Pelajaran di Malam
Lebaran
Oleh: Tanita Liasna
Hari
telah sore. Matahari sudah mulai terbenam. Danu, Riki, dan Ikal baru selesai
bermain.
“Tidak
terasa ya, sudah mau buka puasa,” kata
Ikal.
“Ya.
Bukan hanya itu. Tapi tidak terasa juga nanti malam takbiran,” sahut Danu.
“Betul
Dan. Puasaku penuh. Pasti dapat banyak THR,” ujar Riki pula.
“Sama
Ki. Aku juga penuh. Asyik, dapat THR banyak,” sahut Ikal tertawa.
“Kamu
bagaimana Dan? Kok diam saja,” tanya
Riki. “Apa puasamu tidak penuh?” tanya Riki.
“Oh,
penuh Ki,” jawab Danu.
“Banyak dapat THR jugalah?” tanya Riki
lagi.
“Ya, dapat THR juga,” sahut Danu
pelan.
Sesampainya
di rumah, Danu langsung masuk ke dalam dan menemui ibunya.
“Bu!”
jerit Danu.
“Eh,
kamu pulang kok tidak ucap salam Dan?” tanya ibu. “Buat ibu terkejut saja,”
kata ibu lagi.
“Danu
ingin THR Bu,” ujar Danu.
“THR?”
tanya ibu.
“Ya,
THR. Tunjangan Hari Raya. Ikal dan Riki selalu dapat THR. Kalau puasanya penuh
jadi tambah banyak THR nya. Danu ingin THR juga Bu. Seperti Ikal dan Riki,”
pinta Danu pada ibunya.
“Lihat
nanti ya sayang. Kalau Ibu ada uang. Kalau tidak ada bagaimana?” tanya ibu
sambil mengelus kepala Danu.
“Kok
nanti Bu. Besok sudah lebaran. Pokoknya Danu mau dapat THR,” jawab Danu sambil
berlari mengambil handuk. Lalu masuk ke kamar mandi.
Tak
lama kemudian, azan berkumandang. Danu dan ibu berbuka puasa. Tak lupa
melaksanakan sholat magrib.
“Bu,
Danu dapat THR kan?” tanya Danu setelah selesai sholat.
“Danu,
kamu sudah Ibu belikan baju baru. Uang ibu sudah habis sayang. Jadi tidak dapat
THR tidak apa-apa ya?” rayu ibu kepada Danu.
“Teman-teman
Danu juga dibelikan baju baru. Tapi tetap dapat THR. Lagian Danu kan puasanya
penuh Bu,” ujar Danu.
“Ya
Danu. Ibu mengerti. Tapi upah ibu mencuci hanya cukup untuk membelikan Danu
baju baru. Dan juga membeli makanan untuk lebaran nanti,” jawab ibu mencoba
meyakinkan Danu.
“Pokoknya
Danu mau THR!” ucap Danu sedikit berteriak. Danu lalu berlari keluar.
“Danu
mau kemana?” tanya ibu.
“Main
ke rumah Ikal!,” jawab Danu ketus.
Ibu
hanya menghela nafas. Ibu bingung harus melakukan apa, agar Danu tidak marah
lagi.
Ketika
berjalan menuju ke rumah Ikal, Danu melihat seorang anak laki-laki sedang
memakan sebuah kue dengan lahap.
“Sepertinya
aku kenal dia,” ujar Danu pada dirinya sendiri.
Danu
pun menghampiri anak lelaki itu. “Kamu Joko ya?” tanya Danu.
“Ya,
aku Joko. Kamu siapa?” sahut anak tersebut dengan mulut yang masih penuh dengan
makanan.
“Aku
Danu,” jawabnya. “Kita pernah sekelas waktu kelas tiga. Apa kamu masih ingat?”
tanya Danu pada Joko.
Joko
memperhatikan wajah Danu. “Ya aku ingat,” jawab Joko tersenyum. Kamu mau kemana
Dan?” tanya Joko.
“Ke
rumah Ikal. Kamu ingat Ikal?,” tanya Danu.
“Tidak,” jawab Joko singkat.
“Kamu baru buka puasa Ko?” tanya Danu.
“Ya,”
jawab Joko.
“Kok
cuma makan kue saja? Tidak makan nasi,” ujar Danu lagi.
“Ada
sepotong kue saja sudah alhamdulilah sekali Dan,” sahut Joko.
“Kok
begitu?” tanya Danu lagi.
“Aku
ini hidup di jalan. Apa kamu tidak tahu, aku berhenti sekolah karena panti
asuhan tempat aku dititipkan terbakar,” jelas Joko kepada Danu.
“Aku
tidak tahu,” jawab Danu. “Jadi sekarang kamu tidak sekolah lagi Ko?” lanjut
Danu lagi.
“Tidak,”
jawab Joko sedih.
“Kamu yang sabar ya. Jadi kamu tinggal
dimana sekarang?” tanya Danu.
“Tinggal di pinggiran kota, sama
anak-anak panti asuhan yang lain,” jawab Joko.
“Kamu kerja Ko?” tanya Danu.
“Ya, Aku kerja Dan. Kadang ngamen.
Kadang mencari botol dan kardus bekas,” jawab Joko. “Bersyukurlah kamu Dan,
masih punya orang tua,” ucap Joko.
“Ya.
Aku menyesal,” sahut Danu menunduk.
“Loh,
kok malah menyesal?” tanya Joko heran.
“Bukan
menyesal punya orang tua. Tadi aku marah-marah pada Ibuku, Ko. Karena aku minta
THR. Tapi Ibuku tidak punya uang. Teman-temanku semua dapat THR. Apalagi kalau
puasa mereka penuh. Mereka akan dapat banyak THR,” jelas Danu pada Joko.
“Kamu
tidak boleh begitu Dan. Bersyukur kamu masih punya tempat tinggal. Juga bisa
makan dan minum dengan cukup. Lihat aku, jangankan tempat tinggal. Makan dan
minum saja susah,” jawab Joko.
“Tapi
aku juga ingin dapat THR. Sebagai hadiah puasaku bisa penuh,” ujar Danu.
“Semua
orang ingin. Aku juga ingin. Tapi jika Ibumu tidak punya uang, ya kamu harus
sabar Dan. Lagian seingatku Pak Imran guru agama kita bilang, kita harus ikhlas dalam melakukan
sesuatu. Termasuk berpuasa. Tidak boleh mengharapkan imbalan,” nasihat Joko.
Danu
terdiam sejenak. “Benar kamu Ko,” jawab Danu lagi. Dia kembali menunduk.
“Makanya
kamu cepat minta maaf pada Ibumu. Ini kan mau lebaran. Harus saling
memaafkan,”ujar Joko.
“Ya
Ko. Terimakasih ya. Aku mau pulang dan minta maaf pada Ibuku,” jawab Danu.
“Ya. Minal Aidin Walfaidzin,” ucap
Joko menjabat tangan Danu. Tak lama, mereka pun berpisah.
“Assalamualaikum,”
ucap Danu ketika sampai di depan pintu rumah.
“Waalaikumsalam,”
sahut ibu sambil membuka pintu. “Kok cepat pulang Dan?” tanya ibu.
Danu
tidak menjawab. Dia memeluk ibunya.
“Kamu
kenapa?,” tanya ibu pada Danu.
“Maafkan
Danu ya Bu. Telah marah tadi pada Ibu. Danu menyesal,” ujar Danu.
“Alhamdulilah
sayang. Kalau kamu bisa mengerti. Insyaallah, tahun depan Ibu akan berikan kamu
THR, jika puasa kamu penuh,” jawab ibu.
“Tidak
Bu. Dalam melakukan sesuatu kita harus ikhlas,” jawab Danu.
“Alhamdulilah,
anak Ibu sudah paham sekarang. Ini berkah di hari kemenangan” ujar Ibu sambil
mengelus kepala Danu.
Sejak
itu, Danu selalu melakukan sesuatu dengan ikhlas. Tidak mengharap imbalan. Juga
selalu bersyukur.
Rumah
Cerita, 11 Agustus 2012
(Cerpen ini telah dimuat di Rubrik Cerpen & Puisi Analisa, 22 Agustus
2012)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar