Di Tari
Bianglala
Oleh: Tanita Liasna
Sekembali
aku dari luka
Kutemu
kau di semburat matahati
Bersinggah
sepucuk simpul di tari bianglala
Hambur
lunasi jejak di rumpun gerimis
Debar
mulai mengembunkan detakmu
Hinggap
di palung paling parau
Kata
tiada sampai pada merah jambunya airmata
Aku
mengirama almanak dalam bayang-bayang rindu
Inginku
kau suntingkan rindu pada pelupuk asa
Jadikan
kau terabadi dalam sepuh kasih sayang
Rumah Cerita,
080713
Seranum Waktu
Oleh: Tanita Liasna
Apa
yang kita cari
Pada
seranum waktu tak mampu lagi kita tunai
Segala
macam kata rasa
Sejenis
malam liar diamuk-amuk jadi sepi
Hati
telah menitah bahwa aku ialah sekadar penghias dalam sepucuk ingin penuh emosi
Usah
engkau ramu semacam lagu
Yang
kita sendiri tak tahu hendak bernada apa
Angin
menyejuk
Mata
binal bermain
Cipta
seutas bayang hijau tua
Rasukmu
hingga menyeduh engkau pada benci dan amarah
Buat
apa kita berletih
Senandungkan
benang-benang paling sendu paling sedu
Tangismu
mengakar
Kecup
pipi dalam biduk kepergian
Buat
apa engkau membagi
Kita
adalah ratap paling retak
Sebab
waktu telah memilih kita
Hanya
memandang bayang dan angan di saku mimpi paling surgawi
Rumah Cerita,
070713
(Puisi-puisi ini telah
dimuat di Rubrik Art & Culture Medan Bisnis, 14 Juli 2013)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar