Tak termaknakan
Oleh: Tanita Liasna
Ketika kata tak terlerai
Ucap tiada daya
Upaya tak lagi berbunga
Hanya sesalkan nada
kering
Bergumul dalam liang
kerongkong
Tuliskan saja. Dalam
bahasa terpahami. Jika tak mampu berkata.
Mungkin bibirmu terlalu
rekat dalam derit emosi terkentara
Padahal dalam kudus rindu
ini selalu kuserukan gerai pada malam uraikan perihal kenang-kenang dalam fana.
Dan kala hujan
bersilewer. Rinainya gumamkan amuk pada tatapmu yang hanya mengena pada pilin
kesima yang tak termaknakan.
Rumah Cerita, 260313
Rindu dan Asa
Oleh: Tanita Liasna
Rupa telah lupa pada sapa
Berai di ujung pelataran
rasa
Semua singgah hanya
laguan lara
Beringsut tiba berusai
pada satu-satu kata lemah menimba gelisah
Butir-butir namamu
semasih dulu selalu hinggap dalam bara
Kecewa hanya luruh dalam
dekap
Tapi cinta masih sama
Hanya rindu dan asa yang
tak bernasib sama
Rumah Cerita, 250313
Namamu
Oleh: Tanita Liasna
Tak sulit bagiku
berikhtiar tentang rindu-rindu kadang kalap melantun dalam dada
Hening bukan lagi sepikan
segala rupa yang ada. Malah semakin gencar liukkan semacam amuk dalam darah
dalam nadi
Riwayatkan tentang
rumpun-rumpun cerita binal. Kemarin pula hangat dalam balut sekuntum luka.
“Kau tak lagi mampu di
sini. Temaniku pada musim-musim yang akbar”.
Angin yang gemerlap
menari-nari di pucuk daunan. Bercengkrama pada nisan-nisan kaku berbalut duka
abadi. Nisan rindu yang terpatri nama seseorang. Kurasa lekat dalam tatap
berkurung mantra penghabisan
Dan masa jatuh dan
terseok menafkahkan seuntai lalu dan kenangnya pada kita. Nama itu adalah
namamu. Yang suka saja hinggap pada adrenalin ulam pikirku.
Rumah Cerita, 260313
(Puisi-puisi ini telah dimuat di Rubrik Rebana Analisa, 12 Mei 2013)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar