Win
Oleh: Tanita Liasna
Malam
kian memangku sunyi. Bulan tersenyum riang menyambangi langit. Bintang
berserak. Membentuk formasi di langit. Namun, suasana hatiku tak seindah langit
malam. Aku masih merenung di bawah pohon besar. Mengingat segala luka yang baru
saja terjadi semalam siang.
Berkeping
kata tak lagi mampu kujabarkan pada Dina. Wanita yang telah menemaniku hampir
tiga tahun lamanya telah menyerahkan dirinya pada lelaki lain.
“Ke
dalam saja Bang,” ujar Dina pelan ketika membukakan pintu rumahnya.
“Siapa
yang menghamilimu?” ujarku dingin. “Aku mencintaimu, Na. Aku selalu bertahan.
Berupaya memahami segala tingkahmu. Selalu memahami semua kemauanmu,” ujarku
lagi.
Dina
tertunduk. Kulihat ada bulir bening jatuh di kedua pipi halusnya.
“Semoga
kau bahagia. Belajarlah menjadi lebih baik,” ujarku dengan suara parau.
Sebatang
ranting tua jauh mengenai punggung tanganku. Menyadarkanku dari lamunan luka
itu. Kutengadahkan pandangan ke langit. Bulan masih menggantung. Malam semakin
tua.
Kuarahkan
mataku ke sekeliling. Hampir sebagian besar warung dan toko di sekitar tanah
lapang telah tutup. Taman remaja di depan mataku hanya menyisakan cahaya lampu.
Biasanya, dari mulai pukul enam sore hingga pukul sepuluh malam, tempat itu
ramai dikunjungi muda-mudi. Ada yang berpose ria. Berjalan mengelilingi taman.
Ada pula yang duduk santai menikmati segala makanan yang dijual di sekitar
taman.
“Perempuan
itu,” ujarku dengan diriku sendiri. Kuhela nafas sedalam mungkin. Lebih baik
aku pulang. Untuk apa aku di sini berjam-jam melamun. Merutuk diri karena
perbuatan wanita yang sama sekali tak pernah memikirkanku, gumamku dalam hati.
Namun
ketika aku bersiap untuk bangun dari duduk panjangku, tiba-tiba ada sebuah
suara dari belakang yang membuatku bergidik takut.
“Eh,
mau kemana Bang. Eke baru nyampek. Kok Abang malah mau pergi,” ujar suara itu.
Kutolehkan
pandanganku ke arah suara itu berasal. Tuhan, kulihat makluk yang aku sendiri
tak bisa membedakan apakah dia perempuan ataukah mungkin laki-laki.
“Bang,
kok diem aja. Tersepona ya liat kecantikan eke,” ujarnya lagi sembari menyentuh
pundakku.
“Eh
maaf. Jangan pegang-pegang,” sahutku bersiap melarikan diri.
“Ayo
dong Bang. Ada masalah ya. Cerita sama eke,” ucapnya lagi. Kini ia berani
memegang tanganku.
“Awas!
Jangan pegang-pegang. Aku mau pulang,” sahutku mengenyahkan tangannya dari
tanganku.
Dari
tadi aku sudah berusaha jauh dari kata galak. Tapi dia mengganggu. Mendekat
terus. Memegang pula. Aku sungguh tidak suka. Sebenarnya melihat makhluk Tuhan
yang satu ini memang aku sungguh tidak suka. Tapi lebih pada kasihan. Mengapa
mereka menyalahi kodrat yang ada.
Bergegas
kuberjalan ke arah tempatku memarkirkan kereta. Lelaki setengah wanita itu
terus mengikutiku
“Mau
jalan-jalan ya Bang?” tanyanya lagi.
Aku
diam. Mukaku bersungut.
“Ih,
Si Abang kalo marah ngegemesin deh,” ujarnya lagi dengan memegang tanganku yang
berada di setang kereta.
“Eh,
kau bisa kukasi tau tidak? Jangan ganggu. Awas kau!” sahutku dengan wajah
memerah.
“Bang,
jangan kasar kali jadi laki-laki,” ujar sebuah suara dari belakang.
Kulihat
ke belakang, sesosok tubuh tegap dengan raut wajah sedikit tembam. Matanya
bulat. Dengan hidung mancung seadanya. Bibirnya tak terlalu tebal terpoles
lipstik merah membara. Rambutnya tergerai hingga ke pundak. Berwarna sedikit
memerah.
“Maaf.
Temanmu yang mengganggu,” ujarku.
Dia
tak menjawab. Ada binar berbeda yang kulihat di matanya. “Kau Aris kan?”
tanyanya dengan suara senang.
Aku
masih diam. Heran. Kenapa pula dia bisa mengenalku, bathinku.
“Kau
Aris kan? Bener kau Aris kan?” tanyanya sambil memelukku.
Aku
tak bisa menjawab. Badanku telah terkungkung dalam pelukan lelaki tegap
tersebut. Aku mencoba meronta. Tetap menyeimbangkan diri agar tak jatuh dari
kereta. Bertanya siapa dia dengan suara mencicit.
“Kau
lupa aku Ris?” tanyanya melepaskan pelukan.
Aku
hanya manggut-manggut seperti orang-orangan sawah.
“Aku
Win. Erwin. Kawan SMP mu. Kau tak ingat aku?” tanyanya lagi.
Aku
mencoba menguak potret kenangan dalam memori otakku. Muncullah sebuah wajah
yang tak berbeda dengan wajah lelaki setengah perempuan di depanku ini. Hanya
berbeda pada rambut dan gempal tubuh saja.
“Kau
Erwin?” tanyaku tak percaya.
“Ya
Ris. Aku Erwin. Ini kalau nggak percaya,” jawabnya lagi dengan nada yang lebih
semangat.
Tangannya lalu berkutat di dalam tas
kecil berwarna merah yang semenjak tadi dipegangnya. Tak lama Win mengeluarkan
tisu. Lalu melap segala macam perias yang membubuh di kulit wajahnya. Kemudian
menarik rambut buatan yang melekat di kepalanya.
“Sekarang jelas kan? Aku Win. Kawan
SMP mu,” ujarnya lagi.
Aku masih urung percaya. Kutatap
lamat-lamat wajah lelaki itu. Berantakan oleh warna merah, ungu, dan hitam.
Rambut cepak. Ya Allah, dia benar Win.
Tak
lama berselang, Win mengajakku duduk di trotoar yang memagari tanah lapang.
Duduk bersisian. Menghadap ke jalan yang cukup jauh di depan kami.
“Kau
kenapa jadi gini Win?” tanyaku sembari menatap wajahnya.
Dia
tak menjawab. Hanya menatap wajahku. Menghela nafas sepanjang yang ia bisa.
Menatap kembali ke arah jalan yang lengang.
“Kau
ingat Ris, apa yang menyebabkan aku harus pindah dan tak lagi melanjutkan
sekolah?” tanyanya padaku.
“Ya.
Kebakaran itu Win,” sahutku.
“Sejak
kebakaran yang merenggut semua anggota keluargaku. Ya beginilah aku,” ujarnya
pelan.
“Seingatku
sebelum pindah waktu itu, Ibumu selamat kan Win?” tanyaku lagi.
“Sebelumnya
memang aku dan Ibu selamat dari kebakaran itu. Lukaku ringan. Hanya luka bakar
di paha saja. Tetapi luka Ibuku terlalu parah, Win. Aku berupaya sekuat tenaga.
Menghabiskan seluruh uang yang tersisa. Awalnya Ibu terlihat sudah cukup
membaik. Tetapi tiba-tiba entah virus apa yang menggerogoti kulitnya yang belum
sembuh benar. Aku kalang kabut waktu itu. Biaya rumah sakit hampir tiga bulan
menguras seluruh yang kami punya. Ditambah lagi biaya hidupku. Hingga akhirnya
aku mencoba mencari pekerjaan. Tapi dunia tak selalu mau berpihak. Aku yang
hanya tamat SD, tak diterima bekerja dimana pun. Pernah aku mencoba menjadi
kuli. Tapi selalu saja aku habis dipukuli oleh kuli yang lain. mereka bilang
aku mengambil jatah mereka. Aku tak mengerti. Sungguh. Sampai akhirnya ada
seseorang yang membawaku bekerja seperti ini. Demi Ibu aku lakukan,” jelas Win
dengan wajah begitu terluka.
“Lalu?”
tanyaku lagi.
“Setengah
mati aku mencari uang untuk menebus obat Ibu. Bekerja seperti ini. Tak banyak
yang kuhasilkan. Berbulan-bulan. Tapi lumayan Ris. Aku bisa membeli obat
perhari untuk Ibu. Tapi waktu mengambil Ibu dariku. Ibu meninggal. Aku
sendirian,” ujarnya mulai sesenggukan.
“Sabarlah
Win,” ucapku menepuk-nepuk pundaknya.
Dia
terus menangis. Suaranya merintih. Memecah keheningan malam. Pikiranku kembali
merajut kisah-kisah lama. Bagaimana mungkin, Win teman dekatku. Yang hidup
serba mewah. Walau dulu gempal, wajahnya masih terlihat tampan. Ayah dan ibunya
sangat penyayang padanya. Dia juga sangat pintar. Kuingat senyum riangnya
setiap kali berdiri di halaman sekolah ketika menjadi juara umum.
Ah,
bagaimana mungkin. Yang sedang merintih ini adalah Win. Win anak orang paling
kaya di kampungku. Ya, tak ada satu manusia pun yang mampu membaca takdir.
“Win,
maukah kau berhenti dari dunia semacam ini?” tanyaku pelan namun tegas.
Win menatapku lekat. Disekanya air
mata yang membasahi kedua pipinya. Tapi ia tak menjawab. Seakan masih sibuk
dengan hiruk-pikuk luka yang baru saja terkuak kembali.
“Ibuku
buka tempat rental dan fotokopi. Kecil-kecilan sih. Tapi kau bisa bekerja di
sana,” ujarku lagi.
“Nggak
Win. Nanti aku malah buat susah,” jawabnya.
“Hei,
ayolah Win. Kita kawan lama. Mana kau yang gempal, keras kepala, dan pintar
itu. Aku yakin kau akan membantuku. Bukan malah menyusahkan,” sahutku
memberinya semangat.
Win
berpikir sejenak, sebelum mengiayakan ajakanku. Lalu kami bertukar nomor
ponsel.
“Makasih ya Ris,” ujarnya ketika
mengantarku ke tempatku memarkirkan kereta.
“Sip.
Besok sore ketemu di sini ya. Kubawa kau ke rumahku,” ucapku.
“Ya,”
sahut Win mantab.
Keretaku
meluncur. Meninggalkan Win. Membelah lengang jalanan. Sepi. Dingin menusuk
tanganku yang sebagian tak tertutup pakaian. Win kembali muncul di pikiranku.
Betapa kejam takdir. Aku merasa paling menderita, hanya karena kehilangan
seorang wanita yang mengkhianatiku. Tapi Win, masih bisa tersenyum walau dia
telah kehilangan segalanya. Oh Win, betapa malang takdir itu bagimu.
Rumah
Cerita, 19-26 Desember 2012
(Cerpen ini telah dimuat di Rubrik Art & Culture Medan Bisnis, 14 April
2013)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar