14 Mei 2013

Jurusan Kereta Api Binjai-Medan; Jurusan Sejarah



Jurusan Kereta Api Binjai-Medan; Jurusan Sejarah
Oleh: Tanita Liasna
“Binjai-Medan cuma 3 ribu”, papar seorang teman penulis ketika berusaha meyakinkan penulis untuk naik kereta api ke tempat penjualan buku murah. Itulah kali pertama penulis menggunakan jasa kereta api.
            Kereta api merupakan alat transportasi yang sudah mulai kehilangan pamornya, terkhusus di kota Binjai. Padahal, kereta api adalah alat transportasi yang bisa dikatakan cukup menarik, jika kita ingin merelaksasikan diri atau sekedar mencari nuansa baru dalam melakukan perjalanan. Terlebih lagi, kereta api cukup minim biayanya, jika dibandingkan alat transportasi yang lainnya.
            Dan tahukah anda, bahwa kereta api jurusan Binjai-Medan dapat dijadikan sebuah perjalanan yang mampu memberikan ilmu baru, dan kemungkinan dapat menjadi alternatif wisata baru Sumatera Utara? Bukan karena letaknya yang berdekatan dengan tempat penjualan buku bekas atau murah yang tidak menguras kantong jika kita berbelanja buku di sana. Tapi, karena jurusan kereta api Binjai- Medan dapat dijadikan jurusan sejarah bagi para penikmat kereta api.
            Dimulai dari Binjai. Stasiun kereta api Binjai yang berdiri pada tahun 1819 oleh Belanda adalah salah satu dan mungkin hanya satu-satunya bangunan lama yang masih berdiri kokoh di kota Binjai. Pertama kali mengalami renovasi pada 2009, itupun hanya sekedar renovasi rel dari bantalan kayu menjadi bantalan beton.
Gambar 1.1. Stasiun kereta api Binjai (tampak depan)
Dalam perjalanan Binjai-Medan, akan dilewati beberapa kota, seperti kota Tanah Tinggi, Kilometer 19, lalu Megawati, Diski, Kampung Lalang, Sunggal, kilometer 10, sebelum akhirnya sampai di stasiun kereta api Medan. Keluar dari stasiun kereta api Medan, kita berhadapan langsung dengan tempat penjualan buku bekas dan murah.
Kemudian, di dekat stasiun kereta api Medan (arah kiri) akan kita temukan bangunan sejarah lainnya, yaitu Titi Gantung yang memiliki arsitektur yang khas dan unik. Titi Gantung semula diperuntukkan sebagai jalan lintas dan sarana menyeberang untuk pejalan kaki, calon penumpang kereta api, maupun pengunjung dan penonton berbagai kegiatan, seperti pasar malam di Lapangan Merdeka Medan, yang terakhir dilaksanakan tahun 1964.
Bagian bawah bangunan titi gantung memiliki 2 pintu gerbang dan ruas jalan yang menghubungkan Jalan Veteran (dulunya Jalan Bali) dengan Jalan Pulau Pinang (sekarang). Hingga tahun 1950 ruas jalan melalui pintu gerbang tersebut, bila malam ketika kereta api, baik lokomotif dan gerbong tidak dioperasikan setelah langsir dan diparkirkan, bisa dilalui kendaraan dan pejalan kaki. Memiliki kelebaran 40 – 50 meter dengan tinggi bangunan antara 7 – 8 meter dari permukaan jalan. Selain bagian bawahnya berpintu gerbang (tertutup), terdapat jalan berjenjang (tangga) di sebelah kanan dan jalan mendaki berlapis aspal dari 2 arah.
Gambar 1.3. Titi gantung Medan
Dari arah Jalan Veteran juga memiliki pintu gerbang dan kini berfungsi sebagai gudang, di sebelahnya dimanfaatkan untuk kedai kopi. Bagian sebelah kanan terdapat jalan berjenjang (tangga) dan di sebelah kiri satu ruas jalan mendaki. Titi Gantung jelas bernilai sejarah sebab dibangun menyusul dibukanya perusahaan kereta api Deli Spoorweg Maatschappij (DSM) pada tahun 1885. Sementara itu, DELI Spoorweg Maatschappij (DSM) merupakan perusahaan kereta api pertama di luar Jawa semasa kolonial Belanda.
Kemudian dari Titi gantung, berjalan kembali ke arah stasiun Medan menuju tanah lapang Medan, akan kita temukan kantor pos Medan yang juga salah satu bangunan bersejarah di kota Medan, tepatnya menghadap ke lapangan merdeka Medan di dekat air mancur.
            Kantor pos Medan ini dibangun pada tahun 1909-1911 oleh seorang arsitek bernama Snuyf yang dulu merupakan Direktur Jawatan Pekerjaan Umum Belanda untuk Indonesia pada masa pemerintahan Belanda. Bangunan satu lantai yang terlihat kokoh dan megah ini dibangun dengan konsep Neo Classic. Lantai dari tegel/Marmer berdimensi besar, dan memiliki luas bangunan 1200 M² dengan tinggi 20 m, panjang 60 m dan lebar 20 m.
            Penulis berkesempatan masuk dan melihat bagaimana indahnya bangunan yang tepat berumur seratus tahun ini. Ketika masuk pada ruang pertama, penulis melihat pintu yang begitu kokoh. Balkon yang bergambar menciptakan kesan artistik yang sarat dengan nilai kekunoan. Begitu juga lampu gantung yang berada pada ruangan tersebut.
            Pada ruangan selanjutnya, terdapat tiga pintu yang terbuat dari besi. Masih sangat kuno karena pintu tersebut masih dibuka dengan cara di dorong ke atas.
Gambar 1.2. Kantor pos Medan
Itulah beberapa cerita singkat tiga bangunan sejarah di Sumatera Utara dan langsung dapat kita kunjungi sekali jalan dengan biaya 3 ribu rupiah saja dengan menggunakan kereta api. Layaknya, jalur kereta api ini dapat menjadi wisata baru dalam dunia perkertaapian di Indonesia, khususnya Sumatera Utara. Sehingga, dapat meningkatkan kembali minat pengguna kereta api sambil memperkenalkan situs-situs sejarah di Sumatera Utara.
Jendela Ilmu, 20 November 2011
(Artikel ini telah dimuat di Rubrik TRP Analisa, 27 Mei 2012)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar