Jurusan
Kereta Api Binjai-Medan; Jurusan Sejarah
Oleh: Tanita
Liasna
“Binjai-Medan cuma 3 ribu”,
papar seorang teman penulis ketika berusaha meyakinkan penulis untuk naik
kereta api ke tempat penjualan buku murah. Itulah kali pertama penulis
menggunakan jasa kereta api.
Kereta
api merupakan alat transportasi yang sudah mulai kehilangan pamornya, terkhusus
di kota Binjai. Padahal, kereta api adalah alat transportasi yang bisa
dikatakan cukup menarik, jika kita ingin merelaksasikan diri atau sekedar
mencari nuansa baru dalam melakukan perjalanan. Terlebih lagi, kereta api cukup
minim biayanya, jika dibandingkan alat transportasi yang lainnya.
Dan
tahukah anda, bahwa kereta api jurusan Binjai-Medan dapat dijadikan sebuah perjalanan
yang mampu memberikan ilmu baru, dan kemungkinan dapat menjadi alternatif
wisata baru Sumatera Utara? Bukan karena letaknya yang berdekatan dengan tempat
penjualan buku bekas atau murah yang tidak menguras kantong jika kita
berbelanja buku di sana. Tapi, karena jurusan kereta api Binjai- Medan dapat
dijadikan jurusan sejarah bagi para penikmat kereta api.
Dimulai
dari Binjai. Stasiun kereta api Binjai yang berdiri pada tahun 1819 oleh
Belanda adalah salah satu dan mungkin hanya satu-satunya bangunan lama yang
masih berdiri kokoh di kota Binjai. Pertama kali mengalami renovasi pada 2009,
itupun hanya sekedar renovasi rel dari bantalan kayu menjadi bantalan beton.

Gambar 1.1. Stasiun kereta api Binjai (tampak depan)
Dalam perjalanan
Binjai-Medan, akan dilewati beberapa kota, seperti kota Tanah Tinggi, Kilometer 19, lalu Megawati, Diski,
Kampung Lalang, Sunggal, kilometer 10, sebelum akhirnya sampai di stasiun kereta api Medan. Keluar
dari stasiun kereta api Medan, kita berhadapan langsung dengan tempat penjualan
buku bekas dan murah.
Kemudian, di dekat stasiun
kereta api Medan (arah kiri) akan kita temukan bangunan sejarah lainnya, yaitu Titi Gantung yang memiliki arsitektur
yang khas dan unik. Titi Gantung semula diperuntukkan sebagai jalan
lintas dan sarana menyeberang
untuk pejalan kaki, calon penumpang kereta api, maupun pengunjung dan
penonton berbagai kegiatan, seperti
pasar malam di Lapangan Merdeka
Medan, yang terakhir dilaksanakan
tahun 1964.
Bagian bawah
bangunan titi gantung memiliki 2
pintu gerbang dan ruas jalan yang menghubungkan Jalan Veteran (dulunya Jalan
Bali) dengan Jalan Pulau Pinang (sekarang). Hingga tahun 1950 ruas jalan melalui
pintu gerbang tersebut, bila
malam ketika kereta api, baik lokomotif dan gerbong tidak dioperasikan setelah
langsir dan diparkirkan, bisa
dilalui kendaraan dan pejalan kaki. Memiliki
kelebaran 40 – 50 meter dengan tinggi bangunan antara 7 – 8 meter dari
permukaan jalan. Selain bagian bawahnya berpintu gerbang (tertutup), terdapat
jalan berjenjang (tangga) di sebelah kanan dan jalan mendaki berlapis aspal
dari 2 arah.


Gambar 1.3. Titi gantung Medan
Dari arah
Jalan Veteran juga memiliki pintu gerbang dan kini berfungsi sebagai gudang, di
sebelahnya dimanfaatkan untuk kedai kopi.
Bagian sebelah kanan terdapat jalan berjenjang (tangga) dan di sebelah
kiri satu ruas jalan mendaki. Titi Gantung jelas bernilai sejarah sebab dibangun menyusul
dibukanya perusahaan kereta api Deli Spoorweg Maatschappij (DSM) pada tahun
1885.
Sementara itu, DELI Spoorweg Maatschappij (DSM) merupakan perusahaan
kereta api pertama di luar Jawa semasa kolonial Belanda.
Kemudian dari Titi
gantung, berjalan kembali
ke arah stasiun Medan menuju tanah lapang Medan, akan kita temukan kantor pos Medan yang juga salah satu bangunan
bersejarah di kota Medan, tepatnya menghadap ke lapangan
merdeka Medan di dekat air mancur.
Kantor
pos Medan ini dibangun pada tahun 1909-1911 oleh seorang arsitek bernama
Snuyf yang dulu merupakan Direktur Jawatan Pekerjaan Umum Belanda untuk
Indonesia pada masa pemerintahan Belanda. Bangunan satu lantai yang terlihat
kokoh dan megah ini dibangun dengan konsep Neo Classic. Lantai dari tegel/Marmer berdimensi
besar, dan memiliki
luas bangunan 1200 M² dengan tinggi 20 m, panjang 60 m dan lebar 20 m.
Penulis
berkesempatan masuk dan melihat bagaimana indahnya bangunan yang tepat berumur
seratus tahun ini. Ketika masuk pada ruang pertama, penulis melihat pintu yang
begitu kokoh. Balkon yang bergambar menciptakan kesan artistik yang sarat
dengan nilai kekunoan. Begitu juga lampu gantung yang berada pada ruangan
tersebut.
Pada
ruangan selanjutnya, terdapat tiga pintu yang terbuat dari besi. Masih sangat
kuno karena pintu tersebut masih dibuka dengan cara di dorong ke atas.

Gambar 1.2.
Kantor pos Medan
Itulah beberapa cerita singkat tiga
bangunan sejarah di Sumatera Utara dan langsung dapat kita kunjungi sekali
jalan dengan biaya 3 ribu rupiah saja dengan menggunakan kereta api. Layaknya,
jalur kereta api ini dapat menjadi wisata baru dalam dunia perkertaapian di
Indonesia, khususnya Sumatera Utara. Sehingga, dapat meningkatkan kembali minat
pengguna kereta api sambil memperkenalkan situs-situs sejarah di Sumatera
Utara.
Jendela Ilmu, 20 November 2011
(Artikel
ini telah dimuat di Rubrik TRP Analisa, 27 Mei 2012)