Belajar dari Doni
Oleh: Tanita Liasna
Agung
sampai di rumah sekitar pukul satu siang. Jarak antara sekolah dan rumahnya
cukup dekat. Seperti biasa Agung pulang dengan Doni, teman sekelasnya. Rumah
Agung bersebelahan dengan Doni. Mereka selalu pergi dan pulang sekolah bersama.
Agung
dan Doni bersahabat. Kegemaran mereka sama, yaitu bermain bola. Hobi malas
makan mereka juga sama. Sepulang sekolah, setelah berganti pakaian Agung tidak langsung makan siang. Dia malah duduk di
teras, menunggu kedatangan Doni. Setelah itu mereka akan bersama-sama pergi ke
lapangan untuk bermain bola.
Begitulah kebiasaan Agung dan Doni
setiap hari. Setiap pulang sekolah mereka tidak mau makan siang. Pagi hari pun mereka
tidak mau disuruh sarapan. Setiap disuruh makan ada saja alasan mereka. Kadang
mengatakan sayurnya tidak enak, ikannya tidak enak, atau mengatakan sudah
kenyang jajan di sekolah. Sedangkan malam hari mereka mau makan, jika dengan
lauk telur mata sapi atau mi instan.
Kebiasaan mereka membuat Ibu dan Ayah
mereka bingung. Kedua orang tua Agung dan Doni berusaha menasihati mereka. Bahkan
Kakak Agung sudah berupaya menunjukkan pada mereka sebuah buku yang menjelaskan
dampak negatif dari sifat mereka yang
malas makan. Tapi mereka tidak mau mendengar.
Pagi itu Agung menunggu Doni untuk
berangkat sekolah bersama. Tapi Doni tidak keluar dari rumahnya. Agung pun
mendatangi rumah Doni.
“Assalamualaikum,” ucap Agung di depan
pintu.
“Waalaikumsalam,” ucap seseorang dari
dalam rumah.
“Doni mana Bik,” tanya Agung pada
pembantu di rumah Doni.
“Oh, Agung tidak tahu ya Doni masuk
rumah sakit tadi malam. Perutnya sakit. Coba tanya Ibu kamu. Semalam Ibu kamu
ikut mengantar. Mungkin kamu sudah tidur makanya tidak tahu,” jelas Bik Inah
pada Agung.
“Terimakasih ya Bik,” ucap Agung
sambil beranjak pergi.
Agung kembali ke rumah. Lalu bertanya
kepada Ibu perihal Doni yang dirawat di rumah sakit. Ibu membenarkan kabar yang
didengar Agung dari pembantu Doni.
Lonceng berbunyi pertanda pelajaran
akan segera dimulai. Setelah pelajaran pertama usai, guru kelas Agung
menyampaikan sebuah pengumuman. “Perhatian semuanya,” kata Pak Salman.
“Ada berita duka datang dari teman
kalian Doni. Tadi pagi Bapak mendengar kabar dari orang tua Doni bahwa sekarang
Doni sedang dirawat di rumah sakit,” jelas Pak Salman di depan kelas.
“Jadi, siang nanti sepulang sekolah
Bapak mengajak kalian untuk menjenguk Doni di rumah sakit Djolham Binjai.
Bagaimana, kalian mau?” tanya Pak Salman meminta persetujuan murid-muridnya.
“Mau Pak,” ucap anak-anak serentak.
Sepulang sekolah Agung dan
teman-temannya menjenguk Doni di rumah sakit. Doni kelihatan pucat dan lemas. Agung
sangat sedih melihat keadaan Doni.
“Apa yang menyebabkan kamu masuk rumah
sakita, Don?” tanya Pak Salman.
“Kata dokter saya sakit asam lambung,
Pak. Karena malas makan,” kata Doni dengan suara hampir tak terdengar.
“Makanya kalian jangan malas makan
seperti Doni ya,” kata Pak Salman kepada murid-muridnya.
Setelah menjenguk Doni semua anak-anak
pulang ke rumah. Di perjalanan Agung terus memikirkan penyakit yang diderita Doni.
Sampai di rumah Ibu sudah menunggu
Agung di depan pintu. “Dari mana Gung?” tanya Ibu pada Agung.
“Rumah sakit, Bu. Menjenguk Doni,”
jawab Agung lalu masuk ke kamar.
Setelah ganti pakaian, Agung menemui
Ibu yang sedang menanam bunga. Ibu Agung sangat suka menanam bunga. Segala
jenis bunga tumbuh subur di halaman rumahnya.
“Bu,” panggil Agung.
“Ya Sayang, ada apa?” tanya Ibu sambil
terus menanam bunga.
“Sakit asam lambung itu terjadi karena
apa, Bu?” tanya Agung.
“Asam lambung itu biasanya terjadi
karena si penderita malas makan,” jawab
Ibu.
“Kenapa Sayang, kok tanya soal itu
sama Ibu?” tanya Ibu.
“Tidak apa-apa Bu,” jawab Agung. Dia
lalu pergi ke teras. Duduk di sana.
“Gung, kamu udah makan?” tanya Ibu.
Agung tak menjawab, hanya menggeleng.
“Makan Sayang,” kata Ibu.
Dia hanya tersenyum. Lalu masuk ke
dalam rumah. Ibu heran melihat sikap Agung.
Malamnya Agung memakan apa yang
dimasak oleh Ibunya. Mengambil nasi dan lauk pauk tanpa disuruh. Padahal
biasanya disuruh saja Agung sulit untuk makan.
Besok paginya pun Agung memakan
sarapan yang dibuat oleh Ibunya. Begitu seterusnya selama seminggu penuh, Agung
sarapan, makan siang, dan malam tanpa disuruh. Dan tak ada sama sekali keluhan
yang keluar dari mulutnya.
Semua ulah Agung tentu saja membuat
Ayah, Ibu, dan Kakaknya heran. Hanya Ibu yang hampir bisa menebak apa penyebab
Agung mengalami perubahan seperti itu.
“Bu, kira-kira Agung kenapa ya, kok
dia sekarang tidak malas makan lagi?” tanya Ayah pada Ibu.
“Coba Ayah tanya. Ibu rasa karena
Doni,” jawab Ibu.
Ketika sedang makan malam bersama,
Ayah bertanya tentang perubahan Agung. Agung mengatakan dia takut sakit seperti
Doni. Makanya sejak itu dia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak malas
makan lagi agar tidak sakit seperti Doni.
Rumah Cerita, 24 Januari 2012
(Cerpen anak ini telah dimuat di Rubrik Taman Riang Analisa, 12 Februari
2012)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar