Sebilah Asa
Oleh: Tanita Liasna
Ada sebilah asa
menggantung di jemari luka
Walau luka mengiris tetap
kukalungkan untai-untai doa atas harap terdahulu
Harusnya kupisahkan rindu
dari luka
Agar tak kembali rasa
mencumbu seraut hati meluka
Sedang kau masih berdiri
tertawa
Atas seisi asa yang masih
saja kukisahkan
Kau terbahak menatap
rindu
Menggelantung di tiang asa
Rumah Cerita, 09 Desember 2012
Perempuan Pengikut Malam
Oleh: Tanita Liasna
Aku perempuan pengikut
malam
Mencumbu kelam pada
setiap hela angin
Mendesahkan rimbun-rimbun
luka
Dalam seuntai jejak
cerita
Ketika purnama bersandar
diam
Mengalut pada awan
merintihkan leret-leret angin membiru
Aku bersetubuh dengan
gulita
Hamburkan segala pilu
Rumah Cerita, 09 Desember 2012
Penghabisan
Oleh: Tanita Liasna
Dalam penghabisan waktu
tak luput kusampaikan
Pintal-pintal asa atas
kisah pagi lalu
Seperti biasa kita masih
mengenang
Gurat-gurat sesal tawaran
malam
Padahal sudah kukisahkan
pada semilir angin
Bermain pada helai-helai
duka kita
Aku tak bernama
Hatiku mati ditikam
pilu-pilu jahanam
Sedang aku tak henti
melumat sesal
Atas laknat membawa kita
pada derita sedalam sekarang
Rumah Cerita, 09 Desember 2012
Pemuja Kelam
Oleh: Tanita Liasna
Ada luka mengering di
palung jiwa
Seperti pemuja kelam
Aku merindu gelap
Berkisah tentang segala
rupa
Kapan saja meninggalkan
sekuntum berang
Mengusik bercak luka
Basah mengelam
Lelah selalu kunikmati
Dalam malam aku memuja
kelam
Hingga naung angin
lekatkanku pada karam kematian
Rumah Cerita, 11 November 2012
(Puisi-puisi ini telah dimuat di Rubrik Cerpen & Puisi Analisa, 13
Februari 2013)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar