3 Mei 2013

Rian dan Koran Bekas



Rian dan Koran Bekas
Oleh: Tanita Liasna

            Rian adalah seorang murid kelas lima sekolah dasar. Dia anak yang baik hati dan sopan. Rian juga sangat gemar membaca. Setiap pulang sekolah, Rian tak lupa singgah ke gudang kopi yang tak jauh dari rumahnya, untuk meminta koran bekas si pemilik gudang kopi. Dan si pemilik gudang kopi sangat senang melihat Rian yang gemar membaca.
“Kamu memang anak yang pintar Rian. Masih kecil sudah gemar membaca,” ujar si pemilik gudang kopi, ketika Rian meminta koran bekasnya.
“Terimakasih ya Pak,” ujar Rian sambil tersenyum menerima koran bekas yang diberikan oleh pemilik gudang kopi.
“Pasti Ayahmu sangat bangga punya anak seperti kamu,” ujar pemilik gudang kopi.
Si pemilik gudang kopi cukup kenal dengan ayah Rian. Karena ayah Rian adalah salah satu karyawan di gudang kopi milliknya.
Sekali lagi Rian tersenyum dan mengucapkan terimakasih.
Ketika keluar dari gerbang gudang kopi, Rian bertemu dengan Fandi dan Ardi, teman sekelasnya.
“Kamu ambil koran bekas ya Yan?” tanya Fandi.
“Ya,” jawab Rian tersenyum.
“Kamu seperti pemulung. Suka sekali sama koran bekas,” celetuk Ardi.
“Membaca koran ini asyik. Kalian saja yang tidak tahu,” jawab Rian lagi.
“Baca komik lebih asyik Yan,” jawab Fandi.
 “Aku juga lebih suka baca komik,” ujar Ardi menambahi.
“Ya, baca komik asyik. Tapi baca koran juga asyik,” jawab Rian.
“Berarti semuanya asyik dibaca,” jawab Fandi lugu. Mereka pun tertawa bersama.
Keesokan harinya ketika pelajaran Bahasa Indonesia, Rian dan teman-temannya mendapatkan tugas membuat kliping bertema lingkungan.
“Anak-anak, kalian Ibu beri tugas membuat kliping mengenai lingkungan. Boleh tentang kerusakan lingkungan. Boleh juga mengenai cara-cara menjaga lingkungan. Ingat, cari bahannya di koran atau majalah ya. Paling sedikit sepuluh berita. Dan dikumpul tiga hari lagi. Sampai di sini ada yang ingin bertanya?” jelas Bu Hamidah guru kelas lima.
“Kalau tentang penghijauan, itu bertema lingkungan kan Bu?” tanya Dahlan.
“Ya, benar Dahlan,” jawab Bu Hamidah. “Ada lagi yang ingin bertanya?” tanya Bu Hamidah lagi.
“Tidak Bu,” jawab anak- anak serentak.
Tak lama, lonceng pulang pun berbunyi. Beberapa teman Rian mulai kebingungan akan mencari koran dimana.
“Aku bingung, mau kemana mencari koran,” ucap Randi.
“Aku juga,” jawab Dahlan dengan wajah yang bingung.
“Rian kan selalu meminta koran bekas dari gudang kopi tempat Ayahnya bekerja. Kita tanya Rian yuk. Siapa tahu, dia bisa bantu kita,” usul Ardi.
“Rian!” sapa Dahlan.
“Ya, ada apa?” tanya Rian.
“Kami boleh tidak Yan mencari klipingnya bersama dengan kamu?” tanya Dahlan.
Seketika Rian diam. Menatap empat temannya yang sedang bingung ingin mencari koran bekas dimana. Mereka pun merasa malu, karena dulu sempat mengatakan Rian seperti pemulung, karena suka meminta koran bekas pada pemilik gudang kopi.
“Ya boleh. Aku sangat senang bisa membantu kalian,” jawab Rian.
“Nanti siang pukul tiga kami datang ke rumahmu ya Yan,” ujar Dahlan lagi. Rian pun menjawab dengan anggukan.
Pukul Tiga pun tiba. Dahlan, Ardi, Fandi, dan Randi telah sampai di rumah Rian. Setelah bersalaman dengan Ibu Rian, mereka langsung diajak Rian ke dalam kamarnya. Di dalam kamarnya, ada sebuah lemari kaca tua. Di dalamnya penuh dengan koran bekas.
“Wah, banyak sekali koranmu Yan,” ujar Fandi.
“Iya, aku mengumpulkannya sejak kelas tiga,” jawab Rian.
Lalu Rian membuka pintu lemari. “Nah, silahkan dibaca. Kalian gunting saja berita yang kalian rasa cocok dengan tugas kita,” ujar Rian lagi.
Mereka tersenyum kepada Rian. Dan mulai mengerjakan tugas mereka. Sedangkan Rian membantu Ibunya membuat minum untuk teman-temannya.
Setelah minuman siap, Rian membawanya ke kamar. Dia sangat senang melihat teman-temannya yang asyik membaca koran.
“Diminum ya,” ujar Rian.
“Ya Yan,” jawab mereka serentak.
Setelah hampir dua jam sibuk dengan koran, teman-teman Rian akhirnya selesai mengerjakan tugas mencari kliping.
“Ternyata membaca koran itu menyenangkan ya Yan,” ujar Ardi.
“Ya Di. Sama asyiknya dengan membaca komik,” jawab Dahlan pula.
“Ya. Di dalam koran  ada dongeng, ada cerpen, ada puisi, dan banyak juga berita-berita yang bisa menambah pengetahuan kita,” ujar Fandi menambahi.
“Itulah alasannya mengapa aku suka membaca koran. Karena di koran itu banyak hiburan dan pengetahuan,” jawab Rian.
“Maaf ya Yan, kami sempat mengatakan kamu seperti pemulung,” ujar Ardi.
“Tidak apa-apa,” jawab Rian tersenyum.
Sejak saat itu, teman-teman Rian sering berkunjung ke rumah Rian untuk membaca koran. Dan mereka pun semakin gemar membaca.

Rumah Cerita, 02 Juli 2012
(Cerpen anak ini telah dimuat di Rubrik Taman Riang Analisa, 12 Agustus 2012)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar