Ketulusan Hati
Laila Rangsa
Oleh: Tanita Liasna
Di
masa lampau, di sebuah kerajaan nan megah, hiduplah seorang putri cantik jelita
bernama Evarina. Walaupun cantik, Putri Evarina suka sekali marah-marah. Tidak
pernah puas dengan semua pelayanan yang diberikan oleh para pelayan di
kerajaan. Semua pelayanan yang diberikan, selalu membuat Sang Putri tidak puas.
Kalau sudah begitu, Putri Evarina akan memarahi dan mengusir para pelayannya.
Sehingga tidak ada satu pun pelayan yang bertahan untuk menjadi pelayan Putri
Evarina.
Perlakuan
Putri Evarina kepada para pelayannya terdengar sampai ke seluruh negeri.
Membuat tak ada satu pun orang yang bersedia menjadi pelayan untuk Putri
Evarina. Ini membuat Raja dan Ratu bingung.
“Paduka,
bagaimana ini? Jika terus begini, bagaimana dengan Putri Evarina?” tanya Ratu
pada Raja.
“Saya
juga bingung Ratuku. Bagaimana bila kita tanyakan saja pada Penasihat Kerajaan?
Mungkin dia akan tahu apa yang harus kita lakukan saat ini,” ujar Raja.
“Ya,
saya setuju Paduka,” ujar Ratu.
Akhirnya,
Raja dan Ratu menemui Penasihat kerajaan. Dan menceritakan permasalahan yang
sedang mereka hadapi.
“Kalau
permasalahannya seperti ini, saya rasa ada baiknya jika kita beri hadiah besar
kepada seseorang yang mampu bertahan menjadi pelayan Putri Evarina. Seperti apa
bentuk hadiahnya, saya serahkan keputusannya kepada Paduka dan Ratu,” ujar
Penasihat Kerajaan.
Setelah berpikir beberapa waktu,
akhirnya Raja memutuskan untuk memberikan hadiah berupa ikatan kekerabatan dan
kehidupan keluarga yang layak kepada siapa saja yang berhasil melayani Putri
Evarina selama dua belas pekan.
Berita itu segera disebarkan oleh para
utusan kerajaan ke seluruh pelosok negeri. Tapi hingga beberapa pekan, tak juga
ada yang datang untuk menjadi pelayan Putri Evarina.
“Biarkan saja Ibunda, bila tidak ada
orang yang bersedia menjadi pelayanku. Karena mereka memang bukan orang yang
pantas untuk menjadi pelayanku. Mereka orang-orang yang jahat. Berbaik hati
kepadaku karena aku seorang Putri,” ujar Putri Evarina ketika Ratu mengatakan
tak ada orang yang ingin menjadi pelayannya, walaupun sudah dijanjikan hadiah
yang besar.
“Kamu tidak boleh berpikir seperti itu
Anakku. Semua pelayan menyayangimu,” sahut Ratu mencoba membujuk Putri Evarina.
“Tidak. Aku tahu mereka adalah orang-orang
yang tidak tulus,” ujar Putri Evarina lagi. Ratu tidak mampu lagi berkata
apa-apa.
Setelah hampir empat pekan menunggu,
akhirnya datang seorang gadis sebaya Putri Evarina. Dia mengatakan ingin
menjadi pelayan Putri Evarina.
“Siapa namamu?” tanya Raja pada gadis
kecil itu.
“Nama hamba Laila Rangsa,” jawab gadis
kecil tersebut.
“Apa kau yakin akan mampu menerima
semua perlakuan buruk dari Putri Evarina?” tanya Raja lagi.
“Hamba yakin Paduka Raja,” jawab Laila
Rangsa.
“Baiklah, kalau kau berkeyakinan
seperti itu. Tapi kau harus ingat, kau tak dapat keluar dari kerajaan ini,
sebelum dua belas pekan,” ujar Raja mengingatkan Laila Rangsa.
“Baik Paduka Raja,” jawab Laila Rangsa
menyanggupi persyaratan Raja.
Ketika ditempatkan di dapur kerajaan,
hampir semua pelayan kerajaan menyuruh Laila Rangsa berhenti. Namun Laila
Rangsa hanya tersenyum.
“Oh, jadi kau pelayan baru itu?” tanya
Putri Evarina kepada Laila Rangsa ketika Laila Rangsa menemuinya untuk pertama
kali.
“Ya Putri. Ini saya bawakan makanan untuk Tuan
Putri,” ujar Laila Rangsa sambil meletakkan makanan di dekat tempat duduk Putri
Evarina.
Tapi, Putri Evarina malah membuang
makanan itu ke lantai. “Aku tidak mau makan makanan ini. Aku mau makanan yang
kau buat sendiri,” ujar Putri Evarina.
“Baik Tuan Putri,” ujar Laila Rangsa
sambil membersihkan lantai yang penuh dengan makanan.
Dan setelah Laila Rangsa memasakkan
makanan, Putri Evarina malah membuangnya lagi. “Aku ingin makanan yang tadi.
Makanan yang kau masak tidak enak,” ujar Putri Evarina.
Laila Rangsa hanya mengiyakan
permintaan Putri Evarina.
Begitu selalu selama empat pekan.
Semua pekerjaan yang dilakukan oleh Laila Rangsa disalahkan oleh Putri Evarina.
Tapi Laila Rangsa tidak pernah mengeluh. Dia selalu tersenyum, ketika melakukan
pekerjaan yang diperintahkan oleh Putri Evarina.
Tiba-tiba Putri Evarina jatuh sakit.
Tabib mengatakan Putri Evarina mengidab penyakit kulit menular. Bahkan Raja dan
Ratu tidak diperbolehkan menjenguk. Semua pelayan juga dilarang mendekati Putri
Evarina. Namun, Laila Rangsa tak sehari pun mau meninggalkan Putri Evarina. Dia
selalu menemani Putri Evarina. Menyediakan segala kebutuhan Putri Evarina.
“Sudah hampir enam pekan aku sakit.
Dan Tabib mengatakan sakitku menular? Tapi mengapa kau tetap mau menjagaku dan
menjadi pelayanku?” tanya Putri Evarina pada Laila Rangsa.
“Hamba adalah pelayan Tuan Putri.
Selayaknya Hamba menemani Tuan Putri ketika senang maupun susah,” jawab Laila
Rangsa sambil tersenyum.
“Apa kau tidak takut tertular
penyakitku?” tanya Putri Evarina.
“Hamba adalah pelayan Tuan Putri.
Menjaga dan melayani Tuan Putri dalam keadaan apapun adalah tanggung jawab
hamba,” ujar Laila Rangsa.
Putri Evarina diam sebentar. Kemudian
melanjutkan pertanyaannya, “Mengapa kau selalu tersenyum?” tanya Putri Evarina.
“Karena hamba bahagia Tuan Putri,”
jawab Laila Rangsa.
“Bahagia bagaimana? Aku selalu
memarahimu. Tapi setiap aku memarahimu, mengapa kau tetap saja tersenyum?”
tanya Putri Evarina heran.
“Hamba tidak memiliki siapa-siapa lagi
di dunia ini. Ayah dan Ibu hamba sudah tiada. Adik hamba pun sudah meninggal,
karena terserang penyakit. Jadi berada di istana ini, selalu menemani Tuan
Putri adalah suatu kebahagiaan teramat besar bagi hamba,” jawab Laila Rangsa
sambil tersenyum lebar.
Putri Evarina terdiam. Tak lagi bertanya.
Dia hanya memperhatikan wajah Laila Rangsa yang terlihat begitu bahagia.
Empat pekan kemudian Putri Evarina
membaik. Penyakit kulitnya perlahan sembuh. Raja dan Ratu juga para pelayan,
sudah diperbolehkan menjenguk Putri Evarina.
“Bagaimana keadaanmu Anakku?” tanya
Ratu pada Putri Evarina.
“Aku sudah sehat Bu. Berkat pelayan
yang bernama Laila Rangsa itu,” jawab Putri Evarina.
“Mengapa engkau katakan demikian wahai
Putriku?” tanya Raja lagi.
“Karena dia yang telah menjagaku,
padahal semua orang menjauhiku. Tapi dia mengorbankan kesehatannya demi aku.
Tak pernah mengeluh sedikit pun. Selalu sabar menghadapiku. Selalu tersenyum,”
jawab Putri Evarina.
“Ini sudah lebih dari dua belas pekan
Putriku. Kau boleh saja mengusirnya, bila kau mau,” ujar Raja.
“Tidak Ayahanda. Dia wanita yang baik.
Sesuai dengan janji Ayah, aku bersedia dia menjadi kerabat kerajaan. Dan
biarkan dia menjadi temanku di kerajaan ini. Karena dia adalah seorang pelayan
yang setia dan tulus,” sahut Putri Evarina.
Maka sesuai dengan janji Raja, Laila
Rangsa diangkat menjadi kerabat kerajaan. Dan persahabatan antara putri Evarina
dan Laila Rangsa mulai terjalin.
Rumah Cerita, 19 Oktober 2012
(Cerpen anak ini telah dimuat di Rubrik Taman Riang Analisa, 04 November
2012)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar