Jadi Angan
Oleh: Tanita Liasna
Sekiranya buai dusta bisa
tergapai
Takkan lapuk seutas rindu
Bersarang lama di teluk
sunyi
Aroma luka semampai
beradu
Bukan hanya kata sakit
Duka lesap jadi ungkit
Jangan menabuh benci
Pada temu tak sejalan
Biar semua berlalu jadi
angan
Rumah Cerita, 30 Mei 2012
Ketika Mentari Belum Tenggelam
Oleh: Tanita Liasna
Wajahmu memudar
Dalam tatap bermandikan
ranum luka
Mentari masih terpenggal
Sinarnya memencar
Mencipta mega di arakan
langit
Luka itu, sayang
Mirip luka ketika rinai
hujan
Berjatuhan dari mentari
yang mengepak sinar
Memekik udara
Lewat taburan mimpi
kelabu
Ingatku masih membara
Padamu yang mencumbu
hujan
Ketika mentari belum
tenggelam
Rumah Cerita, 24 Mei 2012
Sepenggal Kata Rindu
Oleh: Tanita Liasna
Kau mengucap kata
Tak terbaca
Parau mengunyah
Tumpang tindih nyanyian
hujan
Tak bisa kudengar
Hasratmu bisa kurasa
Keras memeluk
Racuni habis tiap lekuk
rindu
Kata itu sepenggal rindu
Yang kemarin terbaca pada
helai daunan
Dibawa rinai angin
Tepat di sudut mataku
Rumah Cerita, 26 Mei 2012
Tangisan Gembala Kecil
Oleh: Tanita Liasna
Puing duka masih
berhamburan
Bekas bencana waktu lalu
Sunyi..
Sepi..
Tak berpenghuni!
Lamat-lamat waktu
Ada isak perih mengebiri
Sepotong tangis yang
rindu
Pada kematian tak pandang
bulu
Tangisnya menusuk
Memegang seruling bambu
Tanah ini merenggut bapak
ibunya
Tangisan gembala kecil
Kehilangan dunia kecilnya
Rumah Cerita, 22 Mei 2012
(Puisi-puisi ini telah dimuat di Rubrik Cerpen & Puisi Analisa, 26
September 2012)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar