14 Mei 2013

puisi



Kenang di Liku Jalan Ini
Oleh : Tanita Liasna
Semacam jejak kita tunai pada liku jalan ini
Sebagai kenang kita pernah alirkan rindu di sini
Air mataku masih sisakan luka
Peluhmu masih menyarang di jejak-jejak tanpa suara

Suatu kali nanti setelah waktu binasakan rasa
Kuminta berikan seulas senyum pada kenang
Meski luka mungkin tak lebur di bathinmu

Rumah Cerita, 140313

Kutitipkan Separuh Tubuhku di Tubuhmu
Oleh : Tanita Liasna
Senja ini kutitipkan separuh tubuhku padamu
Jangan kau tolak
Aku ingin kau rasakan
Tubuhku menggumpal di tubuhmu
Bakar semacam telisik sembunyi
Yang diam-diam kau hujam dalam pilu
Kau harus ingin
Harus kau maui
Aku takkan sudi dengarkan usahmu
Bercengkrama pada mata-mata kita
Kau harus mau
Sebab aku mau!
Rumah Cerita, 140313
Mencintai Hujan
Oleh : Tanita Liasna
Sempurna aku berseteru dengan angin
Yang mengujarkan kepergian hujan
Aku mencintai rinainya
Kagumi rintik halusnya bercengkrama
Di ladang jiwaku
Aku sempat memaki angin
Muntahkan serapah ketidakadilan
Hujan takkan pergi
Sebab hujan pun mencintaiku
Seperti sukmaku mencintainya

Rumah Cerita, 140313
Mengenang Rindu
Oleh : Tanita Liasna
Selalu saja desah angin
Hantarkan selinting kenang
Wajah itu...
Masih selalu mengikat rindu menganga
Jejakkan jemari kasih
Di bebatuan jiwa mengaram
Letih pasti saja berkunjung
Tak lama hilang
Bersemi hampa dalam dada
Asa begitu saja jadi doa
Begitu saja kandas
Kini sepi merajam
Besuk kisah-kisah luka
Rumah Cerita, 100313

(Puisi-puisi ini telah dimuat di Rubrik Cerpen & Puisi Analisa, 27 Maret 2013)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar