3 Mei 2013

Ikatan Duka



Ikatan Duka
Oleh: Tanita Liasna
            Malam ini cerah. Langit yang biasanya senang menumpahkan tetesan-tetesan hujan, kali ini seakan lupa akan kebiasaannya. Bulan sabit tersenyum menyapa para makhluk yang sedang asyik bermalam minggu ria. Ditambah lagi, bintang bertabur membentuk rasi bintang, menambah keeksotisan malam.
            Malam kali ini, aku nikmati bersama buah cintaku Zairani. Gadis kecilku yang tahun depan akan menduduki bangku sekolah dasar ini, memintaku untuk menemaninya ke mall. Dia bilang ingin bermain di timezone dan makan mi ayam jamur. Karena masih semata wayang, kemauannya harus diiyakan. Aku pun memang tak sanggup memuntahkan lahar air mata dari kedua bilah matanya.
            Setelah hampir sepuluh menit meretas jalan, akhirnya aku dan Zairani sampai di mall. Zairani melepaskan senyumnya ke arah mataku. Indah.
            Sesampainya di dalam mall, Zairani langsung membawaku ke tempat tuntutannya. Sampai di sana, kubelikan dia koin beberapa buah, lalu aku pun mulai sibuk menungguinya bermain.
            “Mak, habis ni kita makan mi ya,” ujar buah hatiku itu.
            “Iya sayang,” jawabku dengan segurat senyum.
            “Ni koin terakhir Mak. Zai mau main itu,” katanya sambil mengarahkan telunjuknya ke sebuah kotak permainan.
            Kotak permainan itu berbentuk sepasang balok. Setiap kotak terbagi menjadi dua bagian. Yang di atas berdinding kaca. Dan di sisi bawah berdinding besi berwarna hijau dan kuning.
Di dalam sisi atas sepasang balok itu, berjejal puluhan boneka. Tidak besar. Paling hanya sebesar genggaman tangan lelaki dewasa. Bentuknya pun beraneka rupa. Ada bentuk bebek, kucing, anjing, kodok, dan beberapa binatang lain. Yah, serasa melihat kebun binatang kecil-kecilan. Lalu, di atas tumpukan boneka-boneka itu, menggantung sebuah besi padat berbentuk empat buah jari yang siap mencengkram. Sedangkan di sisi bagian bawah, terdapat dua buah lubang kecil sebagai tempat memasukkan koin dan tempat keluarnya kartu timezone.
Di antara sisi atas dan bawah, terdapat sebuah tombol berwarna merah yang dijadikan alat untuk menggerakkan besi pencengkram yang memang berfungsi untuk mencengkram salah satu boneka yang saling jejal tersebut.
“Mak, Zai takut pencetnya. Takut gak dapet boneka,” ujar anakku.
Aku tersenyum melihat raut penuh ketakutan dari wajahnya. Wajah ovalnya, dengan mata yang panjang menyamai mataku. Hidung anakku sama dengan hidungku juga. Mancung bila dilihat dari samping. Bibirnya yang sedikit tebal, dengan kulit putihnya, hanya itu yang mengikuti jejak sang ayah.
“Ya pencet aja tombolnya sayang. Gak apa-apa,” ujarku mencoba meredam takutnya.
Kalo’gak dapet lagi gimana Mak?” tanya Zairani lagi.
Aku kembali tersenyum. Wajah bingungnya mirip benar dengan ayahnya. “Gak apa-apa sayang. Yang penting apa kata Mamak kemarin?” tanyaku penuh pintalan senyum.
“Harus usaha,” jawabnya kembali meraut ceria.
Akhirnya Zairani mulai menekan tombol merah tersebut dengan jari telunjuknya. Sekali dia lakukan itu, tak jua ia meraih boneka yang seakan saling enggan untuk dibawa keluar dari balok kaca tersebut. Dan hingga tiga kali, tetap saja cengkraman besi itu meleset dari boneka. Paling hebat nyaris terangkat.
Kan Mak, gak dapet,” ujar Zairani.
“Udah, katanya mau makan mi,” rayuku menguncupkan rasa kecewanya.
Zairani kembali tersenyum. “Iya Mak, ayo.” Sahutnya menggenggam pergelangan tanganku, dan mengarahkanku ke kafe tempat kami biasa menikmati mi ayam jamur.
“Duduk di situ Mak,” ujarnya mengarahkanku ke sebuah meja di sudut ruangan.
Aku hanya mengikutinya. Dia seakan menjadi guide, jika aku bermain dengannya ke mall. Seperti biasa, aku dan Zairani memesan dua porsi mi ayam jamur dan dua gelas jus jeruk.
Mataku hilir mudik menatap sejauh mana tatapanku bisa menjejakkan pandangannya. Sedang Zairaniku sibuk menghitung kartu timezone yang baru dihasilkannya.
Tiba-tiba mataku memerangkap sebuah wajah yang kurasa tidak asing. Wajah itu, milik siapa? Tanyaku dalam hati. Aku terus memperhatikannya. Kulitnya yang putih, berpadu padan dengan baju berwarna hijau toska. Dengan rambut lurus tergerai sebahu. Matanya lonjong berhias alis mata yang cukup tebal. Hidung mancung dan bibir merah muda yang dikategorikan tipis. Ah... wajah siapa ini? Sekali lagi bathinku bertanya.
Aku terus memperhatikannya yang berkutat dengan ipad berwarna putih. Kucoba memilah berkas-berkas yang menumpuk di dalam otakku. Saking asyiknya, hingga aku tak menyadari dia juga sudah menatap ke arahku.
Aku cepat-cepat mengalihkan pandanganku. Bersamaan dengan celotehan yang menari dari sepasang bibir putri kesayanganku. “Mak, ada empat puluh lapan kartunya,” ujarnya penuh dengan rasa bahagia.
“Ya sayang,” ucapku sedikit terbata.
Tak lama, kulirik kembali wanita itu. Dia sedang memasukkan barang berbentuk layar datar itu ke dalam tas kuning kunyitnya. Dia beranjak dari kursinya. Kukira ingin pulang. Tapi dugaanku meleset jauh. Dia menuju ke arah mejaku.
“Nita kan?” tanyanya bersimbah senyum.
“Ya. Siapa ya?” tanyaku. Akhirnya aku yakin tak merasa salah dengan dugaanku. Dia temanku, tapi entah siapa.
“Kau gitulah Ta. Gak ingat sama aku,” katanya sembari duduk di depanku.
            “Sayang,” sapanya pada Zairani sambil mengelus rambut hitam anakku yang panjangnya sebahu.
            “Salam Ibuknya Zai,” titahku pada Zairani. Zairani pun menurut.
            “Namanya siapa?” tanyanya lembut.
            “Zairani,” jawab gadis kecilku dengan ramah.
            Aha.. suara itu. Kelembutan itu. Ya, aku tahu siapa dia. “Lisa kan?” tanyaku spontan.
            “Kukira kau lupa sama aku Ta,” ujarnya melebarkan senyum.
            “Hampir lupa Sa. Tambah cantik kau sekarang,” ujarku memujinya.
            “Apa kegiatanmu Ta?” tanya lagi.
            Belum sempat aku bertanya, pesananku dan Zairani singgah di meja.
            “Kau pesan apa Sa?” tanyaku.
            “Udah kenyang. Tadi kan kau lihat aku duduk di meja sana,” ujarnya mengarahkan bibir ke meja tempat duduknya tadi. “Eh... apa kegiatanmu sekarang?” tanyanya lagi.
            “Jaga anak, ngurus suami, sambil ngajarlah Sa,” jawabku. “Kau gimana?” tanyaku menimpali pertanyaannya.
            “Usaha kecil-kecilanlah. Butik.” Jawabnya.
            “Betulkan dugaanku. Pasti kau buka butik. Dari dulukan  kau memang punya cita-cita itu. Jadi kemaren ambil kuliah desain?” tanyaku.
            Gak Ta. Aku ambil ekonomi. Ya gak taulah. Yang jelaskan sekarang aku bisa buka butik dan jadi desainer kecil-kecilan,” jelasnya padaku.
            “Mak panas,” adu Zairani sambil mendorong mangkuk minya ke arahku.
            “Sini Zai,” ujarku.
            Sembari menghembuskan nafasku untuk mendinginkan mi, pandanganku mengarah pada Lisa. Kurasakan tatapannya lekat menatap Zairani. Tatapan itu membiaskan sebuah luka. Seakan ada segaris duka yang teramat mengikat hidupnya.
            “Maaf ya Sa, jadi ganggu kita ngobrol anakku ini,” ujarku basa-basi. Aku berharap, kata-kata itu mampu membuat inginnya muncul menceritakan kisahnya padaku.
            Gak apa Ta.  Aku suka anak-anak,” jawabnya. Nada suaranya penuh beban.
            “Sekarang berapa anggotamu Sa?” tanyaku menyelidik.
            “Anggota arisan banyak Ta,” jawabnya menggodaku.
            “Kau ini. Aku serius Sa,” ujarku lagi.
            Gak ada Ta. Aku belum nikah,” ujarnya.
            “Kapan lagi? Udah tua kita Sa. Masih lagi ada yang kau tunggu?” tanyaku.
             “Bukan Ta. Gak ada yang kutunggu. Aku hanya tak ingin menikah,” jawabnya.
Aku tahu, ada suatu ganjalan pedih yang tertambat pada tutur katanya tadi.
            “Kenapa Sa? Itu namanya kau menyia-nyiakan masa depan,” sahutku.
            Dia menghela nafas panjang. “Tamat SMA kemarin, aku sama keluarga langsung pindah ke Medan, Ta. Tiga bulan di sana, Mamaku meninggal gantung diri. Karena Papaku selingkuh,” ujarnya.
            “Ya Allah Sa. Maaf. Aku gak...”
            Belum lagi selesai kata-kataku, Lisa sudah berujar kembali. “Setelah itu, Papaku nikah lagi. Aku gak sanggup terima itu. Apalagi setelah wanita biadab itu punya anak. Papaku semakin sibuk dengan keluarga barunya. Akhirnya dengan alasan kuliah, aku tinggal di rumah Om ku. Awalnya aku tenang di sana. Setiap minggu, aku ke makam Mamaku. Aku tak perlu melihat bajingan-bajingan pembunuh Mamaku itu,” jelasnya.
            Kugenggam tangannya. “Sabar Sa,” ujarku berusaha menyemangatinya.
            “Ini belum seberapa, Ta. Kalau hanya sekedar itu, aku takkan pernah takut menikah,” ujarnya.
            Kalo’kau mau, boleh kau lanjutkan ceritamu Sa,” sahutku lagi.
            “Entah setan apa yang masuk ke tubuh Om ku. Dia memperkosaku Ta. Kau tahu kan, bagaimana aku dulu. Aku pemalu, penakut. Ancamannya membuatku bungkam. Tapi, aku memilih untuk kos, tidak lagi tinggal bersamanya,” jelasnya kembali padaku.
            “Jadi sampai sekarang, keluargamu gak ada yang tahu Sa, tentang perbuatan Om mu itu?” tanyaku.
            Gak perlu mereka tahu. Aku ada atau gak pun, mereka udah gak peduli,” ujar Lisa padaku.
            “Sa, itukan menurutmu,” ujarku lagi.
            Tiba-tiba Zairani mengguit tanganku. “Mak, mi Mamak udah dingin,” ujarnya.
            Suasana penuh haru tadi, kini berubah menjadi gelak tawa. Memang Zairani, selalu seperti itu. Ada saja celotehannya yang mampu mencairkan suasana.
            “Jadi Sa, itu hal yang buat kau gak mau nikah?” tanyaku sembari mulai menikmati makananku.
            “Bukan itu Ta. Kalo’hanya sekedar itu, mungkin aku gak kan seperti ini,” ujarnya lagi.
            “Jadi, apa Sa? Dari tadi itu saja jawabanmu,” ujarku. Sebenarnya ada rasa enggan di hatiku untuk menelisik lebih jauh tentang hidupnya. Tapi entahlah, penyakit ingin tahuku ini telah menyebar ke seluruh bagian tubuhku.
            “Tamat kuliah, aku niat menikah Ta dengan pacarku. Aku pacaran sama dia dua tahun lamanya. Habis itu, aku sama dia janji mau nikah setelah tamat kuliah. Tapi, masa itu datang, dia malah nikah sama perempuan lain,” ujar Lisa panjang lebar. Setelah itu dia menghela nafas lagi.
            “Sejak itu kau tak mau nikah Sa?” tanyaku lagi.
            “Ya. Sejak itu aku merasa gak ada satu pun laki-laki yang bisa menghargai aku sebagai perempuan. Jadi aku pilih sendiri ajalah Ta. Aku trauma. Benar-benar trauma,” ujarnya lagi.
            “Apa tinggal sendiri gak sepi Sa?” tanyaku lagi.
            “Kadang terasa sepi. Tapi aku kan punya karir Ta. Ya gitulah. Paling gak, itu yang buat hidupku ada maknanya,” sahut Lisa lagi.
            Aku tak bisa menjawab apa-apa. Ada sebuah duka yang ikut bermain di hatiku. Tak lama berselang, suara panggilan dari ponsel Lisa berbunyi. Entah suara siapa yang muncul dari seberang. Yang jelas sepertinya Lisa harus segera meninggalkan kami.
            “Ta, maaf ya. Ada urusan dikit. Aku harus pergi sekarang,” ucapnya.
            “Ya Sa,” jawabku.
            “Eh, ini kartu namaku. Kutunggu telponmu ya Ta,” ujarnya padaku. “ Dan kau gadis kecil, ini untukmu,” ujarnya memasukkan sebuah uang lima puluh ribuan ke dalam kantung baju Zairani.
            “Sa, kau repot-repot,” ujarku pada Lisa. “Bilang apa sayang?” tanyaku pada Zairani.
            “Makasih ya Buk,” ujar Zairani sembari menyalami tangan Lisa.
            “Aku duluan ya Ta,” ujarnya. Kami pun saling bersalaman dan menempelkan dua belah pipi kami. Dia pun pergi.
            Aku hanya bisa memandangi kepergian Lisa. Sungguh, aku masih bingung. Lisa yang kukenal pendiam. Yang kutahu dulu sangat dijaga oleh kedua orang tuanya. Yang dulunya sangat diminati oleh para lelaki di sekolahku, kini di umurnya yang hampir kepala tiga, masih melajang. Dan harus menikmati derita bathin yang jika aku yang mengalami, mungkin aku tak akan sanggup menerimanya. Tapi dia begitu tegar. Selama dia menceritakan kepelikan hidupnya padaku, tak sebongkah air mata pun turun membasahi pipi mulusnya.
            “Mak, Ibuk itu siapa?” tanya Zairani memecahkan lamunanku.
            “Teman SMA Mamak sayang,” jawabku.
            “Cantik kali Ibuk itu. Baik lagi,” ujar Zairani. Dia mengeluarkan uang yang diberikan oleh Lisa. “Mak, masuk celengan ya,” ujarnya. Aku membalas kata-katanya dengan senyum.
            Langit masih memantulkan kerlap-kerlip bintang, ketika aku bersama Zairani meretas jalan pulang ke rumah. Bulan sabit pun seakan kian lebar tersenyum. Semelir angin mulai bermain dengan kulit tubuhku. Dingin. Kutatap wajah buah hati kecilku, senyumnya masih terhias, walau matanya sudah tertelap. Ya, malam ini menyenangkan. Tapi, takdir yang mengikat Lisa masih membayangi pikiranku.

Rumah Cerita, 07 Mei 2012

(Cerpen ini telah dimuat di Mimbar Umum, 15 Juli 2012)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar