Ikatan Duka
Oleh:
Tanita Liasna
Malam
ini cerah. Langit yang biasanya senang menumpahkan tetesan-tetesan hujan, kali
ini seakan lupa akan kebiasaannya. Bulan sabit tersenyum menyapa para makhluk
yang sedang asyik bermalam minggu ria. Ditambah lagi, bintang bertabur
membentuk rasi bintang, menambah keeksotisan malam.
Malam
kali ini, aku nikmati bersama buah cintaku Zairani. Gadis kecilku yang tahun
depan akan menduduki bangku sekolah dasar ini, memintaku untuk menemaninya ke mall. Dia bilang ingin bermain di timezone dan makan mi ayam jamur. Karena masih semata wayang, kemauannya
harus diiyakan. Aku pun memang tak sanggup memuntahkan lahar air mata dari
kedua bilah matanya.
Setelah
hampir sepuluh menit meretas jalan, akhirnya aku dan Zairani sampai di mall. Zairani melepaskan senyumnya ke
arah mataku. Indah.
Sesampainya
di dalam mall, Zairani langsung
membawaku ke tempat tuntutannya. Sampai di sana, kubelikan dia koin beberapa
buah, lalu aku pun mulai sibuk menungguinya bermain.
“Mak,
habis ni kita makan mi ya,” ujar buah
hatiku itu.
“Iya
sayang,” jawabku dengan segurat senyum.
“Ni
koin terakhir Mak. Zai mau main itu,” katanya sambil mengarahkan telunjuknya ke
sebuah kotak permainan.
Kotak
permainan itu berbentuk sepasang balok. Setiap kotak terbagi menjadi dua
bagian. Yang di atas berdinding kaca. Dan di sisi bawah berdinding besi
berwarna hijau dan kuning.
Di dalam sisi atas sepasang balok itu,
berjejal puluhan boneka. Tidak besar. Paling hanya sebesar genggaman tangan
lelaki dewasa. Bentuknya pun beraneka rupa. Ada bentuk bebek, kucing, anjing,
kodok, dan beberapa binatang lain. Yah, serasa melihat kebun binatang
kecil-kecilan. Lalu, di atas tumpukan boneka-boneka itu, menggantung sebuah
besi padat berbentuk empat buah jari yang siap mencengkram. Sedangkan di sisi
bagian bawah, terdapat dua buah lubang kecil sebagai tempat memasukkan koin dan
tempat keluarnya kartu timezone.
Di antara sisi atas dan bawah,
terdapat sebuah tombol berwarna merah yang dijadikan alat untuk menggerakkan
besi pencengkram yang memang berfungsi untuk mencengkram salah satu boneka yang
saling jejal tersebut.
“Mak, Zai takut pencetnya. Takut gak dapet
boneka,” ujar anakku.
Aku tersenyum melihat raut penuh
ketakutan dari wajahnya. Wajah ovalnya, dengan mata yang panjang menyamai
mataku. Hidung anakku sama dengan hidungku juga. Mancung bila dilihat dari
samping. Bibirnya yang sedikit tebal, dengan kulit putihnya, hanya itu yang
mengikuti jejak sang ayah.
“Ya pencet aja tombolnya sayang. Gak
apa-apa,” ujarku mencoba meredam takutnya.
“Kalo’gak
dapet lagi gimana Mak?” tanya Zairani lagi.
Aku kembali tersenyum. Wajah
bingungnya mirip benar dengan ayahnya. “Gak
apa-apa sayang. Yang penting apa kata Mamak kemarin?” tanyaku penuh pintalan
senyum.
“Harus usaha,” jawabnya kembali meraut
ceria.
Akhirnya Zairani mulai menekan tombol
merah tersebut dengan jari telunjuknya. Sekali dia lakukan itu, tak jua ia
meraih boneka yang seakan saling enggan untuk dibawa keluar dari balok kaca
tersebut. Dan hingga tiga kali, tetap saja cengkraman besi itu meleset dari
boneka. Paling hebat nyaris terangkat.
“Kan
Mak, gak dapet,” ujar Zairani.
“Udah, katanya mau makan mi,” rayuku
menguncupkan rasa kecewanya.
Zairani kembali tersenyum. “Iya Mak,
ayo.” Sahutnya menggenggam pergelangan tanganku, dan mengarahkanku ke kafe
tempat kami biasa menikmati mi ayam jamur.
“Duduk di situ Mak,” ujarnya
mengarahkanku ke sebuah meja di sudut ruangan.
Aku hanya mengikutinya. Dia seakan
menjadi guide, jika aku bermain
dengannya ke mall. Seperti biasa, aku
dan Zairani memesan dua porsi mi ayam jamur dan dua gelas jus jeruk.
Mataku hilir mudik menatap sejauh mana
tatapanku bisa menjejakkan pandangannya. Sedang Zairaniku sibuk menghitung
kartu timezone yang baru
dihasilkannya.
Tiba-tiba mataku memerangkap sebuah
wajah yang kurasa tidak asing. Wajah itu, milik siapa? Tanyaku dalam hati. Aku
terus memperhatikannya. Kulitnya yang putih, berpadu padan dengan baju berwarna
hijau toska. Dengan rambut lurus tergerai sebahu. Matanya lonjong berhias alis
mata yang cukup tebal. Hidung mancung dan bibir merah muda yang dikategorikan
tipis. Ah... wajah siapa ini? Sekali lagi bathinku bertanya.
Aku terus memperhatikannya yang
berkutat dengan ipad berwarna putih.
Kucoba memilah berkas-berkas yang menumpuk di dalam otakku. Saking asyiknya,
hingga aku tak menyadari dia juga sudah menatap ke arahku.
Aku cepat-cepat mengalihkan
pandanganku. Bersamaan dengan celotehan yang menari dari sepasang bibir putri
kesayanganku. “Mak, ada empat puluh lapan kartunya,” ujarnya penuh dengan rasa
bahagia.
“Ya sayang,” ucapku sedikit terbata.
Tak lama, kulirik kembali wanita itu.
Dia sedang memasukkan barang berbentuk layar datar itu ke dalam tas kuning
kunyitnya. Dia beranjak dari kursinya. Kukira ingin pulang. Tapi dugaanku
meleset jauh. Dia menuju ke arah mejaku.
“Nita kan?” tanyanya bersimbah senyum.
“Ya. Siapa ya?” tanyaku. Akhirnya aku
yakin tak merasa salah dengan dugaanku. Dia temanku, tapi entah siapa.
“Kau gitulah Ta. Gak ingat
sama aku,” katanya sembari duduk di depanku.
“Sayang,”
sapanya pada Zairani sambil mengelus rambut hitam anakku yang panjangnya
sebahu.
“Salam
Ibuknya Zai,” titahku pada Zairani.
Zairani pun menurut.
“Namanya
siapa?” tanyanya lembut.
“Zairani,”
jawab gadis kecilku dengan ramah.
Aha..
suara itu. Kelembutan itu. Ya, aku tahu siapa dia. “Lisa kan?” tanyaku spontan.
“Kukira
kau lupa sama aku Ta,” ujarnya melebarkan senyum.
“Hampir
lupa Sa. Tambah cantik kau sekarang,” ujarku memujinya.
“Apa
kegiatanmu Ta?” tanya lagi.
Belum
sempat aku bertanya, pesananku dan Zairani singgah di meja.
“Kau
pesan apa Sa?” tanyaku.
“Udah
kenyang. Tadi kan kau lihat aku duduk di meja sana,” ujarnya mengarahkan bibir
ke meja tempat duduknya tadi. “Eh... apa kegiatanmu sekarang?” tanyanya lagi.
“Jaga
anak, ngurus suami, sambil ngajarlah Sa,” jawabku. “Kau gimana?”
tanyaku menimpali pertanyaannya.
“Usaha
kecil-kecilanlah. Butik.” Jawabnya.
“Betulkan
dugaanku. Pasti kau buka butik. Dari dulukan
kau memang punya cita-cita itu. Jadi kemaren
ambil kuliah desain?” tanyaku.
“Gak Ta. Aku ambil ekonomi. Ya gak taulah.
Yang jelaskan sekarang aku bisa buka butik dan jadi desainer kecil-kecilan,”
jelasnya padaku.
“Mak
panas,” adu Zairani sambil mendorong mangkuk minya ke arahku.
“Sini
Zai,” ujarku.
Sembari
menghembuskan nafasku untuk mendinginkan mi, pandanganku mengarah pada Lisa.
Kurasakan tatapannya lekat menatap Zairani. Tatapan itu membiaskan sebuah luka.
Seakan ada segaris duka yang teramat mengikat hidupnya.
“Maaf
ya Sa, jadi ganggu kita ngobrol anakku ini,” ujarku basa-basi. Aku berharap,
kata-kata itu mampu membuat inginnya muncul menceritakan kisahnya padaku.
“Gak apa Ta. Aku suka anak-anak,” jawabnya. Nada suaranya
penuh beban.
“Sekarang
berapa anggotamu Sa?” tanyaku menyelidik.
“Anggota
arisan banyak Ta,” jawabnya menggodaku.
“Kau
ini. Aku serius Sa,” ujarku lagi.
“Gak ada Ta. Aku belum nikah,” ujarnya.
“Kapan
lagi? Udah tua kita Sa. Masih lagi ada yang kau tunggu?” tanyaku.
“Bukan Ta. Gak
ada yang kutunggu. Aku hanya tak ingin menikah,” jawabnya.
Aku tahu, ada suatu ganjalan pedih
yang tertambat pada tutur katanya tadi.
“Kenapa
Sa? Itu namanya kau menyia-nyiakan masa depan,” sahutku.
Dia
menghela nafas panjang. “Tamat SMA kemarin, aku sama keluarga langsung pindah
ke Medan, Ta. Tiga bulan di sana, Mamaku meninggal gantung diri. Karena Papaku
selingkuh,” ujarnya.
“Ya
Allah Sa. Maaf. Aku gak...”
Belum
lagi selesai kata-kataku, Lisa sudah berujar kembali. “Setelah itu, Papaku
nikah lagi. Aku gak sanggup terima
itu. Apalagi setelah wanita biadab itu punya anak. Papaku semakin sibuk dengan
keluarga barunya. Akhirnya dengan alasan kuliah, aku tinggal di rumah Om ku.
Awalnya aku tenang di sana. Setiap minggu, aku ke makam Mamaku. Aku tak perlu
melihat bajingan-bajingan pembunuh Mamaku itu,” jelasnya.
Kugenggam
tangannya. “Sabar Sa,” ujarku berusaha menyemangatinya.
“Ini
belum seberapa, Ta. Kalau hanya sekedar itu, aku takkan pernah takut menikah,”
ujarnya.
“Kalo’kau mau, boleh kau lanjutkan
ceritamu Sa,” sahutku lagi.
“Entah
setan apa yang masuk ke tubuh Om ku. Dia memperkosaku Ta. Kau tahu kan,
bagaimana aku dulu. Aku pemalu, penakut. Ancamannya membuatku bungkam. Tapi,
aku memilih untuk kos, tidak lagi tinggal bersamanya,” jelasnya kembali padaku.
“Jadi
sampai sekarang, keluargamu gak ada
yang tahu Sa, tentang perbuatan Om mu itu?” tanyaku.
“Gak perlu mereka tahu. Aku ada atau gak pun, mereka udah gak peduli,” ujar Lisa padaku.
“Sa,
itukan menurutmu,” ujarku lagi.
Tiba-tiba
Zairani mengguit tanganku. “Mak, mi Mamak udah dingin,” ujarnya.
Suasana
penuh haru tadi, kini berubah menjadi gelak tawa. Memang Zairani, selalu
seperti itu. Ada saja celotehannya yang mampu mencairkan suasana.
“Jadi
Sa, itu hal yang buat kau gak mau
nikah?” tanyaku sembari mulai menikmati makananku.
“Bukan
itu Ta. Kalo’hanya sekedar itu,
mungkin aku gak kan seperti ini,” ujarnya lagi.
“Jadi,
apa Sa? Dari tadi itu saja jawabanmu,” ujarku. Sebenarnya ada rasa enggan di
hatiku untuk menelisik lebih jauh tentang hidupnya. Tapi entahlah, penyakit
ingin tahuku ini telah menyebar ke seluruh bagian tubuhku.
“Tamat
kuliah, aku niat menikah Ta dengan pacarku. Aku pacaran sama dia dua tahun
lamanya. Habis itu, aku sama dia janji mau nikah setelah tamat kuliah. Tapi,
masa itu datang, dia malah nikah sama perempuan lain,” ujar Lisa panjang lebar.
Setelah itu dia menghela nafas lagi.
“Sejak
itu kau tak mau nikah Sa?” tanyaku lagi.
“Ya.
Sejak itu aku merasa gak ada satu pun
laki-laki yang bisa menghargai aku sebagai perempuan. Jadi aku pilih sendiri
ajalah Ta. Aku trauma. Benar-benar trauma,” ujarnya lagi.
“Apa
tinggal sendiri gak sepi Sa?” tanyaku
lagi.
“Kadang
terasa sepi. Tapi aku kan punya karir Ta. Ya gitulah. Paling gak, itu yang buat hidupku ada
maknanya,” sahut Lisa lagi.
Aku
tak bisa menjawab apa-apa. Ada sebuah duka yang ikut bermain di hatiku. Tak
lama berselang, suara panggilan dari ponsel Lisa berbunyi. Entah suara siapa
yang muncul dari seberang. Yang jelas sepertinya Lisa harus segera meninggalkan
kami.
“Ta,
maaf ya. Ada urusan dikit. Aku harus
pergi sekarang,” ucapnya.
“Ya
Sa,” jawabku.
“Eh,
ini kartu namaku. Kutunggu telponmu
ya Ta,” ujarnya padaku. “ Dan kau gadis kecil, ini untukmu,” ujarnya memasukkan
sebuah uang lima puluh ribuan ke dalam kantung baju Zairani.
“Sa,
kau repot-repot,” ujarku pada Lisa. “Bilang apa sayang?” tanyaku pada Zairani.
“Makasih
ya Buk,” ujar Zairani sembari
menyalami tangan Lisa.
“Aku
duluan ya Ta,” ujarnya. Kami pun saling bersalaman dan menempelkan dua belah
pipi kami. Dia pun pergi.
Aku
hanya bisa memandangi kepergian Lisa. Sungguh, aku masih bingung. Lisa yang
kukenal pendiam. Yang kutahu dulu sangat dijaga oleh kedua orang tuanya. Yang
dulunya sangat diminati oleh para lelaki di sekolahku, kini di umurnya yang
hampir kepala tiga, masih melajang. Dan harus menikmati derita bathin yang jika
aku yang mengalami, mungkin aku tak akan sanggup menerimanya. Tapi dia begitu
tegar. Selama dia menceritakan kepelikan hidupnya padaku, tak sebongkah air
mata pun turun membasahi pipi mulusnya.
“Mak,
Ibuk itu siapa?” tanya Zairani
memecahkan lamunanku.
“Teman
SMA Mamak sayang,” jawabku.
“Cantik
kali Ibuk itu. Baik lagi,” ujar
Zairani. Dia mengeluarkan uang yang diberikan oleh Lisa. “Mak, masuk celengan
ya,” ujarnya. Aku membalas kata-katanya dengan senyum.
Langit
masih memantulkan kerlap-kerlip bintang, ketika aku bersama Zairani meretas
jalan pulang ke rumah. Bulan sabit pun seakan kian lebar tersenyum. Semelir
angin mulai bermain dengan kulit tubuhku. Dingin. Kutatap wajah buah hati
kecilku, senyumnya masih terhias, walau matanya sudah tertelap. Ya, malam ini
menyenangkan. Tapi, takdir yang mengikat Lisa masih membayangi pikiranku.
Rumah
Cerita, 07 Mei 2012
(Cerpen ini telah dimuat di Mimbar Umum, 15 Juli 2012)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar