Minat Membaca di Indonesia Masih Abnormal
Minat Membaca di Indonesia
Masih AbnormalOleh: Tanita LiasnaBaca/membaca adalah melihat serta memahami isi dari apa
yang tertulis (dengan melisankan atau hanya dalam hati) (Budiono:72).
Pengertian di atas memberikan petunjuk, bahwa untuk memahami tulisan, maka
harus membaca. Dalam ruang gelitikan Analisa (Minggu 03 Juli 2011) berjudul
Hanya “cakap-cakap”, penulis Muhlis’s memaparkan kegiatan menumbuhkan minat
baca masih sebatas “cakap-cakap”. Penulis sependapat dengan beliau.Membaca dan BukuAda satu ungkapan “membaca adalah kunci ilmu, sedangkan
gudangnya ilmu adalah buku.” Di Indonesia, minat membaca sangatlah minim. Dan
buku masih menjadi hal yang dianggap sepele oleh masyarakat. Bukan hanya pada
masyarakat awam, bahkan dikalangan para siswa dan mahasiswa pun, buku tak
menjadi primadona. Padahal apalah daya seorang pelajar, jika tak memiliki buku.
Lalu, diikuti pula dengan masih melambungnya harga buku. Sehingga, dengan
kondisi perekonomian saat ini, banyak orang yang harus berfikir berulang kali
untuk membeli buku. Padahal, dari buku kita temukan segala hal yang tak mampu
kita lihat dengan mata. Dari buku pula pengalaman orang lain dapat menjadi
pelajaran bagi kita, dan dari buku juga kita dapat santai sejenak dari
kepenatan yang seakan tak pernah henti menggerayangi kita. Dengan kata lain,
berkat membaca kita dapat mengenal dunia dan diri kita sendiri.Fakta yang MenyedihkanBeberapa fakta yang menunjukkan minimnya minat baca
masyarakat Indonesia
adalah;
- Hasil survai Unesco menunjukkan bahwa Indonesia
sebagai negara dengan minat baca masyarakat paling rendah di Asean.
Peningkatan minat baca masyarakat akan mempercepat kemajuan bangsa Indonesia,
karena tidak ada negara yang dapat maju tanpa buku, kata panitia pameran
Tri Bintoro di Solo (Republika, Rabu (26/1)
- Berdasarkan studi lima tahunan yang
dikeluarkan oleh Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS)
pada tahun 2006, yang melibatkan siswa sekolah dasar (SD), hanya
menempatkan Indonesia pada posisi 36 dari 40 negara yang dijadikan sampel
penelitian. Posisi Indonesia
itu lebih baik dari Qatar,
Kuwait, Maroko, dan
Afrika Selatan,” ujar Ketua
Center for Social
Marketing (CSM), Yanti Sugarda di Jakarta, Rabu (7/7).
- Penelitian Human Development Index (HDI)
yang dikeluarkan oleh UNDP untuk melek huruf pada 2002 menempatkan
Indonesia pada posisi 110 dari 173 negara. Posisi tersebut kemudian turun
satu tingkat menjadi 111 di tahun 2009
- Berdasarkan data CSM, yang lebih menyedihkan
lagi perbandingan jumlah buku yang dibaca siswa SMA di 13 negara, termasuk
Indonesia.
Di Amerika Serikat, jumlah buku yang wajib dibaca sebanyak 32 judul buku,
Belanda 30 buku, Prancis 30 buku, Jepang 22 buku, Swiss 15 buku, Kanada 13
buku, Rusia 12 buku, Brunei 7 buku, Singapura 6 buku, Thailand 5 buku, dan
Indonesia 0 buku
- Kompas (Kamis, 18 Juni 2009) Budaya baca
masyarakat Indonesia
menempati posisi terendah dari 52 negara di kawasan Asia Timur berdasarkan
data yang dilansir Organisasi Pengembangan Kerja sama Ekonomi (OECD), kata
Kepala Arsip dan Perpustakaan Kota Surabaya Arini. Saat berbicara dalam
seminar “Libraries and Democracy” digelar Perpustakaan Universitas
Kristen (UK) Petra Surabaya bersama Goethe-Institut Indonesien dan Ikatan
Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi Indonesia (ISIPII) di Surabaya,
Rabu, dia mengatakan, OECD juga mencatat 34,5 persen masyarakat Indonesia
masih buta huruf.
Fakta-fakta
tersebut menggambarkan betapa minimnya minat penduduk Indonesia akan kegiatan membaca, bahkan terkesan
abnormal, jauh dari kewajaran, jika dibandingkan dengan globalisasi yang
merebak di Indonesia.
Padahal, membaca adalah salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk
meningkatkan sumber daya manusia di Indonesia. Hal itu juga
mengakibatkan kondisi kemampuan membaca (reading literacy) masyarakat Indonesia
menjadi sangat minim.Faktor Penyebab dan PenanggulanganLalu,
apa sebenarnya faktor yang menyebabkan minat membaca di Indonesia
menjadi abnormal dan sangat krisis? Ada banyak
faktor yang menyebabkan minat membaca
masyarakat Indonesia
rendah. Pertama, ketiadaan sarana dan
prasarana, khususnya perpustakaan dengan buku-buku yang belum mendapat
prioritas. Sedangkan kegiatan membaca membutuhkan buku-buku yang memadai dan
bermutu serta ditunjang eksistensi perpustakaan. Bisa kita bayangkan, bagaimana
aktivitas membaca tanpa adanya buku-buku bermutu. Untuk itulah, pengadaan
sarana dan prasarana, khususnya perpustakaan dengan buku-buku bermutu menjadi
salah satu hal yang penting dalam menumbuhkan minat membaca. Karena ketersediaan bahan bacaan memungkinkan tiap
orang untuk memilih bacaan yang sesuai dengan minat dan kepentingannya. Dengan
begitu perlahan akan tumbuh rasa keinginan untuk membaca.Kedua, banyaknya keluarga di Indonesia yang belum menjadikan kegiatan
membaca buku sebagai sebuah tradisi. Padahal, dukungan dari orang tua terhadap
anak akan pentingnya membaca sejak usia dini sangatlah memiliki pengaruh yang
besar. Fauzil Adhim dalam bukunya Membuat Anak Gila Membaca (2007) mengatakan,
bahwa semestinya memperkenalkan membaca kepada anak-anak sejak usia 0-2 tahun.
Sebab, pada masa 0-2 tahun perkembangan otak anak amat pesat (80% kapasitas
otak manusia dibentuk pada periode dua tahun pertama) dan amat reseptif
(gampang menyerap apa saja dengan memori yang kuat). Bila sejak usia 0-2 tahun
sudah dikenalkan dengan membaca, kelak mereka akan memiliki minat baca yang
tinggi. Dalam menyerap informasi baru pun, mereka akan lebih suka dan merasa
santai dengan membaca buku, daripada menonton TV atau mendengarkan radio. Hal
ini dapat penulis rasakan sendiri dampaknya hingga saat ini.Selanjutnya, faktor yang berasal dari lembaga pendidikan. Rendahnya minat membaca siswa bisa diatasi
dengan perbaikan perpustakaan sekolah. Sudah menjadi rahasia bersama bahwa perpustakaan
di hampir semua sekolah tingkat dasar hingga menengah memiliki kondisi yang
cenderung memprihatinkan. Padahal, perpustakaan sekolah merupakan sumber
belajar yang sangat penting bagi siswanya. Dengan dilakukannya pembaharuan
perpustakaan kearah yang lebih baik, maka masalah rendahnya minat baca akan
teratasi.Selanjutnya adalah mahalnya harga buku. Masalah ini menjadi pemicu
menurunnya minat membaca di Indonesia. Karena kita ketahui bersama sumber
informasi di era globalisasi seperti sekarang ini bukan hanya sebuah buku, tapi
juga dapat berasal dari media informasi lain, seperti televisi, radio, dan yang
marak saat ini adalah internet. Minimnya biaya yang harus dikeluarkan dalam
mengakses informasi melalui internet membuat masyarakat lebih tertarik untuk
mencari informasi melalui internet. . hal itu tampak dari data yang dikeluarkan
Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2006. Pada data tersebut terlihat bahwa
masyarakat kita belum menjadikan kegiatan membaca sebagai sumber utama
mendapatkan informasi. Orang lebih memilih menonton TV (85,9%) dan/atau
mendengarkan radio (40,3%) ketimbang membaca koran (23,5%) (www.bps.go.id).Dan yang terakhir adalah kecilnya peran Pemerintah dalam
menggalakkan minat membaca. Ini terlihat dari sedikitnya jumlah perpustakaan
keliling dan menetap di Indonesia. Perluasan jangkauan layanan perpustakaan,
baik melalui perpustakaan menetap atau perpustakaan mobil keliling di
pusat-pusat kegiatan masyarakat desa, RW/RT secara merata dan berkesinambungan
akan dapat menjadikan masyarakat membaca (reading society). Semakin besar
peluang masyarakat untuk membaca melalui fasilitas yang tersebar luas, semakin
besar pula kemungkinan memaksimalkan minat membaca di Indonesia. Dengan mengatasi segala penghambat
yang ada, maka akan tumbuhlah minat baca di Indonesia, dan tak hanya sekedar
cakap-cakap tanpa hasil. Untuk melaksanakan itu semua, haruslah kita saling
mendukung dan menyadarkan diri kita sendiri untuk menjadi generasi cinta
membaca, dan menjadi pendidik di rumah dan lingkungan kita akan pentingnya
kecintaan terhadap buku. Mari kita mulai!Dermaga Rindu, 07 Agustus
2011Penulis mahasiswa sem.V
PBSID STKIP Budidaya(Artikel ini telah dimuat di Rubrik TRP Analisa, 05 Mei 2013)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar