3 Mei 2013

Belajar dari Doni



Belajar dari Doni
Oleh: Tanita Liasna
            Agung sampai di rumah sekitar pukul satu siang. Jarak antara sekolah dan rumahnya cukup dekat. Seperti biasa Agung pulang dengan Doni, teman sekelasnya. Rumah Agung bersebelahan dengan Doni. Mereka selalu pergi dan pulang sekolah bersama.
            Agung dan Doni bersahabat. Kegemaran mereka sama, yaitu bermain bola. Hobi malas makan mereka juga sama. Sepulang sekolah, setelah berganti pakaian Agung tidak  langsung makan siang. Dia malah duduk di teras, menunggu kedatangan Doni. Setelah itu mereka akan bersama-sama pergi ke lapangan untuk bermain bola.
Begitulah kebiasaan Agung dan Doni setiap hari. Setiap pulang sekolah mereka tidak mau makan siang. Pagi hari pun mereka tidak mau disuruh sarapan. Setiap disuruh makan ada saja alasan mereka. Kadang mengatakan sayurnya tidak enak, ikannya tidak enak, atau mengatakan sudah kenyang jajan di sekolah. Sedangkan malam hari mereka mau makan, jika dengan lauk telur mata sapi atau mi instan.
Kebiasaan mereka membuat Ibu dan Ayah mereka bingung. Kedua orang tua Agung dan Doni berusaha menasihati mereka. Bahkan Kakak Agung sudah berupaya menunjukkan pada mereka sebuah buku yang menjelaskan dampak negatif dari sifat mereka  yang malas makan. Tapi mereka tidak mau mendengar.
Pagi itu Agung menunggu Doni untuk berangkat sekolah bersama. Tapi Doni tidak keluar dari rumahnya. Agung pun mendatangi rumah Doni.
“Assalamualaikum,” ucap Agung di depan pintu.
“Waalaikumsalam,” ucap seseorang dari dalam rumah.
“Doni mana Bik,” tanya Agung pada pembantu di rumah Doni.
“Oh, Agung tidak tahu ya Doni masuk rumah sakit tadi malam. Perutnya sakit. Coba tanya Ibu kamu. Semalam Ibu kamu ikut mengantar. Mungkin kamu sudah tidur makanya tidak tahu,” jelas Bik Inah pada Agung.
“Terimakasih ya Bik,” ucap Agung sambil beranjak pergi.
Agung kembali ke rumah. Lalu bertanya kepada Ibu perihal Doni yang dirawat di rumah sakit. Ibu membenarkan kabar yang didengar Agung dari pembantu Doni.
Lonceng berbunyi pertanda pelajaran akan segera dimulai. Setelah pelajaran pertama usai, guru kelas Agung menyampaikan sebuah pengumuman. “Perhatian semuanya,” kata Pak Salman.
“Ada berita duka datang dari teman kalian Doni. Tadi pagi Bapak mendengar kabar dari orang tua Doni bahwa sekarang Doni sedang dirawat di rumah sakit,” jelas Pak Salman di depan kelas.
“Jadi, siang nanti sepulang sekolah Bapak mengajak kalian untuk menjenguk Doni di rumah sakit Djolham Binjai. Bagaimana, kalian mau?” tanya Pak Salman meminta persetujuan murid-muridnya.
“Mau Pak,” ucap anak-anak serentak.
Sepulang sekolah Agung dan teman-temannya menjenguk Doni di rumah sakit. Doni kelihatan pucat dan lemas. Agung sangat sedih melihat keadaan Doni.
“Apa yang menyebabkan kamu masuk rumah sakita, Don?” tanya Pak Salman.
“Kata dokter saya sakit asam lambung, Pak. Karena malas makan,” kata Doni dengan suara hampir tak terdengar.
“Makanya kalian jangan malas makan seperti Doni ya,” kata Pak Salman kepada murid-muridnya.
Setelah menjenguk Doni semua anak-anak pulang ke rumah. Di perjalanan Agung terus memikirkan penyakit yang diderita Doni.
Sampai di rumah Ibu sudah menunggu Agung di depan pintu. “Dari mana Gung?” tanya Ibu pada Agung.
“Rumah sakit, Bu. Menjenguk Doni,” jawab Agung lalu masuk ke kamar.
Setelah ganti pakaian, Agung menemui Ibu yang sedang menanam bunga. Ibu Agung sangat suka menanam bunga. Segala jenis bunga tumbuh subur di halaman rumahnya.
“Bu,” panggil Agung.
“Ya Sayang, ada apa?” tanya Ibu sambil terus menanam bunga.
“Sakit asam lambung itu terjadi karena apa, Bu?” tanya Agung.
“Asam lambung itu biasanya terjadi karena si penderita  malas makan,” jawab Ibu.
“Kenapa Sayang, kok tanya soal itu sama Ibu?” tanya Ibu.
“Tidak apa-apa Bu,” jawab Agung. Dia lalu pergi ke teras. Duduk di sana.
“Gung, kamu udah makan?” tanya Ibu.
Agung tak menjawab, hanya menggeleng.
“Makan Sayang,” kata Ibu.
Dia hanya tersenyum. Lalu masuk ke dalam rumah. Ibu heran melihat sikap Agung.
Malamnya Agung memakan apa yang dimasak oleh Ibunya. Mengambil nasi dan lauk pauk tanpa disuruh. Padahal biasanya disuruh saja Agung sulit untuk makan.
Besok paginya pun Agung memakan sarapan yang dibuat oleh Ibunya. Begitu seterusnya selama seminggu penuh, Agung sarapan, makan siang, dan malam tanpa disuruh. Dan tak ada sama sekali keluhan yang keluar dari mulutnya.
Semua ulah Agung tentu saja membuat Ayah, Ibu, dan Kakaknya heran. Hanya Ibu yang hampir bisa menebak apa penyebab Agung mengalami perubahan seperti itu.
“Bu, kira-kira Agung kenapa ya, kok dia sekarang tidak malas makan lagi?” tanya Ayah pada Ibu.
“Coba Ayah tanya. Ibu rasa karena Doni,” jawab Ibu.
Ketika sedang makan malam bersama, Ayah bertanya tentang perubahan Agung. Agung mengatakan dia takut sakit seperti Doni. Makanya sejak itu dia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak malas makan lagi agar tidak sakit seperti Doni.

Rumah Cerita, 24 Januari 2012

(Cerpen anak ini telah dimuat di Rubrik Taman Riang Analisa, 12 Februari 2012)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar