15 Mei 2013

Sanggar Rumput Hijau Kembali Memukau


Sanggar Rumput Hijau Kembali Memukau
Oleh: Tanita Liasna

Setelah memboyong seabrek prestasi, Sanggar Rumput Hijau SMA Negeri 2 kembali memukau penonton pada konser musikalisasi puisi yang diadakan di TBSU, pada Sabtu, 24 September 2011. Acara ini memiliki dua sesi, yaitu pada sore hari pukul 16.00 WIB, dan pada malam hari pukul 20.00 WIBPenulis memiliki kesempatan hadir pada sesi pertama, pukul 16.00 WIB. Saat penulis sampai di TBSU, penulis mendapati bagian pengambilan tiket telah disesaki oleh para pengunjung yang ingin segera menikmati talenta yang dimiliki oleh Sanggar Rumput Hijau.            Sebelum pementasan dimulai, ada sebuah layar ukuran sedang yang memperkenalkan sosok para artis panggung, yaitu : Sepli Rodensia Sipayung (vokal), Dwi Sartika Rahmadani br S (vokal), M. Arfan Fahmi (gitar), Qori Fajar Hermawan (pianika), T Aulia Mufti Sani (gitar), dan M. Yudha Al Hakim (gendang). Lalu, memperkenalkan beberapa pendukung di belakang layar, yaitu : Pimpro oleh M. Raudah Jambak, pimpinan panggung oleh Hasan Al Banna, penata artistik oleh Djamal, penata teknik oleh Suryo Handoyo, serta penata non artistik oleh Novianti, S.pd.            Akhirnya, waktu yang telah ditentukan pun tiba. Seisi ruangan pun menghitam. Gelap gulita. Perlahan tirai merah hati yang menutupi panggung pun terbuka. Duduk 6 sosok pahlawan dari Binjai itu membawakan puisi Sebab Pahlawan Namaku, karya M. Raudah Jambak. Penonton bersorak sorai mendengar lantunan puisi yang dimusikalisasikan oleh para personil dari Sanggar Rumput Hijau. Usai itu, mereka lanjut membawakan puisi karya Sanusi Pane, yang berjudul Teratai. Lalu membawakan puisi Sungai Deli, karya Hasan Al Banna. Kesemuanya diawali dan diakhiri oleh riuh tepuk tangan dari para penonton.














Penampilan Sanggar Rumput Hijau, mengawali acara Konser Musikalisasi puisiKemudian, panggung kembali menghitam. Para artis panggung tadi menghilang. Digantikan oleh sesosok lelaki yang menari mengikuti alunan musikalisasi puisi dari Rumput Hijau, yang diperdengarkan melalui rekaman VCD, berjudul Puisi Cinta untuk Anakku, karya Timbas Tarigan dan Nani. Gemulai lembut dari  Rizal sang penari latar, menambah keeksotikan acara ini.            Lalu, artis panggung muncul kembali dengan pakaian bernuansa etnik yang mereka kenakan pada  festival di Pelembang beberapa waktu lalu. Bersama lighting yang baik, dipadukan pula dengan tata panggung yang tak berlebihan, puisi Jembatan karya pelopor sastra kontemporer: Sutardji Chalzoum Bachri kembali memikat penonton untuk bertepuk tangan mengagumi aksi panggung mereka. Dilanjutkan pula dengan membawakan puisi Gugur karya W.S Rendra, lalu puisi Mendrofa karya Yulhasni.            Usai itu, panggung kembali gelap, dan penonton disuguhi rekaman pertunjukan lewat layar berukuran sedang. Dalam pertunjukan itu, seakan para personil Rumput Hijau berdrama ria dalam membawakan puisi Kami Masih Anak-Anak Bunda, karya Saripuddin Lubis. Adegan berlatar di SMA Negeri 2 Binjai. Pertunjukan itu sempat membuat penonton geli, karena memunculkan adegan-adegan lucu.            Setelah itu artis panggung muncul  kembali dengan mengenakan pakaian bernuansa Melayu, dan membawakan puisi yang mengandung etnik Melayu pula, yaitu Di Titi Gantung Kuasah Rindu, karya A. Rahim Qahhar. Dan pada penghujung konser dibawakanlah puisi yang menjadi icon pada konser ini, yaitu Lukisan Binjai, karya Saripuddin Lubis.Konser yang Berhasil dan Mendidik            Layar ukuran sedang yang seakan menjadi pelengkap dalam acara konser musikalisasi puisi itu, memberitahukan pada penulis para pengaransemen puisi dalam acara konser musikalisasi ini adalah Suryo H, Sepli R.S, dan T. Aulia M.S. Lewat aransemen yang mereka hasilkan, penyampaian puisi memberikan warna dan rasa baru bagi penulis, dan mungkin para penikmat konser lainnya. Vokal, gitar, gendang, dan pianika, dimainkan dengan irama yang berkesinambungan.            Kemudian, lighting yang disuguhkan di mata penulis juga cukup bagus. Efek hijau, biru, dan merah mewarnai panggung. Dan kadang diselingi oleh kedipan lampu merah yang seakan dimunculkan pada puncak-puncak dari musikalisasi puisi yang ditampilkan. Dan setiap puisi akan usai disenandungkan, disuguhkan asap yang menambah aksen dramatis.            Lalu, tata panggung dengan background berupa bingkai persegi yang di tengahnya ada sebuah bulatan besar, lalu di lantai diletakkan bola-bola yang dibungkus oleh kertas minyak. Juga ada bola-bola serta petromak yang digantung di beberapa sisi panggung , memberikan kesan tenang, sederhana dan seakan kita dihadapkan pada zaman dimana kemerdekaan baru saja dikumandangkan.            Hanya saja sempat terjadi beberapa kali kerusakan pada pengeras suara. Namun, itu hanya  sekilas lalu. Dan tidak sama sekali mengganggu kekhusyukan para penikmat konser musikalisasi puisi itu.            Sepuluh puisi yang dibawakan ada yang bertajuk realita negeri saat ini. Ada pula puisi yang menampilkan etnik Batak Simalungun (Gugur), dan etnik Melayu (Di Titi Gantung Kuasah Rindu). Juga puisi-puisi itu mengingatkan kita pada para pahlawan, pada orang tua, dan juga pada kota tempat Rumput Hijau mulai tumbuh, yaitu kota Binjai.Segala yang ditampilkan pada konser itu bukan hanya memberikan kebahagiaan bagi para penikmatnya, namun juga memberikan pelajaran baru, terkhusus bagi pemula yang bergelut dalam sastra. Juga menyiratkan kepada kita bahwa era musikalisasi puisi telah muncul. Itu semua memberikan semangat dan motivasi baru bagi para penggeliat sastra.            Akhir kata, mari kita doakan para duta Sumatera ini, agar mampu membawa kemenangan kembali pada Festival Musikalisasi Puisi Tingkat Nasional di Jakarta, yang akan diadakan pada Oktober 2011. Selamat kita ucapkan. Semoga kembali meraih sukses!Dermaga Rindu, 25 September 2011Penulis mahasiswa sem.V PBSID STKIP Budidaya

(Artikel ini telah dimuat di Rubrik TRP Analisa, 23 Oktober 2011)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar