Rian dan Koran
Bekas
Oleh: Tanita Liasna
Rian
adalah seorang murid kelas lima sekolah dasar. Dia anak yang baik hati dan
sopan. Rian juga sangat gemar membaca. Setiap pulang sekolah, Rian tak lupa
singgah ke gudang kopi yang tak jauh dari rumahnya, untuk meminta koran bekas
si pemilik gudang kopi. Dan si pemilik gudang kopi sangat senang melihat Rian
yang gemar membaca.
“Kamu memang anak yang pintar Rian.
Masih kecil sudah gemar membaca,” ujar si pemilik gudang kopi, ketika Rian
meminta koran bekasnya.
“Terimakasih ya Pak,” ujar Rian sambil
tersenyum menerima koran bekas yang diberikan oleh pemilik gudang kopi.
“Pasti Ayahmu sangat bangga punya anak
seperti kamu,” ujar pemilik gudang kopi.
Si pemilik gudang kopi cukup kenal
dengan ayah Rian. Karena ayah Rian adalah salah satu karyawan di gudang kopi
milliknya.
Sekali lagi Rian tersenyum dan
mengucapkan terimakasih.
Ketika keluar dari gerbang gudang
kopi, Rian bertemu dengan Fandi dan Ardi, teman sekelasnya.
“Kamu ambil koran bekas ya Yan?” tanya
Fandi.
“Ya,” jawab Rian tersenyum.
“Kamu seperti pemulung. Suka sekali
sama koran bekas,” celetuk Ardi.
“Membaca koran ini asyik. Kalian saja
yang tidak tahu,” jawab Rian lagi.
“Baca komik lebih asyik Yan,” jawab
Fandi.
“Aku juga lebih suka baca komik,” ujar Ardi
menambahi.
“Ya, baca komik asyik. Tapi baca koran
juga asyik,” jawab Rian.
“Berarti semuanya asyik dibaca,” jawab
Fandi lugu. Mereka pun tertawa bersama.
Keesokan harinya ketika pelajaran
Bahasa Indonesia, Rian dan teman-temannya mendapatkan tugas membuat kliping
bertema lingkungan.
“Anak-anak, kalian Ibu beri tugas
membuat kliping mengenai lingkungan. Boleh tentang kerusakan lingkungan. Boleh
juga mengenai cara-cara menjaga lingkungan. Ingat, cari bahannya di koran atau
majalah ya. Paling sedikit sepuluh berita. Dan dikumpul tiga hari lagi. Sampai
di sini ada yang ingin bertanya?” jelas Bu Hamidah guru kelas lima.
“Kalau tentang penghijauan, itu
bertema lingkungan kan Bu?” tanya Dahlan.
“Ya, benar Dahlan,” jawab Bu Hamidah.
“Ada lagi yang ingin bertanya?” tanya Bu Hamidah lagi.
“Tidak Bu,” jawab anak- anak serentak.
Tak lama, lonceng pulang pun berbunyi.
Beberapa teman Rian mulai kebingungan akan mencari koran dimana.
“Aku bingung, mau kemana mencari
koran,” ucap Randi.
“Aku juga,” jawab Dahlan dengan wajah
yang bingung.
“Rian kan selalu meminta koran bekas
dari gudang kopi tempat Ayahnya bekerja. Kita tanya Rian yuk. Siapa tahu, dia
bisa bantu kita,” usul Ardi.
“Rian!” sapa Dahlan.
“Ya, ada apa?” tanya Rian.
“Kami boleh tidak Yan mencari
klipingnya bersama dengan kamu?” tanya Dahlan.
Seketika Rian diam. Menatap empat
temannya yang sedang bingung ingin mencari koran bekas dimana. Mereka pun
merasa malu, karena dulu sempat mengatakan Rian seperti pemulung, karena suka
meminta koran bekas pada pemilik gudang kopi.
“Ya boleh. Aku sangat senang bisa
membantu kalian,” jawab Rian.
“Nanti siang pukul tiga kami datang ke
rumahmu ya Yan,” ujar Dahlan lagi. Rian pun menjawab dengan anggukan.
Pukul Tiga pun tiba. Dahlan, Ardi,
Fandi, dan Randi telah sampai di rumah Rian. Setelah bersalaman dengan Ibu
Rian, mereka langsung diajak Rian ke dalam kamarnya. Di dalam kamarnya, ada
sebuah lemari kaca tua. Di dalamnya penuh dengan koran bekas.
“Wah, banyak sekali koranmu Yan,” ujar
Fandi.
“Iya, aku mengumpulkannya sejak kelas
tiga,” jawab Rian.
Lalu Rian membuka pintu lemari. “Nah,
silahkan dibaca. Kalian gunting saja berita yang kalian rasa cocok dengan tugas
kita,” ujar Rian lagi.
Mereka tersenyum kepada Rian. Dan
mulai mengerjakan tugas mereka. Sedangkan Rian membantu Ibunya membuat minum
untuk teman-temannya.
Setelah minuman siap, Rian membawanya
ke kamar. Dia sangat senang melihat teman-temannya yang asyik membaca koran.
“Diminum ya,” ujar Rian.
“Ya Yan,” jawab mereka serentak.
Setelah hampir dua jam sibuk dengan
koran, teman-teman Rian akhirnya selesai mengerjakan tugas mencari kliping.
“Ternyata membaca koran itu
menyenangkan ya Yan,” ujar Ardi.
“Ya Di. Sama asyiknya dengan membaca
komik,” jawab Dahlan pula.
“Ya. Di dalam koran ada dongeng, ada cerpen, ada puisi, dan banyak
juga berita-berita yang bisa menambah pengetahuan kita,” ujar Fandi menambahi.
“Itulah alasannya mengapa aku suka
membaca koran. Karena di koran itu banyak hiburan dan pengetahuan,” jawab Rian.
“Maaf ya Yan, kami sempat mengatakan
kamu seperti pemulung,” ujar Ardi.
“Tidak apa-apa,” jawab Rian tersenyum.
Sejak saat itu, teman-teman Rian
sering berkunjung ke rumah Rian untuk membaca koran. Dan mereka pun semakin
gemar membaca.
Rumah Cerita, 02 Juli 2012
(Cerpen anak ini telah dimuat di Rubrik Taman Riang Analisa, 12 Agustus
2012)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar