14 Mei 2013

puisi



Sebilah Asa
Oleh: Tanita Liasna
Ada sebilah asa menggantung di jemari luka
Walau luka mengiris tetap kukalungkan untai-untai doa atas harap terdahulu
Harusnya kupisahkan rindu dari luka
Agar tak kembali rasa mencumbu seraut hati meluka
Sedang kau masih berdiri tertawa
Atas seisi asa yang masih saja kukisahkan
Kau terbahak menatap rindu
Menggelantung di  tiang asa

Rumah Cerita, 09 Desember 2012

Perempuan Pengikut Malam
Oleh: Tanita Liasna
Aku perempuan pengikut malam
Mencumbu kelam pada setiap hela angin
Mendesahkan rimbun-rimbun luka
Dalam seuntai jejak cerita
Ketika purnama bersandar diam
Mengalut pada awan merintihkan leret-leret angin membiru
Aku bersetubuh dengan gulita
Hamburkan segala pilu

Rumah Cerita, 09 Desember 2012
Penghabisan
Oleh: Tanita Liasna
Dalam penghabisan waktu tak luput kusampaikan
Pintal-pintal asa atas kisah pagi lalu
Seperti biasa kita masih mengenang
Gurat-gurat sesal tawaran malam
Padahal sudah kukisahkan pada semilir angin
Bermain pada helai-helai duka kita
Aku tak bernama
Hatiku mati ditikam pilu-pilu jahanam
Sedang aku tak henti melumat sesal
Atas laknat membawa kita pada derita sedalam sekarang

Rumah Cerita, 09 Desember 2012
Pemuja Kelam
Oleh: Tanita Liasna
Ada luka mengering di palung jiwa
Seperti pemuja kelam
Aku merindu gelap
Berkisah tentang segala rupa
Kapan saja meninggalkan sekuntum berang
Mengusik bercak luka
Basah mengelam
Lelah selalu kunikmati
Dalam malam aku memuja kelam
Hingga naung angin lekatkanku pada karam kematian

Rumah Cerita, 11 November 2012

(Puisi-puisi ini telah dimuat di Rubrik Cerpen & Puisi Analisa, 13 Februari 2013)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar