3 Mei 2013

Puisi



Angin Mengetuk Daun- daun Jendela
Oleh: Tanita Liasna
Malam ini angin menyenandungkan gurindam-gurindam luka
Pijarnya bersetubuh dengan sunyi
Ada gerimis berkelakar
Akan cerita malam lalu
Setengah berbisik suaranya pekakkan telinga

Aku masih merindu
Walau gerimis menyentak angin
Hingga jerit melepas segenap lara

Aku masih bersepi sendiri
Menatap angin bercumbu rinai gerimis
Perlahan angin lelah
Menyepi di sudut malam
Pelan-pelan dalam tangis
Angin mengetuk daun-daun jendela
Rumah Cerita, 24 Juni 2012
Kali Terakhir
Oleh: Tanita Liasna
Bang...
Ini kali terakhir
Kubuatkan kau semangkuk rahasia pagi
Sebagai penghabisan kelam
Berkelambu pada jaring mentari
Bang...
Ini kali terakhir
Kuseduhkan segelas lara
Untuk kau seruput ke liang kerongkonganmu
Karena waktu telah kandas
Telah mengakar kematian
Bang...
Ini kali terakhir kukabarkan
Sepucuk rindu dalam sesendok luka
Karena telah lama ragu kupeluk
Hingga mataku hilang dalam dekapmu


Rumah Cerita, 23 Juni 2012
Pada Sebuah Kamar
Oleh: Tanita Liasna
Jelantik malam
Berkurung sepi
Terduduk di depan jendela
Berpaut lautan dera

Kamar ini masih sama
Masih bersisi rumbia
Beraroma kemesraan
Pun masih menyulam tunggu
Membiarkan semak-semak angin
Mengguncang remah-remah gelisah
Bila dia datang kembali
Kan tertanam kasmaran mengguncang rindu

Rumah Cerita, 27 Juni 2012
Rajutan Rindu Terputus
Oleh: Tanita Liasna
Rajutan rindu terputus
Sepenggal batas membelah
Menikam bayang kerinduan
Kalap terlarut buai berkilah
Sepasang jarum berkelit
Menyambung benang keputusan
Tetap saja seluruh patah
Tak menyatu
Rumah Cerita, 30 Juni 2012

(Puisi-puisi ini telah dimuat di Rubrik Art & Culture Medan Bisnis, 28 Oktober 2012)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar