3 Mei 2013

Ketulusan Hati Rina



Ketulusan Hati Rina
Oleh: Tanita Liasna

          Di kelas lima, ada seorang anak perempuan bernama Rina. Dia anak yang baik hati, ramah, sopan, dan juga pintar. Setiap pembagian raport dia selalu mendapatkan peringkat pertama. Semua guru di sekolahnya sangat menyayangi Rina. Bukan hanya karena kepintaran dan kesopanannya, tapi juga karena sikapnya yang mengerti kesusahan orang tuanya.
            Di kelas Rina, ada juga seorang anak perempuan bernama Gadis. Gadis anak yang cantik dan pintar. Hanya saja dia sombong dan selalu ingin menang sendiri. Karena di rumah dia terlalu dimanjakan oleh orang tuanya.
            Di sekolah, Gadis selalu memusuhi Rina. Dia kesal karena selalu kalah jika adu kepintaran dengan Rina. Gadis suka mengejek Rina dan melarang teman-temannya untuk bermain dengan Rina.
            “Rina, kau bawa bekal apa hari ini?” tanya Gadis menghampiri Rina.
            “Aku bawa nasi dengan sambal tempe,” jawab Rina.
            “Kulihat kau selalu bawa bekal yang itu-itu saja. Apa Ibumu tidak bisa masak yang lain?” tanya Gadis sambil tertawa.
            Rina tak menjawab pertanyaan Gadis. Lalu seakan tidak puas, Gadis berteriak memanggil teman-temannya.
            “Woi, sinilah! Kalian lihat bekal Rina,” kata Gadis.
            Semua mata teman-temannya menatap ke arah tempat bekal Rina.
            “Ibu Rina tidak bisa masak yang lain, makanya dia makan sambal tempe tiap hari,” kata Gadis. Dia tertawa terbahak-bahak diikuti teman-teman yang lain.
            Rina membisu. Dia tidak mau melawan kata-kata Gadis. Dia mencoba untuk sabar. Dia hanya berharap suatu saat Gadis akan berubah.
            Lonceng berbunyi menandakan istirahat telah usai. Tak lama kemudian, Bu Annisa kepala sekolah mereka masuk untuk mengumumkan sesuatu.
            “Selamat siang Anak-anak,” sapa Bu Annisa.
            “Siang Bu,” jawab mereka serentak.
            “Minggu depan sekolah kita diundang untuk mengikuti perlombaan mata pelajaran tingkat kecamatan. Dan ada dua kandidat yang dicalonkan dari kelas ini, yaitu Rina dan Gadis. Tapi hanya salah satu dari mereka yang akan ikut lomba mewakili sekolah kita,” jelas Bu Annisa yang disambut riuh tepuh tangan dari murid-muridnya.
            “Nanti, pukul dua siang Rina dan Gadis diharap hadir untuk mengikuti penyeleksian,” kata Bu Annisa. Rina dan Gadis mengiayakan dengan anggukan.
            Pukul dua siang Rina dan Gadis sudah berada di sekolah. Mereka lalu masuk ke dalam kelas dan diberikan kertas soal untuk mereka jawab. Setelah hampir dua jam, hasil pekerjaan mereka pun selesai. Dan tak lama Bu Annisa mengumumkan bahwa Rinalah yang berhak mewakili sekolah mereka di perlombaan mata pelajaran tingkat kecamatan.
            Sejak saat itu Gadis semakin bersikap tidak baik terhadap Rina. Dia semakin sering mengejek Rina dan memaksa teman-temannya untuk tidak bergaul dengan Rina.
            Lonceng istirahat berbunyi. Tiba-tiba Gadis berdiri di depan kelas. “Teman-teman, kalian dengar ya, aku ada pengumuman buat kalian,” kata Gadis.
            Teman-temannya tidak jadi keluar. Begitu juga Rina. Lalu Gadis melanjutkan kata-katanya. “Kalian dengar ya. Besok aku ulang tahun. Jadi aku undang kalian semua datang ke rumahku sepulang sekolah,” ucap Gadis. “Eh, kecuali kamu ya Rin. Aku tidak suka ada anak tukang pecal keliling datang ke acara ulang tahunku, ucap Gadis dengan sombong.
            Rina menunduk. Air mata membasahi kedua pipinya. Di perjalanan pulang  dari sekolah, ucapan Gadis masih terngiang di telinga Rina.
            Sampai di rumah, Rina makan lalu membantu Ibunya menyiapkan dagangan. Wajah Rina yang muram membuat Ibunya heran dan bertanya-tanya dalam hati.
            “Rina, kamu kenapa Nak?” tanya Ibunya.
            Rina hanya menggeleng. Air matanya menetes deras. Dia lalu memeluk Ibunya. Ibu Rina semakin heran melihat ulah Rina.
            “Kamu cerita sama Ibu, kamu kenapa?” tanya Ibu sembari mengelus rambut Rina.
            “Ada teman Rina Bu, namanya Gadis. Dia jahat sama Rina. Suka mengejek dan memaksa teman-teman untuk tidak berteman dengan Rina. Tadi dia mengundang teman sekelas untuk datang ke ulang tahunnya besok, tapi Rina tidak diundang Bu. Katanya dia tidak mau ulang tahunnya didatangi sama anak penjual pecal,” jelas Rina sambil menangis.
            “Sayang, kamu yang sabar ya. Kita doakan saja semoga Gadis bisa sadar. Yang penting kamu jangan dendam padanya,” kata Ibu pada Rina.
            Setelah hari ulang tahunnya, tiga hari Gadis tidak datang ke sekolah. Rina menjadi heran. Dia bertanya pada teman-temannya. Dan kata salah satu temannya Gadis sedang sakit demam. Rina mengajak teman-temannya untuk menjenguk Gadis, tapi mereka tidak mau.
            Maka Rina memberanikan diri untuk menjenguk Gadis. Dia datang seorang diri. Sampai di rumah  Gadis, Ibu Gadis menerimanya dengan baik. Lalu menyuruh Rina untuk menemui Gadis di kamarnya.
            Gadis sangat terkejut melihat Rina datang ke rumahnya. “Bagaimana keadaanmu, Dis?” tanya Rina.
            “Aku sudah cukup sehat,” jawab Gadis. Tak lama Gadis menangis sesenggukan.
            “Lho, kamu kenapa, Dis? Apa yang kamu rasakan? Mananya yang sakit?” tanya Rina bertubi-tubi.
            “Tidak apa-apa Rin. Tidak ada yang sakit. Aku merasa menyesal. Aku tidak menyangka kamulah orang pertama yang menjengukku. Padahal aku selalu bersikap tidak baik padamu. Maafkan aku Rin,” ucap Gadis menyesal.
            “Tidak apa-apa Dis. Aku sudah memaafkanmu sebelum kamu meminta maaf. Yang terpenting saat ini kamu harus kembali sehat. Biar kita bisa berkumpul lagi di sekolah,” kata Rina tersenyum.
            Sejak hari itu, Gadis sadar akan semua kesalahannya. Dia tidak lagi mengejek Rina. Dan mulai berteman dekat dengan Rina.

Rumah Cerita, 24 Januari 2012
(Cerpen anak ini telah dimuat di Rubrik Taman Riang Analisa, 26 Februari 2012)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar