3 Mei 2013

Win



Win
Oleh: Tanita Liasna

            Malam kian memangku sunyi. Bulan tersenyum riang menyambangi langit. Bintang berserak. Membentuk formasi di langit. Namun, suasana hatiku tak seindah langit malam. Aku masih merenung di bawah pohon besar. Mengingat segala luka yang baru saja terjadi semalam siang.
            Berkeping kata tak lagi mampu kujabarkan pada Dina. Wanita yang telah menemaniku hampir tiga tahun lamanya telah menyerahkan dirinya pada lelaki lain.
            “Ke dalam saja Bang,” ujar Dina pelan ketika membukakan pintu rumahnya.
            “Siapa yang menghamilimu?” ujarku dingin. “Aku mencintaimu, Na. Aku selalu bertahan. Berupaya memahami segala tingkahmu. Selalu memahami semua kemauanmu,” ujarku lagi.
            Dina tertunduk. Kulihat ada bulir bening jatuh di kedua pipi halusnya.
            “Semoga kau bahagia. Belajarlah menjadi lebih baik,” ujarku dengan suara parau.
            Sebatang ranting tua jauh mengenai punggung tanganku. Menyadarkanku dari lamunan luka itu. Kutengadahkan pandangan ke langit. Bulan masih menggantung. Malam semakin tua.
            Kuarahkan mataku ke sekeliling. Hampir sebagian besar warung dan toko di sekitar tanah lapang telah tutup. Taman remaja di depan mataku hanya menyisakan cahaya lampu. Biasanya, dari mulai pukul enam sore hingga pukul sepuluh malam, tempat itu ramai dikunjungi muda-mudi. Ada yang berpose ria. Berjalan mengelilingi taman. Ada pula yang duduk santai menikmati segala makanan yang dijual di sekitar taman.
            “Perempuan itu,” ujarku dengan diriku sendiri. Kuhela nafas sedalam mungkin. Lebih baik aku pulang. Untuk apa aku di sini berjam-jam melamun. Merutuk diri karena perbuatan wanita yang sama sekali tak pernah memikirkanku, gumamku dalam hati.
            Namun ketika aku bersiap untuk bangun dari duduk panjangku, tiba-tiba ada sebuah suara dari belakang yang membuatku bergidik takut.
            “Eh, mau kemana Bang. Eke baru nyampek. Kok Abang malah mau pergi,” ujar suara itu.
            Kutolehkan pandanganku ke arah suara itu berasal. Tuhan, kulihat makluk yang aku sendiri tak bisa membedakan apakah dia perempuan ataukah mungkin laki-laki.
            “Bang, kok diem aja. Tersepona ya liat kecantikan eke,” ujarnya lagi sembari menyentuh pundakku.
            “Eh maaf. Jangan pegang-pegang,” sahutku bersiap melarikan diri.
            “Ayo dong Bang. Ada masalah ya. Cerita sama eke,” ucapnya lagi. Kini ia berani memegang tanganku.
            “Awas! Jangan pegang-pegang. Aku mau pulang,” sahutku mengenyahkan tangannya dari tanganku.
            Dari tadi aku sudah berusaha jauh dari kata galak. Tapi dia mengganggu. Mendekat terus. Memegang pula. Aku sungguh tidak suka. Sebenarnya melihat makhluk Tuhan yang satu ini memang aku sungguh tidak suka. Tapi lebih pada kasihan. Mengapa mereka menyalahi kodrat yang ada.
            Bergegas kuberjalan ke arah tempatku memarkirkan kereta. Lelaki setengah wanita itu terus mengikutiku
            “Mau jalan-jalan ya Bang?” tanyanya lagi.
            Aku diam. Mukaku bersungut.
            “Ih, Si Abang kalo marah ngegemesin deh,” ujarnya lagi dengan memegang tanganku yang berada di setang kereta.
            “Eh, kau bisa kukasi tau tidak? Jangan ganggu. Awas kau!” sahutku dengan wajah memerah.
            “Bang, jangan kasar kali jadi laki-laki,” ujar sebuah suara dari belakang.
            Kulihat ke belakang, sesosok tubuh tegap dengan raut wajah sedikit tembam. Matanya bulat. Dengan hidung mancung seadanya. Bibirnya tak terlalu tebal terpoles lipstik merah membara. Rambutnya tergerai hingga ke pundak. Berwarna sedikit memerah.
            “Maaf. Temanmu yang mengganggu,” ujarku.
            Dia tak menjawab. Ada binar berbeda yang kulihat di matanya. “Kau Aris kan?” tanyanya dengan suara senang.
            Aku masih diam. Heran. Kenapa pula dia bisa mengenalku, bathinku.
            “Kau Aris kan? Bener kau Aris kan?” tanyanya sambil memelukku.
            Aku tak bisa menjawab. Badanku telah terkungkung dalam pelukan lelaki tegap tersebut. Aku mencoba meronta. Tetap menyeimbangkan diri agar tak jatuh dari kereta. Bertanya siapa dia dengan suara mencicit.
            “Kau lupa aku Ris?” tanyanya melepaskan pelukan.
            Aku hanya manggut-manggut seperti orang-orangan sawah.
            “Aku Win. Erwin. Kawan SMP mu. Kau tak ingat aku?” tanyanya lagi.
            Aku mencoba menguak potret kenangan dalam memori otakku. Muncullah sebuah wajah yang tak berbeda dengan wajah lelaki setengah perempuan di depanku ini. Hanya berbeda pada rambut dan gempal tubuh saja.
            “Kau Erwin?” tanyaku tak percaya.
            “Ya Ris. Aku Erwin. Ini kalau nggak percaya,” jawabnya lagi dengan nada yang lebih semangat.
Tangannya lalu berkutat di dalam tas kecil berwarna merah yang semenjak tadi dipegangnya. Tak lama Win mengeluarkan tisu. Lalu melap segala macam perias yang membubuh di kulit wajahnya. Kemudian menarik rambut buatan yang melekat di kepalanya.
“Sekarang jelas kan? Aku Win. Kawan SMP mu,” ujarnya lagi.
Aku masih urung percaya. Kutatap lamat-lamat wajah lelaki itu. Berantakan oleh warna merah, ungu, dan hitam. Rambut cepak. Ya Allah, dia benar Win.
            Tak lama berselang, Win mengajakku duduk di trotoar yang memagari tanah lapang. Duduk bersisian. Menghadap ke jalan yang cukup jauh di depan kami.
            “Kau kenapa jadi gini Win?” tanyaku sembari menatap wajahnya.
            Dia tak menjawab. Hanya menatap wajahku. Menghela nafas sepanjang yang ia bisa. Menatap kembali ke arah jalan yang lengang.
            “Kau ingat Ris, apa yang menyebabkan aku harus pindah dan tak lagi melanjutkan sekolah?” tanyanya padaku.
            “Ya. Kebakaran itu Win,” sahutku.
            “Sejak kebakaran yang merenggut semua anggota keluargaku. Ya beginilah aku,” ujarnya pelan.
            “Seingatku sebelum pindah waktu itu, Ibumu selamat kan Win?” tanyaku lagi.
            “Sebelumnya memang aku dan Ibu selamat dari kebakaran itu. Lukaku ringan. Hanya luka bakar di paha saja. Tetapi luka Ibuku terlalu parah, Win. Aku berupaya sekuat tenaga. Menghabiskan seluruh uang yang tersisa. Awalnya Ibu terlihat sudah cukup membaik. Tetapi tiba-tiba entah virus apa yang menggerogoti kulitnya yang belum sembuh benar. Aku kalang kabut waktu itu. Biaya rumah sakit hampir tiga bulan menguras seluruh yang kami punya. Ditambah lagi biaya hidupku. Hingga akhirnya aku mencoba mencari pekerjaan. Tapi dunia tak selalu mau berpihak. Aku yang hanya tamat SD, tak diterima bekerja dimana pun. Pernah aku mencoba menjadi kuli. Tapi selalu saja aku habis dipukuli oleh kuli yang lain. mereka bilang aku mengambil jatah mereka. Aku tak mengerti. Sungguh. Sampai akhirnya ada seseorang yang membawaku bekerja seperti ini. Demi Ibu aku lakukan,” jelas Win dengan wajah begitu terluka.
            “Lalu?” tanyaku lagi.
            “Setengah mati aku mencari uang untuk menebus obat Ibu. Bekerja seperti ini. Tak banyak yang kuhasilkan. Berbulan-bulan. Tapi lumayan Ris. Aku bisa membeli obat perhari untuk Ibu. Tapi waktu mengambil Ibu dariku. Ibu meninggal. Aku sendirian,” ujarnya mulai sesenggukan.
            “Sabarlah Win,” ucapku menepuk-nepuk pundaknya.
            Dia terus menangis. Suaranya merintih. Memecah keheningan malam. Pikiranku kembali merajut kisah-kisah lama. Bagaimana mungkin, Win teman dekatku. Yang hidup serba mewah. Walau dulu gempal, wajahnya masih terlihat tampan. Ayah dan ibunya sangat penyayang padanya. Dia juga sangat pintar. Kuingat senyum riangnya setiap kali berdiri di halaman sekolah ketika menjadi juara umum.
            Ah, bagaimana mungkin. Yang sedang merintih ini adalah Win. Win anak orang paling kaya di kampungku. Ya, tak ada satu manusia pun yang mampu membaca takdir.
            “Win, maukah kau berhenti dari dunia semacam ini?” tanyaku pelan namun tegas.
Win menatapku lekat. Disekanya air mata yang membasahi kedua pipinya. Tapi ia tak menjawab. Seakan masih sibuk dengan hiruk-pikuk luka yang baru saja terkuak kembali.
            “Ibuku buka tempat rental dan fotokopi. Kecil-kecilan sih. Tapi kau bisa bekerja di sana,” ujarku lagi.
            “Nggak Win. Nanti aku malah buat susah,” jawabnya.
            “Hei, ayolah Win. Kita kawan lama. Mana kau yang gempal, keras kepala, dan pintar itu. Aku yakin kau akan membantuku. Bukan malah menyusahkan,” sahutku memberinya semangat.
            Win berpikir sejenak, sebelum mengiayakan ajakanku. Lalu kami bertukar nomor ponsel.
“Makasih ya Ris,” ujarnya ketika mengantarku ke tempatku memarkirkan kereta.
            “Sip. Besok sore ketemu di sini ya. Kubawa kau ke rumahku,” ucapku.
            “Ya,” sahut Win mantab.
            Keretaku meluncur. Meninggalkan Win. Membelah lengang jalanan. Sepi. Dingin menusuk tanganku yang sebagian tak tertutup pakaian. Win kembali muncul di pikiranku. Betapa kejam takdir. Aku merasa paling menderita, hanya karena kehilangan seorang wanita yang mengkhianatiku. Tapi Win, masih bisa tersenyum walau dia telah kehilangan segalanya. Oh Win, betapa malang takdir itu bagimu.

Rumah Cerita, 19-26 Desember 2012

(Cerpen ini telah dimuat di Rubrik Art & Culture Medan Bisnis, 14 April 2013)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar