3 Mei 2013

Puisi



Batu Kematian
Oleh: Tanita Liasna
Telah kusiapkan batu kematian
Berukir namamu juga namanya
Masih kusimpan
Atas pemberian waktu
Pada percaya kugenggam teguh
Nanti...
Jika kau mengukir tipu
Menanak pilu
Maka kupersembahkan sebutir peluru
Membawamu dan dia menemu mimpi

Rumah Cerita, 14 Agustus 2012
Di Tengah Tunggu
Oleh: Tanita Liasna
Di tengah tunggu
Angin menyapa dengan semilir luka
Menambatkan sepucuk pengap di dada
Ilalang mengigau
Melagukan bait-bait bahagia
Sempat kurajut pada awal tunggu lalu
Saat madu masih tumpah di kedua ranum bibirmu
Aku masih di tengah tunggu menyepi
Mendengar igau ilalang
Sungguh menyayat
Aku ikut melagu
Dalam rintih

Rumah Cerita, 16 Agustus 2012
Jika Bisa
Oleh: Tanita Liasna
Jika bisa kuberteman malam
Tak akan aku kembali
Pada senja atau pagi
Malam mampu mengajakku lelap
Hingga bayangmu tak lekat dalam dekap
Jika bisa kuberteman hampa
Tak kan aku kembali
Pada rindu atau kasih
Hampa mampu buatku menyepi hati
Hingga tak ada sakit mengikat
Jika bisa kuberteman kematian
Tak kan aku kembali
Pada hidup atau hela nafas
Kematian pasti lenyapkan rasa
Hingga mengusai luka

Rumah Cerita, 15 Agustus 2012
(Puisi-puisi ini telah dimuat di Rubrik Rebana Analisa, 09 September 2012)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar