3 Mei 2013

Ketulusan Hati Laila Rangsa




Ketulusan Hati Laila Rangsa
Oleh: Tanita Liasna
            Di masa lampau, di sebuah kerajaan nan megah, hiduplah seorang putri cantik jelita bernama Evarina. Walaupun cantik, Putri Evarina suka sekali marah-marah. Tidak pernah puas dengan semua pelayanan yang diberikan oleh para pelayan di kerajaan. Semua pelayanan yang diberikan, selalu membuat Sang Putri tidak puas. Kalau sudah begitu, Putri Evarina akan memarahi dan mengusir para pelayannya. Sehingga tidak ada satu pun pelayan yang bertahan untuk menjadi pelayan Putri Evarina.
            Perlakuan Putri Evarina kepada para pelayannya terdengar sampai ke seluruh negeri. Membuat tak ada satu pun orang yang bersedia menjadi pelayan untuk Putri Evarina. Ini membuat Raja dan Ratu bingung.
            “Paduka, bagaimana ini? Jika terus begini, bagaimana dengan Putri Evarina?” tanya Ratu pada Raja.
            “Saya juga bingung Ratuku. Bagaimana bila kita tanyakan saja pada Penasihat Kerajaan? Mungkin dia akan tahu apa yang harus kita lakukan saat ini,” ujar Raja.
            “Ya, saya setuju Paduka,” ujar Ratu.
            Akhirnya, Raja dan Ratu menemui Penasihat kerajaan. Dan menceritakan permasalahan yang sedang mereka hadapi.
            “Kalau permasalahannya seperti ini, saya rasa ada baiknya jika kita beri hadiah besar kepada seseorang yang mampu bertahan menjadi pelayan Putri Evarina. Seperti apa bentuk hadiahnya, saya serahkan keputusannya kepada Paduka dan Ratu,” ujar Penasihat Kerajaan.
Setelah berpikir beberapa waktu, akhirnya Raja memutuskan untuk memberikan hadiah berupa ikatan kekerabatan dan kehidupan keluarga yang layak kepada siapa saja yang berhasil melayani Putri Evarina selama dua belas pekan.
Berita itu segera disebarkan oleh para utusan kerajaan ke seluruh pelosok negeri. Tapi hingga beberapa pekan, tak juga ada yang datang untuk menjadi pelayan Putri Evarina.
“Biarkan saja Ibunda, bila tidak ada orang yang bersedia menjadi pelayanku. Karena mereka memang bukan orang yang pantas untuk menjadi pelayanku. Mereka orang-orang yang jahat. Berbaik hati kepadaku karena aku seorang Putri,” ujar Putri Evarina ketika Ratu mengatakan tak ada orang yang ingin menjadi pelayannya, walaupun sudah dijanjikan hadiah yang besar.
“Kamu tidak boleh berpikir seperti itu Anakku. Semua pelayan menyayangimu,” sahut Ratu mencoba membujuk Putri Evarina.
“Tidak. Aku tahu mereka adalah orang-orang yang tidak tulus,” ujar Putri Evarina lagi. Ratu tidak mampu lagi berkata apa-apa.
Setelah hampir empat pekan menunggu, akhirnya datang seorang gadis sebaya Putri Evarina. Dia mengatakan ingin menjadi pelayan Putri Evarina.
“Siapa namamu?” tanya Raja pada gadis kecil itu.
“Nama hamba Laila Rangsa,” jawab gadis kecil tersebut.
“Apa kau yakin akan mampu menerima semua perlakuan buruk dari Putri Evarina?” tanya Raja lagi.
“Hamba yakin Paduka Raja,” jawab Laila Rangsa.
“Baiklah, kalau kau berkeyakinan seperti itu. Tapi kau harus ingat, kau tak dapat keluar dari kerajaan ini, sebelum dua belas pekan,” ujar Raja mengingatkan Laila Rangsa.
“Baik Paduka Raja,” jawab Laila Rangsa menyanggupi persyaratan Raja.
Ketika ditempatkan di dapur kerajaan, hampir semua pelayan kerajaan menyuruh Laila Rangsa berhenti. Namun Laila Rangsa hanya tersenyum.
“Oh, jadi kau pelayan baru itu?” tanya Putri Evarina kepada Laila Rangsa ketika Laila Rangsa menemuinya untuk pertama kali.
 “Ya Putri. Ini saya bawakan makanan untuk Tuan Putri,” ujar Laila Rangsa sambil meletakkan makanan di dekat tempat duduk Putri Evarina.
Tapi, Putri Evarina malah membuang makanan itu ke lantai. “Aku tidak mau makan makanan ini. Aku mau makanan yang kau buat sendiri,” ujar Putri Evarina.
“Baik Tuan Putri,” ujar Laila Rangsa sambil membersihkan lantai yang penuh dengan makanan.
Dan setelah Laila Rangsa memasakkan makanan, Putri Evarina malah membuangnya lagi. “Aku ingin makanan yang tadi. Makanan yang kau masak tidak enak,” ujar Putri Evarina.
Laila Rangsa hanya mengiyakan permintaan Putri Evarina.
Begitu selalu selama empat pekan. Semua pekerjaan yang dilakukan oleh Laila Rangsa disalahkan oleh Putri Evarina. Tapi Laila Rangsa tidak pernah mengeluh. Dia selalu tersenyum, ketika melakukan pekerjaan yang diperintahkan oleh Putri Evarina.
Tiba-tiba Putri Evarina jatuh sakit. Tabib mengatakan Putri Evarina mengidab penyakit kulit menular. Bahkan Raja dan Ratu tidak diperbolehkan menjenguk. Semua pelayan juga dilarang mendekati Putri Evarina. Namun, Laila Rangsa tak sehari pun mau meninggalkan Putri Evarina. Dia selalu menemani Putri Evarina. Menyediakan segala kebutuhan Putri Evarina.
“Sudah hampir enam pekan aku sakit. Dan Tabib mengatakan sakitku menular? Tapi mengapa kau tetap mau menjagaku dan menjadi pelayanku?” tanya Putri Evarina pada Laila Rangsa.
“Hamba adalah pelayan Tuan Putri. Selayaknya Hamba menemani Tuan Putri ketika senang maupun susah,” jawab Laila Rangsa sambil tersenyum.
“Apa kau tidak takut tertular penyakitku?” tanya Putri Evarina.
“Hamba adalah pelayan Tuan Putri. Menjaga dan melayani Tuan Putri dalam keadaan apapun adalah tanggung jawab hamba,” ujar Laila Rangsa.
Putri Evarina diam sebentar. Kemudian melanjutkan pertanyaannya, “Mengapa kau selalu tersenyum?” tanya Putri Evarina.
“Karena hamba bahagia Tuan Putri,” jawab Laila Rangsa.
“Bahagia bagaimana? Aku selalu memarahimu. Tapi setiap aku memarahimu, mengapa kau tetap saja tersenyum?” tanya Putri Evarina heran.
“Hamba tidak memiliki siapa-siapa lagi di dunia ini. Ayah dan Ibu hamba sudah tiada. Adik hamba pun sudah meninggal, karena terserang penyakit. Jadi berada di istana ini, selalu menemani Tuan Putri adalah suatu kebahagiaan teramat besar bagi hamba,” jawab Laila Rangsa sambil tersenyum lebar.
Putri Evarina terdiam. Tak lagi bertanya. Dia hanya memperhatikan wajah Laila Rangsa yang terlihat begitu bahagia.
Empat pekan kemudian Putri Evarina membaik. Penyakit kulitnya perlahan sembuh. Raja dan Ratu juga para pelayan, sudah diperbolehkan menjenguk Putri Evarina.
“Bagaimana keadaanmu Anakku?” tanya Ratu pada Putri Evarina.
“Aku sudah sehat Bu. Berkat pelayan yang bernama Laila Rangsa itu,” jawab Putri Evarina.
“Mengapa engkau katakan demikian wahai Putriku?” tanya Raja lagi.
“Karena dia yang telah menjagaku, padahal semua orang menjauhiku. Tapi dia mengorbankan kesehatannya demi aku. Tak pernah mengeluh sedikit pun. Selalu sabar menghadapiku. Selalu tersenyum,” jawab Putri Evarina.
“Ini sudah lebih dari dua belas pekan Putriku. Kau boleh saja mengusirnya, bila kau mau,” ujar Raja.
“Tidak Ayahanda. Dia wanita yang baik. Sesuai dengan janji Ayah, aku bersedia dia menjadi kerabat kerajaan. Dan biarkan dia menjadi temanku di kerajaan ini. Karena dia adalah seorang pelayan yang setia dan tulus,” sahut Putri Evarina.
Maka sesuai dengan janji Raja, Laila Rangsa diangkat menjadi kerabat kerajaan. Dan persahabatan antara putri Evarina dan Laila Rangsa mulai terjalin.

Rumah Cerita, 19 Oktober 2012
(Cerpen anak ini telah dimuat di Rubrik Taman Riang Analisa, 04 November 2012)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar