14 Mei 2013

puisi



Tanpa Nama

Sepenggal makna tak menjejakkan persinggahan
Pada lamunan tua ini
Segala hanya mencecerkan berton tanda tanya
Di sepanjang jalan bernaung
Tak lagi ada kabar menyiurkan
Semacam gemerisik di saku ingatan
Semua kaku
Tak semampai bayangmu menari
Padahal saban senja menjangkau malam
Kuhanturkan geliat serupa rinai kerinduan
Tapi semua kaku
Tak lagi sungging lambaian kasih menyapa
Di sebuah jalan tanpa nama

Rumah Cerita, 10 Februari 2013
Menghantar Ujar

Kucengkram sebilah jemarimu
Mengecupkan serinai gerimis luka di dahimu
Kita akan berpamit pada masa
Yang sempat kita jejakkan malam-malam
Penuh kerinduan

Jangan kau tandangkan sembilu perih
Di dua kuntum matamu
Biarkan saja cabik-cabik kepergian mengusung
Jangan kau lelehkan sebongkah hatiku pada gelap

Aku telah melukis janji mati pada waktu
Berserahlah.
Waktu akan menghantarkan ujar tanpa kata-kata

Rumah Cerita, 11 Februari 2013
Sepasang Jejak Basah

Aku kini menyepi
Di antara garis-garis matahari
Bernaung menapak jejak-jejak basah di pelataran jiwa

Milik siapa sepasang jejak tak mau mati
Meski telah kunista segala bujuk pun rayu
Jejak siapa yang bersimbah lebam
Dan air duka mencengkram
Sebatang hati membiru
Jejak-jejak itu basah
Menikamkan sepucuk bianglala kelabu
Ajakku mengisah cerita lalu

Kenangan...
Jejak itu sebenar kenangan
Yang hinggap pagi dulu di jendela asa

Rumah Cerita, 10 Februari 2013

(Puisi-puisi ini telah dimuat di Rubrik Rebana Analisa, 24 Maret 2013)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar