Ketika Rindang Rindu Membatu
Oleh: Tanita Liasna
Ketika rindang rindu
membatu
luka pun serasa luap
hingga kaku
Tak lagi mata menyapa
Kata tak beraroma cinta
Sebab segala titisan
angan tak berlaku
Semisal angin merubah
arah pada waktu tertentu
Dan di sini terpancang
dinding pemisah
Tabur duri merenyah hati
tak lagi mengulum darah
Rumah Cerita, 16 Maret 2012
Wanita Beraroma Hujan
Oleh: Tanita Liasna
Seperti awan hitam kau
cumbu aku pada pekat memangku gulita
Keindahanmu tak terjamah
diguyur kelam
Gema kilat di bentang
langit menyapa
Menamparku akan lamunan
masa dulu
Kau kah itu wanita
beraroma hujan
Yang sempat mencipta
harap di kantung dada
Wajahmu masih lekat di
pelupuk mata
Suburkan rumput luka yang
kau tanam kala itu
Rumah Cerita, 25 Maret 2012
Ilusi
Oleh: Tanita Liasna
Kau huyung aku
lewat harap
tak mampu
kuungkap dalam tanya
Hatiku bahagia
dahaga luka pun
hilang
kuuntai kembali
nalar
sempat luluh
Saat kau berikan
wasiat itu
kusadari
Hanyalah ilusi….
Binjai, 26 Maret 2010
Kartu-Kartu Kepastian
Oleh: Tanita Liasna
Air mata terukir
Diantara rinai
hujan
Menyenandungkan
kesetiaan tak tercatat
Semua terlalap
waktu
Terseret
jarum-jarum waktu
Termakan
kunang-kunang
Yang lapar akan
cinta
Tak jelas perasan
ini
Hampa terselip
menghimpit jiwa
kartu-kartu
kepastian bertebaran
mencari tuan
pembuka keberuntungan
Yang tak lain
hanyalah kesengsaraan
Binjai, 06 September 2009
(Puisi-puisi ini telah dimuat di Rubrik Art & Culture Medan Bisnis, 20
Mei 2012)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar