Kenang di Liku Jalan Ini
Oleh : Tanita
Liasna
Semacam jejak kita tunai
pada liku jalan ini
Sebagai kenang kita
pernah alirkan rindu di sini
Air mataku masih sisakan
luka
Peluhmu masih menyarang
di jejak-jejak tanpa suara
Suatu kali nanti setelah
waktu binasakan rasa
Kuminta berikan seulas
senyum pada kenang
Meski luka mungkin tak
lebur di bathinmu
Rumah Cerita, 140313
Kutitipkan Separuh Tubuhku di
Tubuhmu
Oleh : Tanita
Liasna
Senja ini kutitipkan
separuh tubuhku padamu
Jangan kau tolak
Aku ingin kau rasakan
Tubuhku menggumpal di
tubuhmu
Bakar semacam telisik
sembunyi
Yang diam-diam kau hujam
dalam pilu
Kau harus ingin
Harus kau maui
Aku takkan sudi dengarkan
usahmu
Bercengkrama pada
mata-mata kita
Kau harus mau
Sebab aku mau!
Rumah Cerita, 140313
Mencintai Hujan
Oleh : Tanita
Liasna
Sempurna aku berseteru
dengan angin
Yang mengujarkan
kepergian hujan
Aku mencintai rinainya
Kagumi rintik halusnya
bercengkrama
Di ladang jiwaku
Aku sempat memaki angin
Muntahkan serapah
ketidakadilan
Hujan takkan pergi
Sebab hujan pun
mencintaiku
Seperti sukmaku
mencintainya
Rumah Cerita, 140313
Mengenang Rindu
Oleh : Tanita
Liasna
Selalu saja desah angin
Hantarkan selinting
kenang
Wajah itu...
Masih selalu mengikat
rindu menganga
Jejakkan jemari kasih
Di bebatuan jiwa mengaram
Letih pasti saja
berkunjung
Tak lama hilang
Bersemi hampa dalam dada
Asa begitu saja jadi doa
Begitu saja kandas
Kini sepi merajam
Besuk kisah-kisah luka
Rumah Cerita, 100313
(Puisi-puisi ini telah dimuat di Rubrik Cerpen & Puisi Analisa, 27 Maret
2013)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar