15 Mei 2013

Minat Membaca di Indonesia Masih Abnormal


Minat Membaca di Indonesia Masih AbnormalOleh: Tanita LiasnaBaca/membaca adalah melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis (dengan melisankan atau hanya dalam hati) (Budiono:72). Pengertian di atas memberikan petunjuk, bahwa untuk memahami tulisan, maka harus membaca. Dalam ruang gelitikan Analisa (Minggu 03 Juli 2011) berjudul Hanya “cakap-cakap”, penulis Muhlis’s memaparkan kegiatan menumbuhkan minat baca masih sebatas “cakap-cakap”. Penulis sependapat dengan beliau.Membaca dan BukuAda satu ungkapan “membaca adalah kunci ilmu, sedangkan gudangnya ilmu adalah buku.” Di Indonesia, minat membaca sangatlah minim. Dan buku masih menjadi hal yang dianggap sepele oleh masyarakat. Bukan hanya pada masyarakat awam, bahkan dikalangan para siswa dan mahasiswa pun, buku tak menjadi primadona. Padahal apalah daya seorang pelajar, jika tak memiliki buku. Lalu, diikuti pula dengan masih melambungnya harga buku. Sehingga, dengan kondisi perekonomian saat ini, banyak orang yang harus berfikir berulang kali untuk membeli buku. Padahal, dari buku kita temukan segala hal yang tak mampu kita lihat dengan mata. Dari buku pula pengalaman orang lain dapat menjadi pelajaran bagi kita, dan dari buku juga kita dapat santai sejenak dari kepenatan yang seakan tak pernah henti menggerayangi kita. Dengan kata lain, berkat membaca kita dapat mengenal dunia dan diri kita sendiri.Fakta yang MenyedihkanBeberapa fakta yang menunjukkan minimnya minat baca masyarakat Indonesia adalah;
  1. Hasil survai Unesco menunjukkan bahwa Indonesia sebagai negara dengan minat baca masyarakat paling rendah di Asean. Peningkatan minat baca masyarakat akan mempercepat kemajuan bangsa Indonesia, karena tidak ada negara yang dapat maju tanpa buku, kata panitia pameran Tri Bintoro di Solo (Republika, Rabu (26/1)
  1. Berdasarkan  studi lima tahunan yang dikeluarkan oleh Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) pada tahun 2006, yang melibatkan siswa sekolah dasar (SD), hanya menempatkan Indonesia pada posisi 36 dari 40 negara yang dijadikan sampel penelitian. Posisi Indonesia itu lebih baik dari Qatar, Kuwait, Maroko, dan Afrika Selatan,” ujar Ketua Center for Social Marketing (CSM), Yanti Sugarda di Jakarta, Rabu (7/7).
  1. Penelitian Human Development Index (HDI) yang dikeluarkan oleh UNDP untuk melek huruf pada 2002 menempatkan Indonesia pada posisi 110 dari 173 negara. Posisi tersebut kemudian turun satu tingkat menjadi 111 di tahun 2009
  1. Berdasarkan data CSM, yang lebih menyedihkan lagi perbandingan jumlah buku yang dibaca siswa SMA di 13 negara, termasuk Indonesia. Di Amerika Serikat, jumlah buku yang wajib dibaca sebanyak 32 judul buku, Belanda 30 buku, Prancis 30 buku, Jepang 22 buku, Swiss 15 buku, Kanada 13 buku, Rusia 12 buku, Brunei 7 buku, Singapura 6 buku, Thailand 5 buku, dan Indonesia 0 buku
  1. Kompas (Kamis, 18 Juni 2009) Budaya baca masyarakat Indonesia menempati posisi terendah dari 52 negara di kawasan Asia Timur berdasarkan data yang dilansir Organisasi Pengembangan Kerja sama Ekonomi (OECD), kata Kepala Arsip dan Perpustakaan Kota Surabaya Arini. Saat berbicara dalam seminar “Libraries and Democracy”  digelar Perpustakaan Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya bersama Goethe-Institut Indonesien dan Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi Indonesia (ISIPII) di Surabaya, Rabu, dia mengatakan, OECD juga mencatat 34,5 persen masyarakat Indonesia masih buta huruf.
Fakta-fakta tersebut menggambarkan betapa minimnya minat penduduk Indonesia akan kegiatan membaca, bahkan terkesan abnormal, jauh dari kewajaran, jika dibandingkan dengan globalisasi yang merebak di Indonesia. Padahal, membaca adalah salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan sumber daya manusia di Indonesia. Hal itu juga mengakibatkan kondisi kemampuan membaca (reading literacy) masyarakat Indonesia menjadi sangat minim.Faktor Penyebab dan PenanggulanganLalu, apa sebenarnya faktor yang menyebabkan minat membaca di Indonesia menjadi abnormal dan sangat krisis? Ada banyak faktor yang menyebabkan minat  membaca masyarakat Indonesia rendah. Pertama, ketiadaan sarana dan prasarana, khususnya perpustakaan dengan buku-buku yang belum mendapat prioritas. Sedangkan kegiatan membaca membutuhkan buku-buku yang memadai dan bermutu serta ditunjang eksistensi perpustakaan. Bisa kita bayangkan, bagaimana aktivitas membaca tanpa adanya buku-buku bermutu. Untuk itulah, pengadaan sarana dan prasarana, khususnya perpustakaan dengan buku-buku bermutu menjadi salah satu hal yang penting dalam menumbuhkan minat membaca. Karena  ketersediaan bahan bacaan memungkinkan tiap orang untuk memilih bacaan yang sesuai dengan minat dan kepentingannya. Dengan begitu perlahan akan tumbuh rasa keinginan untuk membaca.Kedua, banyaknya keluarga di Indonesia yang belum menjadikan kegiatan membaca buku sebagai sebuah tradisi. Padahal, dukungan dari orang tua terhadap anak akan pentingnya membaca sejak usia dini sangatlah memiliki pengaruh yang besar. Fauzil Adhim dalam bukunya Membuat Anak Gila Membaca (2007) mengatakan, bahwa semestinya memperkenalkan membaca kepada anak-anak sejak usia 0-2 tahun. Sebab, pada masa 0-2 tahun perkembangan otak anak amat pesat (80% kapasitas otak manusia dibentuk pada periode dua tahun pertama) dan amat reseptif (gampang menyerap apa saja dengan memori yang kuat). Bila sejak usia 0-2 tahun sudah dikenalkan dengan membaca, kelak mereka akan memiliki minat baca yang tinggi. Dalam menyerap informasi baru pun, mereka akan lebih suka dan merasa santai dengan membaca buku, daripada menonton TV atau mendengarkan radio. Hal ini dapat penulis rasakan sendiri dampaknya hingga saat ini.Selanjutnya, faktor yang berasal dari  lembaga pendidikan.  Rendahnya minat membaca siswa bisa diatasi dengan perbaikan perpustakaan sekolah. Sudah menjadi rahasia bersama bahwa perpustakaan di hampir semua sekolah tingkat dasar hingga menengah memiliki kondisi yang cenderung memprihatinkan. Padahal, perpustakaan sekolah merupakan sumber belajar yang sangat penting bagi siswanya. Dengan dilakukannya pembaharuan perpustakaan kearah yang lebih baik, maka masalah rendahnya minat baca akan teratasi.Selanjutnya adalah mahalnya harga buku. Masalah ini menjadi pemicu menurunnya minat membaca di Indonesia. Karena kita ketahui bersama sumber informasi di era globalisasi seperti sekarang ini bukan hanya sebuah buku, tapi juga dapat berasal dari media informasi lain, seperti televisi, radio, dan yang marak saat ini adalah internet. Minimnya biaya yang harus dikeluarkan dalam mengakses informasi melalui internet membuat masyarakat lebih tertarik untuk mencari informasi melalui internet. . hal itu tampak dari data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2006. Pada data tersebut terlihat bahwa masyarakat kita belum menjadikan kegiatan membaca sebagai sumber utama mendapatkan informasi. Orang lebih memilih menonton TV (85,9%) dan/atau mendengarkan radio (40,3%) ketimbang membaca koran (23,5%) (www.bps.go.id).Dan yang terakhir adalah kecilnya peran Pemerintah dalam menggalakkan minat membaca. Ini terlihat dari sedikitnya jumlah perpustakaan keliling dan menetap di Indonesia. Perluasan jangkauan layanan perpustakaan, baik melalui perpustakaan menetap atau perpustakaan mobil keliling di pusat-pusat kegiatan masyarakat desa, RW/RT secara merata dan berkesinambungan akan dapat menjadikan masyarakat membaca (reading society). Semakin besar peluang masyarakat untuk membaca melalui fasilitas yang tersebar luas, semakin besar pula kemungkinan memaksimalkan minat membaca di Indonesia.            Dengan mengatasi segala penghambat yang ada, maka akan tumbuhlah minat baca di Indonesia, dan tak hanya sekedar cakap-cakap tanpa hasil. Untuk melaksanakan itu semua, haruslah kita saling mendukung dan menyadarkan diri kita sendiri untuk menjadi generasi cinta membaca, dan menjadi pendidik di rumah dan lingkungan kita akan pentingnya kecintaan terhadap buku. Mari kita mulai!Dermaga Rindu, 07 Agustus 2011Penulis mahasiswa sem.V PBSID STKIP Budidaya(Artikel ini telah dimuat di Rubrik TRP Analisa, 05 Mei 2013)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar