10 Juli 2013

puisi



Aku Ingin Pergi Jauh dan Berangan tentang Temu
Oleh: Tanita Liasna
Semula sekerat cerita kukira hanya bual pada petang menguning
Membayang lampau pada jati rasa kupikir akan semakin rapuh dan hampa
Kujejalkan angan-angan basah dengan bara api hembuskan kepulan asa jingga
Aku biarkan semacam nyawa beringsut hadir dalam peluk
Menamai rindu sebagai kata terbaik

Kumau bisa saja aku pergi setelah pingkalku mengepak di atas angin
Ku terkecoh
Tertanam sekuntum ingin akan kau yang tak lagi kumengerti dengan jenis apa kau hadapi bara-bara kata kusematkan di sebalik rindu

Kau terlalu jauh terdekap
Terlalu ringkih tersentuh
Baik aku menjauh dari mimpi
Imajikan tentang temu tak terkata

Rumah Cerita, 090513
Sepi-sepi Ranum
Oleh: Tanita Liasna
Pada penghabisan ini
Ku nostalgiakan sepi-sepi ranum di pucuk karikatur kenang
Seuntai bayang
Sepucuk kenang
Selalu datang
Hinggap perlahan papah serpih luka bercerita
Tentang rindu yang kau tanak dalam tipu
Bagaimanakah cinta di dadamu?
Adakah cinta di jiwamu?
Semisal aku menyerahkan sebilah dendang
Kau pun menari menguncup ilalang di balik jeruji kata-kata
Semua mekar hilang tenggelam
Tinggal sepi kembali mencuat belati

Rumah Cerita, 110513
Dua Wajah
Oleh: Tanita Liasna
Tawamu dengan sematan kelembutan bak seorang ayah mengail jiwa di saku rinduku
Sematkan kuntum nasihat ajariku berbagi dalam kasih
Emosi kau biduk hingga aku semampai menurut raga  dan pikirmu
Membalut hati dan jiwa atas namamu
Membekalkan nafas dan detak di jantung katamu
Tapi kau membinal dan durjai pernik-pernik setia yang kupilin di seleher cinta
Membagi berbagai rahasia dan cumbu di pelatar hati yang lain
Tak sekejap itu kau berlarut dan mematahkan segala janji dan cerita
Menutup semacam rindu di bara rasa kita
Kau bercinta dengan sepenuh geliat dan kehampaan pada sesiapa luka
Hingga kau larut dan pergi tanpa ucap selamat jalan
Rumah Cerita, 140513
(Puisi-puisi ini telah dimuat di Rubrik Rebana Analisa, 19 Mei 2013)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar