Tanpa Nama
Sepenggal makna tak
menjejakkan persinggahan
Pada lamunan tua ini
Segala hanya mencecerkan
berton tanda tanya
Di sepanjang jalan
bernaung
Tak lagi ada kabar
menyiurkan
Semacam gemerisik di saku
ingatan
Semua kaku
Tak semampai bayangmu
menari
Padahal saban senja
menjangkau malam
Kuhanturkan geliat serupa
rinai kerinduan
Tapi semua kaku
Tak lagi sungging
lambaian kasih menyapa
Di sebuah jalan tanpa
nama
Rumah Cerita, 10 Februari 2013
Menghantar Ujar
Kucengkram sebilah
jemarimu
Mengecupkan serinai
gerimis luka di dahimu
Kita akan berpamit pada
masa
Yang sempat kita jejakkan
malam-malam
Penuh kerinduan
Jangan kau tandangkan
sembilu perih
Di dua kuntum matamu
Biarkan saja cabik-cabik
kepergian mengusung
Jangan kau lelehkan
sebongkah hatiku pada gelap
Aku telah melukis janji
mati pada waktu
Berserahlah.
Waktu akan menghantarkan
ujar tanpa kata-kata
Rumah Cerita, 11 Februari 2013
Sepasang Jejak Basah
Aku kini menyepi
Di antara garis-garis
matahari
Bernaung menapak
jejak-jejak basah di pelataran jiwa
Milik siapa sepasang
jejak tak mau mati
Meski telah kunista
segala bujuk pun rayu
Jejak siapa yang
bersimbah lebam
Dan air duka mencengkram
Sebatang hati membiru
Jejak-jejak itu basah
Menikamkan sepucuk
bianglala kelabu
Ajakku mengisah cerita
lalu
Kenangan...
Jejak itu sebenar
kenangan
Yang hinggap pagi dulu di
jendela asa
Rumah Cerita, 10 Februari 2013
(Puisi-puisi ini telah dimuat di Rubrik Rebana Analisa, 24 Maret 2013)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar