Ketulusan Hati Rina
Oleh: Tanita Liasna
Di kelas lima, ada seorang anak perempuan bernama
Rina. Dia anak yang baik hati, ramah, sopan, dan juga pintar. Setiap pembagian
raport dia selalu mendapatkan peringkat pertama. Semua guru di sekolahnya
sangat menyayangi Rina. Bukan hanya karena kepintaran dan kesopanannya, tapi
juga karena sikapnya yang mengerti kesusahan orang tuanya.
Di
kelas Rina, ada juga seorang anak perempuan bernama Gadis. Gadis anak yang
cantik dan pintar. Hanya saja dia sombong dan selalu ingin menang sendiri.
Karena di rumah dia terlalu dimanjakan oleh orang tuanya.
Di
sekolah, Gadis selalu memusuhi Rina. Dia kesal karena selalu kalah jika adu
kepintaran dengan Rina. Gadis suka mengejek Rina dan melarang teman-temannya
untuk bermain dengan Rina.
“Rina,
kau bawa bekal apa hari ini?” tanya Gadis menghampiri Rina.
“Aku
bawa nasi dengan sambal tempe,” jawab Rina.
“Kulihat
kau selalu bawa bekal yang itu-itu saja. Apa Ibumu tidak bisa masak yang lain?”
tanya Gadis sambil tertawa.
Rina
tak menjawab pertanyaan Gadis. Lalu seakan tidak puas, Gadis berteriak
memanggil teman-temannya.
“Woi,
sinilah! Kalian lihat bekal Rina,” kata Gadis.
Semua
mata teman-temannya menatap ke arah tempat bekal Rina.
“Ibu
Rina tidak bisa masak yang lain, makanya dia makan sambal tempe tiap hari,”
kata Gadis. Dia tertawa terbahak-bahak diikuti teman-teman yang lain.
Rina
membisu. Dia tidak mau melawan kata-kata Gadis. Dia mencoba untuk sabar. Dia
hanya berharap suatu saat Gadis akan berubah.
Lonceng
berbunyi menandakan istirahat telah usai. Tak lama kemudian, Bu Annisa kepala
sekolah mereka masuk untuk mengumumkan sesuatu.
“Selamat
siang Anak-anak,” sapa Bu Annisa.
“Siang
Bu,” jawab mereka serentak.
“Minggu
depan sekolah kita diundang untuk mengikuti perlombaan mata pelajaran tingkat
kecamatan. Dan ada dua kandidat yang dicalonkan dari kelas ini, yaitu Rina dan
Gadis. Tapi hanya salah satu dari mereka yang akan ikut lomba mewakili sekolah
kita,” jelas Bu Annisa yang disambut riuh tepuh tangan dari murid-muridnya.
“Nanti,
pukul dua siang Rina dan Gadis diharap hadir untuk mengikuti penyeleksian,”
kata Bu Annisa. Rina dan Gadis mengiayakan dengan anggukan.
Pukul
dua siang Rina dan Gadis sudah berada di sekolah. Mereka lalu masuk ke dalam
kelas dan diberikan kertas soal untuk mereka jawab. Setelah hampir dua jam,
hasil pekerjaan mereka pun selesai. Dan tak lama Bu Annisa mengumumkan bahwa
Rinalah yang berhak mewakili sekolah mereka di perlombaan mata pelajaran
tingkat kecamatan.
Sejak
saat itu Gadis semakin bersikap tidak baik terhadap Rina. Dia semakin sering
mengejek Rina dan memaksa teman-temannya untuk tidak bergaul dengan Rina.
Lonceng
istirahat berbunyi. Tiba-tiba Gadis berdiri di depan kelas. “Teman-teman,
kalian dengar ya, aku ada pengumuman buat kalian,” kata Gadis.
Teman-temannya
tidak jadi keluar. Begitu juga Rina. Lalu Gadis melanjutkan kata-katanya.
“Kalian dengar ya. Besok aku ulang tahun. Jadi aku undang kalian semua datang
ke rumahku sepulang sekolah,” ucap Gadis. “Eh, kecuali kamu ya Rin. Aku tidak
suka ada anak tukang pecal keliling datang ke acara ulang tahunku, ucap Gadis
dengan sombong.
Rina
menunduk. Air mata membasahi kedua pipinya. Di perjalanan pulang dari sekolah, ucapan Gadis masih terngiang di
telinga Rina.
Sampai
di rumah, Rina makan lalu membantu Ibunya menyiapkan dagangan. Wajah Rina yang
muram membuat Ibunya heran dan bertanya-tanya dalam hati.
“Rina,
kamu kenapa Nak?” tanya Ibunya.
Rina
hanya menggeleng. Air matanya menetes deras. Dia lalu memeluk Ibunya. Ibu Rina
semakin heran melihat ulah Rina.
“Kamu
cerita sama Ibu, kamu kenapa?” tanya Ibu sembari mengelus rambut Rina.
“Ada
teman Rina Bu, namanya Gadis. Dia jahat sama Rina. Suka mengejek dan memaksa
teman-teman untuk tidak berteman dengan Rina. Tadi dia mengundang teman sekelas
untuk datang ke ulang tahunnya besok, tapi Rina tidak diundang Bu. Katanya dia
tidak mau ulang tahunnya didatangi sama anak penjual pecal,” jelas Rina sambil
menangis.
“Sayang,
kamu yang sabar ya. Kita doakan saja semoga Gadis bisa sadar. Yang penting kamu
jangan dendam padanya,” kata Ibu pada Rina.
Setelah
hari ulang tahunnya, tiga hari Gadis tidak datang ke sekolah. Rina menjadi
heran. Dia bertanya pada teman-temannya. Dan kata salah satu temannya Gadis
sedang sakit demam. Rina mengajak teman-temannya untuk menjenguk Gadis, tapi
mereka tidak mau.
Maka
Rina memberanikan diri untuk menjenguk Gadis. Dia datang seorang diri. Sampai
di rumah Gadis, Ibu Gadis menerimanya
dengan baik. Lalu menyuruh Rina untuk menemui Gadis di kamarnya.
Gadis
sangat terkejut melihat Rina datang ke rumahnya. “Bagaimana keadaanmu, Dis?”
tanya Rina.
“Aku
sudah cukup sehat,” jawab Gadis. Tak lama Gadis menangis sesenggukan.
“Lho,
kamu kenapa, Dis? Apa yang kamu rasakan? Mananya yang sakit?” tanya Rina
bertubi-tubi.
“Tidak
apa-apa Rin. Tidak ada yang sakit. Aku merasa menyesal. Aku tidak menyangka
kamulah orang pertama yang menjengukku. Padahal aku selalu bersikap tidak baik
padamu. Maafkan aku Rin,” ucap Gadis menyesal.
“Tidak
apa-apa Dis. Aku sudah memaafkanmu sebelum kamu meminta maaf. Yang terpenting
saat ini kamu harus kembali sehat. Biar kita bisa berkumpul lagi di sekolah,”
kata Rina tersenyum.
Sejak
hari itu, Gadis sadar akan semua kesalahannya. Dia tidak lagi mengejek Rina.
Dan mulai berteman dekat dengan Rina.
Rumah
Cerita, 24 Januari 2012
(Cerpen anak ini telah dimuat di Rubrik Taman Riang Analisa, 26 Februari
2012)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar