14 Mei 2013

puisi



Ketika Rindang Rindu Membatu
Oleh: Tanita Liasna

Ketika rindang rindu membatu
luka pun serasa luap hingga kaku
Tak lagi mata menyapa
Kata tak beraroma cinta
Sebab segala titisan angan tak berlaku
Semisal angin merubah arah pada waktu tertentu
Dan di sini terpancang dinding pemisah
Tabur duri merenyah hati tak lagi mengulum darah


Rumah Cerita, 16 Maret 2012
Wanita Beraroma Hujan
Oleh: Tanita Liasna
Seperti awan hitam kau cumbu aku pada pekat memangku gulita
Keindahanmu tak terjamah diguyur kelam
Gema kilat di bentang langit menyapa
Menamparku akan lamunan masa dulu

Kau kah itu wanita beraroma hujan
Yang sempat mencipta harap di kantung dada
Wajahmu masih lekat di pelupuk mata
Suburkan rumput luka yang kau tanam kala itu

Rumah Cerita, 25 Maret 2012
Ilusi
Oleh: Tanita Liasna
Kau huyung aku
lewat harap
tak mampu kuungkap dalam tanya
Hatiku bahagia
dahaga luka pun hilang

kuuntai kembali nalar
sempat luluh
Saat kau berikan wasiat itu
kusadari
Hanyalah ilusi….


                                                                                    Binjai, 26 Maret 2010
Kartu-Kartu Kepastian
Oleh: Tanita Liasna

Air mata terukir
Diantara rinai hujan
Menyenandungkan kesetiaan tak tercatat

Semua terlalap waktu
Terseret jarum-jarum waktu
Termakan kunang-kunang
Yang lapar akan cinta

Tak jelas perasan ini
Hampa terselip menghimpit jiwa
kartu-kartu kepastian bertebaran
mencari tuan pembuka keberuntungan
Yang tak lain hanyalah kesengsaraan



                                                            Binjai, 06 September 2009

(Puisi-puisi ini telah dimuat di Rubrik Art & Culture Medan Bisnis, 20 Mei 2012)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar