14 Mei 2013

Keceriaan Merayakan Kemerdekaan



Keceriaan Merayakan Kemerdekaan
Oleh: Tanita Liasna
Merdeka adalah salah satu kebutuhan manusia. Merdeka sendiri bermakna sebuah kebebasan yang tidak terikat dengan seseorang atau pihak tertentu. Dan tepat pada Jumat, 17 Agustus 2012, Indonesia merayakan hari jadi kemerdekaan yang ke-67.
Tidak seperti tahun sebelumnya, perayaan kemerdekaan Indonesia kali ini terasa sangat sepi. Sedikit sekali acara yang diadakan sebagai peringatan hari kemerdekaan. Paling hanya sekedar upacara 17-an di sekolah-sekolah saja.
Dan untuk memeriahkan hari jadi Indonesia yang ke-67, Sanggar Menulis dan Sastra Rumah Cerita Binjai mengadakan lomba mewarnai dan lomba menulis cerita. Para peserta adalah anak-anak yang duduk di bangku sekolah dasar (kelas 1 sampai dengan kelas 3) yang berasal dari lingkungan sekitar Sanggar.
            Acara ini sangatlah sederhana. Diawali dengan pembukaan dari salah satu anggota Sanggar Menulis dan Sastra Rumah Cerita. Lalu, dibagikanlah gambar yang akan diwarnai oleh anak-anak yang mengikuti lomba menwarnai. Dan dibagikan pula kertas yang berisikan gambar yang menjadi tema cerita bagi para peserta lomba menulis cerita.
            Setelah hampir satu jam, anak-anak pun mulai mengumpulkan karya mereka. Lalu diberikan waktu beberapa menit untuk para juri menilai hasil karya mereka. Juri pun berasal dari para anggota Sanggar Menulis dan Sastra Rumah Cerita Binjai.
Dan setelah itu, detik-detik yang ditunggu pun tiba. Yaitu pengumuman pemenang lomba mewarnai dan menulis cerita. Putri, Dzuta Ardiansyah, dan Ali Imamta Muham menjadi jawara pada lomba mewarnai. Sedangkan Andini Agustini, Ema Febriani, dan Feby Nur Rizky menjadi jawara dalam lomba menulis cerita.
Keceriaan Anak-anak
            Sejak awal penulis hadir, anak-anak sudah asyik duduk di pendopo kecil yang biasa digunakan Sanggar Menulis dan Sastra Rumah Cerita untuk melakukan kegiatan. Anak-anak tersebut sudah dengan tekun duduk di depan meja belajar kecil yang telah disediakan. Mereka juga membawa berbagai peralatan yang akan digunakan untuk berkarya.
            Setelah kertas dibagikan, anak-anak pun dengan tekun dan giat mewarnai juga menulis cerita. Mereka dengan tenang mengerjakan tugas masing-masing. Ada yang sibuk mewarnai sebuah gambar kapal dengan kreasi mereka sendiri. Ada pula yang dengan tekun membuat cerita dari sebuah gambar yang memperlihatkan acara bermaaf-maafan.
            Tetapi walaupun asyik dengan kegiatan mereka masing-masing, kepedulian mereka terhadap sesama masih dapat dirasakan. Mereka masih mau mendengarkan temannya meminta bantuan. Seperti meminjamkan cat warna, meminjamkan penghapus, atau rautan. Walaupun tanpa melihat ke arah rekannya tersebut.
            Begitu pun ketika acara pembagian hadiah. Semua anak-anak sangat antusias. Mereka dengan bangga dan bahagia maju dan menerima hadiah. Dengan wajah yang begitu polos, tersenyum tersipu saat menerima hadiah tersebut. Dan ketika foto bersama, mereka dengan bangga memegang hadiah yang telah diberikan.
17082012354










Wajah ceria anak-anak ketika menerima hadiah

Memaknai Perayaan Kemerdekaan
            Melihat keceriaan anak-anak dari awal acara hingga selesai, mengingatkan penulis akan masa lalu penulis ketika masih kanak-kanak. Dengan bahagia menyambut ulang tahun kemerdekaaan dan mengikuti perlombaan-perlombaan yang diadakan di sekitar lingkungan penulis. Bukan melihat dari hadiah apa yang akan didapatkan jika memenangkan perlombaan, tetapi kebahagiaan bisa berkumpul dan bermain dengan teman-teman di hari ulang tahun kemerdekaan. Itulah kebahagiaan yang dituju.
            Ya, seperti itulah keceriaan dan kebahagiaan anak-anak. Masih polos dan sederhana. Berbeda sekali dengan pemikiran seseorang setelah dewasa. Tapi bagaimana pun pemaknaan terhadap kemerdekaan, yang pasti kemerdekaan adalah sesuatu yang masih patut disyukuri dan dihargai. Mengingat bagaimana perjuangan para pahlawan mempertaruhkan jiwa dan raga mereka demi meraih kemerdekaan negara tercinta, Indonesia. Bagaimana hasil dari kemerdekaan itu sendiri tergantung bagaimana generasi berikutnya merawat dan mempertahankannya.

Rumah Cerita, 17 Agustus 2012
Penulis mahasiswa sem.VII PBSID STKIP Budidaya Binjai

(Artikel ini telah dimuat di Rubrik TRP Analisa, 23 September 2012)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar