15 Mei 2013

Memahami Puisi Lewat Konser “Melainkan”



Memahami Puisi Lewat Konser “Melainkan”
Oleh: Tanita Liasna


Setelah merasakan gemuruh keluarbiasaan Sanggar Rumput Hijau (SRH) SMA Negeri 2 Model Binjai pada konser musikalisasi puisi bertajuk “Lukisan Binjai” 2011 lalu, kali ini penulis berkesempatan lagi merasakan euforia kemeriahan paduan musik dengan puisi pada Jumat, 16 November 2012. Bersama jubelan penonton yang memadati Pendopo Umar Baki Binjai, penulis kembali menyaksikan konser musikalisasi puisi “Melainkan” dari SRH yang telah mengharumkan nama Binjai, juga Sumut, hingga ke tingkat Nasional. Konser berlangsung dua sesi; pukul 14.30 WIB dan pukul 16.30 WIB, didukung Komunitas Home Poetry dan Rumah Cerita Sanggar Menulis, Sastra dan Seni Binjai. Sebelumnya, Sabtu, 6 Oktober lalu, konser “Melainkan” juga telah dilangsungkan di Taman Budaya Sumatera Utara, Medan.
Pada penampilan kali ini, SRH berkolaborasi dengan Musisi Dunia Akhirat Medan yang tidak hanya paham memainkan musik modern, tetapi juga telaten menggeluti musik tradisi Sumut (Hasapi, Kulcapi, Keteng-keteng dan Gambus). Bahkan salah satu personilnya, Ade Dharma pernah tampil di Belanda. Kolaborasi dua kelompok, pelajar dan profesionalisme ini mencoba menggarap konsep musikalisasi lebih ‘semarak’, mencari kemungkinan-kemungkina lain, meski tetap teguh meladeni ruh puisi.
Usai dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Kota Binjai, sastrawan Sumut Hasan Al Banna, yang juga merupakan penggagas konser ini, tampil sebagai pemandu reportoar rangkaian musikalisasi puisi. Ceracau Sebongkah Kota karya Hasan Al Banna, hadir sebagai puisi pembuka. Puisi ini dibawakan cukup spektakuler. Puisi dengan bahasa yang tidak berbelit, tapi kaya makna tersebut dibawakan dengan lihai oleh SRH. Dengan dimusikalisasikannya puisi tersebut, penulis bisa turut merasakan betapa besar kemuakan yang dirasakan oleh sebuah kota dengan segenap penindasan global yang terjadi.
Materi kedua dilanjutkan dengan puisi karya penyair kelahiran Medan yang menjadi pelopor para sastrawan angkatan 45. Siapa lagi kalau bukan Chairil Anwar. Puisi Cintaku Jauh di Pulau digarap dengan etnik Melayu, dinyanyikan dengan sangat menyentuh oleh Cut Lia Keumala Sari yang merupakan Mahasiswa STKIP Budidaya Binjai. Penulis akui, beberapa kali membaca puisi ini, penulis tidak pernah benar-benar menafsirkan makna yang terkandung di dalamnya. Nah, ketika puisi ini ditafsirkan melalui genre musikalisasi, penulis dapat memahami secara mendalam bagaimana pedihnya luka yang dirasakan seorang Chairil Anwar dalam sebuah penantian kasih yang terpisah jarak disertai dengan kematian yang siap menjemput. Bahkan mendengarkan puisi ini sembari memejamkan mata, penulis hampir meneteskan air mata.
Karya seorang sastrawan Medan, M. Raudah Jambak dengan judul Torsa Ni Namora Pande Bosi menjadi materi selanjutnya. Berbeda dengan penampilan sebelumnya. Penampilan mereka kali ini membawakan puisi dengan alunan melodi yang menenangkan hati, khas batak reggea. Meskipun penulis tidak tahu benar maksud puisi tersebut, dikarenakan pada puisi tersebut banyak penggunaan bahasa daerah yang tidak penulis kuasai. Namun melalui musikalisasi, penulis merasakan  ketenangan alam pedesaan. Namun di sisi lain, penulis juga dapat merasakan ada sebuah luka yang tersirat dalam puisi tersebut.
Tiga puisi terlewatkan sudah. Tiba juga saatnya Musisi Dunia Akhirat menguasai panggung dengan setting sederhana tersebut. Dengan membawakan puisi Rindu karya Hasan Al Banna dan dilengkapi berbagai alat musik tradisi, Musisi Dunia Akhirat mampu membuat para penonton tersenyum lebar. Musisi Dunia Akhirat membawakan puisi itu dengan sangat kocak. Mereka seolah ingin menyampaikan betapa kerinduan bukan hanya harus disampaikan dengan sebuah luka atau kesedihan.
Lalu, kolaborasi menyuguhkan puisi kelima berjudul Sepisaupi, buah imajinasi dari seorang Sutardji Calzoum Bahri yang termasuk punggawa lahirnya sastra kontemporer. Sebuah puisi kontemporer ini mampu mereka bawakan dengan mengedepankan makna yang termaktub di dalamnya. Bagaikan sebuah kesepian yang begitu hebat, puisi ini dimusikalisasikan dengan melodi Karo dan alunan suara yang begitu mengiris kalbu, melebur dalam sepi yang dihantarkan Sutardji dalam puisinya.
Setelah itu, giliran musikalisasi puisi dengan judul Hotel Siantar goresan pena Damiri Mahmud, seorang sastrawan senior asal Sumatera Utara. Ketika mendengarkan puisi ini dimusikalisasikan, penulis seakan mampu melihat seperti apa  bentuk dan keadaan Hotel Siantar. Selain itu, penulis juga mampu menafsirkan secara mendalam budaya yang biasa terjadi di sekitar Hotel Siantar.
Dan di penghujung acara, puisi Akulah Medan menutup acara dengan sangat mengesankan. Sebuah puisi buah pena Teja Purnama yang mengisahkan sejarah berdirinya Medan hingga kini tersebut, dibawakan dengan genre Melayu yang  menghentak. Penulis dapat menafsirkan bagaimana getir yang dirasakan seorang Teja Purnama melihat realita yang terjadi di tanah kelahiran yang dicintainya.
Begitulah tujuh puisi yang dimusikalisasikan oleh SRH SMA Negeri 2 Model Medan bersama Musisi Dunia Akhirat Medan dan Cut Lia Keumala Sari telah  menghibur penikmatnya, jasmani maupun rohani. Lebih dari itu, menonton sebuah musikalisasi puisi mampu memberikan penafsiran yang lebih mendalam akan makna sebuah puisi. Dengan musikalisasi puisi pula sebuah kecintaan akan musik dan sastra semakin terpahat di hati para penikmatnya.
Akhirnya, kolaborasi ini telah menawarkan pilihan lain tentang konsep musikalisasi puisi, khususnya pilihan di ranah seni pertunjukan. Layak kita tunggu karya-karya mereka yang selanjutnya!

Penulis adalah Mahasiswa STKIP Budidaya Binjai

(Artikel ini telah dimuat di Rubrik Budaya Waspada, 25 November 2012)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar