Monyet yang Tidak
Setia Kawan
Oleh: Tanita Liasna
Dahulu kala di sebuah hutan tinggallah bermacam jenis binatang. Ada kuda,
rusa, kelinci, singa, burung merak, dan masing banyak yang lainnya. Di antara
mereka ada seekor monyet dan seekor kancil yang bersahabat. Mereka selalu
mencari makan bersama.
Hingga
pada suatu musim, hutan yang menjadi tempat tinggal hewan-hewan itu terserang
hama. Semua tumbuhan mati. Hal ini menyebabkan semua binatang yang tinggal di
sana kelaparan. Tidak terkecuali monyet dan kancil.
“Nyet,
mau sampai kapan kita bertahan di hutan ini? Lihatlah, semua tumbuhan sudah
mati,” ujar Kancil sedih.
“Iya
Cil. Bagaimana kalau kita keluar dari hutan. Siapa tahu ada makanan,” saran
Monyet.
“Ya
Nyet. Tadi aku juga berpikir begitu,” jawab Kancil setuju.
Akhirnya
mereka pun mulai berjalan keluar dari hutan. Namun, sepanjang jalan tetap tidak
ada yang bisa dimakan. Mereka hanya dapat menghilangkan rasa haus di sebuah
sungai yang mereka temui di jalan.
“Cil,
kita sudah keluar dari hutan. Tapi masih juga tak ada makanan,” ujar Monyet
sambil mengusap keringat di dahinya.
“Iya
Nyet. Udara juga sangat panas,” ujar Kancil menambahi.
Walaupun
begitu, mereka terus berjalan. Masih berharap mendapatkan makanan yang bisa
menghilangkan rasa lapar mereka.
Setelah
beberapa hari berjalan, akhirnya mereka sampai di perkampungan penduduk.
“Wah,
kita sampai di perkampungan penduduk Cil. Di sini pasti banyak makanan,” ujar
Monyet semangat.
“Iya
Nyet. Tapi ingat, banyak sekali manusia yang akan memburu kita,” sahut Kancil.
Tiba-tiba
Monyet melihat sebuah pohon jambu air yang tinggi, rimbun, dan sedang berbuah.
“Cil...
lihat di sana, ada pohon jambu. Jika kita makan buahnya, pasti rasa lapar dan
haus kita akan hilang,” ujar Monyet.
“Ya
Nyet. Tapi pohon itu di dalam halaman rumah penduduk,” jawab Kancil sedikit
takut.
“Tidak
apa-apa Cil. Kita ambil saja. Lagi sepi kok. Tidak ada orang di halaman itu,”
ujar Monyet semakin semangat.
“Baiklah
Nyet,” sahut Kancil.
“Begini
Cil, kamu tunggu di bawah. Dan aku akan memanjat pohon jambunya. Kalau ada
orang beritahu aku ya Cil,” ujar Monyet memberikan saran.
“Ya
Nyet. Aku setuju,” sahut Kancil lagi.
Tak
lama, Monyet telah sampai di dahan tertinggi pohon jambu air. Sedangkan Kancil
berjaga di bawah. Ketika sedang asyik memetik buah jambu, tiba-tiba muncul niat
jahat dalam hati Monyet. Ah, untuk apa kubagi buah jambu ini pada Kancil. Yang
menemukan pohon jambu ini kan aku. Yang memanjat juga aku, pikir Monyet dalam
hati.
Setelah
cukup lama menunggu, akhirnya Kancil merasa curiga. “Nyet, kau sedang apa di
atas?” tanya Kancil menjerit. Namun Monyet tak menjawab apa-apa.
“Nyet,
mintalah aku jambunya satu. Aku haus dan sangat lapar Nyet,” pinta Kancil
memelas.
“Wah,
maaf sekali Cil. Jambunya sudah habis kumakan. Aku juga sangat lapar,” jawab
Monyet dari atas.
“Kau
tega kawan, memakan habis semuanya. Padahal jambu itu cukup bila kita bagi
berdua. Kau juga tahu kan aku kelaparan dan kehausan di bawah sini,” ujar
Kancil sedih.
“Aku
juga lapar Cil. Kalau aku memberi setengah bagian jambu padamu, aku tak akan
kenyang,” jawab Monyet.
Kancil
tidak dapat menjawab lagi. Dia pergi sambil menangis. Dia sangat sedih karena
Monyet tidak setia kawan padanya. Dalam hati, Kancil berharap Monyet
mendapatkan pelajaran akan semua perbuatan.
“Ah,
kenyang sekali perutku,” ujar Monyet berbicara pada dirinya sendiri.
Perlahan
Monyet pun tertidur karena kekenyangan. Tapi, tiba-tiba ada sesuatu yang
menggoyang pohon jambu dari bawah. Karena tidak menjaga keseimbangan, Monyet
pun terjatuh.
“Kena
kau Monyet nakal,” ujar seseorang.
Di
sekeliling Monyet telah banyak orang berdiri sambil tertawa menatap ke arahnya.
Monyet mencoba meronta. Berharap dapat lepas dari perangkap yang dibuat
orang-orang kampung. Tapi sekuat tenaga pun dia meronta sudah tak ada gunanya.
Monyet pun menangis, mengingat Kancil yang telah meninggalkannya. Andai dia di
sini, mungkin dia akan membantuku, bathin Monyet. Namun, apa hendak dikata.
Pikir dahulu pendapatan, sesal kemudian tiada berguna.
Rumah
Cerita, 16 Mei 2012
(Cerpen anak ini telah dimuat di Rubrik Taman Riang Analisa, 27 Mei 2012)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar