Angin Mengetuk Daun- daun Jendela
Oleh: Tanita Liasna
Malam ini angin
menyenandungkan gurindam-gurindam luka
Pijarnya bersetubuh
dengan sunyi
Ada gerimis berkelakar
Akan cerita malam lalu
Setengah berbisik
suaranya pekakkan telinga
Aku masih merindu
Walau gerimis menyentak
angin
Hingga jerit melepas
segenap lara
Aku masih bersepi sendiri
Menatap angin bercumbu
rinai gerimis
Perlahan angin lelah
Menyepi di sudut malam
Pelan-pelan dalam tangis
Angin mengetuk daun-daun
jendela
Rumah Cerita, 24 Juni 2012
Kali Terakhir
Oleh: Tanita Liasna
Bang...
Ini kali terakhir
Kubuatkan kau semangkuk
rahasia pagi
Sebagai penghabisan kelam
Berkelambu pada jaring
mentari
Bang...
Ini kali terakhir
Kuseduhkan segelas lara
Untuk kau seruput ke
liang kerongkonganmu
Karena waktu telah kandas
Telah mengakar kematian
Bang...
Ini kali terakhir
kukabarkan
Sepucuk rindu dalam
sesendok luka
Karena telah lama ragu
kupeluk
Hingga mataku hilang
dalam dekapmu
Rumah Cerita, 23 Juni 2012
Pada Sebuah Kamar
Oleh: Tanita Liasna
Jelantik malam
Berkurung sepi
Terduduk di depan jendela
Berpaut lautan dera
Kamar ini masih sama
Masih bersisi rumbia
Beraroma kemesraan
Pun masih menyulam tunggu
Membiarkan semak-semak
angin
Mengguncang remah-remah
gelisah
Bila dia datang kembali
Kan tertanam kasmaran
mengguncang rindu
Rumah Cerita, 27 Juni 2012
Rajutan Rindu Terputus
Oleh: Tanita Liasna
Rajutan rindu terputus
Sepenggal batas membelah
Menikam bayang kerinduan
Kalap terlarut buai
berkilah
Sepasang jarum berkelit
Menyambung benang
keputusan
Tetap saja seluruh patah
Tak menyatu
Rumah Cerita, 30 Juni 2012
(Puisi-puisi ini telah dimuat di Rubrik Art & Culture Medan Bisnis, 28
Oktober 2012)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar