25 Juli 2013

Puisi



Di Tari Bianglala
Oleh: Tanita Liasna
Sekembali aku dari luka
Kutemu kau di semburat matahati
Bersinggah sepucuk simpul di tari bianglala
Hambur lunasi jejak di rumpun gerimis
Debar mulai mengembunkan detakmu
Hinggap di palung paling parau
Kata tiada sampai pada merah jambunya airmata
Aku mengirama almanak dalam bayang-bayang rindu
Inginku kau suntingkan rindu pada pelupuk asa
Jadikan kau terabadi dalam sepuh kasih sayang

Rumah Cerita, 080713
Seranum Waktu
Oleh: Tanita Liasna
Apa yang kita cari
Pada seranum waktu tak mampu lagi kita tunai
Segala macam kata rasa
Sejenis malam liar diamuk-amuk jadi sepi
Hati telah menitah bahwa aku ialah sekadar penghias dalam sepucuk ingin penuh emosi
Usah engkau ramu semacam lagu
Yang kita sendiri tak tahu hendak bernada apa

Angin menyejuk
Mata binal bermain
Cipta seutas bayang hijau tua
Rasukmu hingga menyeduh engkau pada benci dan amarah
Buat apa kita berletih
Senandungkan benang-benang paling sendu paling sedu

Tangismu mengakar
Kecup pipi dalam biduk kepergian
Buat apa engkau membagi
Kita adalah ratap paling retak
Sebab waktu telah memilih kita
Hanya memandang bayang dan angan di saku mimpi paling surgawi

Rumah Cerita, 070713


(Puisi-puisi ini telah dimuat di Rubrik Art & Culture Medan Bisnis, 14 Juli 2013)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar