15 Mei 2013

Minat Membaca di Indonesia Masih Abnormal


Minat Membaca di Indonesia Masih AbnormalOleh: Tanita LiasnaBaca/membaca adalah melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis (dengan melisankan atau hanya dalam hati) (Budiono:72). Pengertian di atas memberikan petunjuk, bahwa untuk memahami tulisan, maka harus membaca. Dalam ruang gelitikan Analisa (Minggu 03 Juli 2011) berjudul Hanya “cakap-cakap”, penulis Muhlis’s memaparkan kegiatan menumbuhkan minat baca masih sebatas “cakap-cakap”. Penulis sependapat dengan beliau.Membaca dan BukuAda satu ungkapan “membaca adalah kunci ilmu, sedangkan gudangnya ilmu adalah buku.” Di Indonesia, minat membaca sangatlah minim. Dan buku masih menjadi hal yang dianggap sepele oleh masyarakat. Bukan hanya pada masyarakat awam, bahkan dikalangan para siswa dan mahasiswa pun, buku tak menjadi primadona. Padahal apalah daya seorang pelajar, jika tak memiliki buku. Lalu, diikuti pula dengan masih melambungnya harga buku. Sehingga, dengan kondisi perekonomian saat ini, banyak orang yang harus berfikir berulang kali untuk membeli buku. Padahal, dari buku kita temukan segala hal yang tak mampu kita lihat dengan mata. Dari buku pula pengalaman orang lain dapat menjadi pelajaran bagi kita, dan dari buku juga kita dapat santai sejenak dari kepenatan yang seakan tak pernah henti menggerayangi kita. Dengan kata lain, berkat membaca kita dapat mengenal dunia dan diri kita sendiri.Fakta yang MenyedihkanBeberapa fakta yang menunjukkan minimnya minat baca masyarakat Indonesia adalah;
  1. Hasil survai Unesco menunjukkan bahwa Indonesia sebagai negara dengan minat baca masyarakat paling rendah di Asean. Peningkatan minat baca masyarakat akan mempercepat kemajuan bangsa Indonesia, karena tidak ada negara yang dapat maju tanpa buku, kata panitia pameran Tri Bintoro di Solo (Republika, Rabu (26/1)
  1. Berdasarkan  studi lima tahunan yang dikeluarkan oleh Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS) pada tahun 2006, yang melibatkan siswa sekolah dasar (SD), hanya menempatkan Indonesia pada posisi 36 dari 40 negara yang dijadikan sampel penelitian. Posisi Indonesia itu lebih baik dari Qatar, Kuwait, Maroko, dan Afrika Selatan,” ujar Ketua Center for Social Marketing (CSM), Yanti Sugarda di Jakarta, Rabu (7/7).
  1. Penelitian Human Development Index (HDI) yang dikeluarkan oleh UNDP untuk melek huruf pada 2002 menempatkan Indonesia pada posisi 110 dari 173 negara. Posisi tersebut kemudian turun satu tingkat menjadi 111 di tahun 2009
  1. Berdasarkan data CSM, yang lebih menyedihkan lagi perbandingan jumlah buku yang dibaca siswa SMA di 13 negara, termasuk Indonesia. Di Amerika Serikat, jumlah buku yang wajib dibaca sebanyak 32 judul buku, Belanda 30 buku, Prancis 30 buku, Jepang 22 buku, Swiss 15 buku, Kanada 13 buku, Rusia 12 buku, Brunei 7 buku, Singapura 6 buku, Thailand 5 buku, dan Indonesia 0 buku
  1. Kompas (Kamis, 18 Juni 2009) Budaya baca masyarakat Indonesia menempati posisi terendah dari 52 negara di kawasan Asia Timur berdasarkan data yang dilansir Organisasi Pengembangan Kerja sama Ekonomi (OECD), kata Kepala Arsip dan Perpustakaan Kota Surabaya Arini. Saat berbicara dalam seminar “Libraries and Democracy”  digelar Perpustakaan Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya bersama Goethe-Institut Indonesien dan Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi Indonesia (ISIPII) di Surabaya, Rabu, dia mengatakan, OECD juga mencatat 34,5 persen masyarakat Indonesia masih buta huruf.
Fakta-fakta tersebut menggambarkan betapa minimnya minat penduduk Indonesia akan kegiatan membaca, bahkan terkesan abnormal, jauh dari kewajaran, jika dibandingkan dengan globalisasi yang merebak di Indonesia. Padahal, membaca adalah salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan sumber daya manusia di Indonesia. Hal itu juga mengakibatkan kondisi kemampuan membaca (reading literacy) masyarakat Indonesia menjadi sangat minim.Faktor Penyebab dan PenanggulanganLalu, apa sebenarnya faktor yang menyebabkan minat membaca di Indonesia menjadi abnormal dan sangat krisis? Ada banyak faktor yang menyebabkan minat  membaca masyarakat Indonesia rendah. Pertama, ketiadaan sarana dan prasarana, khususnya perpustakaan dengan buku-buku yang belum mendapat prioritas. Sedangkan kegiatan membaca membutuhkan buku-buku yang memadai dan bermutu serta ditunjang eksistensi perpustakaan. Bisa kita bayangkan, bagaimana aktivitas membaca tanpa adanya buku-buku bermutu. Untuk itulah, pengadaan sarana dan prasarana, khususnya perpustakaan dengan buku-buku bermutu menjadi salah satu hal yang penting dalam menumbuhkan minat membaca. Karena  ketersediaan bahan bacaan memungkinkan tiap orang untuk memilih bacaan yang sesuai dengan minat dan kepentingannya. Dengan begitu perlahan akan tumbuh rasa keinginan untuk membaca.Kedua, banyaknya keluarga di Indonesia yang belum menjadikan kegiatan membaca buku sebagai sebuah tradisi. Padahal, dukungan dari orang tua terhadap anak akan pentingnya membaca sejak usia dini sangatlah memiliki pengaruh yang besar. Fauzil Adhim dalam bukunya Membuat Anak Gila Membaca (2007) mengatakan, bahwa semestinya memperkenalkan membaca kepada anak-anak sejak usia 0-2 tahun. Sebab, pada masa 0-2 tahun perkembangan otak anak amat pesat (80% kapasitas otak manusia dibentuk pada periode dua tahun pertama) dan amat reseptif (gampang menyerap apa saja dengan memori yang kuat). Bila sejak usia 0-2 tahun sudah dikenalkan dengan membaca, kelak mereka akan memiliki minat baca yang tinggi. Dalam menyerap informasi baru pun, mereka akan lebih suka dan merasa santai dengan membaca buku, daripada menonton TV atau mendengarkan radio. Hal ini dapat penulis rasakan sendiri dampaknya hingga saat ini.Selanjutnya, faktor yang berasal dari  lembaga pendidikan.  Rendahnya minat membaca siswa bisa diatasi dengan perbaikan perpustakaan sekolah. Sudah menjadi rahasia bersama bahwa perpustakaan di hampir semua sekolah tingkat dasar hingga menengah memiliki kondisi yang cenderung memprihatinkan. Padahal, perpustakaan sekolah merupakan sumber belajar yang sangat penting bagi siswanya. Dengan dilakukannya pembaharuan perpustakaan kearah yang lebih baik, maka masalah rendahnya minat baca akan teratasi.Selanjutnya adalah mahalnya harga buku. Masalah ini menjadi pemicu menurunnya minat membaca di Indonesia. Karena kita ketahui bersama sumber informasi di era globalisasi seperti sekarang ini bukan hanya sebuah buku, tapi juga dapat berasal dari media informasi lain, seperti televisi, radio, dan yang marak saat ini adalah internet. Minimnya biaya yang harus dikeluarkan dalam mengakses informasi melalui internet membuat masyarakat lebih tertarik untuk mencari informasi melalui internet. . hal itu tampak dari data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2006. Pada data tersebut terlihat bahwa masyarakat kita belum menjadikan kegiatan membaca sebagai sumber utama mendapatkan informasi. Orang lebih memilih menonton TV (85,9%) dan/atau mendengarkan radio (40,3%) ketimbang membaca koran (23,5%) (www.bps.go.id).Dan yang terakhir adalah kecilnya peran Pemerintah dalam menggalakkan minat membaca. Ini terlihat dari sedikitnya jumlah perpustakaan keliling dan menetap di Indonesia. Perluasan jangkauan layanan perpustakaan, baik melalui perpustakaan menetap atau perpustakaan mobil keliling di pusat-pusat kegiatan masyarakat desa, RW/RT secara merata dan berkesinambungan akan dapat menjadikan masyarakat membaca (reading society). Semakin besar peluang masyarakat untuk membaca melalui fasilitas yang tersebar luas, semakin besar pula kemungkinan memaksimalkan minat membaca di Indonesia.            Dengan mengatasi segala penghambat yang ada, maka akan tumbuhlah minat baca di Indonesia, dan tak hanya sekedar cakap-cakap tanpa hasil. Untuk melaksanakan itu semua, haruslah kita saling mendukung dan menyadarkan diri kita sendiri untuk menjadi generasi cinta membaca, dan menjadi pendidik di rumah dan lingkungan kita akan pentingnya kecintaan terhadap buku. Mari kita mulai!Dermaga Rindu, 07 Agustus 2011Penulis mahasiswa sem.V PBSID STKIP Budidaya(Artikel ini telah dimuat di Rubrik TRP Analisa, 05 Mei 2013)


Menggugah dengan “Melainkan”


Menggugah dengan “Melainkan”Oleh: Tanita Liasna            Pernah beberapa kali menggugah Medan dengan konser musikalisasi puisinya, kali ini Sanggar Rumput Hijau SMA Negeri 2 Model  Binjai mengadakan konser musikalisasi puisi di kota Binjai yang bertajuk “Melainkan”. Acara ini diselenggarakan pada 16 November 2012 di Pendopo Umar Baki Binjai.            Memang konser mereka kali ini sangat lain. Dengan tata panggung yang sangat sederhana, dipadu dengan dengan para pemain yang berpenampilan sederhana, konser ini mampu menghipnotis para penonton yang memenuhi Pendopo Umar Baki. Dengan kolaborasi bersama Musisi Dunia Akhirat, konser ini semakin menarik hati para penikmatnya.            Acara dimulai dengan kata sambutan dari perwakilan Kepala Sekolah sekota Binjai. Kemudian dilanjutkan dengan kata sambutan sekaligus pembukaan acara oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Binjai. Dalam sambutan tersebut beliau menyampaikan pula buah-buah kemenangan yang telah diraih oleh Sanggar Musikalisasi Puisi Rumput Hijau sejak tahun 2009 hingga sekarang yang terdiri dari kemenangan di tingkat Kota hingga tingkat Nasional.            Kemudian acara diambil alih oleh Hasan Al Banna, seorang sastrawan Indonesia yang telah melanglang buana hingga ke Asia Tenggara. Pembukaan pertama dimulai dengan musikalisasi puisi berjudul Ceracau Sebongkah Kota karya Hasan Al Banna sendiri. Selanjutnya musikalisasi puisi karya penyair tersohor angkatan 45 Chairil Anwar, dengan judul Cintaku Jauh di Pulau. Kemudian dilanjutkan dengan musikalisasi puisi Torsa Ni Namora Pande Bosi karya penulis Medan tersohor M. Raudah Jambak.Lalu para penikmat acara disuguhi penampilan dari Musisi Dunia Akhirat yang membawakan puisi Rindu goresan pena Hasan Al Banna. Puisi Rindu yang ditampilkan cukup menggelitik mata dan hati para penonton.Setelah itu, Rumput Hijau pun kembali menguasai panggung dengan membawakan puisi berjudul Sepisaupi. Puisi itu adalah buah karya sastrawan senior Indonesia yang terkenal dengan puisi kontemporernya. Lalu puisi Hotel Siantar menjadi puisi yang dimusikalisasikan selanjutnya. Puisi tersebut merupakan hasil kreatif dari seorang Damiri Mahmud yang merupakan sastrawan senior asal Sumatera Utara. Dan sebagai penutup, Sanggar Rumput Hijau membawakan puisi buah imajinasi dari Teja Purnama yang berjudul Akulah Medan.Konser yang Menggugah            Puisi-puisi yang dimusikalisasikan oleh Sanggar Rumput Hijau SMA Negeri 2 Model Binjai, memanglah puisi-puisi yang syarat akan makna. Ditambah pula dengan aransemen yang sangat kreatif, membuat musikalisasi puisi tersebut semakin luar biasa. Bukan itu saja, keharmonisan yang dihasilkan dari permainan alat-alat musik dan juga suara-suara merdu dari para penyanyi, membuat konser sederhana ini benar-benar sangat menggugah.            Hampir seluruh puisi dibawakan dengan sangat luar biasa. Setiap baris puisi mampu membuat penulis lebih dalam menafsirkan makna puisi tersebut. Seakan setiap puisi memiliki ruh masing-masing. Bahkan ketika penulis menutup mata dan hanya mendengarkan suara para penyanyi disertai dengan iringan musik, hal itu membuat hati penulis terasa lebih tenang. Rasa sakit yang sedang melanda (ketika menonton konser penulis sedang dalam keadaan sakit) seakan hilang ketika syair-syair puisi tersebut merdu berkumandang di telinga penulis. Selain itu, ada pula sebuah puisi yang mampu membuat penulis hampir meneteskan air mata.            Kemudian selain penampilan Sanggar Rumput Hijau, ada pula penampilan kocak dari Musisi Dunia Akhirat. Musisi Dunia Akhirat yang telah membentangkan sayapnya hingga ke Belanda mampu membuat para penonton tersenyum girang.Harapan            Dalam acara tersebut Hasan Al Banna sempat mengatakan bahwa musikalisasi puisi adalah sebuah cara lain dalam menafsirkan makna sebuah puisi. Ya, benar adanya. Dengan mendengarkan atau melihat musikalisasi puisi, maka akan muncul sebuah pemaknaan yang lebih mendalam tentang sebuah puisi. Selain itu, puisi juga akan terasa lebih nikmat ketika disuguhkan lewat sebuah musikalisasi.            Maka diharapkan, konser musikalisasi puisi “Melainkan” mampu menarik minat para pelajar, baik siswa maupun mahasiswa untuk mempelajari musikalisasi puisi. Kemudian diharapkan pula, musikalisasi puisi mampu merambah hingga ke sekolah-sekolah lainnya, bukan hanya di SMA Negeri 2 Model Binjai. Lalu kepada SMA Negeri 2 Model Binjai diharapkan mampu tetap eksis dan lebih meningkatkan kreativitas, sehingga dapat terus menuai prestasi dan tetap membanggakan Sumatera Utara, khususnya Binjai.Rumah Cerita, 16 November 2012(Artikel ini telah dimuat di Rubrik TRP Analisa, 27 Januari 2013)

Menarik Minat Siswa Memilih Lewat Pergelaran Seni



Menarik Minat Siswa Memilih Lewat Pergelaran Seni
Oleh: Tanita Liasna

            Tak terasa, sebentar lagi Sumatera Utara akan melaksanakan pesta demokrasi. Yang tak lain adalah pemilihan Gubernur Sumatera Utara, yang akan dilaksanakan pada 07 Maret 2013.
            Dan untuk mensosialisasikan tata cara pemilihan gubernur Sumatera Utara kepada para siswa yang baru akan mengikuti pesta demokrasi, maka pada 28 Januari 2013, KPU Sumut mengadakan Pergelaran Seni sekaligus Sosialisasi Pilgubsu dengan tema “Cerdas Memilih”.
            Acara ini diadakan di  Pendopo Umar Baki Binjai dan acara diisi oleh para seniman Medan dan Binjai. Ada group musik Medan, para penari etnis kota Medan, group drama, serta group Musikalisasi Rumput Hijau kota Binjai.
Menarik Minat Siswa
            Pergelaran seni serta sosialisasi Pilgubsu ini memang diadakan khusus untuk para pemula yang akan mengikuti pesta demokrasi. Yaitu anak-anak Sekolah Menengah Atas dan Kejuruan yang berada di sekitar Binjai dan Langkat.
            Acara dikemas dengan sangat menarik. Acara diisi oleh suara merdu dari group musik Metronom Colaboration kota Medan. Kemudian penampilan tari Melayu Kreasi pimpinan Anji White kota Medan. Selanjutnya arahan dari Bapak dan Ibu yang bernaung dalam Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumut. Arahan ini disampaikan dengan sangat  santai. Membuat para siswa tertarik untuk mendengarkan. Arahan itu berisi tata cara pemilihan umum, bagaimana cara menjadi pemilih cerdas, hingga apa-apa saja syarat menjadi seorang peserta pesta demokrasi. Arahan tersebut juga dipadukan dengan group drama Jamal CS. Group drama yang mampu membuat para peserta yang hadir terpingkal-pingkal dengan guyon yang mereka tampilkan di atas pentas. Kemudian setelah itu, group musikalisasi puisi Rumput Hijau pun membawakan puisi Lukisan Medan, karya Saripuddin Lubis.
            Selain acara-acara di atas, diadakan pula kuis yang hadiahnya sangat berguna bagi para siswa. Kuis itu berupa pertanyaan dari hal-hal yang disampaikan dalam arahan yang dibawakan oleh Bapak dan Ibu KPU Sumut.
Cerdas Memilih Sejak Dini
            Dengan diadakannya Sosialisasi Pilgubsu ini, para siswa yang akan mengikuti pesta demokrasi untuk pertama kalinya, akan memahami tata cara dan syarat-syarat menjadi seorang pemilih.
            Kemudian, dengan beberapa penyampaian mengenai hal-hal yang berhubungan dengan pemilihan umum, para siswa akan semakin banyak pengetahuan mengenai pesta demokrasi. Dan mereka akan semakin memahami betapa pentingnya arti suara mereka dalam pemilihan umum. Dengan pencapaian ini, diharapkan siswa siswi mampu cerdas memilih sejak dini.
Rumah Cerita, 28 Januari 2013

(Artikel ini telah dimuat di Rubrik TRP Analisa, 24 Februari 2013)

Memahami Puisi Lewat Konser “Melainkan”



Memahami Puisi Lewat Konser “Melainkan”
Oleh: Tanita Liasna


Setelah merasakan gemuruh keluarbiasaan Sanggar Rumput Hijau (SRH) SMA Negeri 2 Model Binjai pada konser musikalisasi puisi bertajuk “Lukisan Binjai” 2011 lalu, kali ini penulis berkesempatan lagi merasakan euforia kemeriahan paduan musik dengan puisi pada Jumat, 16 November 2012. Bersama jubelan penonton yang memadati Pendopo Umar Baki Binjai, penulis kembali menyaksikan konser musikalisasi puisi “Melainkan” dari SRH yang telah mengharumkan nama Binjai, juga Sumut, hingga ke tingkat Nasional. Konser berlangsung dua sesi; pukul 14.30 WIB dan pukul 16.30 WIB, didukung Komunitas Home Poetry dan Rumah Cerita Sanggar Menulis, Sastra dan Seni Binjai. Sebelumnya, Sabtu, 6 Oktober lalu, konser “Melainkan” juga telah dilangsungkan di Taman Budaya Sumatera Utara, Medan.
Pada penampilan kali ini, SRH berkolaborasi dengan Musisi Dunia Akhirat Medan yang tidak hanya paham memainkan musik modern, tetapi juga telaten menggeluti musik tradisi Sumut (Hasapi, Kulcapi, Keteng-keteng dan Gambus). Bahkan salah satu personilnya, Ade Dharma pernah tampil di Belanda. Kolaborasi dua kelompok, pelajar dan profesionalisme ini mencoba menggarap konsep musikalisasi lebih ‘semarak’, mencari kemungkinan-kemungkina lain, meski tetap teguh meladeni ruh puisi.
Usai dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Kota Binjai, sastrawan Sumut Hasan Al Banna, yang juga merupakan penggagas konser ini, tampil sebagai pemandu reportoar rangkaian musikalisasi puisi. Ceracau Sebongkah Kota karya Hasan Al Banna, hadir sebagai puisi pembuka. Puisi ini dibawakan cukup spektakuler. Puisi dengan bahasa yang tidak berbelit, tapi kaya makna tersebut dibawakan dengan lihai oleh SRH. Dengan dimusikalisasikannya puisi tersebut, penulis bisa turut merasakan betapa besar kemuakan yang dirasakan oleh sebuah kota dengan segenap penindasan global yang terjadi.
Materi kedua dilanjutkan dengan puisi karya penyair kelahiran Medan yang menjadi pelopor para sastrawan angkatan 45. Siapa lagi kalau bukan Chairil Anwar. Puisi Cintaku Jauh di Pulau digarap dengan etnik Melayu, dinyanyikan dengan sangat menyentuh oleh Cut Lia Keumala Sari yang merupakan Mahasiswa STKIP Budidaya Binjai. Penulis akui, beberapa kali membaca puisi ini, penulis tidak pernah benar-benar menafsirkan makna yang terkandung di dalamnya. Nah, ketika puisi ini ditafsirkan melalui genre musikalisasi, penulis dapat memahami secara mendalam bagaimana pedihnya luka yang dirasakan seorang Chairil Anwar dalam sebuah penantian kasih yang terpisah jarak disertai dengan kematian yang siap menjemput. Bahkan mendengarkan puisi ini sembari memejamkan mata, penulis hampir meneteskan air mata.
Karya seorang sastrawan Medan, M. Raudah Jambak dengan judul Torsa Ni Namora Pande Bosi menjadi materi selanjutnya. Berbeda dengan penampilan sebelumnya. Penampilan mereka kali ini membawakan puisi dengan alunan melodi yang menenangkan hati, khas batak reggea. Meskipun penulis tidak tahu benar maksud puisi tersebut, dikarenakan pada puisi tersebut banyak penggunaan bahasa daerah yang tidak penulis kuasai. Namun melalui musikalisasi, penulis merasakan  ketenangan alam pedesaan. Namun di sisi lain, penulis juga dapat merasakan ada sebuah luka yang tersirat dalam puisi tersebut.
Tiga puisi terlewatkan sudah. Tiba juga saatnya Musisi Dunia Akhirat menguasai panggung dengan setting sederhana tersebut. Dengan membawakan puisi Rindu karya Hasan Al Banna dan dilengkapi berbagai alat musik tradisi, Musisi Dunia Akhirat mampu membuat para penonton tersenyum lebar. Musisi Dunia Akhirat membawakan puisi itu dengan sangat kocak. Mereka seolah ingin menyampaikan betapa kerinduan bukan hanya harus disampaikan dengan sebuah luka atau kesedihan.
Lalu, kolaborasi menyuguhkan puisi kelima berjudul Sepisaupi, buah imajinasi dari seorang Sutardji Calzoum Bahri yang termasuk punggawa lahirnya sastra kontemporer. Sebuah puisi kontemporer ini mampu mereka bawakan dengan mengedepankan makna yang termaktub di dalamnya. Bagaikan sebuah kesepian yang begitu hebat, puisi ini dimusikalisasikan dengan melodi Karo dan alunan suara yang begitu mengiris kalbu, melebur dalam sepi yang dihantarkan Sutardji dalam puisinya.
Setelah itu, giliran musikalisasi puisi dengan judul Hotel Siantar goresan pena Damiri Mahmud, seorang sastrawan senior asal Sumatera Utara. Ketika mendengarkan puisi ini dimusikalisasikan, penulis seakan mampu melihat seperti apa  bentuk dan keadaan Hotel Siantar. Selain itu, penulis juga mampu menafsirkan secara mendalam budaya yang biasa terjadi di sekitar Hotel Siantar.
Dan di penghujung acara, puisi Akulah Medan menutup acara dengan sangat mengesankan. Sebuah puisi buah pena Teja Purnama yang mengisahkan sejarah berdirinya Medan hingga kini tersebut, dibawakan dengan genre Melayu yang  menghentak. Penulis dapat menafsirkan bagaimana getir yang dirasakan seorang Teja Purnama melihat realita yang terjadi di tanah kelahiran yang dicintainya.
Begitulah tujuh puisi yang dimusikalisasikan oleh SRH SMA Negeri 2 Model Medan bersama Musisi Dunia Akhirat Medan dan Cut Lia Keumala Sari telah  menghibur penikmatnya, jasmani maupun rohani. Lebih dari itu, menonton sebuah musikalisasi puisi mampu memberikan penafsiran yang lebih mendalam akan makna sebuah puisi. Dengan musikalisasi puisi pula sebuah kecintaan akan musik dan sastra semakin terpahat di hati para penikmatnya.
Akhirnya, kolaborasi ini telah menawarkan pilihan lain tentang konsep musikalisasi puisi, khususnya pilihan di ranah seni pertunjukan. Layak kita tunggu karya-karya mereka yang selanjutnya!

Penulis adalah Mahasiswa STKIP Budidaya Binjai

(Artikel ini telah dimuat di Rubrik Budaya Waspada, 25 November 2012)