malam.

Berulang kusulam kata pada berkas sinar rembulan
Menjumpaimu pada malam tak berkelambu

Kini sajak lelah kusulam jua
Dengan benang tanya yang tak kunjung terjawab
Dengan jarum bisu yang kau tancap dalam luka


Dermaga Rindu, 04 Oktober 2011
Sebongkah Rindu
Tangis langit menanam derit pada pintu hati
Menggenangi ladang duka yang baru usai senja semalam
Derainya jatuh membasahi bongkahan rindu
Dingin menghimpit, gigil kian mencekik

Kita saling membius pertemuan
Mencipta sekat untuk menghalau ucap
Sedang sebongkah  rindu larut dalam gelisah
harapkan takdir kan tuai temunya untuk kita

Dermaga Rindu, 20 Agustus 2011
Sujud Rindu

Telah lama kugulung kiblat
pada dasar lembah kenistaan duniawi.
Berlalu segala syukurku
tertelan tawa gila yang tak henti kugemuruhkan.
Rasa jiwa terlanda sepi
sayap pun patah tak terobati,
segala serapah memuncrat penat dari dasar lidahku.

Berjalan aku dalam sunyi sendiri
melintas pada rumah suci-Mu
teruntai kecamuk dalam jiwa
merasuk pada daun telingaku untai-untai kalam-Mu
membasahi pikirku yang lama telah gersang.

Pipiku jadi telaga
Membawaku sujud pada keagungan-Mu
kujabat rahmat-Mu bak jemari hangat sang ibunda
merajut segulung syukur pada tiap rasa
yang Engkau semayamkan dalam sanubariku.
Kulumat seonggok resah yang menapak pada bait-bait kisah
memintal doa-doa dan pinta segala ampun atas maksiat
yang terkunci dalam kata, sapa, dan sikap.
Maka pada-Mu ya Rabbi
kulantunkan segala rindu.

Dermaga Rindu, 24 Oktober 2011
Wanita Penarik Becak
Jemarimu kokoh menggenggam asa
Tapak tangan memintal garis-garis nadi
Diterpa bias cahaya mentari

Isyaratkan lelah dalam ketegaranmu
Tak peduli akan terjalnya hidup
Yang saban hari kian mengkungkung

Engkaulah wanita perkasa
Menantang nasib yang tak memihakmu
Berjuang demi kasih pada buah cinta

Kau… wanita penarik becak
Lelehan peluhmu adalah mutiara
Kepenatanmu bak embun penggiring fajar

Dermaga Rindu, 06 Oktober 2011

(Puisi-puisi ini termaktub dalam antologi puisi Sanggar Rumah Cerita, Metamorfosa)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar