Aku Ingin Pergi
Jauh dan Berangan tentang Temu
Oleh: Tanita Liasna
Semula
sekerat cerita kukira hanya bual pada petang menguning
Membayang
lampau pada jati rasa kupikir akan semakin rapuh dan hampa
Kujejalkan
angan-angan basah dengan bara api hembuskan kepulan asa jingga
Aku
biarkan semacam nyawa beringsut hadir dalam peluk
Menamai
rindu sebagai kata terbaik
Kumau
bisa saja aku pergi setelah pingkalku mengepak di atas angin
Ku terkecoh
Tertanam
sekuntum ingin akan kau yang tak lagi kumengerti dengan jenis apa kau hadapi
bara-bara kata kusematkan di sebalik rindu
Kau
terlalu jauh terdekap
Terlalu
ringkih tersentuh
Baik
aku menjauh dari mimpi
Imajikan
tentang temu tak terkata
Rumah Cerita,
090513
Sepi-sepi Ranum
Oleh: Tanita Liasna
Pada
penghabisan ini
Ku
nostalgiakan sepi-sepi ranum di pucuk karikatur kenang
Seuntai
bayang
Sepucuk
kenang
Selalu
datang
Hinggap
perlahan papah serpih luka bercerita
Tentang
rindu yang kau tanak dalam tipu
Bagaimanakah
cinta di dadamu?
Adakah
cinta di jiwamu?
Semisal
aku menyerahkan sebilah dendang
Kau
pun menari menguncup ilalang di balik jeruji kata-kata
Semua
mekar hilang tenggelam
Tinggal
sepi kembali mencuat belati
Rumah Cerita,
110513
Dua Wajah
Oleh: Tanita Liasna
Tawamu
dengan sematan kelembutan bak seorang ayah mengail jiwa di saku rinduku
Sematkan
kuntum nasihat ajariku berbagi dalam kasih
Emosi
kau biduk hingga aku semampai menurut raga
dan pikirmu
Membalut
hati dan jiwa atas namamu
Membekalkan
nafas dan detak di jantung katamu
Tapi
kau membinal dan durjai pernik-pernik setia yang kupilin di seleher cinta
Membagi
berbagai rahasia dan cumbu di pelatar hati yang lain
Tak
sekejap itu kau berlarut dan mematahkan segala janji dan cerita
Menutup
semacam rindu di bara rasa kita
Kau
bercinta dengan sepenuh geliat dan kehampaan pada sesiapa luka
Hingga
kau larut dan pergi tanpa ucap selamat jalan
Rumah Cerita,
140513
(Puisi-puisi ini telah dimuat di
Rubrik Rebana Analisa, 19 Mei 2013)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar