3 Mei 2013

Pelajaran di Malam Lebaran



Pelajaran di Malam Lebaran
Oleh: Tanita Liasna

            Hari telah sore. Matahari sudah mulai terbenam. Danu, Riki, dan Ikal baru selesai bermain.
            “Tidak terasa ya,  sudah mau buka puasa,” kata Ikal.
            “Ya. Bukan hanya itu. Tapi tidak terasa juga nanti malam takbiran,” sahut Danu.
            “Betul Dan. Puasaku penuh. Pasti dapat banyak THR,” ujar Riki pula.
            “Sama Ki. Aku juga penuh. Asyik, dapat THR banyak,” sahut Ikal  tertawa.
            “Kamu bagaimana Dan?  Kok diam saja,” tanya Riki. “Apa puasamu tidak penuh?” tanya Riki.
            “Oh, penuh Ki,” jawab Danu.
“Banyak dapat THR jugalah?” tanya Riki lagi.
“Ya, dapat THR juga,” sahut Danu pelan.
            Sesampainya di rumah, Danu langsung masuk ke dalam dan menemui ibunya.
            “Bu!” jerit Danu.
            “Eh, kamu pulang kok tidak ucap salam Dan?” tanya ibu. “Buat ibu terkejut saja,” kata ibu lagi.
            “Danu ingin THR Bu,” ujar Danu.
            “THR?” tanya ibu.
            “Ya, THR. Tunjangan Hari Raya. Ikal dan Riki selalu dapat THR. Kalau puasanya penuh jadi tambah banyak THR nya. Danu ingin THR juga Bu. Seperti Ikal dan Riki,” pinta Danu pada ibunya.
            “Lihat nanti ya sayang. Kalau Ibu ada uang. Kalau tidak ada bagaimana?” tanya ibu sambil mengelus kepala Danu.
            “Kok nanti Bu. Besok sudah lebaran. Pokoknya Danu mau dapat THR,” jawab Danu sambil berlari mengambil handuk. Lalu masuk ke kamar mandi.
            Tak lama kemudian, azan berkumandang. Danu dan ibu berbuka puasa. Tak lupa melaksanakan sholat magrib.
            “Bu, Danu dapat THR kan?” tanya Danu setelah selesai sholat.
            “Danu, kamu sudah Ibu belikan baju baru. Uang ibu sudah habis sayang. Jadi tidak dapat THR tidak apa-apa ya?” rayu ibu kepada Danu.
            “Teman-teman Danu juga dibelikan baju baru. Tapi tetap dapat THR. Lagian Danu kan puasanya penuh Bu,” ujar Danu.
            “Ya Danu. Ibu mengerti. Tapi upah ibu mencuci hanya cukup untuk membelikan Danu baju baru. Dan juga membeli makanan untuk lebaran nanti,” jawab ibu mencoba meyakinkan Danu.
            “Pokoknya Danu mau THR!” ucap Danu sedikit berteriak. Danu lalu berlari keluar.
            “Danu mau kemana?” tanya ibu.
            “Main ke rumah Ikal!,” jawab Danu ketus.
            Ibu hanya menghela nafas. Ibu bingung harus melakukan apa, agar Danu tidak marah lagi.
            Ketika berjalan menuju ke rumah Ikal, Danu melihat seorang anak laki-laki sedang memakan sebuah kue dengan lahap.
            “Sepertinya aku kenal dia,” ujar Danu pada dirinya sendiri.
            Danu pun menghampiri anak lelaki itu. “Kamu Joko ya?” tanya Danu.
            “Ya, aku Joko. Kamu siapa?” sahut anak tersebut dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.
            “Aku Danu,” jawabnya. “Kita pernah sekelas waktu kelas tiga. Apa kamu masih ingat?” tanya Danu pada Joko.
            Joko memperhatikan wajah Danu. “Ya aku ingat,” jawab Joko tersenyum. Kamu mau kemana Dan?” tanya Joko.
            “Ke rumah Ikal. Kamu ingat Ikal?,” tanya Danu.
“Tidak,” jawab Joko singkat.
 “Kamu baru buka puasa Ko?” tanya Danu.
            “Ya,” jawab Joko.
            “Kok cuma makan kue saja? Tidak makan nasi,” ujar Danu lagi.
            “Ada sepotong kue saja sudah alhamdulilah sekali Dan,” sahut Joko.
            “Kok begitu?” tanya Danu lagi.
            “Aku ini hidup di jalan. Apa kamu tidak tahu, aku berhenti sekolah karena panti asuhan tempat aku dititipkan terbakar,” jelas Joko kepada Danu.
            “Aku tidak tahu,” jawab Danu. “Jadi sekarang kamu tidak sekolah lagi Ko?” lanjut Danu lagi.
            “Tidak,” jawab Joko sedih.
“Kamu yang sabar ya. Jadi kamu tinggal dimana sekarang?” tanya Danu.
“Tinggal di pinggiran kota, sama anak-anak panti asuhan yang lain,” jawab Joko.
“Kamu kerja Ko?” tanya Danu.
“Ya, Aku kerja Dan. Kadang ngamen. Kadang mencari botol dan kardus bekas,” jawab Joko. “Bersyukurlah kamu Dan, masih punya orang tua,” ucap Joko.
            “Ya. Aku menyesal,” sahut Danu menunduk.
            “Loh, kok malah menyesal?” tanya Joko heran.
            “Bukan menyesal punya orang tua. Tadi aku marah-marah pada Ibuku, Ko. Karena aku minta THR. Tapi Ibuku tidak punya uang. Teman-temanku semua dapat THR. Apalagi kalau puasa mereka penuh. Mereka akan dapat banyak THR,” jelas Danu pada Joko.
            “Kamu tidak boleh begitu Dan. Bersyukur kamu masih punya tempat tinggal. Juga bisa makan dan minum dengan cukup. Lihat aku, jangankan tempat tinggal. Makan dan minum saja susah,” jawab Joko.
            “Tapi aku juga ingin dapat THR. Sebagai hadiah puasaku bisa penuh,” ujar Danu.
            “Semua orang ingin. Aku juga ingin. Tapi jika Ibumu tidak punya uang, ya kamu harus sabar Dan. Lagian seingatku Pak Imran guru agama kita  bilang, kita harus ikhlas dalam melakukan sesuatu. Termasuk berpuasa. Tidak boleh mengharapkan imbalan,” nasihat Joko.
            Danu terdiam sejenak. “Benar kamu Ko,” jawab Danu lagi. Dia kembali menunduk.
            “Makanya kamu cepat minta maaf pada Ibumu. Ini kan mau lebaran. Harus saling memaafkan,”ujar Joko.
            “Ya Ko. Terimakasih ya. Aku mau pulang dan minta maaf pada Ibuku,” jawab Danu.
“Ya. Minal Aidin Walfaidzin,” ucap Joko menjabat tangan Danu. Tak lama, mereka pun berpisah.
            “Assalamualaikum,” ucap Danu ketika sampai di depan pintu rumah.
            “Waalaikumsalam,” sahut ibu sambil membuka pintu. “Kok cepat pulang Dan?” tanya ibu.
            Danu tidak menjawab. Dia memeluk ibunya.
            “Kamu kenapa?,” tanya ibu pada Danu.
            “Maafkan Danu ya Bu. Telah marah tadi pada Ibu. Danu menyesal,” ujar Danu.
            “Alhamdulilah sayang. Kalau kamu bisa mengerti. Insyaallah, tahun depan Ibu akan berikan kamu THR, jika puasa kamu penuh,” jawab ibu.
            “Tidak Bu. Dalam melakukan sesuatu kita harus ikhlas,” jawab Danu.
            “Alhamdulilah, anak Ibu sudah paham sekarang. Ini berkah di hari kemenangan” ujar Ibu sambil mengelus kepala Danu.
            Sejak itu, Danu selalu melakukan sesuatu dengan ikhlas. Tidak mengharap imbalan. Juga selalu bersyukur.

Rumah Cerita, 11 Agustus 2012
(Cerpen ini telah dimuat di Rubrik Cerpen & Puisi Analisa, 22 Agustus 2012)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar