Memahami Puisi Lewat Konser “Melainkan”
Oleh: Tanita Liasna
Setelah merasakan gemuruh
keluarbiasaan Sanggar Rumput Hijau (SRH) SMA Negeri 2 Model Binjai pada
konser musikalisasi puisi bertajuk “Lukisan Binjai” 2011 lalu, kali ini penulis berkesempatan lagi merasakan euforia kemeriahan paduan musik dengan puisi pada Jumat, 16
November 2012. Bersama jubelan penonton yang memadati Pendopo Umar Baki Binjai,
penulis kembali menyaksikan konser musikalisasi puisi “Melainkan”
dari SRH yang telah mengharumkan nama Binjai, juga Sumut, hingga ke
tingkat Nasional. Konser berlangsung dua sesi; pukul
14.30 WIB dan pukul 16.30 WIB, didukung Komunitas Home Poetry dan Rumah Cerita Sanggar Menulis, Sastra dan Seni
Binjai. Sebelumnya, Sabtu, 6 Oktober lalu, konser “Melainkan” juga telah
dilangsungkan di Taman Budaya Sumatera Utara, Medan.
Pada
penampilan kali ini, SRH berkolaborasi dengan Musisi Dunia Akhirat Medan yang tidak hanya paham memainkan musik modern, tetapi juga telaten
menggeluti musik tradisi Sumut (Hasapi, Kulcapi, Keteng-keteng dan Gambus).
Bahkan salah satu personilnya, Ade Dharma pernah tampil
di Belanda. Kolaborasi dua kelompok, pelajar dan profesionalisme ini mencoba menggarap konsep musikalisasi lebih
‘semarak’, mencari kemungkinan-kemungkina lain, meski tetap teguh meladeni ruh
puisi.
Usai dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Kota Binjai, sastrawan Sumut Hasan Al
Banna, yang juga merupakan penggagas konser ini, tampil sebagai
pemandu reportoar rangkaian musikalisasi puisi. ‘Ceracau Sebongkah Kota’ karya Hasan Al Banna, hadir
sebagai puisi pembuka. Puisi ini
dibawakan cukup spektakuler. Puisi dengan bahasa yang tidak berbelit, tapi kaya makna
tersebut dibawakan dengan lihai oleh SRH. Dengan dimusikalisasikannya puisi tersebut,
penulis bisa turut merasakan betapa besar kemuakan yang dirasakan oleh sebuah
kota dengan segenap penindasan global yang terjadi.
Materi kedua dilanjutkan dengan puisi karya penyair
kelahiran Medan yang menjadi pelopor para sastrawan angkatan 45. Siapa lagi kalau bukan Chairil Anwar. Puisi ‘Cintaku Jauh di Pulau’ digarap dengan etnik Melayu, dinyanyikan dengan sangat menyentuh oleh Cut Lia Keumala Sari yang
merupakan Mahasiswa STKIP Budidaya Binjai. Penulis akui, beberapa kali membaca
puisi ini, penulis
tidak pernah benar-benar menafsirkan makna yang terkandung di dalamnya. Nah, ketika puisi ini ditafsirkan melalui genre musikalisasi,
penulis dapat memahami secara mendalam bagaimana pedihnya luka yang dirasakan
seorang Chairil Anwar dalam sebuah penantian kasih yang terpisah jarak disertai
dengan kematian yang siap menjemput. Bahkan mendengarkan puisi ini sembari
memejamkan mata, penulis hampir meneteskan air mata.
Karya seorang
sastrawan Medan, M. Raudah Jambak dengan judul ‘Torsa Ni Namora Pande Bosi’ menjadi materi selanjutnya. Berbeda dengan penampilan sebelumnya.
Penampilan mereka kali ini membawakan puisi dengan alunan melodi yang
menenangkan hati, khas batak reggea. Meskipun penulis tidak tahu benar maksud puisi
tersebut, dikarenakan pada puisi tersebut banyak penggunaan bahasa daerah
yang tidak penulis kuasai. Namun melalui musikalisasi, penulis merasakan
ketenangan alam pedesaan. Namun di sisi lain, penulis juga dapat merasakan ada sebuah luka
yang tersirat dalam puisi tersebut.
Tiga puisi terlewatkan
sudah. Tiba juga saatnya Musisi Dunia
Akhirat menguasai panggung dengan setting sederhana tersebut. Dengan membawakan puisi ‘Rindu’ karya Hasan Al Banna dan
dilengkapi berbagai alat musik tradisi, Musisi Dunia Akhirat mampu membuat para penonton tersenyum lebar.
Musisi Dunia Akhirat membawakan puisi itu dengan sangat kocak. Mereka seolah ingin menyampaikan
betapa kerinduan bukan hanya harus disampaikan dengan sebuah luka atau
kesedihan.
Lalu, kolaborasi menyuguhkan puisi
kelima
berjudul ‘Sepisaupi’, buah imajinasi dari
seorang Sutardji Calzoum Bahri yang termasuk punggawa lahirnya sastra kontemporer. Sebuah puisi
kontemporer ini mampu mereka bawakan dengan mengedepankan makna yang termaktub
di dalamnya. Bagaikan sebuah kesepian yang begitu hebat, puisi ini
dimusikalisasikan dengan melodi Karo dan alunan suara yang begitu mengiris kalbu,
melebur dalam sepi yang dihantarkan Sutardji dalam puisinya.
Setelah itu, giliran musikalisasi
puisi dengan judul ‘Hotel Siantar’ goresan pena Damiri Mahmud, seorang sastrawan senior asal Sumatera Utara.
Ketika mendengarkan puisi ini dimusikalisasikan, penulis seakan mampu melihat
seperti apa bentuk dan keadaan Hotel
Siantar. Selain itu, penulis juga mampu menafsirkan secara mendalam budaya yang
biasa terjadi di sekitar Hotel Siantar.
Dan di
penghujung acara, puisi ‘Akulah Medan’ menutup acara dengan sangat mengesankan. Sebuah puisi buah pena Teja
Purnama yang mengisahkan sejarah berdirinya Medan hingga kini tersebut,
dibawakan dengan genre Melayu yang menghentak. Penulis dapat menafsirkan bagaimana getir yang dirasakan seorang Teja
Purnama melihat realita yang terjadi di tanah kelahiran yang dicintainya.
Begitulah tujuh puisi yang
dimusikalisasikan oleh SRH SMA Negeri 2 Model Medan
bersama Musisi Dunia Akhirat Medan dan Cut Lia Keumala Sari telah menghibur penikmatnya, jasmani maupun rohani.
Lebih dari itu, menonton sebuah musikalisasi puisi mampu memberikan penafsiran
yang lebih mendalam akan makna sebuah puisi. Dengan musikalisasi puisi pula
sebuah kecintaan akan musik dan sastra semakin terpahat di hati para
penikmatnya.
Akhirnya, kolaborasi ini telah
menawarkan pilihan lain tentang konsep musikalisasi puisi, khususnya pilihan di
ranah seni pertunjukan. Layak kita tunggu karya-karya mereka yang selanjutnya!
Penulis adalah Mahasiswa STKIP Budidaya Binjai
(Artikel ini telah dimuat di Rubrik
Budaya Waspada, 25 November 2012)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar