3 Mei 2013

Monyet yang Tidak Setia Kawan



Monyet yang Tidak Setia Kawan
Oleh: Tanita Liasna

            Dahulu kala di sebuah hutan tinggallah bermacam jenis binatang. Ada kuda, rusa, kelinci, singa, burung merak, dan masing banyak yang lainnya. Di antara mereka ada seekor monyet dan seekor kancil yang bersahabat. Mereka selalu mencari makan bersama.
            Hingga pada suatu musim, hutan yang menjadi tempat tinggal hewan-hewan itu terserang hama. Semua tumbuhan mati. Hal ini menyebabkan semua binatang yang tinggal di sana kelaparan. Tidak terkecuali monyet dan kancil.
            “Nyet, mau sampai kapan kita bertahan di hutan ini? Lihatlah, semua tumbuhan sudah mati,” ujar Kancil sedih.
            “Iya Cil. Bagaimana kalau kita keluar dari hutan. Siapa tahu ada makanan,” saran Monyet.
            “Ya Nyet. Tadi aku juga berpikir begitu,” jawab Kancil setuju.
            Akhirnya mereka pun mulai berjalan keluar dari hutan. Namun, sepanjang jalan tetap tidak ada yang bisa dimakan. Mereka hanya dapat menghilangkan rasa haus di sebuah sungai yang mereka temui di jalan.
            “Cil, kita sudah keluar dari hutan. Tapi masih juga tak ada makanan,” ujar Monyet sambil mengusap keringat  di dahinya.
            “Iya Nyet. Udara juga sangat panas,” ujar Kancil menambahi.
            Walaupun begitu, mereka terus berjalan. Masih berharap mendapatkan makanan yang bisa menghilangkan rasa lapar mereka.
            Setelah beberapa hari berjalan, akhirnya mereka sampai di perkampungan penduduk.
            “Wah, kita sampai di perkampungan penduduk Cil. Di sini pasti banyak makanan,” ujar Monyet semangat.
            “Iya Nyet. Tapi ingat, banyak sekali manusia yang akan memburu kita,” sahut Kancil.
            Tiba-tiba Monyet melihat sebuah pohon jambu air yang tinggi, rimbun, dan sedang berbuah.
            “Cil... lihat di sana, ada pohon jambu. Jika kita makan buahnya, pasti rasa lapar dan haus kita akan hilang,” ujar Monyet.
            “Ya Nyet. Tapi pohon itu di dalam halaman rumah penduduk,” jawab Kancil sedikit takut.
            “Tidak apa-apa Cil. Kita ambil saja. Lagi sepi kok. Tidak ada orang di halaman itu,” ujar Monyet semakin semangat.
            “Baiklah Nyet,” sahut Kancil.
            “Begini Cil, kamu tunggu di bawah. Dan aku akan memanjat pohon jambunya. Kalau ada orang beritahu aku ya Cil,” ujar Monyet memberikan saran.
            “Ya Nyet. Aku setuju,” sahut Kancil lagi.
            Tak lama, Monyet telah sampai di dahan tertinggi pohon jambu air. Sedangkan Kancil berjaga di bawah. Ketika sedang asyik memetik buah jambu, tiba-tiba muncul niat jahat dalam hati Monyet. Ah, untuk apa kubagi buah jambu ini pada Kancil. Yang menemukan pohon jambu ini kan aku. Yang memanjat juga aku, pikir Monyet dalam hati.
            Setelah cukup lama menunggu, akhirnya Kancil merasa curiga. “Nyet, kau sedang apa di atas?” tanya Kancil menjerit. Namun Monyet tak menjawab apa-apa.
            “Nyet, mintalah aku jambunya satu. Aku haus dan sangat lapar Nyet,” pinta Kancil memelas.
            “Wah, maaf sekali Cil. Jambunya sudah habis kumakan. Aku juga sangat lapar,” jawab Monyet dari atas.
            “Kau tega kawan, memakan habis semuanya. Padahal jambu itu cukup bila kita bagi berdua. Kau juga tahu kan aku kelaparan dan kehausan di bawah sini,” ujar Kancil sedih.
            “Aku juga lapar Cil. Kalau aku memberi setengah bagian jambu padamu, aku tak akan kenyang,” jawab Monyet.
            Kancil tidak dapat menjawab lagi. Dia pergi sambil menangis. Dia sangat sedih karena Monyet tidak setia kawan padanya. Dalam hati, Kancil berharap Monyet mendapatkan pelajaran akan semua perbuatan.
            “Ah, kenyang sekali perutku,” ujar Monyet berbicara pada dirinya sendiri.
            Perlahan Monyet pun tertidur karena kekenyangan. Tapi, tiba-tiba ada sesuatu yang menggoyang pohon jambu dari bawah. Karena tidak menjaga keseimbangan, Monyet pun terjatuh.
            “Kena kau Monyet nakal,” ujar seseorang.
            Di sekeliling Monyet telah banyak orang berdiri sambil tertawa menatap ke arahnya. Monyet mencoba meronta. Berharap dapat lepas dari perangkap yang dibuat orang-orang kampung. Tapi sekuat tenaga pun dia meronta sudah tak ada gunanya. Monyet pun menangis, mengingat Kancil yang telah meninggalkannya. Andai dia di sini, mungkin dia akan membantuku, bathin Monyet. Namun, apa hendak dikata. Pikir dahulu pendapatan, sesal kemudian tiada berguna.

Rumah Cerita, 16 Mei 2012
(Cerpen anak ini telah dimuat di Rubrik Taman Riang Analisa, 27 Mei 2012)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar